
Setelah apa yang terjadi pagi tadi, aku pergi ke sekolah seperti biasanya. Sekolahku hanyalah sekolah kecil yang berada di balai desa.
Aku pergi ke sekolah bersama Sitha. Ia adalah tetanggaku sekaligus teman bermainku. Dia menggunakan baju berwarna biru dan mempunyai rambut biru bergelombang yang selalu dikepang.
Tubuhnya beberapa centi lebih tinggi dariku, ia juga memiliki bola mata berwarna biru safir yang sangat indah. Dia adalah seorang anak gadis yang enerjik dan tomboy. Namun sifatnya tidak dapat menutupi kecantikan dia untuk anak seusianya.
Sitha adalaha anak yang jenius. Pada usia 5 tahun, Sitha secara ajaib bisa menggunakan sihir penyembuh. Meskipun begitu ia selalu berusaha keras dan rajin bersekolah agar bisa membantu perekonomian keluarganya suatu hari nanti.
Perjalanan kami menuju sekolah membutuhkan waktu sekitar 15 menit dengan berjalan kaki.
Akhirnya kami sampai, aku baru menyadari ternyata tempat ini tidak seperti yang aku bayangkan sebelumnya, ini lebih terlihat seperti tempat penitipan anak dibandingkan dengan sekolah. Tidak ada pelajaran apapun, yang ada hanya berlarian kesana-kemari atau bermain perang-perangan layaknya anak kecil pada umumnya.
Disini kami belajar bersama Pak Einhard. Seorang, lajang, berusia kira-kira 28 tahun. Hobinya adalah bermalas-malasan dan makan gaji buta.
Padahal dengan kemampuannya kemarin, aku sempat merasa antusias akan menjadi muridnya, namun ternyata sebaliknya.
Sekarang aku tahu apakah alasan mengapa desa ini tidak pernah mengirimkan seorang pun pergi belajar ke ibu kota. Berarti itu adalah salahnya.
Aku mulai meragukan Sitha yang berkata bahwa ia setiap hari belajar dengan keras untuk memenuhi harapan keluarga. Pekerjaan dia hanyalah bermain atau menyembuhkan teman-temannya apabila ada yang terluka. Itu saja.
Sudah seminggu aku kesini namun hasilnya tetap sama, mereka hanya bermain dan berlarian tidak jelas sedangkan aku membaca buku di depan halaman kelas.
Di sekolah ternyata aku bisa menemukan banyak buku yang bagus dan bermanfaat. Jujur aku merasa menyesal kenapa aku tidak mengetahui tempat ini dari dulu.
Sekolah kami terdiri dari 5 siswa, mereka adalah Julius (14), Eric (12), Antonio (11), Sitha (7) dan Aku. Julius, Eric dan Antonio adalah tiga anak yang senang menjahiliku, namun anehnya mereka takut kepada Sitha.
Mengamati mereka bermain disela-sela waktuku membaca buku ternyata rutinitas yang cukup mengasyikan. Satu-satunya hal yang menggangguku adalah pak Einhard yang selalu mengganggu kesenanganku.
“Bagaimana keadaan kalian sekarang?”
“Kami baik-baik saja pak. Ngomong-ngomong ada yang mau aku tanyakan Pak”
“Apa yang mau kamu tanyakan?”
“Pak Einhard apa yang bisa kita dapatkan jika bersekolah di ibukota?”
“Pendidikanlah, memang apalagi yang akan kamu dapatkan”
Pak Einhard menjawab pertanyaanku dengan nada yang datar. Aku merasa menyesal bertanya serius kepada orang seperti Pak Einhard. Meskipun benar, namun jawabannya agak menjengkelkan karena bukan itu jawaban yang aku harapkan.
“Maksudku fasilias belajar yang bisa kita dapatkan”
“Oh itu maksudmu. Akses terhadap penelitian, buku dan berbagai hal yang berkaitan dengan sihir dan bela diri, penempaan dan obat-obatan. Tentu saja semuanya didukung oleh asrama dan makanan yang akan kamu dapatkan secara gratis”
“Apakah kita boleh bekerja paruh waktu?”
