Membangun Kerajaan Bisnis Hiburan Di Dunia Lain

Membangun Kerajaan Bisnis Hiburan Di Dunia Lain
Episode 7 (BERTARUH DENGAN TUAN MELLOR FORXA)


__ADS_3

Keesokan harinya, setelah sarapan aku bergegas pergi menuju desa Schmiede. Perjalanan menuju sana menempuh waktu sekitar 2 jam perjalanan dengan berjalan kaki. Untungnya desa Schmiede memiliki posisi yang strategis. Jalan tersebut merupakan jalan utama dari desaku, desa Minda dan desa Ganderia menuju kota Escala. Oleh sebab itu banyak dilalui oleh para pedagang dan pengantar barang.


Namun, disisi lain jalan ini juga merupakan jalan yang rawan terjadi kasus penjarahan. Selain jauh dari kota terdekat, di tiga desa tersebut juga jarang dijadikan area patroli dari kesatria kerajaan menjadikan kami sebagai mangsa yang empuk bagi mereka.


Jalan menuju desa Schmiede terlihat sangat indah. Aku melihat padang rumput yang membentang luas. Terdapat banyak sapi dan kambing yang sedang makan disana. Sesekali aku melihat penggembala yang melambaikan tangan menuju arah kami, dan kami pun membalas lambaian tangan mereka.


Aku dianggap sebagai bocah gila. Bagaimana mungkin anak berusia 7 tahun sudah berani bepergian seorang diri tanpa ditemani orang dewasa, terlebih lagi ini merupakan jalan yang rawan terjadi penjarahan. Aku mengenal mereka karena aku sering menumpang kendaraan saat berjalan menuju ke desa Schmiede. Hal tersebut bisa memangkas waktu perjalananku sekitar 1 jam.


Akhirnya setelah satu jam berlalu aku sampai di desa Schmiede. Desa Schmide merupakan desa yang terkenal sebagai desa penghasil logam, oleh sebab itu tidak mengherankan jika disini terdapat banyak tempat penempaan atau penyepuhan logam. Dari sekian banyak penempa disini, mengapa pak Einhard merekomendasikan Kakek Thompson? Dia pastilah orang yang hebat.


Aku mengunjungi alamat yang diberikan oleh Pak Einhard, namun sepertinya ia sudah berpindah ke tempat lain. Alasannya adalah, biasanya nama blacksmith menggunakan nama dari sang penempa. Maka aku putuskan untuk berkeliling desa Schmiede, namun sayangnya tidak ada orang yang mengenal nama Thompson.


Aku merasa malu berkeliling desa Schmiede mencari seseorang yang tidak dikenal oleh siapapun. Apakah pak Einhard berbohong kepadaku? Rasanya tidak mungkin, meskipun dia senang membual tapi tidak mungkin memberikan informasi yang keliru disaat seperti ini.


Akhirnya aku memutuskan untuk mencari tahu siapa penempa terbaik disini. Orang yang diakui pastilah orang yang terbaik disini. Mereka menyebutkan satu nama dan itu bernama Mellor Forxa. Apa tidak salah dengar? Mimpi orang tuanya menjadi nyata. Sekarang ia adalah penempa terbaik. Jujur aku merasa sedikit geli ketika mendengar namanya, namun namanya sesuai dengan kemampuannya. Baiklah sebaiknya aku mencari Tuan Mellor Forxa.


Apakah ini tempatnya? Bukankah ini tempat yang ditujukan Pak Einhard. Sial, jika seperti ini sebaiknya tadi aku masuk saja. Aku melihat sebuah plang nama bernama Melforx Blacksmith. Dari namanya ini memang benar milik dari tuan Mellor Forxa. Akupun membuka pintu dan bertanya kepada seorang pemuda yang menjaga didepan toko.


“Selamat pagi tuan, apakah disini ada orang yang bernama Mellor Forxa?”, Aku bertanya.


“Iya ini adalah toko miliknya, kebetulan aku adalah cucunya”, Jawab pemuda tersebut.


“Bisakah aku bertemu dengan kakek anda?”


