Membangun Kerajaan Bisnis Hiburan Di Dunia Lain

Membangun Kerajaan Bisnis Hiburan Di Dunia Lain
Episode 19 (MENJADI PETUALANG)


__ADS_3

Seminggu telah berlalu, akhirnya kami tiba di ibukota kerajaan. Ibukota Kerajaan Stacia bernama Glasius. Aku tidak menyangka bahwa ibukota akan terlihat seindah ini, bangunan-bangunannya terlihat seperti bangunan di Eropa di abad pertengahan. Terdapat banyak orang yang berlalu lalang disini, anehnya mereka melihat kami dengan perasaan jijik.


Aku merasa tidak heran dengan cara mereka memandang kami. Dengan pengalamanku yang telah hidup selama 42 tahun, diskriminasi berdasarkan akumulasi kekayaan dapat dikatakan sebagai sesuatu yang dianggap biasa. Aku pikir konsep kesetaraan hanya mudah diucapkan namun sulit diwujudkan. Apalagi ditempat seperti ibukota kerajaan yang hanya diisi oleh orang-orang kaya seperti mereka.


Aku hanya khawatir dengan Sitha yang merasa ketakutan dengan cara orang-orang memandangi kami. Apalagi dia seorang gadis remaja yang mudah sekali mengalami krisis percaya diri. Selama perjalanan Sitha hanya berada di balik pundakku sambil memegang tanganku. Ia terlihat ketakutan. Sepertinya aku harus membelikan ia beberapa pakaian agar dia tidak dipandang rendah disini.


Aku memutuskan untuk membawa Sitha pergi ke toko pakaian. Saat kami pergi sana, aku tidak menyangka bahwa harga pakaian disini sangat mahal. Harganya sekitar 50 koin perak untuk sebuah pakaian, apa kalian sudah gila?


Yang paling membuat aku jengkel adalah ternyata waktu penerimaan siswa baru di Akademi Stacia ternyata baru akan dimulai siang hari. Hal tersebut membuat aku dan Sitha harus menahan sedikit lebih lama tatapan sinis dari masyarakat. Sekarang aku mulai mengerti mengapa Pak Einhard tidak pernah mengirimkan seorang pun siswa pergi belajar ke ibukota. Ternyata disini tidak lebih baik daripada di desa.


Pada akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke kantor Organisasi Petualang. Saat ini aku dan Sitha menggunkan sebuah jubah berwarna hitam agar tidak dikenali oleh siapa pun. Membawa taring dan kulit Hell Hound serta Jubah, Mahkota dan pedang Goblin Lord hanya akan menimbulkan kegemparan apabila dibawa oleh seorang anak berusia 15 yang masih berstatus sebagai calon pelajar sepertiku.


Pak Einhard berkata bahwa aku harus menjualnya di Kantor Organisasi Petualang, namun tidak mengatakan pada siapa aku harus menjualnya. Kantor Organisasi Petualang merupakan gedung yang sangat besar bahkan luasnya seperti 8 stadion sepakbola. Berkeliling disini hanya akan menghabiskan waktu.


“Selamat pagi tuan, saya ingin menjual barang. Dimanakah saya bisa melakukannya?”, Aku bertanya kepada seorang penjaga pintu Kantor Organisasi Petualang.


Penjaga tersebut menatapku sinis seakan tidak percaya. Aku menjukkan barang yang akan aku jual, seketika sikapnya berubah menjadi seseorang yang sangat sopan. Ck, kenapa orang harus menunjukkan apa yang kami punya agar mereka mau menghargai kami.


“Disebelah sana tuan, silahkan kunjungi bagian pendaftaran”, Penjaga tersebut menjawab.


Kami pun bergegas pergi menuju bagian pendaftaran. Disana terdapat antrian yang cukup panjang. Aku menyuruh Sitha duduk di sebuah bangku barisan depan agar aku bisa mengawasinya setiap saat. Aku melihat beberapa orang memperhatikan dia sebagaimana mereka memperhatikan aku karena kami memakai baju yang sangat lusuh. Aku cuma berharap Sitha sedikit bersabar dengan apa yang dia alami saat ini.


Akhirnya giliranku tiba. Sebaiknya aku langsung menunjukkan apa yang aku punya daripada harus menerima tatapan sinis dari orang-orang. Namun sebelum aku mengeluarkan barang yang ingin aku jual ternyata Administrator tersebut menyapaku dengan hangat.


“Selamat pagi, tuan. Perkenalkan nama saya Annelies, ada yang bisa saya bantu?”, Seorang wanita cantik menyapaku.