“Secara aturan memang tidak ada larangan, namun belajar di ibukota sangat berat. Kamu akan dibebani oleh proyek belajar maupun latihan bertarung secara intensif, dan itu benar-benar melelahkan”
Raut wajah Pak Einhard tiba-tiba terlihat muram, aku merasa bahwa ia sedang mengingat-ingat kembali masa lalu yang kelam.
“Apakah nama akademi terbaik disana Pak Einhard?”
“Seperti nama kerajaan kita, Akademi Stacia. Eh jangan-jangan kamu mau kesana. Tidak, tidak mungkin. Kamu bisa diterima disana. Disana hanya dipenuhi oleh bangsawan dan orang-orang berbakat”.
Perkataannya benar-benar menyebalkan. Apakah dia tidak tahu bahwa aku adalah seorang anak yang cerdas dan penuh dengan talenta. Akan aku buktikan bahwa aku bisa masuk ke sana.
“Ngomong-ngomong Pak Einhard pernah bersekolah di akademi mana?
“Dari Akademi Stacia”
Meskipun kemampuannya benar-benar meyakinkan, namun jawabannya benar-benar meragukan. Mana mungkin ada orang pemalas dan tidak berguna seperti dia bersekolah di akademi elit. Hanya ada dua kemungkinan, jika bukan pak Einhard yang bohong tentang asal sekolahnya maka ia berbohong tentang nama akademi terbaiknya.
“Meragaukan. Jangan-jangan Pak Einhard berkata seperti itu karena lulusan dari sana”
“Tidaklah, itu memang kenyataanya. Mana mungkin aku berbohong untuk sesuatu yang diketahui oleh umum seperti ini”
“Berarti Pak Einhard berbohong jika bapak pernah bersekolah disana”
“Mana mungkin aku berbohong. Jika kamu tidak percaya, tanyakan saja kepada mereka apakah mengenal nama Einhard The Prince of Piercing Light”
“Tidak perlu pak, terima kasih. Lebih baik aku percaya. Paling-paling mereka sudah lupa jika bapak pernah bersekolah disana”
Kenyataannya, seterkenal apapun kamu saat masih sekolah dalam dua atau tiga tahun mereka pasti akan melupakanmu kecuali kamu anak yang paling cerdas atau bermasalah seisi sekolah. Masalahnya aku yakin Pak Einhard bukan salah satu diantara keduanya.
“Hehehe, iya juga”
Pak Einhard tertawa malu saat mendengar jawabanku.
“Lalu, apa yang bisa kita lakukan setelah lulus dari akademi?”
“Bekerja di Kuil Suci, Kerajaan atau Organisasi Petualang”
Organisasi Petualang? Sepertinya menarik. Dalam sebuah game biasanya mereka hidup bebas tanpa terikat aturan seperti di Kuil Suci atau Kerajaan. Itulah yang aku dengar dari teman-temanku.
“Apakah bisa kita bergabung di Organisasi Petualang tanpa bersekolah di Akademi?”
“Memang tidak ada aturan, namun kamu akan kesulitan dalam membentuk sebuah tim. Semakin tinggi peringkatmu, maka misi yang diambil akan semakin sulit. Biasanya bekerja sebagai sebuah tim dijadikan sebagai salah satu persyaratannya. Sehebat apapun kamu, selama kamu tidak pernah bersekolah, mereka akan tetap meremehkanmu”
Benar-benar diskriminatif. Orang dinilai berdasarkan latar belakang pendidikan bukan kemampuan. Berarti mau tidak mau, bersekolah di akademi adalah satu-satunya cara untuk menjadi seorang petualang.
“Oh iya, ngomong-ngomong kenapa kamu tidak bermain bersama mereka?”
“Lah, kenapa bapak tidak mengajarkan kami sesuatu?”
Aku bertanya balik kepada Pak Einhard, aku pikir ia harus sedikit menyindirnya agar ia merasa malu dengan posisinya sebagai seorang guru. Ini adalah sekolah bukan tempat penitipan anak, bahkan tempat penitipan anak jauh lebih mendidik dibandingkan dengan ini.