“Ada urusan apa kamu bertemu dengan kakekku?”


“Perkenalkan namaku Syailendra. Aku adalah utusan Tuan Einhard The Prince of Piercing Light”


“Baiklah tunggu sebentar”


Maaf Pak Einhard aku mencatut namamu. Tapi bukankah bapak yang merekomendasikannya? Jadi jangan sepenuhnya menyalahkanku. Tiba-tiba seorang kakek tua dengan badan tegap datang dari pintu belakang toko. Ia memiliki badan yang berotot dengan rambut yang panjang namun botak di bagian depannya. Kumis dan jenggotnya panjang berwarna putih seputih rambutnya.


“Oh ternyata hanya seorang bocah. Ada apa kau datang menemuiku nak?”, Tuan Mellor Forxa berkata.


“Tolong angkat aku sebagai muridmu”, Aku berkata sambil bersujud dihadapannya.


“Apakah kamu sudah gila, kamu masih terlalu kecil. Pulang sana. Ngomong-ngomong kamu mengenal Tuan Einhard dari mana?”


Tuan Mellor Foxa terlihat kaget mendengar ucapanku, dengan cepat ia menolak permintaanku.


“Dia adalah guruku disekolah”


“Jangan bercanda, dia adalah seorang Pahlawan. Bagaimana mungkin dia menjadi guru sekolah”


Apa, pak Einhard seorang Pahlawan. Apakah aku yang salah mendengar ataukah pak Einhard yang sudah berbohong. Ah sudahlah nanti aku tanyakan sendiri.


“Aku tidak berbohong dia guruku disekolah, dia bilang itulah namanya. Yah meskipun aku tidak percaya dengan julukannya sebagai The Prince of Piercing Light saat mendengar kata-kata anda. Tapi sungguh namanya adalah Einhard, bahkan ayah dan ibuku menyebutnya dengan nama itu”


“Ya sudah kamu lanjutkan saja sekolahmu, persiapkan diri untuk ujian”


“Aku sudah lulus. Aku ingin belajar menempa agar aku bisa membuat senjataku sendiri. Keluargaku terlalu miskin untuk membelikan aku sebuah senjata”


“Dasar kamu anak yang senang membual”


Aku menunjukkan surat kelulusanku. Lalu, Tuan Mellor Forxa melihantya dan menyerahkan kembali surat kelulusanku. Aku melihat bahwa ia masih tidak percaya. Namun bagaimanapun ini adalah asli karena seseorang yang berani memalsukan cap kerajaan akan di hukum mati.


“Ini asli. Maafkan aku. Bagaimana kamu bisa mendapatkannya?”, Lalu Tuan Mellor Forxa menyerahkakn kembali surat kelulusanku.


“Raja Arthur secara tidak sengaja datang ke desaku, ia menyuruh prajuritnya untuk mengujiku dan aku membuatnya puas dengan kemampuan bertarungku”


“Darimana asalmu?”


“Desa Grenze”


“Dengan siapa kamu kemari?”


“Sendiri”


“Bocah gila. Apa kamu tidak tahu, jika jalan dari sana menuju kemari dipenuhi para perampok?”


“Aku tahu, tapi keinginanku untuk belajar melebihi ketakutanku bertemu perampok”


“Ambillah salah satu senjata yang ada disana dan kamu boleh pergi dari sini”, Tuan Mellor Forxa berkata sambil menyuruhku untuk mengambil salah-satu senjata yang ada di depan tokonya.


“Aku kesini bukan untuk meminta senjata tapi aku disini untuk belajar menempa”, Jawabku.


Tuan Mellor Forxa menghela nafas dan menggeleng-geleng kepala lalu berkata, “Siapa nama orang tuamu?”


“Ayahku bernama Mahesa dan ibuku bernama Alika”


“Apa Mahesa?”, Tuan Mellor Forxa sangat terkejut mendengar nama Ayahku.


“Iya”, Aku menjawab. Dari reaksinya sepertinya ia mengenal ayah.


“Apakah dia seorang penempa?”


