
Aku dan Pak Einhard berjalan menyusuri lorong bawah tanah yang menghubungkan antara ruang pertemuan rahasia dan gedung kelas. Lorong bawah tanah tersebut memiliki lebar sekitar 2 meter dan tinggi sekitar 3 meter. Sangat gelap bahkan banyak tetesan air merembes dari balik dindingnya. Menakutkan…
Aku tidak menyangka bahwa terdapat lorong bawah tanah yang begitu besar bahkan berbentuk seperti labirin yang menghubungkan seluruh gedung di area akademi. Begitulah kata Pak Einhard. Lorong tersebut dipergunakan sebagai rute pelarian ataupun penyergapan apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti saat ini. Benar-benar menakjubkan.
“Aku hanya bisa mengantarkanmu sampai sini. Selebihnya aku hanya bisa bergantung padamu”
“Baik pak. Aku hanya perlu membebaskan Alicia dan Pak Einhard menerobos saat aku memberikan sinyal peringatan”
“Oke.” Lalu Pak Einhard memukul pelan dadaku dan berkata, “Aku mengandalkanmu!”
“Jangan lupa. Apapun hasilnya, Pak Einhard yang bertanggung jawab”
Pak Einhard hanya mengangguk menanggapi penyataanku.
Lantas aku berjalan memasuki gedung kelas akademi.
*****
“Apa yang sedang kau lakukan”
Seorang laki-laki mengarahkan sebuah pedang tepat di leherku. Entah kenapa nasibku selalu sial, belum apa-apa sudah ketahuan. Aku mengangkat kedua tanganku sambil berbalik.
Abrandar
Aku mengamati keadaan sekitar, ternyata hanya ada satu pria yang sedang mengarahkan pendangnya kepadaku.
“Hahaha ternyata aku hanya menemui seorang murid yang tak bersenjata”
Aku tersenyum dan berkata, “Maaf tuan yang anda temui bukanlah seorang murid, tetapi kematian”
Abrandar.
Teleportation.
Lalu aku berdiri di belakangnya sambil mengarahkan pistolku tepat di dada kirinya.
Dorrr…
Aku menarik palatuk Handgunku tepat di dada kirinya dan ia pun mati seketika.
Setelah itu, aku memasukkan mayat pria tersebut ke dalam ruang bawah tanah untuk menghilangkan jejak.
Aku mengendap-endap melewati penjaga yang berpatroli di sekitar lorong kelas, setelah aku amati ternyata jumlahnya lebih dari 40 orang.
Misi ini benar-benar sulit. Menyusuri satu-demi satu ruangan yang berjumlah lebih dari 60 ruangan bukanlah perkara yang mudah, apalagi terdapat sebuah lobi utama yang memisahkan antara gedung sebelah timur dan barat.
Bagaimana aku harus melewatinya? Jangkauan teleportasiku tidak bisa menjangkau hingga kesana, apalagi aku harus mengendap-endap diatara penjahat yang tidak aku ketahui kemampuannya. Benar-benar sangat mengerikan.
Para penjahat ini memiliki kemampuan yang sangat luar biasa. Mereka benar-benar terlatih, mata dan telinga mereka selalu fokus terhadap setiap gerakan ataupun suara yang mencurigakan, bahkan aku harus menahan nafas ketika berjalan diantara mereka. Sungguh menyiksa.
Ciiit…
Suara lantai berbunyi akibat sebuah gesekan dari sol sepatuku. Sial lantainya basah, bahkan aku hampir terjatuh akibat kejadian tersebut.
__ADS_1
Teleportation.
Aku memutuskan untuk bersembunyi di dalam lemari penyimpanan alat kebersihan.
Terdapat lima penjaga yang berlari dan masuk ke dalam ruangan kelas. Mereka menarik pedangnya dan berjalan sedikit membungkuk mengawasi kondisi sekitar. Seseorang diantara mereka merasa curiga dan menusuk-nusukkan pedangnya ke arah meja dan lemari di dalam gedung kelas.
Tak lama kemudian dia berada tepat di depanku. Mata kami saling bertemu namun sepertinya ia tak menyadari keberadaanku. Ia mengambil ancang-ancang lalu menusukkan pendangnya ke arah kepalaku.
Abrandar…
Srengg…
Ruangan yang sempit membuat pergerakan kepalaku benar-benar terbatas. Pendang tersebut tepat berada di samping kepalaku bahkan hingga memotong beberapa helai rambutku. Hiiihhhh, MAMA BENAR-BENAR MENAKUTKAN!!!
Pria tersebut terlihat masih mencurigai tempat persembunyianku. Raut wajahnya terlihat bahwa ia merasa belum puas dengan apa yang sudah diperbuatnya. Ia kembali mengambil ancang-ancang untuk kembali menusuk tempat persembunyianku. Posisinya benar-benar rendah, tepat di arah perutku.
Sial, apa yang harus aku perbuat? Apakah aku harus melawan mereka semua? Tapi bagaimana dengan keselamatan Alicia? Ataukah aku harus diam saja? Itu bukanlah sebuah pilihan, yang ada aku akan mati tertusuk oleh pedang tersebut.
Oke fine-fine aku akan menyerah saja. Tapi bukankah itu berarti rencana penyerangan yang sudah disusun oleh Pak Einhard gagal untuk dilaksanakan? Ah masa bodo, bukankah dia yang akan bertanggung jawab. Setidaknya mereka tidak akan membunuh seorang siswa yang tidak bersenjata sepertiku.
Dengan cepat aku membuka pintu lemari.
Brak…
Pintu lemari tersebut berbunyi dengan kencang karena terbuat dari besi tipis yang berukuran setengah kali dua setengah meter.