“Uhuk”
Pak Einhard terlihat salah tingkah dengan pertanyaanku. Lalu mukanya berubah seperti biasa dan menawab,
“Bertarung dan mempertahankan diri adalah naluri manusia, berbeda dengan sihir yang perlu latihan dan pemahaman yang baik untuk bisa menguasainya”
Aku merasa kaget mendengar jawaban serius dari pak Einhard. Aku pikir ia akan merasa malu ketika aku menyindirnya.
Tidak ada yang salah dengan cara berpikir Pak Einhard. Memang, kemampuan bertahan hidup merupakan bakat alami yang dimiliki manusia. Dengan kata lain, menggunakan kekerasan adalah cara paling primitif yang dimiliki manusia. Berbeda dengan menggunakan sihir yang menggunakan dasar pemikiran sebagai sumbernya, dengan kata lain latihan adalah kuncinya.
__ADS_1
Namun tetap saja aku merasa ada yang salah. Dimana dalam sejarah peradaban manusia, kemampuan bertarung tidak hanya berdasarkan naluri bertahan hidup namun juga pengalaman dan dasar pemikiran yang kuat. Itulah alasan mengapa manusia bisa mengembangkan berbagai jenis aliran beladiri.
“Terus mengapa selama Pak Einhard mengajar disini tidak pernah ada yang bisa belajar di ibukota kerajaan?”
Uhuk… Pak Einhard pura-pura batuk karena kaget mendengar pertanyaanku.
“Sehebat apapun kemampuan mereka atau sekeras apapun latihan mereka, pada akhirnya yang mampu tertahan adalah dia yang memiliki tekad dan keyakinan yang kuat. Tanpa tekad yang kuat, mengajarkan kalian hanya agar bisa bersekolah diibukota seperti mengantarkan kalian kepada jurang kematian. Aku tidak mau melakukan itu”
Dari perkatannnya aku tidak tahu apakah dia pemalas ataukah orang jenius yang bisa melihat bakat orang lain. Namun dengan membiarkan aku belajar semauku menunjukkan bahwa ia berpikir aku tidak memiliki cukup bakat untuk belajar di ibukota. Sepertinya Pak Einhard telah salah dalam menilai aku. Akan aku buktikan bahwa aku bisa bersekolah di Ibukota kerajaan meskipun aku tidak memiliki kemampuan sihir dan bertarung.
Tiba-tiba datang sebuah rombongan besar prajurit yang datang ke sekolah kami. Kurang lebih mereka berjumlah sekitar 250 orang. Diantara mereka ada seorang memakai baju zirah berwarna emas.
Pak Einhard terlihat kaget. Seketika ia menyuruh anak-anak berbaris dengan rapi. Aku melihat pak Einhard yang biasanya santai dan senang bermalas-malasan berubah menjadi orang yang disiplin. Apakah ini yang dimaksud dengan pencitraan?
“Einhard, apakah kamu mengetahui apa yang terjadi di hutan dekat desa beberapa hari lalu”
“Tidak Yang Mulia”
Pak Einhard berbohong dengan wajah yang sangat meyakinkan. Tatapannya lurus kedepan, tanpa ada rasa takut sedikit pun, padahal memberikan berita bohong akan diganjar dengan hukuman mati.
Aku tidak tahu mengapa Pak Einhard mencoba menutup-nutupinya, padahal jelas-jelas bahwa tidak ada peristiwa lain yang terjadi di hutan selain kerusakan yang ia dan ayah buat. Rasanya tidak mungkin jika orang yang ksatria itu maksud adalah ayah, dia hanyalah seorang pandai besi biasa. Jika bukan itu, lalu siapa dan peristiwa apa yang dimaksud oleh mereka berdua, ah sungguh aku benar-benar tidak tahu.
“Aku yakin dia ada disini, aku sangat tahu siapa yang bisa melakukan kerusakan seperti itu”
“Aku tidak menemukan apapun Yang Mulia, semuanya seperti itu ketika aku datang melihatnya”
“Baiklah aku percaya kepadamu karena kamu adalah orang yang jujur”
“Berhubung aku sudah disini, aku sendiri yang akan melakukan ujian. Siapa diantara kalian yang sudah berusia 15 tahun”
“Aku, Yang Mulia”
Julius mengangkat tangan dengan penuh rasa percaya diri.