“Iya”


“Belajar saja dia dengan ayahmu, kemampuannya lebih baik daripada aku”

__ADS_1


“Keinginanku memang seperti itu, namun sayangnya ia sudah mati”


“Apa? Mahesa sudah mati?”


Lagi-lagi tuan Mellor Forxa sangat terkejut.


“Iya”


“Bagaimana bisa?”


“Ia diserang oleh monster”


“Malang sekali nasibmu nak, namun bagaimanapun aku tidak akan mengajarkan anak dari seseorang yang sudah mempermalukanku”


Tuan Mellor Forxa terlihat bersedih dan merasa simpati dengan keadaanku.


“Bagaimana ayah mempermalukan anda tuan?”


“Nama asliku adalah Thompson. Dulu aku dikenal sebagai penempa terbaik di wilayah ini. Aku mengganti namaku karena aku ingin mengalahkannya. Oleh sebab itu aku mengganti namaku dengan Mellor Forxa sebagai sebuah motivasi agar aku lebih baik darinya, namun sayangnya sampai akhir hayatnya aku tetap tidak bisa mengalahkannya”


“Aku tidak peduli dengan masalah yang terjadi diantara kalian berdua. Aku kemari hanya ingin belajar menempa”


“Tidak. Padahal aku sudah berbaik hati untuk memberimu sebuah senjata tapi kamu malah menolaknya”


Aku diangkat olehnya seperti induk kucing mengangkat anaknya, lalu ditendang keluar pintu tokonya.


“Pergi sana, aku tidak membutuhkanmu”


“Aku tidak akan menyerah, aku akan disini sampai kau mau menerimaku”


Posisi matahari sudah berada tepat diatas kepalaku namun aku tidak melihat tanda-tanda bahwa pak Thompson akan keluar dari tokonya. Entah berapa banyak orang yang berlalu-lalang lewat di depan mataku, begitu pula orang yang masuk dan keluar dari tokonya. Sepertinya aku sudah berada disini sekitar 2 atau 3 jam.


Hei pak tua mau sampai kapan kamu akan keras kepala. Cepatlah keluar, angkat aku menjadi muridmu. Kau sudah terlalu tua untuk menjadi orang yang keras kepala. Apakah kau tidak malu dengan usiamu, sudah tua masih saja bertindak kekanak-kanakan. Cepat ajak aku masuk kedalam, disini terlalu panas. Apakah kau tidak kasihan anak kecil yang lemah tak berdaya ini kepanasan dan juga kelaparan disini.


Matahari sudah mulai ternggelam di arah barat. Sepertinya aku harus bergegas pulang. Jika aku tidak berangkat sekarang, aku akan kemalaman. Sudahlah aku akan kembali lagi besok. Ingat pak tua, sekali aku menemukanmu, aku tidak akan melepaskanmu.


*****


Sudah seminggu aku hanya duduk di seberang jalan memperhatikan toko kakek Thompson. Ia benar-benar sangat keterlaluan, bahkan tidak mau menyerah kepada anak kecil sepertiku. Sebenarnya apa yang dia pikirkan hingga tega berbuat begini kepadaku.


Aku melihat pintu toko kakek Thompson terbuka, ternyata yang membukanya adalah kakek Thompson sendiri. Ia datang menghampiriku. Yah, akhirnya hari itu tiba juga. Ia menyuruhku masuk ke dalam tokonya.


“Kamu benar-benar anak yang keras kepala. Apakah kamu benar-benar yakin ingin menjadi seorang pandai besi”, Tanya Kakek Thompson.


“Iya”, jawabku sambil menganggukkan kepala.


“Tidak aku harus melakukannya sekarang”, Aku menyanggah ucapannya.


Kakek Thompson terlihat kesal dengan jawabanku yang keras kepala lalu berkata, “Kenapa kamu terburu-buru, kamu sudah cukup kuat hingga bisa diterima di akademi dengan usia yang sangat muda”


“Itulah pemasalahannya, perkembanganku akan terhambat atau bahkan terhenti jika aku tidak menjadi seorang pandai besi”


“Kenapa?”


