Membangun Kerajaan Bisnis Hiburan Di Dunia Lain

Membangun Kerajaan Bisnis Hiburan Di Dunia Lain
Episode 32 (MELARIKAN DIRI II)


__ADS_3

Ini benar-benar salah. Aku tidak bisa terus-terusan seperti ini. Bertarung sambil sambil membopong Alicia bukanlah pekerjaan yang mudah. Keadaan kami saat ini sangat rentan untuk diserang musuh. Meskipun aku memiliki Grenade dan Flash Grenade namun tetap saja jumlahnya sangatlah terbatas. Tidak ada yang tau apa yang akan terjadi didepan sana.


Aku tidak tahu apa yang terjadi saat ini. Keadaannya benar-benar tenang, bahkan tidak ada satu pun musuh yang mencoba menyerang kami. Bahkan Alicia tampak sangat tenang dalam pangkuanku.


Ku arahkan pandanganku ke wajah Alicia. Ia hanya tertunduk, sekilas ku lihat rona merah terlihat dari wajahnya. Tak sengaja mata kami saling bertemu, lalu Alicia semakin membenamkan wajahnya ke dalam dadaku.


Sial, apa yang terjadi? Alicia benar-benar sangat lucu saat ini. Meskipun dia sangat menyebalkan saat berbicara, namun saat diam dia benar-benar lucu.


TUNGGU SEBENTAR ! APA YANG AKU PIKIRKAN? Bukankah saat ini kami sedang dalam bahaya. Barusan dia memandang ke arahku. Bukankah itu artinya matanya sudah pulih. Mengapa ia tidak ikut bertarung bersamaku?


“Tuan putri, sepertinya kau benar-benar merasa aman saat ada di pangkuanku!”


Alicia menatap ke arahku dengan mata yang terbelalak dan mulut yang menganga. Lalu ku lihat ada setitik air mata di ujung kelopak matanya, lalu ia menekuk wajahnya dan berkata, “Lepaskan… lepaskan aku”. Ia memberontak sambil mencoba melepaskan diri dari pangkuanku.


“Baik… Baik…”, lalu aku berhenti dan melepaskan tanganku dari pangkuannya.


Kyaaa…


Brukkk…


Alicia jatuh di lantai. Ia hanya diam dan terududuk sambil melihatku dengan tatapan yang tajam. Wajahnya berwarna merah padam dengan mata yang berkaca-kaca.


“Apakah kau tidak bisa bertindak lembut terhadap seorang wanita?”


“Bukankah kau barusan menyuruhku agar aku melepaskanmu?”


“Hmmm”, Alicia berguman dan menyodorkan tangannya dengan sedikit menaikkan wajahnya. Penyakit angkuhnya sepertinya mulai kambuh.


“Iya… Iya”, lalu aku menyodorkan tanganku untuk membantunya berdiri.


Alicia menarik tangannya dan berkata, “Apa yang sedang kau lakukan?”


“Bukankah barusan kau memintaku untuk membantumu bangun?”


Alicia menyipitkan matanya dan berkata, “Apa yang kau katakan? Mana mungkin aku meminta bantuan pada rakyat jelata sepertimu. Aku hanya memerintahkan kau untuk memberikan senjatamu kepadaku”. Lalu Alicia menyodorkan tangannya lagi kepadaku.


“Iya… ini”, Lalu aku serahkan Handgun-ku kepadanya.


Alica menerima Handgunku. Ia menghentakkan tangannya yang memengang Handgunku ke lantai sambil tertunduk lesu, lalu ia bangkit dan berkata sambil menodong-nodongkan senjatanya tepat di dadaku, “Jangan main-main, aku tidak pernah belajar bagaimana menggunakan senjata seperti ini. Apakah kau tidak memiliki senjata yang lebih normal? Sebuah tombak, panah atau pedang misalnya?”

__ADS_1


Aku hanya bisa mengangkat kedua tanganku. Sambil bergerak mundur karena Alicia terus menyudutkanku hingga tubuhku membentur dinding.


“Tidak, tuan putri”, aku berkata dengan keringat dingin yang bercucuran di dahiku. Menakutkan. Benar-benar menakutkan.


“Bagaimana mungkin seorang murid yang berasal dari kelas petarung di Akademi Stacia tidak memiliki senjata seperti itu?”


“Karena aku tidak bisa menggunaannya”


Alicia menggeleng-gelengkan kepalanya dan menggoyang-goyangkan sedikit badannya dan berkata,”Kakeekk, apa yang kakek pikirkan. Bagaimana mungkin kakek memberikan surat rekomendasi petarung kepada seorang yang tidak bisa menggunakan senjata”. Alicia menurunkan senjataku dari dadaku.