“Apakah kamu memiliki kekuatan sihir”
“Tidak, Yang Mulia”
“Morgan maju, buka baju besimu”;
Seorang prajurit maju kedepan lalu membuka baju besinya.
“Julius cabut pedangmu, Morgan akan melawanmu tanpa menggunakan senjata dan kekuatan sihirnya. Jika kamu bisa membuat sebuah goresan maka kamu akan lulus dan bisa bersekolah dimanapun yang kamu mau”
Julius terlihat ketakutan, tangan dan kakinya gemetar sedangkan Pak Einhard terlihat hanya bisa memalingkan muka.
Julius seolah menunjukkan keberaniannya, ia maju kedepan dan mengayunkan senjatanya sekuat tenaga namun hanya dengan sekali dorongan ia jatuh ke tanah.
“Cukup, mulai besok kamu tidak perlu datang ke sekolah lagi. Bantu saja ayah dan ibumu, itu akan lebih berguna”
“Mohon maaf Yang Mulia, dia hanyalah anak yang belum genap berusia 15 tahun. Ini terlalu berat untuknya”, Pak Einhard menyela.
“Einhard apakah kamu tidak percaya dengan penilaianku, baiklah akan aku jelaskan. Aku tidak mengharapkan dia akan menang atau bisa melukai prajurit terbaikku. Yang aku ingin lihat adalah apakah ia memiliki tekad dan keyakinan sebagai seorang prajurit ataukah tidak. Tekadnya terlalu lemah, ia hanya akan menjadi orang yang pertama mati di dalam sebuah pertarungan. Aku hanya menyelamatkan dia agar tidak mati sia-sia”
Aku pikir penjelasannya sangat masuk akal. Namun aku merasa ada semacam diskriminasi disini. Jika kamu memiliki kemampuan sihir, tanpa peduli kuat atau lemah, ia bisa dengan mudah diterima di akademi. Namun jika kamu tidak memiliki kemampuan sihir, kamu harus mempunyai bakat dan kemampuan bertarung yang mumpuni. Sedangkan tidak ada standar penilaian yang jelas terhadap bakat dan kemampuan yang harus dimiliki oleh seseorang agar bisa dinyatakan lulus.
“Maaf Yang Mulia, jika aku bisa mengenainya apakah anda akan memberinya kesempatan. Bukan sekarang namun diwaktu yang telah ditentukan”
Aku mencoba bernegosiasi dengan kesatria emas tersebut. Aku pikir ujian ini terlalu berat untuk anak seusia Julius, meskipun perkataan tersebut terdengar aneh diutarakan oleh anak berusia 7 tahun yang mencoba menantang sang kesatria.
“Menarik, sepertinya kamu seorang anak yang memiliki keberanian”
“Andra hentikan, cepat minta maaf”
Pak Einhard menyela pembicaraan kami. Ia terlihat marah dengan perilaku kurang ajarku namun ia juga merasa takut dengan apa yang akan terjadi kepadaku.
“Tidak pak, aku merasa ujian ini tidak adil”
“Hei nak, siapa namamu?”, Kesatria Emas tersebut bertanya padaku
“Syailendra Parikesit”
“Baiklah, aku ingin tahu apakah kemampuanmu sebesar ucapan dan keberanianmu”
Aku melihat Julius berjalan menuju arahku dengan tangan dan kakinya yang gemetaran. Air matanya bercucuran namun tidak mengeluarkan sepatah katapun.
“Yang Mulia, mohon maafkan Syailendra. Dia masih terlalu kecil untuk memahami apa yang sedang terjadi, usianya masih 7 tahun”
Pak Einhard duduk bersimpuh dihadapan kesatria tersebut meminta pengampunan atas perilaku kurang ajarku terhadapnya.
“Aku tidak marah padanya Einhard, aku hanya ingin tahu apakah kemampuannya sebesar ucapan dan tekadnya ataukah tidak. Aku berjanji bahwa Morgan tidak akan melukainya. Maju nak, sebagai seorang laki-laki kamu harus membuktikan ucapanmu”
Aku melangkah maju ke depan lalu berhadapan dengan orang yang sudah mengalahkan Julius. Aku merasakan tekanan yang luar biasa, apakah ini aura prajurit terlatih yang terbiasa bertempur? Pantas saja Julius merasa gemetaran di hadapannya.