“Aku mempunyai cara bertarung yang unik, jadi aku harus membuat senjataku sendiri agar bisa lebih efektif”


“Coba tunjukkan senjatamu”, Kakek Thompson menyuruhku.


Aku menunjukkan handgunku kepada kakek Thompson. Ia terlihat sinis memandangnya.


“Apakah ini yang kamu gunakan sehingga lulus ujian?", Tanya Kakek Thompson.


“Iya”


“Siapa yang membuatnya”


“Ayahku”


“Oh”, Kakek Thompson menjawab sambil tersenyum, namun senyumannya terlihat mencurigakan


“Baiklah kalau begitu. Jika kamu bisa merusak perisai buatanku, aku akan mengangkatmu sebagai muridku”.


Yes, akhirnya kesempatan ini datang juga. Tadi aku merasa bahwa ia sudah meremehkanku. Sepertinya aku bisa memanfaatkan kesombongannya untuk mengalahkannya.


“Aku terima tantangannya kakek, tunjukkan mana perisai yang harus aku rusak?”


Ia memberikan aku sebuah perisai, berwarna perak namun memantulkan cahaya kehijauan. Terlihat sangat kuat, sepertinya ini sebuah senjata sihir. Sial, aku pikir ia akan meremehkanku ternyata ia tidak menurunkan tingkat kewaspadaannya terhadapku.


“Ini taruhan yang tidak adil, aku tahu itu senjata sihir. Bagaimana mungkin senjata biasa seperti milikku ini bisa mengalahkan senjata sihir”


“Kamu mau tidak menjadi muridku?”


“Baiklah aku terima, tapi aku akan mengatakannya kepada seluruh warga desa bahwa kakek membuat sebuah taruhan yang tidak adil dengan seorang anak kecil. Menggunakan senjata sihir, bahkan orang dewasa saja belum tentu bisa merusaknya”


“Kamu cukup pintar juga, baiklah coba kamu hancurkan perisai ini”, Kakek Thompson berkata sambil terlihat kesal. Lalu aku melihat kakek Thompson mengeluarkan perisai berwarna emas. Tebal dan terlihat cukup keras. Sepertinya handgunku hanya bisa membuatnya penyok namun tidak sampai merusaknya. Sepertinya aku harus sedikit memprovokasinya lagi untuk memastikan kemenanganku.


“Apakah kakek yakin menggunakan perisai ini. Lihat kek, senjataku tidak memiliki sudut yang tajam. Dengan lenganku yang kecil dan lemah ini bahkan perisai terlemah yang kakek buat belum tentu bisa aku rusak. Bukankah kakek seorang pandai besi terbaik disini, harusnya kakek merasa malu jika harus menggunakan ini untuk mengalakan anak kecil sepertiku”


“Baik, baik, aku mengerti. Cepat hancurkan ini, ini adalah perisai terlemah yang aku buat disini”

__ADS_1


Aku berkata sambil berpura-pura lemas, “Kek apa tidak ada yang lebih lemah dari ini, apakah kakek sungguh tidak merasa malu menggunakan ini untuk mengalahkanku”


“Ini adalah pilihan terakhirmu, terima atau pergi dari sini”


“Baiklah jika begitu, tapi kakek harus berjanji jangan pernah berniat untuk membongkarnya”, Jawabku sembari memastikan kembali  bahwa Kakek Thompson tidak akan melanggar janjinya.


“Baik, aku berjanji”


Aku mengarahkan handgunku ke sebuah perisai berwarna perak. Meskipun aku sedikit ragu untuk bisa merusaknya, tapi aku harus melakukannya.


Dorrr…


Suara tembakan menggema dengan sangat kerasnya. Orang-orang merasa kaget dan berdatangan menuju ke toko kakek. Mereka mengintip dari balik jendela untuk mengetahui apa yang terjadi. Kakek melihat ada sebuah benda yang bersarang di perisainya, dengan sigap ia menutup tirai tokonya. Ia benar-benar tahu apa yang sedang terjadi.


“Aku menang, hahaha”, Aku berteriak sambil meloncat-loncat bahagia.


