Membangun Kerajaan Bisnis Hiburan Di Dunia Lain

Membangun Kerajaan Bisnis Hiburan Di Dunia Lain
Episode 42 (PERTANDINGAN ULANG)


__ADS_3

Drak… drak… drak…


Tulangku bahu dan lenganku dipijat untuk mengembalikan posisinya seperti semula.


“Arghhh…”, rasanya benar-benar menyakitkan. Ternyata benar, menggunakan kekuatan sihirku secara berlebihan benar-benar berbahaya. Penggunaan Acceleracion tanpa menggunakan senjata akan memberikan dampak buruk bagi penggunanya. Percepatan waktu akan memberikan momentum namun tidak akan menambahkan ketahanan pada bendanya.


Satu-satunya cara aku harus bisa mengendalikannya. Satu-satunya alasan adalah aku tidak bisa mengendalikan emosiku. Mungkin semenjak aku melawan Bodolf. Contohnya barusan, aku menggunakan acceleracion pada seluruh gerakanku namun konsekuensinya tubuhku tidak bisa menahan besarnya momentum yang ia terima.


Otak manusia bekerja sebagai limiter untuk mengatasi luka yang bisa ditoleransi oleh tubuh. Dengan kata lain, otakku telah termanipulasi akibat dari percepatan yang dilakukan oleh sihir ruang dan waktu. Inilah alasan yang paling masuk akal mengapa Pak Einhard melarangku untuk mengembangkan kemampuan sihirku ke tingkat selanjutnya.


Aku melihat kak Rebecca memimpin pasukan. Sudah kuduga, sebagai salah satu murid terbaik di akademi Stacia pastilah ia seseorang yang hebat. Bahkan membuat seekor Goliath tidak berkutik dihadapannya.


“Tuan Amadeus, aku tidak menyangka bahwa anda bisa menjatuhkan seekor Goliath dengan tubuh yang sedang terluka parah”, Seorang wanita berkata.


“Tubuh Amadeus sedang terluka parah”, terdengar suara orang-orang yang saling berbisik. Kabar itu menyebar luar dengan cepatnya seperti angina yang berhembus.


Bodoh, mengapa ia berkata hal yang tidak perlu.


“Apa? Amadeus-sama sedang terluka parah”, lalu kak Rebecca datang menghampiriku dan memeriksa tubuhku. Tiba-tiba kakinya bergetar, lalu ia terjatuh seakan-akan kakinya sudah tidak bisa menopang tubuhnya. “Apa yang terjadi pada Amadeus-sama, hingga anda terluka separah ini?”


“Banyak hal yang aku lalui sebelum aku datang ke Kantor Organisasi Petualang”, aku berkata. Ku lihat wajah semua orang gelisah tampak tidak percaya. “Rebecca, aku ambil alih komandonya”, sambungku.


“Baik, Amadeus-sama”


“Semuanya”, teriakku, “Amadeus yang sekarang tidak lebih seperti seekor singa yang terluka. Namun sebesar apapun luka yang ia terima, seekor singa tetap akan ditakuti oleh mangsanya. Aku sudah menunjukkan bagaimana perbedaan kekuatan diantara kita. Jika kalian ingin mencapai di titik di mana aku berada atau bahkan kalian berencana untuk melampauinya, langkah pertama kalian adalah mengalahkannya”, aku menunjuk ke arah Goliath.


“YA !!!”, seluruh orang berteriak dengan kerasnya. Tiba-tiba semangat mereka bangkit, sepeti seseorang yang tidak merasakan kelelahan.


“Untuk resimen 1,  batalyon 2. Bergerak ke arah kam 11. Tutup jalurnya”


“Yes sir.


“Resimen 1 batalyon 1. Kembali ke posisi awal”


“Yes sir”


“Resimen 2 batalyon 1 dan 2, maju sejauh 300 meter ke arah jam 12”


“Yes sir”


“Terakhir, resimen 2 batalyon 3 ke arah jam 10 dan resim 2 batalyon 4 ke arah jam 2”


“Yes, sir”


“Pertahankan, posisi kalian!”


“Yes, sir”


Posisi dari Goliath sudah terkepung, saatnya menghabiskan energy yang dimiliki oleh Goliath. Ia nampak kebingungan, setiap akan menyerang pasti ia akan dihajar dari belakang. Menghancurkan monster yang tidak memiliki kecerdasan bukanlah hal yang sulit. Bagaimanapun kekuatan yang besar tanpa kecerdasan tidak akan berguna.

__ADS_1


“Persiapannya sudah selesai tuan”


“Hancurkan”


Boom, suara ledakan terdengar dengan kerasnya. Tiba-tiba tanah yang menjadi pijakan dari Goliath hancur tak bersisa hingga membuat ia terjeremab didalamnya.


Whoaaa….


Terdengar teriakan keras darinya.


