
Aku menancapkan kuku Bodolf tepat di depan selangkangannya.
Eh, dia pingsan?
Serius?
Ternyata dia benar-benar lemah.
Hehehe…
Tiba-tiba sebuah ide brilian melintas di atas kepalaku.
Ku ambil sebuah handuk beserta saus tomat yang ada kantin asrama, lalu ku balut ia disekitar selangkangannya.
“Hoi bangun”, aku memukul lemah pipinya. Ku panggil beberapa kali ternyata tidak ada reaksi juga. Lalu aku ambil sebuah gulungan kertas kemudian aku pukulkan tepat di kepalanya.
Plakkk…
“Aduuuhhh”, teriak Bodolf, “Apa yang kau lakukan Mahesvara?”
“Hehehe”, ku lihat selangkangannya yang terbalut seperti sebuah popok dengan saus tomat.
Bodolf melihat ke arah selangkangannya, tiba-tiba raut wajahnya berubah. Ia hanya diam terpaku dengan mulut menganga lalu melihat ke arahku.
“Tiiiidaaaakkkkk”, teriak Bodolf kemudian ia pingsan kembali.
“HAHAHAHA”, aku teriak hingga terpingkal-pingkal melihat apa yang terjadi dengan Bodolf. Ia benar-benar terlihat seperti orang bodoh. Setelah aku puas tertawa lalu ku bangunkan ia kembali. “Hoi bangun”, aku kembali memukul pelan pipinya beberapa kali hingga akhirnya ia terbangun.
Ia kembali melihat ke arah selangkangannya seolah-olah tidak percaya.
Haaa…
Ia menahan napas lalu berkata seperti orang bodoh, “Kau lebih kejam daripada iblis, Mahesvara-sama. Bahkan, iblis saja tidak pernah melakukan hal ini kepada orang lain”
Aku mencoba terlihat dingin seolah-olah tidak ada yang terjadi. Sial, benar-benar sulit aku benar-benar ingin tertawa melihat perkataanya.
“Apakah kau ingin adikmu kembali?”
“Tentu saja Mahesvara-sama. Aku ini masih perjaka, apakah kau ingin aku menjalani sisa hidupku dengan perasaan hampa?”
“Baiklah jika begitu. Aku bisa mengembalikannya asalkan kau menjawab beberapa pertanyaanku”
“Baik, Mahesvara-sama. Hamba bersedia menjawab semua pertanyaan anda”
“Pertanyaan pertama, siapa yang memanggilmu ke dunia ini?”
“Hamba tidak tahu, Mahesvara-sama. Mereka hanya berkata bahwa mereka memiliki tujuan yang sama dengan saya. Oleh sebab itu kami bekerja sama”
Sial, ternyata ia benar-benar tidak tidak tahu.
__ADS_1
“Mengapa kalian ingin menculikku?”
“Hanya orang keturunan Mahesvara yang memiliki kekuatan untuk membawa iblis ke dunia manusia”
“Mengapa kau ingin membawa iblis ke dunia manusia?”
“Seluruh iblis bercita-cita untuk mewujudkan keinginan raja iblis sehingga mereka bisa mendapatkan ketenaran dan kekayaan, Mahesvara-sama”
“Bukankah sebagai seorang penerus raja iblis kau sudah memilikinya?”
“Mohon maaf Mahesvara-sama, saya sudah berbohong. Saya hanyalah seorang penjaga istana kerajaan iblis”
Eh…
Hanya seorang penjaga istana iblis, apakah kau serius? Jika penjaganya saja sekuat ini lalu bagaimana dengan kekuatan dari kaum bangsawan atau bahkan raja iblis. Pantas saja bangsa manusia terus meningkatkan kekuatan mereka untuk bersiap menghadapi takdir mereka. Untung saja aku tidak bergabung dengan mereka. Jika iya, mungkin aku akan menyebabkan bencana bagi umat manusia.
