
Acceleracion.
Aku menembakkan beberapa pisau ke arah para pembaca mantra, hingga membuat mereka pingsan seketika. Hah kenapa? Mengapa masih belum berhenti juga.
Teleportacion…
Lalu aku mencoba mendekap tubuh Alicia.
“Ahh…”
Benar-benar menyakitkan. Tubuhku rasanya seperti terbakar. Seolah-olah nyawaku keluar dari ragaku.
Teleportacion…
Akhirnya kami berhasil keluar dari lingkaran sihir yang mengerikan itu.
“Hahhh… hahhh… hahhh…”
Tubuhku merasa sangat kelelahan. Sepertinya itu adalah mantra sihir yang bisa memaksa seseorang mengeluarkan mananya.
“Alicia… Alicia… Bangun Alicia!”, aku berkata sambil mememukul lemah pipi Alicia.
“Hhmm”, Alicia menjawab sambil perlahan-lahan membuka matanya.
“Tolong serahkan tas dan senjataku!”
Alicia hanya menggerakkan mulutnya tanpa mengatakan sepatah kata pun.
“Ku mohon Alicia, katakan!”
“Hrgggh”,
Terdengar suara rintihan, saat ku palingkan pandangan ternyata para pembaca mantra mengalami apa yang dialami oleh Alicia barusan. Di sisi lain, beberapa penjaga berlari kearahku.
Brang…
Tiba-tiba lingkaran tersebut melayang diangkasa. Langit cerah berubah warna menjadi agak kemerahan hingga akhirnya terjadi gerhana matahari total.
Wiiinggg…
Sebuah lubang terbuka diatas langit. Terlihat sebuah tangan dengan cakar besar dan berbulu keluar dari sana.
Harrrkkkk…
Sebuah terikan menggelegar diatas langit. Ia berasal dari dalam lubang tersebut seolah-olah memaksa untuk keluar dari sana.
“Hiahhhhhh”
Tiba-tiba para penjaga melompat untuk menyerangku dari dari berbagai arah.
Sreeettt…
Mereka semua mati karena sebuah serangan misterius hingga menyebabkan hujan darah.
“Hah, apa yang terjadi?!”
Ku pandang ke arah langit ternyata serangan tersebut berasal dari sana. Terlihat sebuah monster berbentuk serigala setengah manusia. Ia berwarna biru tua dengan mata yang merah menyala. Bulu kudukku berdiri ketika melihat monster tersebut. Sial, sepertinya ia benar-benar kuat.
Aku tidak pernah merasa ketakutan seperti ini. Bahkan dalam keadaaan primaku sekalipun, aku merasa bahwa aku tidak akan bisa mengalahkannya. Bagaimanapun caranya, aku harus membawa Alicia pergi dari sini.
Monster tersebut melihat ke arah kami, mulutnya menyeringai lalu menghilang. Dengan seketika ia langsung berada di hadapanku.
Teleportation…
Dengan sisa-sisa tenagaku aku membawa Alicia menghindari serangan tersebut. Lalu aku pegang kedua ujung bahunya.
Acceleraccion…
“Hiiiaahhhh”
Lalu aku lemparkan ia menuju keluar. Monster tersebut terlihat kaget dengan perbuatanku dan berlari menuju Alicia.
Teleportation…
Aku berpindah ke arah Alicia lalu ku lemparkan beberapa pisau kearahnya, sayangnya itu tidak berguna. Ia bisa menangkisnya dengan mudah. Monster tersebut mengayunkan cakarnya ke arah kami.
Abrandar.
Hah, mengapa itu seperti tidak berefek kepadanya?
Bukan, ternyata bukan karena tidak mempan tetapi karena serangannya terlalu cepat.
Acceleracion…
Lalu, aku lemparkan tubuh Alicia menuju kerumunan orang yang tepat berada dibawahku.
“Hahaha, kena!”
Hah, apakah aku berhalusinasi ataukah ia benar-benar dapat berbicara?
Swinggg...
__ADS_1
Bukkk…
Ia memukulku hingga tubuhku terlempar dengan sangat keras membentur tembuk.