Abrandar…
Lalu aku berjongkok untuk menghindari serangan tersebut.
“Ohhh, hanya seorang siswa yang lemah rupanya”, Pria tersebut berkata lalu mengikat tanganku di belakang pinggangku dan membawaku pergi menuju suatu tempat.
*****
Menakutkan… sungguh-sungguh menakutkan. Sumpah aku tidak akan pernah mau melakukan misi penyelamatan dengan mengendap-endap seperti ini lagi. Terlebih lagi menyelamatkan orang penting seperti Alicia Pendragon. Entah mengapa aku selalu bernasib sial ketika harus berurusan dengannya.
Grrrkkk…
Suara pintu bergeser, tubuhku diseret lalu dilempar masuk menuju sebuah ruangan kelas.
Dukkk…
Kepalaku terbentur sebuah benda tumpul yang menyebabkan mataku berkuang-kunang. Aku berdiam diri sejenak sambil menggeleng-gelengkan kepalaku untuk mengembalikan kesadaranku.
Aku mencoba menengadahkan kepalaku untuk mengamati sekitar. Ku lihat seorang wanita yang duduk salah satu pojok ruangan, matanya mememerah dan sedikit berair. Jarak kami hanya sekitar setengah meter.
“Ya Tuhan, kenapa aku harus disekap bersama orang ini?”
“Hah?”, aku kaget mendengar ucapannya. “Apakah kau tidak tahu, aku bisa tertangkap gara-gara kamu!”, Bisikku.
Alicia hanya diam terpaku mendengar jawabanku. Ia menghela napas lalu berkata, “Maaf, Andra aku tidak tahu ternyata benturan tadi sekeras itu”
Jlebb…
__ADS_1
Kata-katanya benar-benar menyakitkan untuk gadis secantik dia. Aku merasa menyesal mengapa harus mempertaruhkan nyawaku untuk menyelamatkannya.
“Apakah kau tidak bisa sedikit menaruh hormat di hadapan tunanganmu ini tuan putri? Bukankah, aku terlihat romantis datang kemari seorang diri hanya untuk menyelamatkanmu seorang?”, aku berkata sedikit mengejek Alicia, karena telah dijodohkan dengan seseorang yang sudah ia hina.
“Hah apakah aku tidak salah dengar, seorang rakyat jelata yang lemah dan tak berguna sepertimu menjadi calon suamiku?”, Alicia sedikit menggelengkan kepalanya sambil merapatkan bibilnya yang mencoba tersungging seolah-olah menahan tawa.
Entah mengapa semakin lama aku berbincang dengannya semakin aku terluka karena perkataannya. Sesaat tadi ia terlihat seperti seorang wanita yang lemah dan tak berdaya, namun sekarang ia terlihat sangat sombong. Aku merasa heran darimanakah datangnya harga diri yang ia miliki?
“Apakah kau tahu mengapa banyak kesatria mati akibat sebuah perangkap?”
“Karena mereka terlalu lengah untuk memperhatikan lingkungan sekitar”
Aku menggelengkan kepala lalu berkata, “Bukan, alasannya karena mereka terlalu malas untuk berpikir tentang segala macam kemungkinan serangan yang akan menghampiri mereka”
Alicia kembali menahan tawa sambil menggelengkan kepala lalu berkata, “Haahhh, apa yang mereka dipikirkan dengan mengirim orang sepertimu.” Alicia berkata dengan nada bicara yang terkesan meremehkan. “Apakah mereka mencoba menghiburku dengan mengirimkan orang sepertimu, sepertinya mereka hanya melakukan tindakan yang sia-sia”, sambungnya.
“Apakah perlu aku buktikan?”
“Berhenti membual, aku sudah tidak kuat lagi”, Alicia berusaha menahan tawanya.
“Sepertinya mereka cukup kuat”
“Ya, meskipun kemampuan sihir mereka tergolong rendah namun mereka cukup terlatih dan terbiasa dalam sebuah pertempuran”
“Bagaimana kau bisa tahu?”
“Aku terbiasa melihat sorot mata pasukan yang sering bertempur di medan perang”
Aku mengangguk dan berkata, “Oh sepertinya aku tidak perlu menahan diri”. Lalu aku mengalihkan pandanganku ke arah Alicia dan berkata, “Sekarang tutup matamu dan tahan napasmu”
Alicia menarik kebelakang tubuhnya dan berkata, “Apa yang coba kau lakukan kepadaku?”
“Aku tidak akan melakukan tindakan yang tidak senonoh kepadamu”
Alicia menggelengkan kepalanya sambil menggeser badannya untuk menjauhiku lalu berkata, “Aku tidak mau disuruh oleh laki-laki dengan tatapan mencurigakan sepertimu?”
“Hah, apa yang kau pikirkan. Aku hanya berusaha menyelamatkanmu”, Aku berbisik kepada Alicia.
Alicia hanya menggelengkan kepalanya.
“Ya sudah kau tanggung sendiri akibatnya”
Aku melihat kondisi sekitar terdapat lima orang penjaga yang bertugas menjaga kami. Aku mencoba mengambil Smoke Grenade-ku dari dalam kantong sihirku. Untung saja aku sudah melapisinya dengan kain biasa agar tidak terlihat seperti kantong sihir.
Akhirnya ketemu, dengan sigap aku menarik pemicunya dan menggelindingkan Grenade tersebut ke ara mereka.
“Hei, apa yang kau lakukan”, seorang pria menarik sebilah pedang dari sarungnya dan berlari ke arahku.
Ssshhh…
Sayangnya ia terlambat karena asap telah mengepul menutupi ruangan tersebut.
__ADS_1