Aku pikir cerita yang aku dengar dari ayah 7 tahun yang lalu hanyalah isapan jempol belaka, ternyata itu memang benar adanya. Raja iblis bercita-cita untuk kembali ke dunia manusia. Terdapat banyak sekali pertanyaan yang ada di benakku. Jika orang-orang tersebut bisa memanggil iblis ke dunia nyata, mengapa mereka hanya memanggil iblis tingkat rendah sepertinya?
Lalu, bagaimanakah fenomena Gerhana Bulan Merah Darah tercipta? Apakah aku pemicunya? Jangan bercanda, saat ini aku sudah berada di tahap awakening, namun aku masih saja merasa kelelahan saat menggunakan kekuatan sihirku. Bagaimana mungkin aku bisa menciptakan fenomena yang besar seperti itu. Ha… jangan-jangan mereka ingin mengorbankan aku. Ya, mengacu pada apa yang terjadi pada Alicia hanya itulah satu-satunya alasan yang paling logis. Gawat… gawat-gawat-gawat, bisa-bisa aku mati muda karena mereka.
“Beritahu aku, mengapa kau tidak mati setelah aku menembak jantungmu”
“Perbedaan antara iblis dan manusia adalah dimana roh mereka berada, Mahesvara-sama. Roh manusia berada di jantung mereka, sedangkan iblis berada di akar sihir mereka. Hanya senjata suci atau senjata terkutuk yang bisa membunuh iblis, Mahesvara sama”
Oh begitu rupanya, pantas saja aku tidak dapat membunuhnya.
Haaaahhh…
Aku mencoba mengingat-ingat seluruh kisah hidupku. Hanya orang-orang desa, Pak Einhard, kakek Thompson, kak Brian dan Sitha yang mengetahui identitasku. Apakah mungkin salah satu diantara mereka yang sudah mengkhianatiku? Ah tidak, rasanya tidak mungkin. Jika iya, maka mereka sudah melakukannya dari dulu.
Penyerangan Akademi Stacia, penyerangan ibukota dan pertarunganku dengan Bodolf, semuanya seperti mengarah kepadaku. Lalu, apa hubungannya dengan Alicia? Mengapa mereka menculik Alicia? Terlebih lagi ia adalah seorang penerus takhta. Jelas-jelas mereka tidak membutuhkan uang, bahkan mereka menjadikan Alicia sebagai tumbal untuk memanggil Bodolf. Apakah yang mereka butuhkan dari Alicia?
Lalu, siapakah orang yang membantuku mengalahkan Bodolf? Ia terlihat seperti mengenalku bahkan aku merasa tidak asing dengannya, tapi di mana aku mengenalnya. Baahhh… terlalu banyak kepingan puzzle yang belum aku temukan.
“Mahesvara-sama, Mahesvara-sama, kapankah Anda akan mengembalikan adikku?”
Lalu aku bangkit dan bersila didepannya.
“Apakah kau yakin bahwa kau ingin mengembalikannya?”
“Tentu saja Mahesvara-sama, semua laki-laki membutuhkannya”
“Baiklah, lihat baik-baik”, lalu aku memejamkan mata dan berkomat-kamit seperti seorang dukun yang sedang membaca sebuah mantra. Lalu, aku mengintip Bodolf untuk melihat apa yang sedang ia lakukan.
Uhuk…
“Apa yang tejadi pada Anda Mahesvara-sama”
“Ti… tidak, ini sedikit agak menyulitkan. To… tolong jangan ajak aku berbicara”, aku berkata sambil terbata-bata karena menahan tawa. Sial, aku hampir hampir saja ketahuan. Dia benar-benar lucu, wajahnya telihat seperti anak kecil yang berdoa agar mainannya yang hilang bisa kembali lagi. “Abracadabra”, aku mengarahkan kedua tanganku ke arah selangkangannya seperti orang yang sedang mengeluarkan tenaga dalam. “Argggghhhh”, lalu aku meringis seperti orang yang mengeluarkan seluruh kekuatannya.