“Oughhh”
Serangannya benar-benar kuat hingga aku kembali mengalami batuk darah. Sepertinya beberapa tulang rusukku patah gara-gara serangan tersebut.
“Hmm, apakah benar seorang yang memiliki darah keturunan Mahesvara?”, monster tersebut berkata sambil memegang dagunya.
Aku pikir aku sedang berhalusinasi ternyata ia memang benar-benar dapat berbicara.
“Bagaimana monster sepertimu dapat berbicara?”
Sring…
Tiba-tiba ia berada dihadapanku.
“Jangan samakan aku dengan makhluk rendahan seperti mereka. Aku adalah iblis. Jika kau bukan orang yang dicari oleh raja, aku pasti sudah membunuhmu”
“Iblis?”, aku mengulangi ucapannya untuk memastikan bahwa aku tidak salah dengar.
“Ya, aku adalah iblis beruntung yang dipanggil ke dunia manusia”
Sial, ternyata tujuan awal dari penyerangan akademi adalah untuk menjalankan sebuah ritual pemanggilan iblis. Pantas saja mereka tidak menuntut apapun kepada kerajaan.
“Darimana kau mengetahui namaku?”
“Bukankah itu terlihat jelas dari kekuatan sihirmu. Kekuatan tersebut hanya dimiliki oleh orang-orang yang mampu menantang para dewa. Perkenalkan, namaku adalah Bodolf. Maukah kau ikut bersamaku untuk menemui rajaku?”
“Jangan bercanda, aku tidak memiliki urusan apapun dengannya”
Lalu aku melemparkan sebuah pisau bedah ke arahnya namun dengan mudah ia menangkisnya lalu ia menamparku dengan sangat keras. Pada saat itu juga tubuhku terpelanting jauh seperti boneka yang dilemparkan oleh seorang anak kecil.
Bukkkk…
Bukkkk…
Bukkkk…
Sreettttt….
Sial benar-benar menyakitkan.
“Uhuk”
Aku pun kembali mengalami batuk darah, bahkan aku sudah tidak bisa menggerakkan tubuhku. Sial, iblis kurang ajar ini benar-benar mempermainkanku. Untung saja tidak ada seorang pun gadis yang melihatku. Jika iya, aku akan sangat malu.
Bodolf menggelengkan kepalanya seraya berkata, “Apakah kau pikir kau bisa melukaiku dengan mainan seperti ini?” Lalu ia berjalan menghampiriku dan berkata, “Hoi… hoi… hoi… jangan mati dulu, nanti aku kesusahan. Percuma aku membawamu jika kau tidak mau menggunakan kekuatanmu”
“Cara menaklukan orang yang keras kepala sepertimu hanya ada dua cara, jika tidak bisa diajak bertukar pendapat maka harus menggunakan kekerasan. Aku akan bertanya untuk yang terakhir kali. Apakah kau mau meminjamkan kekuatanmu kepada kami?”
“Tidak, terima kasih”
“Selamat tinggal. Jangan menyesal karena menolak ajakanku, aku hanya perlu mencari kerabatmu”
Lalu ia mengarahkan cakarnya untuk menyerangku.
Acceleracion…
Aku menghajarnya menggunakan tinjuku hingga ia terpental beberapa meter.
“Jangan pernah kau sentuh ibuku dengan tangan kotormu”
Darahku mendidih hingga mencapai puncaknya. Aku tidak pernah merasakan amarah sebesar ini kecuali jika itu menyangkut keselamatan keluargaku. Lantas aku berdiri tegak seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
“Hahaha, menarik. Berani-beraninya makhluk rendahan sepertimu menyerangku. Rasakan ini”
Deadly Claws…
Cakarnya memerah mencoba menghantamku.
Teleportation…
Aku menghindar tepat berada di belakangnya.
Bang…
Terjadi sebuah retakan besar diatas lantai atap gedung kelas.
“Apa yang sedang kau lakukan?!”
Acceleracion…
Aku mengarahkan tinjuku tepat di arah tulang rusuk kanannya.
