
“Hah… hah… hah…”, aku mencoba mengambil napas karena sudah terlalu banyak tertawa. “Aku ingin bertanya serius kepadamu Bodolf, mengapa kau rela mempertaruhkan nyawa hanya untuk membawa semua iblis ke dunia ini?”
“Bukankah aku sudah memberitahu bahwa aku ingin tenar dan mendapatkan kekayaan”
“Sungguh?”
“Ya, kau pikir apalagi yang bisa dilakukan oleh iblis tingkat rendah sepertiku selain melakuakan pencapaian yang besar. Asal kau tahu bahwa di dunia iblis, baik ketenaran maupun kekayaan semuanya diukur melalui kekuatan”
Aku benar-benar mengerti apa yang Bodolf katakan. Aku menyadari bahwa dunia iblis maupun manusia tidaklah berbeda, bahkan untuk duniaku sebelumnya. Semuanya diukur dengan kekuatan. Jika di dunia ini dan dunia iblis semuanya diukur berdasarkan kemampuan bertarung, namun di duniaku sebelumnya diukur berdasarkan pengetahuan yang dimiliki seseorang. Namun pada hakikatnya sama, suatu kekuatan.
“Apakah itu yang benar-benar kau inginkan?”
“Ya”
“Aku pernah memilikinya, namun pada akhirnya aku hatiku terasa hampa. Lalu aku berpikir keras tentang apa yang benar-benar aku inginkan, ternyata hanya satu yang aku inginkan, yaitu seorang wanita”
“Aku juga sama, yang aku inginkan hanya ingin populer di kalangan wanita”
Aku terkejut mendengar ucapan Bodolf hingga membuat aku bangkit dari posisi terlentangku. “Mengapa kau tidak mengatakannya dari awal?”
“Apakah kau pikir aku akan mengatakan hal memalukan seperti itu kepada makhluk rendahan sepertimu”
“Jika kau katakan, aku pasti akan membantumu. Kau bisa terkenal di kalangan wanita tanpa harus mempertaruhkan nyawamu”
“Mengapa kau ingin membantuku?”
“Aku pernah berada di posisimu. Menjadi pria yang tidak dianggap oleh seorang wanita itu benar-benar mengerikan”
“Yah, apalagi jika kau adalah seorang pria miskin serta tidak memiliki apa-apa”
“Haaahhh. Tepat sekali, aku setuju”
Lalu aku melepaskan ikatannya.
“Bodolf”
“Mahesvara”
“Mulai sekarang kita adalah teman seperjuangan”
“Ya, Mahesvara. Mulai sekarang kita adalah teman seperjuangan”
Dan kami pun berpelukan sambil menangis. Aku merasa terharu karena baru pertama kali bertemu dengan seseorang yang mengerti tentang apa yang aku rasakan. Mendengar cerita Bodolf seperti melihat diriku sendiri. Tidak populer diantara para gadis memang menyakitkan.
“Lalu, bagaimana aku bisa mempercayaimu?”
“Apa maksudmu, Mahesvara?”
“Well, kau tau sendiri. Bukankah iblis suka berkhianat”
“Apakah kau berpikir bahwa semua manusia yang dapat diperacaya?”
“Tidak, tapi aku butuh jaminan bahwa kau tidak akan berkhianat kepadaku”
“Bagaimana jika kita membuat perjanjian melalui kontrak iblis?”
“Hah?”
“Ya, aku bisa membantumu hingga kau mencapai tujuanmu”
“Aku yakin pasti ada semacam tebusan jika aku melakukannya”
“Kau harus menyerahkan jiwa kepada Bodolf yang agung”
“Jangan bercanda”
Plakkk…
Aku memukul kepala Bodolf dengan gulungan kertas.
“Mengapa kau memukulku bodoh?”
Hap…
Lalu Bodolf menggigit tanganku.
“Lepaskan… lepaskan gigitanmu, bodoh”
Lalu aku menarik ia dari tanganku dan melemparkan ia ke lantai.
“Hrrrrr”, ia menggeram ke arahku.
“Kau benar-benar anjing bodoh, bukankah itu hanya menguntungkanmu. Aku sudah membantumu untuk mewujudkan cita-citamu, lalu disaat bersamaan kau juga meminta jiwaku. Jangan bercanda. Sudah diberi hati, malah meminta jantung”
“Bukankah memang seharusnya makhluk rendahan sepertimu tunduk kepada Bodolf yang agung”, lalu ia berdiri sambil mengangkat kedua tangan dan menengadahkan wakahnya ke atas. “Sekarang cepatlah sembah aku, Mahesvara”, ia berkata sambil memunjuk ke tanah.
