Membangun Kerajaan Bisnis Hiburan Di Dunia Lain

Membangun Kerajaan Bisnis Hiburan Di Dunia Lain
Episode 48 (PERJANJIAN)


__ADS_3

“Hehe… he… hehehe”


“Hahaha, ternyata benar dugaanku. Inilah kesempatanku untuk membunuhmu Mahesvara”


Hap…


Sesuatu seperti menggigit tanganku.


“Ampuni aku Rebecca-sama”


Tiba-tiba aku terbangun karena merasa terkejut akan rasa sakit yang terjadi pada pergelangan tanganku, ternyata anak anjing itu sedang menggigit tanganku.


“Apa yang kau lakukan dasar anjing tak tau terima kasih. Gara-gara kau, aku terbangun dari mimpi indahku”


Secara refleks aku menarik ia dari pergelangan tanganku lalu melemparkannya ke arah tembok. Ya ampun, apa yang dia pikirkan sampai tega menggigit tanganku.


Buggg…


Ia terbentur ke arah tembok.


Haaa…


Aku menghela napas. Oh tidak, bagaimana jika ia sampai terluka.


“Adududududuh, apa yang kau lakukan Mahesvara?”


Syukurlah dia tidak apa, bahkan masih sanggup berbicara. Tunggu sebentar, seperti ada yang aneh. Seekor anak anjing bisa berbicara. Ah sepertinya aku sedang bermimpi. Aku pun kembali membaringkan tubuhku di atas kasur.


“Hhhmmmm”


Hap…


“Aduh… aduh… aduh… apa yang kau lakukan anjing bodoh. Sudah ku bilang jangan menggigitku”


Lalu aku kembali melemparnya. Ia hanya menggeram didepanku. Hahaha, terlihat benar-benar lucu. Bagaimana seekor anak anjing bisa bertingkah seperti itu.


“Kenapa kau mengacuhkanku”


“EEEHHHH!”, aku berteriak karena merasa terkejut. Bagaimana mungkin seekor anak anjing bisa berbicara, “Ka… Kakakaka… kau siapa?”, sambungku.


“Apakah kau sudah lupa denganku Mahesvara, setelah pertempuran sengit kita semalam?”


“Hah?”, lalu aku menggenggam tengkuknya dan memperhatikan ia dengan seksama dari atas hingga kebawah, setelah itu aku berkata, “Aku merasa aku tidak bertarung dengan seekor anak anjing semalam”


“Lepas… lepaskan aku bodoh”, berkata sambil mengarahkan tangan kecilnya ke arah wajahku, “Hah… hah… hah…”, ia mengambil napas seperti nampak kelelahan. “Ngomong-ngomong aku ini serigala bukan anjing”


“Hmmm”, aku mengangguk untuk menyetujui ucapannya. Baru kali ini aku melihat seekor anak anjing alay yang merasa dirinya sebagai seekor serigala.


Guk… guk… guk…


Terdengar  suara gonggongan seekor anjing yang sedang bermain diluar. Lalu dengan refleks anak anjing itu dengan cepat memberontak.


“Lepaskan aku, lepaskan aku. Aku perintahkan kau untuk melepaskan aku, Mahesvara”


Aku hanya bisa memperhatikan tingkah ia yang sedang sibuk memberontak di tanganku. Ahhhh lucunya.

__ADS_1


“Mahesvara-sama, tolong izinkan aku pergi keluar. Hng… hnggg… hnggg…”, anjing tersebut memasang muka memelas.


“Apa yang mau kau lakukan?”


“Aku ingin bertemu dengan cinta pertamaku”, ia berkata sambil membusungkan dadanya.


“Hahaha”, aku tertawa hingga terpingkal-pingkal saat mendengar ucapannya, “Bagaimana mungkin anjing kecil seperti kau mengerti arti cinta? Kau harus tumbuh besar terlebih dahulu, apalagi ia jauh lebih tua daripada kamu. Aku pikir ia lebih cocok menjadi ibumu”


“Hmmm”, anjing tersebut menekuk wajahnya, “Cepat lepaskan aku, aku tidak mau ia sampai menghilang dari pandanganku”


“Iya-iya”, aku melepaskan ia dari tanganku.


“Cepat buka, aku ingin segera menemuinya”, ia berkata sambil menggaruk-garuk pintu.


Ngeeekkkk…


Aku membukakan pintu untuknya, lalu dengan secepat kilat ia berlari menuju keluar asrama dan aku pun pergi mengikutinya dari belakang.


*****


Guk… guk…


Anak anjing tersebut menghampiri seorang perempuan yang sedang bermain-main dengan anjingnya yang berada di depan asramaku. Lalu ia berputar-purat di kaki perempuan tersebut seperti sedang mengajaknya bermain. Perempuan tersebut berjongkok lalu memainkan perut anak anjing tersebut. Ah lucunya, ngomong-ngomong kenapa anak anjing tersebut tidak bersikap manis kepadaku? Bukankah aku ini tuannya? Dasar, masih kecil sudah tau perbedaan antara laki-laki dan perempuan.


