Membangun Kerajaan Bisnis Hiburan Di Dunia Lain

Membangun Kerajaan Bisnis Hiburan Di Dunia Lain
Episode 46 (UPACARA PERAYAAN)


__ADS_3

Aku berjalan ditemani oleh angin yang berhembus berlatarkan benteng kerajaan yang hancur dan debu yang beterbangan disekelilingku. Hanya tinggal 100 meter jarak yang terbentang diantara aku dan Kantor Organisasi Petualang, dengan langkah gontai aku berjalan menuju kesana.


Terlihat ribuan pasang mata tertuju ke arahku. Tatapan mata mereka tampak haru melihat kedatanganku, seperti menyambut seorang pahlawan yang hendak pulang dari sebuah pertarungan yang mustahil untuk dimenangkan.


Seketika mereka berlari ke arahku, beberapa pasang tangan seperti hendak mengangkatku. Lalu aku mengangkat tanganku sebagai isyarat agar mereka tidak melakukan itu. Mereka sangat mengerti dengan isyarat tanganku, malah membuat mereka hanya bisa berdiam terpaku karena menyadari luka-luka yang menghiasi sekujur tubuhku.


Tiba-tiba sebuah jalan lurus memecah kerumuman orang itu, seperti menunjukkan jalan kemana arah Kantor Organisasi Petualang yang hendak aku tuju. Tak butuh waktu, akhirnya aku sampai di sebuah meja resepsionis untuk menemui nona Annelies.


“Ada yang bisa saya bantu Tuan Amadeus?”


“Saya ingin melaporkan misi”, lalu aku menyerahkan lencanaku.


Nona Annelies menerima lencanaku dan berkata, “Mohon tunggu”


“Ayo tuan”, beberapa orang menghampiriku dan mengantarkan aku untuk duduk di sebuah bangku lalu memberikan aku segelas minuman.


Glek… Glek… Glek…


Ahhh… hal paling nikmat di dunia ini adalah menenggak segelas minuman setelah bekerja keras. Ahhh tidak, rasanya tubuhku akan segera meleleh. Tidak-tidak, tidak boleh. Sebagai seorang penyelamat kota aku harus tampak berwibawa.


Ku lihat beberapa gadis datang menghampiriku dan berkata, “Mo… mohon maaf tuan, izinkan kami menyembuhkan luka-lukamu”


Ah inilah yang aku tunggu-tunggu selama ini.


“Silahkan”, aku berkata.


Heal…


Akhirnya luka-lukaku berhasil tertutup sempurna. Rasanya benar-benar nyaman.


“Terima kasih”, lalu aku tersenyum.


Tiba-tiba wajah mereka memerah, “Kyaaa”, lalu mereka berteriak dan pergi entah kemana.


Pandangan orang-orang berubah seketika, tatapan mereka terlihat sangat menyeramkan seperti monster yang hendak menerkam manusia. “Hehehe”, tiba-tiba mereka tertawa jahat lalu memegang tangan dan kakiku.


“Tidaakkk”


Lalu mereka melemparkanku ke udara.


“Hidup Amadeus-sama, hidup Amadeus-sama”, teriak mereka.


Hentikaannn, woi hentikaannn. Kalian telah merusak betapa dramatisnya cerita kepahlawananku. Ya ampun.


“Tolong hentikan tuan-tuan, ada sesuatu yang hendak saya bahas dengan tuan Amadeus”


“Ah tidak asik”, salah satu dari mereka berkata lalu mereka menurunkanku.


Jika aku tidak menggunakan jubahku, mungkin mereka akan melihat betapa pucatnya aku akibat perbuatan mereka. Jantungku berdegup dengan kencang, barusan benar-benar menakutkan. Aku pikir aku akan mati, untung saja nona Annelies datang menyelamatkanku.

__ADS_1


“Selamat tuan atas pencapaian Anda”, nona Annelies memberikan aku sebuah lencana yang berbeda.


“Mohon maaf nona, ini bukan lencana saya”


“Ini lencana baru anda tuan, selamat sekarang anda adalah seorang pemegang lencana adamantium”


“HAAHHH?”, aku dan orang-orang yang berada di kantor organisasi petualang berteriak.


“Hehehe”, orang-orang mulai tampak terlihat aneh.


“Hah?,” aku menatap mereka dengan tatapan membunuh.


“Fiuh… fiuh… fiuh…”, mereka tiba-tiba bersiul seolah tidak terjadi apa-apa.


“Mohon maaf tuan, saya undur diri. Silahkan rayakan keberhasilan anda”


“Terima kasih”


Dan nona Annelies pun pergi meninggalkanku.


Woi-woi tunggu sebentar. Rasanya ada yang salah dengan semua ini. Padahal, barusan adalah saat yang aku tunggu-tunggu, bahkan aku berpikir kira-kira berapakah hadiah yang akan aku terima untuk sebuah misi membunuh iblis dan menyelamatkan kota? Ternyata tidak ada.