“Kamu curang karena memprovokasiku”


“Salah kakek sendiri mengapa mau termakan provokasiku”


“Boleh aku melihatnya?”, Tanya kakek Thompson.


Diam-diam aku mengunci handgunku dan menyerahkannya kepada kakek. Kakek mengarahkan handgunku ke arah perisainya dan menarik pelatuknya namun ia tak mau bekerja.


“Hah, mengapa ini tidak mau bekerja?”


“Meskipun ini bukan senjata sihir, namun ia bisa memilih sendiri tuannya bahkan ayahku sendiri tidak bisa menggunakannya”


“Ini sebuah mahakarya, apakah kamu memiliki cetak birunya?”


“Tidak, karena ayahku yang membuatnya”


“Bagaimana cara membuatnya, apa boleh aku membongkarnya?”


“Tidak, karena kakek sudah berjanji tidak akan melakukannya”


“Sayang sekali”, Kakek Thompson berkata sembari terlihat kecewa.


“Apakah ini alasan kamu menjadi seorang pandai besi”


“Iya, aku ingin mengungkap rahasianya sendiri. Ayah hanya mempercayakan ini kepadaku, ia berkata jika ini sampai jatuh kepada orang yang salah hanya akan membawa bencana”


“Hahaha, baiklah mulai sekarang kamu adalah muridku”, Kakek Thompson berkata sambil tertawa dengan keras.


“Yaaaaa, Akhirnyaaa”,


Aku berteriak histeris karena tidak menyangka ternyata hari ini akhirnya datang juga


“Apakah kamu sehisteris ini juga ketika lulus dari ujian?”


“Tidak karena aku yakin akan lulus”


“Hahaha, kamu selain bocah yang cerdas dan licik ternyata kamu sombong juga. Ayo sekarang kamu ikut denganku”


Kita akan kemana? bukankah kita baru saja melewati tempat penempaan milik kakek Thompson. Sepertinya ada yang salah tapi aku putuskan untuk tetap mengikutinya. Aku tidak mau membuat masalah di hari pertama aku menjadi muridnya. Aku melihat kake Thompson menaruh sebuah kayu, lalu ia mengambil sebuah kampak.


Trok….


Suara kayu yang terbelah akibat ayunan kampaknya.


“Lanjutkan pekerjaanku”


“Heh, aku kesini untuk menjadi pandai besi bukan menjadi penebang kayu”


Tiba-tiba kakek Thompson menjitak kepalaku. Aku tidak tahu kenapa akhir-akhir kepalaku sering sekali dijitak orang. Padahal dulu hal ini tidak pernah terjadi.


“Dasar bocah bodoh. Dari mana kamu akan mendapatkan api jika tidak memiliki kayu. Lakukan apa yang aku perintahkan, sekarang aku adalah gurumu. Tenang saja, meskipun kamu muridku tapi aku akan tetap membayarmu karena aku adalah orang yang murah hati. Jadi lakukan pekerjaanmu dengan benar”


“Baiklah. Ngomong-ngomong berapa bayaran yang aku akan aku terima?”


“Lima koin tembaga”


“Apa? Bahkan untuk membeli sepotong roti saja itu tidak cukup”


“Kamu pikir belajar denganku itu gratis. Itu adalah uang yang kami terima setelah dipotong biaya pendidikanmu selama disini”


Dasar kakek pelit, ini bukan bekerja namanya. Ini adalah eksploitasi anak. Aku akan melaporkanmu ke komisi nasional perlindungan anak. Lalu, aku menjulurkan tanganku seperti orang yang meminta sesuatu.


“Apa ini maksudnya? Belum bekerja sudah meminta bayaran”


“Bagaimana aku bisa bekerja jika aku tidak menggunakan kampaknya?”


“Bukan yang ini tapi yang itu, kamu belum saatnya menggunakan yang ini”


Kakek Thompson menunjukkan sebuah kapak kecil yang tertancap di sebilah kayu, lalu membawa kapak besarnya ke rumah. Akupun melakukan apa yang ia perintahkan selama seharian.


 


 

__ADS_1


__ADS_2