“Nak keluarkan senjatamu”
Aku pun mengambil posisi sembari menggenggam handgun yang sudah aku siapkan.
Kesatria tersebut membuka helmnya untuk memastikan apa yang ia lihat, lalu mengernyitkan dahi seolah-olah tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Terlihat dengan jelas bahwa tatapan tersebut merupakan tatapan yang meremehkan.
Yang bisa aku lakukan hanya memakluminya karena ini bukanlah sesuatu yang lazim di dunia ini. Hanya ada satu hal yang bisa aku lakukan, membuktikan bahwa pandangannya salah.
“Apakah kamu serius akan menggunakan senjata itu nak?”
“Jangan melihat buku dari sampulnya Yang Mulia, justru saya ingin memperingatkan anda agar memerintahkan prajuritnya menggunakan baju zirahnya jika anda tidak ingin ia terluka”
“Hei nak, tarik kembali ucapanmu. Jika kamu menghina kemampuanku berarti secara tidak langsung kamu menghina Yang Mulia”
Prajurit tanpa zirah itu menyela sambil menyondongkan badannya terhadapku, lalu ia mengangkat sedikit dagunya untuk menunjukkan siapa yang berkuasa disini. Sebagai seorang prajurit yang berpengalaman, ia sangat tahu bagaimana cara mengintimidasi lawannya.
“Hahaha, bagus nak aku menyukai keyakinanmu, coba kau buktikan ucapanmu”
Prajurit emas tersebut tertawa dengan bahagia, namun aku tidak melihat adanya aura kesombongan atau kebencian yang ia hadapkan kepadaku. Cara bicaranya terlihat natural, sepertinya helm dan cara berpakaiannya yang membuat ia terlihat sombong.
Aku lihat prajurit tanpa zirah sudah mengambil kuda-kudanya. Dia terlihat sangat waspada, namun aku tahu bahwa ia hanya memprovokasi ku agar aku membuat kesalahan lalu melakukan persis seperti yang ia lakukan kepada Julius.
__ADS_1
Tatapan matanya adalah tatapan orang yang licik dan senang mendominasi, ia hanya ingin menunjukkan perbedaan besar kekuatan diantara kita. Namun sayangnya aku sudah terbiasa melihat tatapan orang seperti ia di duniaku sebelumnya. Perilaku orang bodoh yang mudah ditebak.
“Hei nak, kenapa kamu tak kunjung menyerangku”
“Justru aku yang ingin bertanya, bukankah anda terlalu waspada untuk menyerangku terlebih dahulu”
Aku mencoba memprovokasi balik.
Tiba-tiba parjurit tanpa zirah itu berlari lurus mencoba menyerangku. Seperti yang aku duga, untuk orang yang memiliki sikap arogan dan senang mendominasi sepertinya diprovokasi oleh orang yang lebih lemah seperti sebuah penghinaan.
Dor… Suara tembakan terdengar menggelegar. Teman-temanku menutup telinga karena ketakutan mendengar suara yang kencang itu.
Seketika prajurit itu terjatuh dan memegang kakinya yang terluka.
Aku berlari ke arah Sitha dan mengambil belati miliknya, lalu aku berlari menuju prajurit tadi dengan belati ditanganku. Seperti seorang yang ingin membunuhnya.
“Berhenti Andra”, Pak Einhard berteriak
Dengan refleks aku berhenti. Wah gawat, nyaris saja. Aku melihat sebuah pedang tepat dileherku. Aku tidak tahu kapan prajurit emas itu turun dari kudanya dan berlari ke arahku.
“Apa yang mau kamu lakukan nak”
“Saya hanya ingin mengeluarkan benda asing di tubuhnya. Jika benda tersebut tidak dikeluarkan dalam jangka waktu yang lama, itu bisa menyebabkan efek serius bagi tubuhnya”.
“Mohon maaf Yang Mulia jika saya menyela, meskipun Syailendra tidak bisa menahan ucapannya namun dia adalah anak yang bisa dipercaya”, Pak Einhard berkata
Prajurit emas tersebut memasukkan kembali pedangnya ke sarungnya seraya memperhatikan apa yang akan aku lakukan.