Jangan bercanda. Aku sudah mempertaruhkan nyawa untuk kalian semua. Apakah hanya ini yang aku terima? Ahhhh aku benar-benar merasa kesal. Di dunia manapun ternyata sama saja, negara hanya akan memberikanmu apresiasi untuk segala prestasimu melalui sebuah tanda jasa untuk segala prestasimu. Lalu mereka meninggalkanmu sendirian seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Apakah aku tidak akan mendapatkan apapun untuk segala usahaku, setidaknya uang pembinaan atau kompensasi untuk biaya pengobatan?


Terlalu banyak mengeluh hanya akan membuat aku lelah. Aku ingin menangis, padahal aku bukanlah seorang relawan yang rela bekerja tanpa dibayar. Aku adalah seorang petualang, bahkan bayaran untuk misi tingkat rendah dapat dikatakan sangat manusiawi dibandingkan dengan apa yang aku terima saat ini. Jika aku tahu akan begini jadinya, lebih baik aku beristirahat di rumah sakit dengan tenang.


Tidaakkk…


Tolong aku, aku sedang di culik.


*****


Ternyata aku dibawa ke balai desa. Disini terlihat begitu ramai, sepertinya ini adalah upacara perayaan atas keberhasilan yang sudah kami capai.


Tiba-tiba beberapa orang membawa bertong-tong bir.


“Darimana kalian mendapatkannya”


“Kerajaan yang memberikannya sebagai ucapan terima kasih”


Srrkkk…


Terdengar suara bir yang mengalir di sebuah cangkir.


“Fuwah… aku tidak menyangka bahwa seorang rookie muda seperti anda bisa tumbuh begitu cepat”


“Ha… ha… ha…”, aku tertawa palsu. Secara teknis aku memang berusia 15 tahun, tapi secara mental aku adalah paman-paman berusia 43 tahun. Jadi tunjukkan rasa hormatmu.


Tiba-tiba dua gadis petualang yang sangat cantik duduk di sampingku.

__ADS_1


Aku hanya bisa berdiri tegak duduk diatas kursiku. Aaaaa… apa yang sedang aku lakukan? Apakah aku sedang menapaki tangga kedewasaan?


Srrkkk…


Ku lihat cangkirku diisi dengan bir oleh mereka berdua. Apa yang kalian lakukan? Aku masih dibawah umur. Jika ketahuan aku bisa di gantung hidup-hidup oleh ibu.


“Silahkan tuan”


“Aaaa… aku masih dibawah umur”


“Hahaha, apa yang kau katakan tuan. Organisasi Petualang tidak mungkin mempekerjakan anak dibawah umur”, Pria petualang tersebut berkata.


Oh, ternyata tidak buruk juga. Aku mulai sedikit menyukai dunia ini.


“Ternyata dibalik kekuatan besarnya. Tuan Amadeus ternyata seorang pria yang lucu, hihihi”, salah satu dari gadis itu berkata, lalu mereka berdua merapatkan tubuhnya ke arahku.


Fiuhhh… apa itu, sesuatu yang lembut menyentuh kedua lenganku.


Ku lirikkan padanganku ke arah bawah. Hehehe, aku pikir saat ini wajahku tampak tenang seperti seorang yang baru saja mendapatkan pencerahan. Maafkan aku ibu, nampaknya Andra yang sekarang bukan lagi anak baik seperti yang ibu kenal dulu.


“Apakah aku boleh ikut bergabung”


“De… Dengan senang hati”, aku berkata. Kyaaa… onee-chan, ada angin apa yang membawa nona Annelies duduk di mejaku. Aku benar-benar merasa diberkahi hari ini.


Nona Annelies meminum secangkir bir lalu berkata, “Kyaahhh, benar-benar menyegarkan”


“Aaaa… aku tidak menyangka ternyata nona Annelies sesantai itu”


“Hhhhmmm”, nona Annelies tampak merajuk, “Jangan panggil aku seperti itu, Amadeus-sama. Apakah aku tampak seperti orang tua dihadapanmu? Panggil saja aku Annelies, A N N E L I E S, Annelies”


Oh tidak apakah dia sedang mabuk. Aku tidak menyangka bahwa nona Annelies yang selalu nampak anggun ternyata bisa seperti ini saat ia sedang mabuk.


“Oooo… oke”


“Amadeus-sama, Amadeus-sama. Apakah kau sudah punya pasangan?”, nona Annelies bertanya.


“Ti… tidak. Aku berkata sambil melirik ke arah lain”


“Kyaaa… Syukurlah”, teriak nona Annelies.


Geeezzzz…


Tiba-tiba bulu kudukku berdiri, aku merasakan hawa membunuh disekitar sini. Ku lihat ke arah kanan dan kiri. Ternyata tatapan itu berasal dari seorang wanita yang berada di meja yang tepat di hadapanku.


Rebecca-sama, dialah yang menatapku. Oh… tidak, aku benar-benar dalam posisi yang gawat saat ini. Sepertinya ia benar-benar ingin membunuhku.


 


 

__ADS_1


__ADS_2