Membangun Kerajaan Bisnis Hiburan Di Dunia Lain

Membangun Kerajaan Bisnis Hiburan Di Dunia Lain
Episode 37 (APA YANG TERJADI KEPADAKU)


__ADS_3

SEBUAH PERENUNGAN


“Cuit… Cuit… Cuit…”


Terdengar suara kicauan burung yang memancing kesadaranku. Perlahan ku buka kedua mataku, sekilas terasa kabur namun perlahan ia mulai bisa menyesuaikan dengan keadaan.


Ku perhatikan kedua tanganku ternyata tidak ada bekas luka, padahal aku masih ingat bahwa terdapat luka besar di lengan kiriku akibat pecahan kaca. Lalu, ku coba meraba dadaku dengan perlahan. Syukurlah ternyata tidak terasa sakit sedikit pun. Nampaknya luka-luka di tubuhku sudah pulih sepenuhnya.


Ku coba membenahi posisiku agar aku bisa duduk di atas tempat tidurku. Terlalu lama berbaring membuat tubuhku tidak merasa nyaman. Setelah itu, ku amati keadaan sekitar ternyata aku berada di suatu ruangan yang tidak aku kenali sebelumnya. Tempatnya benar-benar tenang dan menyejukkan, pantas saja aku bisa beristirahat dengan nyaman.


Tak sengaja tanganku menyentuh tangan seseorang, saat ku palingkan wajah ternyata Sitha sedang tertidur pulas tepat disebelahku. Posisi tidurnya mengingatkanku pada apa yang terjadi setahun lalu. Di blacksmith ayah, tempat aku membuat senjata-senjataku.


“Mmmhhh”


Tiba-tiba Sitha terbangun dengan wajah yang nampak sedang kelelahan. Terlihat pucat, bahkan terdapat sepasang kantung mata diantara kedua bola matanya. Tanpa sadar mata kami saling bertemu, lalu ku lihat air mata jatuh diatas pipinya. Dengan sekonyong-konyong ia langsung memelukku.


“Andraa”


Aku hanya bisa tersenyum sambil mengusap kepalanya.


“Apakah kau baik-baik saja?”


“Jangan khawatir Sitha, aku baik-baik saja”


“Apakah kau yakin?”


Pertanyaan Sitha barusan terasa seperti menghujam jantungku. Aku tersadar bahwa yang Sitha maksud adalah perasaanku bukan kondisi fisikku. Gawat sepertinya aku tidak baik-baik saja. Bagaimana mungkin sekarang aku bisa tetap tenang ketika sudah membunuh orang sebanyak itu. Apakah aku sudah mulai terbiasa untuk membunuh. Tiba-tiba tanganku bergetar dan tubuhku mengeluarkan keringat dingin.


“Maaf, Sitha. Aku sudah berbohong kepadamu”, lalu air mataku jatuh diatas pipiku. Aku tidak tahu apa yang aku pikirkan ketika membuat senjata-senjata itu. Padahal aku sangat tahu bahwa senjata tercipta hanya untuk satu tujuan, yaitu membunuh. Bukankah aku pernah berkata bahwa aku sudah siap menanggung segala konsekuensinya.


“Tidak Andra, kau sudah melakukan sebuah tindakan yang benar”


Apakah Sitha mencoba menghiburku, padahal aku sudah melakukan sebuah tindakan yang kejam seperti itu. Sial, aku merasa bahwa aku sedang berada di titik terendah di dalam hidupku. Bahkan hingga membuat wanita sebaik Sitha saja mencoba menghiburku.


Tok… Tok… Tok…


Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kamarku lalu membukanya, ternyata itu adalah Pak Einhard.


“Maaf, sepertinya aku salah kamar”, lalu ia kembali menutup pintunya. Secara spontan Sitha melepaskan pelukannya dan berlari mengejar Pak Einhard. Oh tidaaakkk, kenapa Pak Einhard selalu datang di waktu yang tidak tepat. Aku benar-benar merasa malu. Rasanya ingin mati saja.


Tak butuh waktu lama Sitha dan Pak Einhard masuk kembali ke kamarku. Wajah Sitha berwarna merah padam sedangkan Pak Einhard memasang wajah yang menyebalkan, sampai-sampai aku ingin sekali membunuhnya.


“Kalian benar-benar berani. Jika ini terjadi kepadaku, pasti aku akan menahan diri hingga aku keluar dari sini, hahaha”

__ADS_1


WASEMMM…


Perkataan pak Einhard benar-benar mengenaiku, padahal ini hanyalah sebuah kesalahpahaman. Ku mencuri pandang ke arah Sitha, ternyata matanya berair seperti hendak menangis karena menahan malu. Sepertinya Sitha tidak merasa nyaman, padahal selama di akademi bukankah apa yang dilakukan oleh Pak Einhard ini adalah suatu yang biasa.


“Maaf Pak Einhard, tolong jaga Andra. Sitha sedang ada urusan”


Sambil menahan tawa Pak Einhard berkata, “Maafkan aku, aku hanya bercanda. Aku tahu kau pasti sangat mengkhawatirkannya”. Lalu, Pak Einhard memalingkan wajahnya kepadaku, “Hei, Andra kau tahu tidak. Sitha…”


“PAK EINHAARRRDDD”


Drrkkk…


Tiba-tiba seseorang membuka pintu kamarku.