“Selamat pagi, nona. Nama saya Amadeus. Saya ingin menjual ini, berapakah harganya?”, Aku menjawab


Aku pun menunjukkan semua barang yang akan aku jual. Mata Annelies hanya terbelalak seakan-akan ia tidak percaya dengan apa yang aku bawa.


“Mohon maaf Tuan, dari manakah anda mendapatkannya? Dari cara anda berpakaian, sepertinya anda bukan berasal dari daerah sini”


“Saya mendapatkannya dari Desa Grenze”


“Setahu saya tidak ada yang melakukan raid disana”


“Raid?”, Aku bertanya dengan tatapan yang sangat bodoh.


“Iya tuan, sekelompok orang yang berniat memusnahkan monster yang terdapat di suatu tempat. Ditambah lagi Desa Grenze merupakan tempat yang sangat jauh. Rasanya sangat merepotkan apabila hanya membawa barang dari hasil memburu Goblin Lord dan Hell Hound kemari. Meskipun mereka boss monster, namun hasil yang didapatkan tidaklah banyak”


“Saya yang memburunya sendiri”


“Apa? Anda memburunya sendiri”, Annelies berteriak sambil melotot karena terkejut dengan jawabanku hingga membuat orang-orang melihat ke arahku. “Mohon maaf tuan silahkan ikut ke ruangan yang sudah saya sediakan”, Sambungnya.


“Baiklah nona”, Aku menjawab


Aku mengikuti Annelies, lalu memberikan isyarat kepada kepada Sitha untuk menungguku disini. Sitha hanya mengangguk yang menandakan bahwa ia mengerti.


Aku dan nona Annelies berada di sebuah ruangan kecil berukuran 4X4 meter. Dindingnya berwarna putih gading dengan aksen kayu yang sederhana. Terdapat dua buah kursi dan sebuah meja kecil disana.


Nona Annelies adalah seorang wanita yang bertugas sebagai Administrator di Kantor Organisasi petualang. Aku perkirakan umurnya sekitar awal 20 tahunan. Sebagai seorang laki-laki, aku melihat nona Annelies adalah wanita yang sangat cantik, apalagi kacamata yang ia pakai semakin menambah kecantikannya. Ia memiliki kulit yang putih dengan rambut berwarna coklat sebahu yang membuat lehenya terekspose dengan sangat indah, ditambah lagi dengan posturnya yang tinggi semampai membuat dia semakin terlihat cantik.

__ADS_1


Nona Annelies menggunakan sebuah blazer berwarna putih dengan rok sedikit diatas lutut semakin menonjolkan kakinya yang terbalut stocking berwarna putih ditambah lagi ia menggunakan sepatu hak tinggi semakin membuat kakinya terlihat jenjang.


“Silahkan duduk tuan”, Nona Annelies berkata.


“Terima kasih nona”, Aku menjawab lalu duduk di kursi yang telah disediakan.


“Bisa anda ceritakan bagaimana anda membunuh Goblin Lord dan juga Hell Hound”


Lalu aku ceritakan bagaimana kronologis pembunuhan Goblin Lord dan Hell Hound. Lalu aku berkata, “Bagaimana nona? Berapakah uang yang bisa saya terima?”


“Apakah anda sudah tergabung di organisasi petualang sebelumnya?”


“Tidak”


“Apakah anda bekerja di Kuil Suci atau Kerajaan?”


“Tidak”


“Sebelum membicarakan itu, saya ingin memberikan penawaran yang menarik untuk anda. Jika anda menjadi seorang petualang, anda akan mendapatkan bonus hadiah dari setiap monster yang anda bunuh. Apakah anda tertarik?”, Nona Annelies bertanya dengan sangat antusias.


“Berapa banyak bonus yang bisa saya dapatkan?”


“Tergantung level lencana anda tuan, semakin tinggi level lencana anda maka semakin tinggi pula bonus yang anda dapatkan. Terdapat 6 level lencana yaitu tembaga, perak, emas, platinum, palladium dan adamantium. Kecuali level tembaga, setiap kenaikan tingkat lencana mendapatkan bonus sebanyak 5 persen”


“Kira-kira level berapa lencana yang saya miliki?”


“Maaf tuan, saya tidak bisa memastikannya. Nona Annelies berkata sambil menggelengkan kepalanya. Lalu ia berkata, “Bagaimana jika anda mendaftar dan mengikuti ujian masuknya?”