“Semuanya serang, kerahkan segenap kekuatan kalian”


“Ya”


Tebasan, tusukan, dan sihir yang datang silih berganti. Sedangkan Goliath tersebut hanya diam terjebak di dalam lubang yang hanya menyisakan tangan dan kepalanya. Setiap ia berusaha memanjat, pasti ada para prajurit yang dengan sigapnya menebas tangannya tanpa menunggu perintahku.


Serangan telah berlalu selama dua jam. Ternyata perbedaan kekuatan terlihat jelas diantara mereka. Untuk seekor Goliath saja dibutuhkan waktu lebih dari dua jam untuk mengalahkannya. Pantas saja mereka merasa ketakutan. Malam hampir menjelang, ini harus segera diselesaikan jika tidak akan semakin berbahaya.


“Maaf tuan kami terlambat”, seorang kesatria berkata kepadaku.


“Tuan Samuel”


“Oh Rebecca”, ia berkata.


“Terima kasih sudah bersedia datang”, kak Rebecca ternyata mengenalnya. Siapakah dia?


“Apa yang harus kami lakukan”


“Baik Tuan”


“Resimen 3 dan 4 mundur”, teriakku.


“Yes sir”


Boom… Boom… Boom…


Terdengar sebuah ledakan yang sangat besar di udara. Kekuatan dari kesatria kerajaan memang tidak bisa diremehkan. Dan akhirnya Goliat tersebut, mati seketika.


Pimpinan pasukan prajurit tersebut datang menghampiriku.


“Terima kasih atas bantuannya”, aku berkata.


“Ah tidak, seharusnya kami yang berterima kasih kepada anda”


Malam sudah tiba dan matahari telah tenggelam sempurna, namun ada perasaan tidak nyaman yang datang mendera. Langit berubah warna menjadi hitam yang bercampur dengan warna merah.


Haaarrrkkkk…


Terdengar suara mengerikan seperti yang aku dengar di Akademi Stacia.

__ADS_1


“Gawat, mala mini adalah bulan purnama”, Ksatria tersebut terkata.


“Ada apa?”


“Werewolf yang menyerang Akademi Stacia berada di puncak kekuatannya”


Sial, sepertinya ia berhasil kabur dari serangan Pak Einhard.


“Mundur semuanya”, teriakku.


Tiba-tiba Bodolf menyerang kerumunan pasukan yang sedang kelelahan secara membabi buta. Terlihat darah bercucuran dimana-mana.


Tiba-tiba pemimpin pasukan kesatria tersebut menerjang ke arah musuh.


“HENTIKAAANN!”, teriakku.


Windstorm…


Terlihat badai angin yang mengarah ke Werewolf.


Tiba-tiba Werewolf melihat ke arah kesatria tersebut dan menyerang hingga ia mati seketika.


Ku lihat ke arah kak Rebecca, ia meneteskan air mata.


“Apakah ia kekasihmu?”


“Bukan Amadeus-sama, dia kakak dari teman baik saya. Namanya Samuel Leonheart kakak dari Mikhail Leonheart”


Hatiku bergetar ketika mendengar perkataan dari kak Rebecca. Aku benar-benar sudah muak dengan keributan yang dibuat oleh monster, iblis bahkan manusia yang silih berganti. Jika aku harus menumpahkan darah untuk membawa kedamaian maka dengan senang hati akan aku lakukan.


Aku tidak tahu siapa yang akan menjadi korban selanjutnya, bisa jadi ibu, Sitha, Pak Einhard, Natasha, Gori, kak Rebecca atau bahkan Alicia. Semua sumber kejahatan di dunia ini harus dimusnahkan.


Lalu aku mengambil Sniperku, dan ku arahkan menuju menuju Bodolf.


Acceleracion…


Dor…


Sebuah ledakan menggema di udara. Seluruh orang melihat ke arahku seakan akan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Sedangkan Rebecca hanya diam terpaku melihat apa yang ada di hadapannya.


Wosh…


Sebutir peluru meluncur dengan sangat cepatnya. Hingga menyebabkan gelombang angin yang menyapu apapun yang ada di sekitarnya. Ternyata Bodolf telah menyadarinya, namun terlambat ia tidak mungkin bisa menghindarinya. Ia mengayunkan tangannya hingga terjadi benturan antara peluruku dengan cakarnya.


Cakarnya benar-benar kuat seperti sebongkah baja tebal yang tak bisa ditembus. Tetapi daya hentak dari kekuatan peluruku tak kalah jauh besarnya hingga membuat ia terlempar beberapa ratus meter jauhnya. Ku amati melalui balik teropongku, ternyata Bodolf masih bisa berdiri tegak seperti tidak terjadi apa-apa.


Ku lihat gerakkan bibirnya seolah-olah ia berkata, “Ketemu”


 

__ADS_1


 


__ADS_2