Sepertinya ia mulai tenang, namun tak lama kemudian ia mengacungkan senjataku tepat di keningku dan berkata, “Apa saja yang kau lakukan selama ini, bukankah kau seorang murid petarung. Memang apa saja yang kau lakukan selama ini?”


“Menempa”


Alicia terbelalak mendengar jawabanku, “APA?!”. Alicia mencoba mengayunkan pegangan Handgun ke arah keningku sambil berkata, “Aku tidak pernah menggunakan senjata seaneh ini”


Dorrr…


Tiba-tiba suara tembakan terdengar di udara. Wajah Alicia terlihat pucat, sedangkan aku hanya berdiam terpaku. Takuuut. Benar-benar menakutkan, bahkan kakiku sampai gemetaran ketika mendengar sauranya. Bagaimana jika barusan Alicia tidak sengaja menarik pelatuknya tepat di kepalaku.


Seketika Alicia melepaskan Handgun-ku dari tangannya.


“Takuuuttt, takuuut kakek. Alicia takuuuttt”, Alicia diam tertunduk sambil menyandarkan punggungnya di dinding dan memegangi lututnya tepat disampingku.


“Apakah kau pikir senjataku hilang? Tidak, ia berada di loker”


“Hah, bagaimana mungkin seorang petarung menginggalkan senjatanya sendiri tanpa pengawasan?”


“Apakah kau tidak membaca buku pedoman siswa, bukankah disana dengan jelas tercantum tidak boleh membawa senjata di lingkungan gedung kelas”


Sialan, aku lupa membaca peraturan. Jadi selama ini aku telah melanggar aturan. Bagaimana jika ia melapor ke pihak akademi. Aku benar-benar dalam posisi yang gawat.


Oh iya aku lupa, kau adalah anggota komite disiplin yang  terhormat yang diberikan keistimewaan untuk terus membawa senjatanya”, dengan nada kesal.


Jlebbb…


Kata-katanya yang menyakitkan telah kembali.


“Iya… iya. Ayo kita bergegas mengambil senjatamu”

__ADS_1


Lalu kami pun melanjutkan perjalanan kami.


*****


“Ketemu”, Alicia berkata dengan sorot mata yang tampak berbinar. Ia menggosok-gosok sarung rapiernya dengan dengan pipinya.


Heh, apa yang sedang ia lakukan.


“Baguslah, sekarang saatnya kita pergi. Tapi sebelum kita pergi, aku ingin mengingatkanmu bahwa situasinya akan semakin memburuk”


“Hah?”


“Apakah kau tidak tahu, laut yang tenang itu menandakan bahwa badai akan segera datang?”


“Kau benar juga, lalu apa yang harus kita lakukan?”


“Sepertinya kita harus mencari jalan alternatif”


“Apakah kau sudah gila, jalan alternatif selain melewati pintu utama hanyalah melompat dari atas gedung akademi”


“APA?!”


Sialan, aku memiliki pengalaman buruk dengan stuktur gedung yang seperti ini. Meskipun ia memiliki sistem keamanan yang baik, namun memiliki sistem evakuasi yang buruk. Jika aku berhasil menjadi penguasa dunia hiburan. Aku akan menyuap para birokrat agar membuat hukum sistem evakuasi manusia dalam pembangunan sebuah gedung.


“Hei Andra, Andra… apa yang harus kita lakukan?”, Alicia berkata sambil melambai-lambaikan telapak tangannya tepat di depan wajahku.


“Bukankah sudah jelas, satu-satunya cara hanyalah menerobos melalui pintu utama”


“Tidak, justru aku pikir kita harus menuju ke atap”


“Jangan bodoh, dari sini kita lebih dekat menuju pintu utama”


“Apakah tidak berpikir itu adalah sebuah jebakan?”


“Apakah kau juga tidak berpikir jika atap gedung juga merupakan sebuah jebakan? Dengan keadaan seperti ini dapat dipastikan bahwa lewat atas maupun bawah hanya akan menempatkan kita dalam bahaya”


Alicia menyilangkan tangannya di atas kedua dadanya. Ia hanya terdiam lalu berkata, “Baiklah, kita pergi menuju pintu aula utama”


Lalu kami bergegas pergi menuju pintu aula utama.

__ADS_1


Setibanya di depan pintu aula utama, aku melihat sesosok pria yang berdiri menghadap pintu aula utama dengan sebuah pedang besar yang mengingatkan aku pada kejadian setahun yang lalu.


Pria tersebut menyadari langkah kami yang berlari menuju ke arahnya, ia berbalik dan menyeringai lalu berkata, “Sudah lama kita tidak bertemu, Andra!”


__ADS_2