“Mohon maaf tuan, saya permisi sebentar untuk membawa formulir pendaftarannya”,


Nona Annelies berkata lalu pergi membawakanku formulir pendaftaran untuk bergabung di Organisasi Petualang. Aku pikir ini bukanlah suatu masalah, cepat atau lambat aku pasti bergabung. Toh, pak Einhard juga berkata tidak ada aturan secara tertulis bahwa aku tidak boleh bekerja selama bersekolah.


Aku mencoba merebahkan sebentar tubuhku selagi menunggu nona Annelies. Ternyata waktu yang ia butuhkan tidaklah lama, tiba-tiba ia datang membawa formulir pendaftarannya lalu duduk di tempatnya. Aku pun merasa kaget dan mengatur posisiku seperti semula.


“Sebelumnya saya ingin bertanya apakah anda yakin bergabung di organisasi petualang?”


“Iya”


“Ada 3 peraturan yang kami miliki”


“Peraturan?”


Aku pikir organisasi petualang tidak memiliki aturan, padahal aku ingin hidup bebas tanpa dikekang oleh aturan.


“Betul tuan. Peraturanya adalah pertama, tidak boleh tergabung sebagai prajurit ataupun kesatria di kerajaan maupun kuil suci. Kedua, tidak boleh membunuh sesama petualang. Ketiga, tidak boleh merebut hasil buruan dari sesama petualang”


“Baiklah aku setuju”


Oh ternyata sangat sederhana dan tidak merepotkan. Aku pikir tak ada masalah dengan aturannya. Akupun mengisi formulir secara lengkap dan benar kecuali di kolom nama. Untungnya disini belum ada catatan sipil, jadi aku bisa merubah nama sesuka hatiku selama belum menjadi orang terkenal.


“Apakah anda yakin masih berumur 15 tahun?”

__ADS_1


“Iya”


“Maaf tuan, sepertinya anda tidak berhenti membuat saya terkejut”


Setelah mengisi formulir pendaftaran nona Annelies mengajakku bertemu seorang Administrator lain. Dia adalah seorang laki-laki yang berusia paruh baya. Ia memiliki perawakan tinggi besar dengan otot seperti gorilla. Ia mempunyai rambut dan brewok berwarna putih dan terlihat berbahaya.


“Maaf tuan, apakah anda memiliki bakat sihir?”, Pria tua itu bertanya.


“Iya, tipe penguatan”, Aku menjawab.


“Baiklah silahkan ikuti dengan saya”, Ia berkata lalu menuntun kami menuju tempat ujian petualang.


Aku tidak menyangka bahwa di dalam gedung organisasi petualang seperti sebuah gelanggang yang sangat besar. Aku pikir tempat ujian petualang seperti sebuah kelas, ternyata tidak. Disini seperti sebuah arena pertarungan yang sangat luas, dibedakan berdasarkan tipe sihir dan cara bertarung.


“Untuk menguji sihir anda silahkan angkat benda ini tuan”, Pria tersebut berkata.


Aceleracion.


Sial ternyata benar, karena aku kekurangan momentum maka tenaga yang dihasilkan sangat rendah.


Tring…


Gagal


“Maaf tuan, karena sihir anda terlalu lemah jadi tidak terdeteksi”, Pria tersebut berkata


Nona Annelies terlihat grogi hingga berkeringat dingin. Aku hanya tertawa didalam hati karena sudah pasti tidak akan terdeteksi.


“Baiklah Tuan, sekarang adalah saatnya pengujian senjata. Silahkan tunjukkan senjata anda”. Pria tersebut berkata.


Aku mengeluarkan Sniperku untuk menguji seberapa besarkah kemampuan menyerang sniperku dibandingkan petualang lainnya.


“Apakah jenis senjata ini tuan, senjata jarak pendek ataukah jarak jauh?”, Pria tersebut berkata


“Senjata jarak jauh”, Aku menjawab


“Baiklah silahkan ikuti dengan saya”


Aku dan Nona Annelies mengikuti pria tersebut. Kami sampai di subuah tempat latihan tembak. Pria tersebut menyuruhku untuk mengambil posisi dan menembak tepat ke target yang berjarak sejauh 100 meter.


Aceleracion


Peluruku meluncur dengan sangat keras menuju target hingga menembus dinding luar kantor Organisasi Petualang. Untung saja aku tidak menggunakan Rocket Launcher. Jika iya mungkin aku sudah membakar gedung Organisasi Petualang.


Tring…


Palladium


Semua orang terpaku melihat ke arahku, sedangkan aku melihat nona Annelies yang nampak tersenyum bahagia sedangkan pria paruh baya tersebut hanya diam dan berkeringat dingin karena terkejut melihat kekuatan seranganku.


 

__ADS_1


 


__ADS_2