“Hentikan omong kosongmu”
Plakkk…
__ADS_1
“Aduh”, teriak bodolf. Lalu iya melompat ke arahku dan aku menangkapnya. Bodolf hanya menggerak-gerakkan cakar kecilnya ke wajahku, “Lepaskan, lepaskan aku. Apakah kau tidak malu memperlakukan Bodolf yang agung seperti ini”
“Aku yakin pasti ada cara lain selain melakukan kontrak iblis”
“Memang, tapi aku tidak mau mengatakannya kepada makhluk rendahan sepertimu”, Bodolf berkata dengan angkuh.
“Cepat katakan”
“Tidak”
“Hehehe”, aku tertawa jahat.
“Heh… apa yang ingin kau lakukan kepadaku, Mahesvara”, wajah Bodolf berubah ketakutan.
“Hehehe”, Aku tertawa jahat sambil memegang cakar Bodolf.
“Ti… tidaaaakkkk. Hentikaaaan… hentikaaan”
“Cepat katakan”
“Baa… baik akan aku katakan. Ti… tidaaakkkk”
“Cepat katakan, hahaha”
“Ja… jauhkan benda itu dariku dulu. He… hentikaaann”
Lalu aku memasukkan cakar bodolf ke dalam tasku dan melepaskan ia dari tanganku.
“Hah… hah… hah…”, Bodolf terengah-engah, “Kau benar-benar kejam, Mahesvara. Bahkan iblis saja tidak akan pernah melakukan tindakan rendahan seperti itu”
“Bukankah iblis dan manusia itu sama. Mereka akan menghalalkan segala cara untuk meraih tujuannya?”
“Kontrak jiwa”
“Hah?”
“Perbedaaan antara kontrak iblis dan kontrak jiwa adalah jika kontrak iblis artinya kau menundukkan dirimu sebagai budak iblis untuk mencapai tujuanmu. Kami akan memberikan kalian kekuatan untuk mencapai tujuan kalian dengan bayaran kesetiaan seumur hidup kalian. Jika tuanmu mati maka kau akan ikut mati. Jika kau mati maka tuanmu akan tetap hidup. Sedangkan kontrak jiwa adalah posisi setara antara iblis dan manusia yang bekerjasama untuk mencapai tujuan tertentu. Kontrak tersebut akan berakhir jika tujuan mereka tercapai. Jika salah satu mati, maka yang lainnya akan ikut mati”
“Heh... menyeramkan”
“Apakah kau yakin ingin melakukannya, Mahesvara?”
“Tak masalah, bukankah kita punya tujuan yang sama”
“Apakah kau bisa menjamin bahwa semua ini akan berhasil?”
“Aaahhhh…”, aku berkata sambil melirik ke arah lain. Sejujurnya aku juga masih ragu apakah ini akan berhasil ataukah tidak.
“Aaa… aku mempunyai dua tunangan”, meskipun yang satunya menjadikan aku sebagai tameng hidupnya dan yang lainnya hasil paksaan.
Lalu Bodolf melompat hendak mencakarku namun aku tahan ia.
“Kurang ajar kau Mahesvara, belum apa-apa kau sudah menghkianatiku”
“Aaahhhh… banyak hal yang terjadi. Akan sangat panjang jika aku menceritakannya kepadamu. Yah… intinya aku bersimpati kepadamu karena aku juga pernah berada di posisi yang sama denganmu (meskipun saat ini juga)”
Tiba-tiba mata Bodolf berkaca-kaca lalu ia berkata, “Aku tidak menyangka kau memiliki hati yang mulia, Mahesvara. Kau bersedia menolong orang yang hendak mencelakaimu”
“Ahhhh… (Aku hanya tidak ingin ada orang yang tidak bertanggung jawab merusak apa yang sudah aku bangun), intinya kau harus berjanji jangan mengganggu dunia manusia”
“Ah gampang-gampang”, Bodolf berkata sambil mengayun-ngayunkan tangannya kedepan. “Untuk apa aku menyerang dunia manusia jika tujuanku sudah terwujud. Tapi kau harus memberitahuku bagaimana cara agar aku bisa sepertimu”
“Ah gampang-gampang”, aku mengikuti gerakan Bodolf. “Aku akan membagi semua pengetahuanku denganmu”
“Ahhh… sungguh?”, Bodolf berkata dengan mata yang berbinar-binar.
“Tentu saja”
Tiba-tiba Bodolf mengeluarkan sebuah gulungan, lalu ia menggigit telunjuknya hingga berdarah. Ku lihat ia menulis sesuatu yang tidak aku mengerti. Semacam simbol sihir lalu meneteskan darahnya di tengah-tengah simbol tersebut. “Sekarang kau teteskan darahmu di tengahnya juga”
Aku menatap matanya dengan curiga. Jangan-jangan itu adalah sebuah kontrak iblis.
“Kau tidak menjebakku kan?”
“Apakah kau bodoh, jika aku mengkhianatimu maka aku tidak akan bisa mewujudkan cita-citaku. Seseorang sepertiku menjadi terkenal dikalangan wanita, uuuhhhh aku bahkan tidak bisa membayangkannya”
“Dari gerak-geriknya tidak ada yang mencurigakan. Baiklah akan aku lakukan”, lalu aku meneteskan darahku diatas lingkaran sihir tersebut.