Ku lihat anak anjing tersebut mendatangi anjing yang lebih besar, lalu berguling-guling ditanah. Seketika anjing dewasa tersebut menendang anak anjing tersebut untuk menjauh darinya. Anjing dewasa tersebut terlihat tidak tertarik kepadanya, bahkan ia benar-benar mengacuhkannya. Hahaha… aku bilang apa, kau masih terlalu kecil untuk urusan cinta.


Aku berjalan menghampiri perempuan tersebut untuk menanyakan bagaimana cara merawat seekor anjing.


Ha…


Aku melangkah pelan meninggalkan tempat itu.


Guk… guk…


Anak anjing tersebut berteriak ke arahku. Wasem… kenapa kau senang sekali mencelakaiku anak anjing. Sebenci itukah kau kepadaku, sampai-sampai kau ingin membunuhku.


Tiba-tiba kak Rebecca berbalik arah kepadaku.


“Haaaa…”, kami berdua berterik karena merasa terkejut. Lalu kak Rebecca berlari meninggalkan aku diikuti oleh anjingnya.


“Mahesvara, aku sudah memutuskan bahwa aku akan tinggal disini bersamamu”, anak anjing tersebut berkata sambil memenjamkan mata dan membusungkan dadanya. Ia berkata dengan penuh keyakinan seperti seorang laki-laki yang sudah mengambil keputusan besar dalam hidupnya. Sial, bagaimana mungkin kau bisa bertindak sekeren itu anak anjing.


“Apa yang kau katakan, bukankah sudah jelas bahwa aku adalah tuanmu”


Tiba-tiba anak anjing tersebut melompat dan menggigit tanganku.


“Sakit-sakit, apa yang kau lakukan anak anjing”, aku menarik ia lalu melemparkannya.


“Hrrr… hrrr… jangan sembarangan, bukankah sudah jelas jika aku adalah tuannya”


“Hah? Bagaimana mungkin seekor anak anjing menjadi tuan dari manusia?”


“Woi aku bukan anjing, aku serigala”


“Iya-iya, sama saja. Woi harusnya kau berterima kasih karena aku telah menyelamatkanmu”

__ADS_1


“Tanpa kau selamatkan aku masih tetap akan hidup. Bagaimana mungkin aku mati oleh senjata bodoh seperti itu. Jangan bercanda”


“Hah?”, aku menatap ia dengan penuh keheranan.


“Woi-woi Mahesvara jangan berkata bahwa kau sudah melupakanku? Aku ini Bodolf, iblis yang bertarung denganmu kemarin”


Aku lalu menjinjing dia dan berlari menuju kamarku.


*****


Aku mengikat tangannya ke atas sehingga ia terlentang sambil duduk didepan tembok.


“Hoi Mahesvara, apa yang kau lakukan? Cepat lepaskan aku”


“Siapa yang memanggilmu ke dunia?”


“Hah? Apa yang kau katakan. Aku datang ke sini atas kehendakku sendiri”, ia berkata dengan sombongnya.


“Jangan bercanda”


Dor…


Aku menembakkan Sniperku ke tembok, namun ia nampak tak bergeming.


“Siapa yang menyuruhmu untuk menculikku”


“Para pengikutku”, singakatnya.


“Dari mana asal mereka?”


“Bukan urusanmu”


“Jangan bercanda”


Dor…


Aku menembakkan kembali Sniperku ke tembok, namun sekarang posisinya lebih dekat ke arah dia, namun ia masih tidak bergeming.


“Bagaimana kau bisa hidup setelah aku menembakmu tepat di jantungmu”


“Bodolf yang agung tidak akan bisa dibunuh dengan senjata murahan seperti itu, hahaha”, ia berteriak dengan sombongnya.


“Jangan bercanda”


Aku mengarahkan sniperku ke arahnya, bersiap untuk membunuhnya.


“Hentikan Mahesvara, sudah aku katakan percuma saja kau menyerangku dengan senjata bodoh seperti itu”, ia berkata dengan tatapan yang serius.


Benar juga, keberadaan dia disini adalah bukti bahwa ia tidak akan mati menggunakan sniper-ku. Tunggu, aku memiliki sebuah rencana.


“HAHAHA”, aku berteriak jahat ke arahnya sambil mengeluarkan cakarnya yang tajam. “Apakah kau tahu betapa hinanya diserang oleh senjatamu sendiri?”, sambungku.


“Ap… ap… apa yang kau rencanakan Mahesvara!”, ia nampak ketakutan ketika mendengar aku tertawa, “Apakah kau berencana membunuhku?”


“Tiiiidak, membunuhmu hanya akan mengakhiri penderitaanmu”, aku melihat selangkangannya, “HAHAHA”, lalu aku kembali tertawa jahat lalu mengangkat tanganku dan mengayunkannya ke arah selangkangannya.

__ADS_1


“Ti... ti… tidaaakkkkk”


__ADS_2