
Aku melihat teman-temanku bermain dengan ceria, sedangkan aku hanya bisa memandangi mereka dengan tatapan kosong. Aku masih belum menerima semua ini, semuanya terlalu cepat untuk menjadi kenyataan.
“Menjadi lemah itu menyakitkan bukan? Kamu tidak bisa melindungi orang yang kamu cintai. Kamu harus menjadi orang kuat, hidup kalian akan semakin sulit tanpa ada Mahesa”, Pak Einhard berkata lalu, mengusap kepala dan tengkukku
“Hm”, aku hanya bisa bergumam dan menganggukkan kepala karena aku tidak bisa berkata apa-apa. Rasanya sangat menyakitkan, dadaku merasa sesak sampai-sampai aku tidak bisa mengatakan sepatah katapun mengenai kejadian kemarin. Lalu aku bertanya tentang kejadian aneh yang aku rasakan kemarin untuk mengalihkan perhatianku dari rasa sakitku, “Pak Einhard, kenapa kemarin aku merasa semuanya melambat ketika aku diserang oleh Hound?”
“Dengarkan kata-kataku, kamu harus berjanji tidak akan menggunakan dan menceritakan kekuatanmu kepada orang lain. Jika kamu melanggar, akibatnya adalah kalian akan berada dalam bahaya”, Pak Einhard mengarahkan badannya ke arahku lalu menatapku dengan tatapan yang tajam. Tanpa sadar aku mengangguk menyetujui perintahnya. Lalu ia berkata, “Saat ini namamu adalah Sailendra Parikesit putra dari Mahesa Parikesit”
“Tidak, aku tidak mau. Namaku Adalah Syailendra Mahesvara putra dari Mahesa Mahesvara”, aku beranjak dari tempat dudukku dan menolak permintaannya tersebut. Aku pikir ini benar-benar keterlaluan, membuang nama keluarga sama saja dengan memutus ikatan darah.
Pak Einhard menatapku dengan tatapan yang tajam, seolah-olah ia ingin membunuhku. Entah apa yang merasukiku, aku memiliki kekuatan untuk menatap balik kedua matanya seolah-olah menantangnya. Lalu, ia tiba-tiba menghela napas lalu berbaring di halaman depan teras sekolah dan bergumam, “Hah sepertinya hari ini akan sangat melelahkan”
*****
Tak terasa malam telah datang. Malam ini, ibu hanya memasak roti dengan air campuran garam untuk menghilangkan rasa hambarnya. Sekarang aku menyadari bahwa hidup tanpa kehadiran sosok seorang kepala keluarga akan membuat keadaan kami sesulit ini.
Selepas makan malam, tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk rumah kami. Aku mengikuti ibu dari belakang untuk melihat siapa yang datang berkunjung ke rumah kami. Ternyata dia adalah Pak Einhard.
Pak Einhard beberapa saat menatapku lalu mengalihkan pandangannya kepada ibu dan berkata, “Alika, ada yang ingin aku bicarakan denganmu”
“Andra, pergilah ke kamar dan tutup pintunya”, ibu seperti mengerti dengan isyarat yang diberikan kepadanya, lalu menyuruhku pergi ke kamar.
“Baik bu”, jawabku. Lantas pergi ke kamar.
Aku tidak tahu apa yang dibicarakan antara ibu dengan pak Einhard. Pembicaraan tersebut tidak berlangsung lama. Beberapa saat kemudian ibu membuka pintu kamarku dan berkata, "Kemari nak, ikut dengan ibu”.
Aku mengikuti ibu dari belakang, ternyata Pak Einhard masih duduk di kursi rumah kami.
“Ada apa bu?”, aku bertanya kepada ibu.
“Mulai sekarang namamu adalah Syailendra Parikesit putra dari Mahesa Parikesit”, jawab ibu.
“Apa bu? Aku tidak mau, jangan-jangan ini yang barusan ibu dan pak Einhard bahas. Bagaimana jika ayah hidup dan mencari kita bu . Apa yang akan aku katakan saat bertemu ia”
Aku menolak permintaan ibu. Di dunia ini nama keluarga adalah satu-satunya hal yang sangat berharga. Mengganti nama keluarga berarti memutus ikatan darah dengan mereka. Aku pikir ini adalah sesuatu yang gila, apakah ibu berencana menghapus ayah dari hidup kami? Lalu bagaimana jika ayah masih selamat dan mencari kita. Kita tidak akan pernah bertemu selamanya.
“Ayahmu sudah mati”, jawab ibu dengan menangis.
__ADS_1
“Mayatnya belum ditemukan bu, ada kemungkinan bahwa ayah masih hidup”, aku mencoba menyangkal jawaban ibu.
“Ini adalah isyarat bahwa ayah telah mati”, ibu berkata sambil menunjukkan belati ayah.
“Apa?”, aku bertanya seolah tidak percaya, berarti ayah memang sudah berencana untuk mati. Tanpa sadari aku meneteskan air mataku, berarti aku adalah orang yang telah menyebabkan ayah mati.
Ibu memelukku dengan terisak sambil berkata, “Ini adalah permintaan sekali seumur hidup dari ibu kepadamu. Untuk kali ini saja turutilah perkataan ibu”.