“Harap tenang, pasien masih membutuhkan waktu untuk beristirahat”


Pak Einhard hanya menundukkan kepala seraya berkata, “Maafkan, saya suster”


Sial, aku nyaris tidak bisa menahan tawa. Walaupun Pak Einhard sangat garang di sebuah pertempuran, namun ia nampak ciut ketika mendapatkan sebuah teguran.


“Sitha, bisakah kau panggil suster untuk membawakan Andra beberapa makanan dan minuman?”


“Baik Pak, akan Sitha panggilkan”


“Pak Einhard, siapakah dalang dari penyerangan tersebut?”


“Belum ditemukan”


“Bagaimana mungkin?”


“Meskipun ini adalah rahasia negara, tapi kau terlanjur mengetahuinya. Ini bukanlah yang pertama kalinya”


“Hah?”, aku kaget ketika mendengar jawaban dari Pak Einhard. Bagaimana mungkin iblis bisa datang ke dunia manusia semudah itu.


“Asal kau tahu, pertarungan antara manusia melawan iblis tidak benar-benar berakhir selama 1000 tahun lamanya”


“Bagaimana bisa Pak Einhard mengetahui sebuah rahasia negara?”


“Apakah kau lupa bahwa aku adalah mantan kesatria kerajaan yang dijuluki sebagai pahlawan?”


Sial, aku benar-benar lupa. Ternyata orang yang dimaksud oleh kakek Thompson benar-benar dia.


Tok… Tok… Tok…

__ADS_1


Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kamarku lalu membukanya, ternyata itu adalah Alicia. Ia berjalan mendekati tempat tidurku dan berkata, “Bu… Bukannya aku mengkhawatirkanmu. Aku hanya ingin mengembalikan ini kepadamu”. Lalu ia menyerahkan kantung Sihirku dan juga Handgun-ku.


“Bukankah ada hal lain yang harusnya kau katakan selain itu?”


Sambil menundukkan kepala Alicia berkata, “Te… terima kasih”. Seketika itu pula wajahnya memerah.


“Bukan itu yang aku maksud”


Alica hanya memandangku dengan wajah yang terlihat sedang cemberut.


Aku hanya menghela nafas lalu berkata, “Tidakkah orang tuamu memeberitahumu jika menyerang kawanmu adalah tindakan yang berbahaya?”


Alicia hendak berbicara namun Pak Einhard berkata, “Sudah”


Aku menghiraukan ucapan Pak Einhard, namun Alicia semakin terlihat marah karena mendengar ucapan Pak EInhard.


Aku hanya menghela nafas lalu berkata, “Tidakkah orang tuamu memeberitahumu jika menyerang kawanmu adalah tindakan yang berbahaya?”


Alicia kembali hendak berbicara namun Pak Einhard berkata, “Sudah”


“Apakah papa bisa berhenti menyela ucapanku?”


“PAPA?”


“Ya, apakah aku tidak pernah memberitahumu?”


Sial, bagaimana mungkin aku bisa berkata seperti itu di depan ayahnya sendiri. Ah, tidaaakkkk. Aku hanya berharap jika Pak Einhard tidak tersinggung oleh ucapanku.


Tok… Tok… Tok…


Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kamarku lalu membukanya, ternyata itu adalah Sitha. Ia berjalan menghampiriku sambil membawa nampan yang berisi makanan dan juga minuman. Lalu ia berkata, “Andra, ada apa? Mengapa suasana disini tampak menegangkan?”


“Tidak apa-apa, aku hanya sedang memberitahu seseorang bahwa merampas senjata kawan dalam sebuah pertempuran adalah tindakan yang berbahaya”


Seketika itu pula rona wajah Sitha berubah. Sitha lalu berkata, “Alicia, apakah kau sadar dengan apa yang kau lakukan?”


“Justru aku ingin tahu. Apakah kau tahu apa yang sudah ia lakukan, Sitha? Tindakannya benar-benar kejam. Seluruh ruangan tercium bau darah yang bercampur dengan daging yang terbakar memenuhi seluruh ruangan. Membunuh tanpa belas kasihan”


“Tapi bukan berarti kau harus merampas senjata Andra hingga membuatnya dalam bahaya. Apalagi dia adalah seseorang yang sudah mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkanmu”


“Aaa... aku tahu. Oleh sebab itu aku ingin meminta maaf kepadanya karena telah melakukan tindakan ceroboh seperti itu. Tapi aku masih belum bisa menerima pandangannya mengenai perbuatannya itu. Selamanya aku tidak akan pernah”. Lalu Alicia, menyerahkan tas sihir beserta dengan Handgun-ku.


Tiba-tiba tanganku gemetaran hingga membuat aku berkeringat dingin, bahkan aku tidak bisa menyentuh senjataku padahal ia berada tepat di depanku mataku. Alicia hanya memperhatikanku sambil menyodorkan tangannya kepadaku. Oh tidak, apakah yang sedang terjadi kepadaku?

__ADS_1


__ADS_2