__ADS_1
“Apakah kau tidak apa-apa Mahesvara-sama”
Aku melirikkan mataku ke arah wajahnya.
Uhuk…
“Ja… Jangan ganggu aku”
Sial, sepertinya aku sudah tidak bisa menahan tawa. Wajahnya benar-benar terlihat lucu, seperti seseorang yang sedang menunggu sebuah keajaiban.
“Hah… hah… hah…”
Aku berbaring di lantai sambil terengah-engah seperti orang yang sedang kehabisan napas.
“Bagaimana hasilnya Mahesvara-sama”, ia berkata seperti orang yang bodoh.
“Ka… kau yakin ingin melihatnya?”
“Te… tentu saja Mahesvara-sama”, Bodolf berkata sambil tergagap.
“Haaahhhh”, aku menghela napas lalu berkata, “Aku pikir kau harus mempersiapkan hatimu terlebih dahulu”
“Ke… kenapa Mahesvara-sama?”
“Sial, sepertinya aku membuatnya sedikit lebih hebat daripada sebelumnya”
“Hooooohhhh… cepat tunjukkan, cepat tunjukkan”, Bodolf berkata dengan mata yang terlihat berbinar-binar.
“Apakah kau benar-benar siap?”
“Hahhh”, Bodolf berkata sambil menganggukkan kepala.
“Sabar”, Aku membuka tali popoknya dengan perlahan-lahan, terlihat keringat dingin keluar dari pelipisnya. Akhirnya selesai, namun aku belum mengangkat popok dari selangkangannya.”Bagaimana, apakah kau benar-benar siap”
“Hm hm”, Bodolf menganggukkan kepala sambil mendengus.
“Oke. Satu… dua… tiga..”, lalu ku tarik popok tersebut dari selangkangannya. “Taaaaddaaaa… bagaimana? Hebat bukan”
“Hooohhhh, heebaaatttt. Bagaimana kau melakukannya Mahesvara-sama? Ia terlihat lebih hebat daripada sebelumnya”, Bodolf berkata seperti seorang anak kecil yang baru saja melihat sesuatu yang menakjubkan. “Haaahhhh, aku merasa aku telah kembali menjadi laki-laki seutuhnya”, sambung Bodolf dengan cara berbicara yang kembali seperti biasanya.
“HAHAHAHAH-HAHAHAHA”, aku tertawa terpingkal-pingkal karena melihat tingkah lakunya. Aku benar-benar tidak bisa menahannya lagi bahkan sambil berguling-guling dilantai.
“Hoi, ada apa denganmu Mahesvara? Untuk pertama kalinya dalam hidupku aku benar-benar merasa berhutang budi terhadap seseorang. Terima kasih”, Bodolf berkata dengan suara yang rendah.
“HAHAHAHA”, aku tertawa semakin keras mendengar ucapannya. Sial, aku tidak menyangka bahwa semuanya akan berakhir akan selucu ini.
“Hoi Mahesvara, ada apa denganmu? Apakah kau menjadi gila gara-gara menyembuhkanku?”
“HAHAHAHA. Hen... hentikan, jangan berbicara. Si… sial, perutku sakit. Aku benar-benar sudah tidak sanggup menahannya lagi. Hahaha”, aku mencoba mengendalikan diriku, “Ap… apa yang kau katakan, sedari awal ia memang tidak pernah menghilang dari tempatnya”
__ADS_1
“Hah?”, tiba-tiba pandangan Bodolf berubah. Wajahnya terlihat datar. “Sialan kau Mahesvara, ternyata kau sudah menipuku”
“HAHAHA”, aku kembali tertawa bahkan lebih keras dari sebelumnya. Aku tidak menyangka bahwa mengerjai seorang iblis ternyata akan semenyenangkan ini.