“Baiklah bu”, jawabku.
“Mohon maaf jika aku mengganggu waktu kalian, aku harus pergi”, Pak Einhard berkata sambil bangkit dari kursinya.
“Baiklah, terima kasih Einhard”, jawab ibu sambil menyeka air matanya dan mengantarkan Pak Einhard hingga menuju pintu depan rumah.
Dan pembicaraan kami bertiga menutup malam itu.
*****
Ini adalah pertama kalinya aku berada di Blacksmith ayah sendirian, meskipun kotor namun terlihat rapi. Debu-debu di tungku pembakaran terlihat berserakan, aku pikir itu adalah hal yang wajar, sekeras apapun membersihkannya pasti tetap akan tersisa. Disampingnya terdapat kayu-kayu bakar, alat peniup api dan sebuah kapak untuk memotong kayu bakar.
Ditengah-tengah ruangan terdapat besi tempat ayah menempa dan disampingnya terdapat bak penampung air untuk mendinginkan hasil pembakaran besi. Aku juga melihat sebuah rak dipenuhi berbagai macam besi yang belum sempat ayah pergunakan.
Tidak terasa semuanya telah selesai. Saat ini aku hanya memiliki 20 peluru, tandanya aku hanya memiliki 20 kesempatan untuk menembak.
Aku mempunyai tiga alasan mengapa mempergunakan handgun ini akan menjadi keputusan yang berat. Pertama, aku tidak punya uang untuk membayar orang. Kedua, aku tidak punya orang yang dapat aku percaya untuk membuat ini. Dan terakhir, meskipun aku memiliki bahan-bahannya, aku tidak memiliki kemampuan menempa.
Setelah selesai mengisi peluruku dengan mesiu, aku putuskan pergi ke pinggir hutan dekat desa sendirian. Aku pikir sekitar sini adalah tempat paling aman dari amukan warga maupun serangan monster.
Akhirnya sampai juga. Aku coba mengarahkan handgunku ke udara dan mencoba menarik pelatuknya. Heh kenapa terasa keras? Apakah ini tidak berfungsi? Ah tidak, belum apa-apa sudah rusak.
Lalu aku perhatikan handgunku sambil meratapi nasibku. Setelah aku amati ternyata aku lupa untuk melepaskan kunci pengamannya. Sial karena terlalu bersemangat aku sampai melakukan tindakan konyol seperti itu.
Setelah aku melepaskan kunci pengamannya lalu aku mengarahkan Handgunku ke arah langit dan menarik pelatuknya.
Dor…
Suara tembakan berdentum dengan kerasnya, membuat burung-burung beterbangan ke udara. Telingaku berdengung karena tidak terbiasa dengan suaranya. Benar-benar keras.
__ADS_1
Aku lihat seekor kelinci berada sekitar 10 meter dari hadapanku. Ku arahkan bidikanku ke arah kelinci tersebut.
Dor…
Kelinci tersebut tertembak tepat di jantungnya dan dia pun mati seketika.
Tiba-tiba aku melihat beberapa warga datang kearahku. Mereka menggunakan peralatan lengkap.
“Andra, suara apa barusan?”, seorang laki-laki tua berkata kepadaku.
“Aku tidak tahu. Aku kemari karena mendengar suara itu”, jawabku.
Aku berbohong karena aku yakin bahwa orang dewasa tidak akan pernah mempercayai perkataan anak kecil apalagi jika hal tersebut terasa tidak masuk akal bagi mereka.
Waktu sekolah hampir tiba, aku bergegas pulang kembali kerumah membawa kelinci hasil buruanku. Aku membayangkan betapa senangnya ibu ketika mengetahui bahwa anaknya sudah pandai berburu.
“Ibu, ibu”, teriakku memanggil ibu
“Ada apa nak, kenapa kamu berteriak-teriak sepagi ini?”
“Lihat apa ini bu, aku mendapatkannya di hutan dekat desa menggunakan senjata yang ayah buatkan untukku”, aku berkata sambil menunjukkan kelinci hasil buruanku.
Bukk…
Tiba-tiba ibu menjitak kepalaku, aku melihat sorot matanya benar-benar tajam. Sepertinya ia benar-benar marah. Sial, aku lupa jika aku hanya anak berusia 7 tahun. Apalagi tidak ada yang berani ke hutan pagi-pagi buta seperti ini.
“Aduh”, aku mengeluh sakit
“Dasar anak bodoh apa kamu sudah bosan hidup”, ibu berkata kepadaku sambil melotot dan menaruh tangannya diatas pinggangnya
“Maafkan aku”, aku menjawab pernyataan ibu dengan tertunduk lesu.
“Akan ibu maafkan tapi kamu harus berjanji bahwa kamu tidak akan melakukannya lagi”
“Baik bu, tapi ibu harus menerima pemberianku ini”, Aku mengangguk menyetujui perkataan ibu lalu mengarahkan kelinci tangkapanku kepada ibu.
“Baiklah, ibu terima. Terima kasih nak”
__ADS_1
Lalu ibu menerima kelinciku dan pembicaraan itu pun menutup pagiku bersama ibu