Bangg…
Tiba-tiba lingkarang sihir tersebut menyala.
Urat-urat di dalam tubuhku dan Bodolf berubah menjadi merah kehitaman.
Eh… apa yang terjadi?
“Bodolf, apa yang kau lakukan?”
“Diam dan tahan saja, ini merupakan bagian dari ritualnya”
__ADS_1
“Apakah kau benar-benar tidak menipuku?”
“Tidak bodoh, bagaimana mungkin aku menipumu disaat mengalami hal yang sama denganmu. Sebentar lagi kau akan menahan rasa sakit yang luar biasa. Jika kita tidak bisa menahannya, maka kita akan mati.
“Ehhhh…”, aku terkejut mendengar ucapan Bodolf.
“Arggghh…”, aku dan Bodolf berteriak.
Benar-benar menyakitkan. Seluruh tubuhku merasa ditusuk oleh jarum dan jantungku diremas dengan sangat kuat. Keringat mulai bercucuran di keningku dan hawa panas mulai menjalar diseluruh tubuhku. Sesuatu yang aneh mulai menjalar mengisi urat-urat nadiku, setelah itu seluruh nadiku terasa seperti diputus secara bersamaan.
“Bertahanlah, Mahesvara. Jangan menolaknya. Biarkan ia masuk ke dalam tubuhmu”
“Aaaaa… apa maksudmu?”
“Sihir kontrak yang kita buat”
“Arrggghhh…”, sial rasanya benar-benar menyakitkan. Bagaimana Bodolf bisa menerima sakit sebesar ini dengan sangat cepat.
“Bertahanlah, Mahesvara. Jika tidak kau akan mati”
“Me… mengapa kau bisa mengatasinya secepat itu”
“Karena aku mempercayaimu”
“Arggghhh…”, ternyata hanya itu. Akhirnya rasa sakit itu berlahan pergi dan tubuhku menjadi tenang.
“Haaahhh…”, Bodolf menghela napas lalu ia berkata, “Kau benar-benar payah, Mahesvara”
“Hah… hah… hah…”, nafasku memburu, aku tidak menyangka bahwa ini akan terasa sangat menyakitkan dan melelahkan. “Ma… maaf Bodolf karena aku sudah meragukanmu”
“Bagaimana mungkin kau meragukan orang yang akan ingin kau bantu?”
“Apakah kau pikir aku cukup gila, mempercayai seseorang yang sebelumnya ingin mencelakaiku?”
“Yah, lupakan-lupakan. Itu sudah berlalu”
“Setidaknya kau harus meminta maaf kepadaku”
“Kau juga sama bodoh, memang siapa yang sudah membuat aku menjadi cebol seperti ini. Pantas saja Leona sampai mengacuhkanku”
“Leona?”
“Ya, cinta pertamaku”
“Hah? Bukankah ia bernama Rebecca”
“Hah, Rebecca? Oh jadi di dunia ini dia bernama Rebecca”
“Aku baru tahu bahwa iblis bisa bereinkarnasi menjadi manusia”
“Sepertinya kita membicarakan orang yang berbeda. Siapa orang yang kau maksud, bodoh?”
“Seorang gadis yang bermain bersamamu bukan?”
“Haaaahhhhh”, Bodolf berkata lalu bergelengkan kepala. “Kau benar-benar bodoh. Meskipun iblis memiliki bentuk tubuh seperti manusia, namun aku tetap menyukai wanita yang satu ras denganku”
“Lalu siapa gadis yang kau maksud?”
“Apakah kau tidak ingat seekor anjing yang bermain bersama gadis itu?”
“Ya, dia bernama Blacky”
“Haaahhh?”, Bodolf nampak terkejut, “Aku tidak menyangka bahwa ia memiliki seorang tuan yang buruk. Bagaimana mungkin seorang wanita diberi nama yang buruk seperti itu?”
“Ahhh… aku pikir ia jantan”
“Sepertinya kau benar-benar salah paham. Anjing yang kau lihat itu bukanlah anjing biasa, namun ia iblis sepertiku”
“Hah? Apa yang kau katakan?”
“Aku terkejut mendengar ucapan Bodolf, ternyata kak Rebecca selama ini tinggal bersama seorang iblis”
“Apakah kau yakin?”
“Tentu saja”
“Bagaimana kau bisa mengetahuinya?”
“Seperti manusia yang bisa mengenali satu sama lainnya”
“Apakah yang mereka rencanakan?”
“Aku tidak tahu, aku baru bertemu dengannya setelah beberapa tahun berlalu”
“Sepertinya kita harus menyelidikinya. Jika tidak, semuanya akan berantakan”
“Ya, aku setuju denganmu”
__ADS_1