Krrrkkk…
Terdengar suara retakan yang terjadi di dada sebelah kananku. Sakiiiittt. Rasanya benar-benar sakit.
“Arghhh… Berani-beraninya kau menyerangku. Terimalah ini”
__ADS_1
Kick of Madness
Bodolf memutar badannya dan mencoba menendangku.
Oh tidak ini benar-benar berbahaya. Sangat sulit untuk menghindarinya di udara.
Abrandar…
Aku menghindar dengan memutar badanku lalu menjadikan tendangannya sebagai pijakan untukku melompat. Posisiku sekarang berada diatas Bodolf.
Acceleracion.
Lalu ku arahkan tinjuku tepat diantara tulang selangkanya.
Krrrkkk…
Sial rasanya benar-benar menyakitkan.
Bang…
Pijakan retakan diatas pijakan Bodolf semakin membesar.
“Argggh… Dasar kau bocah yang merepotkan”
The Eclipse Roar
Terdengar suara raungan yang sangat keras hingga menciptakan gelombang suara yang dasyat. Tubuhku terpental sangat jauh ke udara.
Sringgg…
“Terimalah ini”
Deadly Claws...
Teleportation.
Sring…
“Kena
Kick of Madness
Lalu ia menghatamku hingga membentur lantai.
Krrrkkk…
Bang…
“Uhuk”
Darah mengalir deras keluar dari mulutku. Ah tidak, rasanya benar-benar menyakitkan. Tubuhku benar-benar merasa lelah, bahkan untuk mempertahankan kesadaranku saja rasanya aku hampir tidak bisa.
Trak… Trak… Trak…
Terdengar suara langkah kaki Bodolf yang bergerak menghampiriku.
“Sial, meskipun tidak menggunakan senjata sihir. Tapi seranganmu masih saja terasa menyakitkan. Maafkan aku bocah Mahesvara, aku tidak memiliki dendam sedikit pun kepadamu. Tapi membiarkanmu hidup hanya akan merepotkan kami”
Deadly Claws…
Sepertinya aku pernah mendengarkan ucapan yang sama, namun aku lupa dimana. Ah aku ingat, itu adalah perkataan yang pernah diucapkan oleh Georgino kepadaku. Maafkan aku ibu, aku akan pergi menyusul ayah.
Photon…
Bang…
Sebuah tembakan cahaya dengan jarak hanya beberapa centimeter berlalu didepanku, menyebabkan Bodolf pergi melompat menjauhiku.
“Tolong jaga dia”, terdengar suara Pak Einhard menyuruh orang-orang dibelakangnya untuk menanganiku.
“Gawat, seluruh tulang rusuknya patah patah. Kita harus memberikan pertolongan pertama”
Heal…
Seorang guru yang tidak aku ketahui namanya memberikan sihir penyembuhan kepadaku lalu berkata, “Ini tidak akan berhasil. Kita harus melakukan operasi”
Holly Movement…
Photon…
“Cepat kalian pergi, aku akan menahannya disini. Apakah kalian ingin dia mati!”
“Tapi tuan, kita harus menanganinya dengan hati-hati”
Kenapa pak Einhard terlihat panik melihat kondisiku. Apakah keadaanku semengerikan itu. Ah tidak, aku hanyalah merasa kelelahan. Aku hanya butuh istirahat.
“Pak Einhard kau terlambat”
Trang…
Pedang Pak Einhard berbenturan dengan sesuatu yang tidak bisa aku lihat. Pandanganku terlalu kabur untuk bisa melihatnya.
__ADS_1
“Kau luar biasa, Andra. Maaf aku terlambat. Aku benar-benar berhutang budi kepadamu”
Aku tidak tahu apa yang dikatakan oleh Pak Einhard. Rasanya aku ingin tertawa saat ia berkata seperti itu. Sial, mengapa aku harus mendengarnya ketika dalam keadaan menyedihkan seperti ini. Seperti bukan Pak Einhard saja. Maaf pak, aku terlalu lelah dan akhirnya kesadaranku pun hilang.