“Sitha kemari”
“Aku”,
Ia mengarahkan telunjuknya kearahnya sendiri seakan tidak percaya bahwa aku memanggilnya.
“Iya”
Sitha pun berjalan kearahku. Aku pun menyobek sedikit luka tembak yang ada di kaki prajurit tersebut. Sitha hanya bisa memalingkan wajahnya, ia seakan tidak tega melihat apa yang aku lakukan.
“Sitha tolong sembuhkan dia”
Heal… Sitha mengeluarkan sihirnya, aku kira luka tersebut akan menutup dengan cepat. Ternyata tidak, perlahan tapi pasti akhirnya berhasil juga. Sitha terkulai lemas namun aku berhasil menyangga tubuhnya.
Aku lihat prajurit tersebut mampu berdiri dengan usahanya sendiri. Lalu ia memandangku seakan-akan tidak percaya dan berlalu pergi meninggalkanku.
“Hahaha, luar biasa Einhard, kamu luarbiasa. Bagaimana kamu bisa melatih mereka menjadi seorang jenius di usia muda. Hei nak siapa namamu?”
Prajurit Emas itu tertawa sambil bertepuk tangan. Ia terlihat antusias dengan apa yang telah aku dan Sitha lakukan seolah-olah melihat sebuah acara pementasan yang menakjubkan.
“Sitha Prameswari”
“Baiklah akan ku ingat nama kalian. Syailendra dan Sitha, kalian berdiri dihadapanku. Aku, Arthur Pendragon Raja dari Stacia menyatakan kalian lulus dalam ujian dan kalian bisa bersekolah diakademi manapun yang kalian inginkan di kerajaanku ini”.
Hah raja, apakah aku tidak salah mendengarnya. Pantas saja ia dipanggil Yang Mulia. Aduh, sepertinya aku berurusan dengan orang yang salah.
“Syailendra, apa senjata yang kamu pergunakan?”
“Ini adalah handgun Yang Mulia”
“Handgun? Darimana kamu mendapatkanya?”
“Ayahku yang membuatnya Yang Mulia, namun sayangnya ia baru saja meninggal beberapa hari lalu”
“Sangat disayangkan. Maukah kau menjualnya kepadaku?”
“Mohon maaf Yang Mulia, ini adalah peninggalan satu-satunya yang ayah berikan kepadaku”
“Baiklah jika begitu. Ngomong-ngomong, apakah kalian ingin bersekolah di akademi saat ini juga”.
Sitha memandang ke arahku, dari cara memandangnya seolah-olah ia berkata aku akan ikut apapun keputusan kamu. Sungguh tidak punya pendirian.
“Maaf Yang Mulia, untuk urusan ini aku harus mendiskusikannya dengan ibu”
“Dan kamu bagaimana Sitha?”
“Aku takut karena tidak ada teman seusiaku, Yang mulia. Namun jika Syailendra ikut, aku akan ikut”
Sial, aku hanya dijadikan tameng hidup oleh Sitha.
“Syailendra tunjukan aku jalan menuju rumahmu”
“Maaf Yang Mulia, dirumahku tidak ada siapa-siapa”
Apapun caranya, aku harus mencari cara agar Raja Arthur tidak bertemu dengan ibu. Ada dua alasan yang membuat aku tidak mau membuat ia bertemu dengan ibu, pertama aku tidak mau keluargaku berurusan dengan orang kerajaan dan kedua masih ada urusan yang belum aku selesaikan disini.
“Dimana ibumu?
“Pergi ke hutan mencari jamur dan tumbuhan”
“Einhard kamu pergi ke hutan, cari ibunya”
Ck… pada akhinya usahaku gagal.
“Baik yang Mulia", Pak Einhard berkata sambil membungkukkan badan lalu berbalik menghadap murid-muridnya sembari berkata, " Anak-anak pelajaran hari ini sudah selesai. Kalian boleh pulang”.
Teman-temanku terlihat kegirangan karena mereka bisa pulang lebih cepat.
Holy Movement
Lalu, Pak Einhard pun pergi dengan sangat cepat untuk menemui ibuku.
__ADS_1