
“Maaf aku harus pergi”
“Heh, apa kau yakin tuan? Pestanya baru saja dimulai”, pria petualang tersebut berkata.
“Ya, ada sesuatu yang harus aku lakukan”
Woi-woi, apakah kalian tidak menyadarinya. Lihat apa yang ada dibelakang kalian, disana ada sebuah penampakan yang terlihat sangat menyeramkan. Jika aku tetap disini, maka aku akan mati karena ketakutan.
“Kenapa… kenapa… kenapa Amadeus-sama harus pergi?”, Nona Annelies berkata dengan nada bicara yang terkesan manja, “Apakah kau tidak suka aku berada disini?”, sambungnya sambil memasang wajah memelas seperti hendak menangis.
“Hhmmm… Amadeus-sama, kau sudah membuat seorang wanita menangis. Tinggalah bersama kami, malam masih sangat panjang”, seorang wanita petualang yang berada disampingku berkata sambil mengelus pipi dan daguku.
Lalala…
Aku seperti mendengar nyanyian bidadari sambil membawa sebuah harpa yang hendak turun ke bumi. Oh beginikah rasanya disorot oleh cahaya surgawi.
Whoaa, luar biasa…
Aku tidak menyangka bahwa menjadi seorang pahlawan yang menyelamatkan kota rasanya bisa sehebat ini. Seseorang tolonglah buat masalah, agar aku bisa melakukan tindakan heroik lagi.
Selamat ibu, anakmu akan segera menjadi seorang pria sejati malam ini.
Geeeezzz…
Bulu kudukku kembali berdiri. Ku alihkan pandanganku menuju Rebecca-sama.
Ha…
Aku menahan napasku.
Whoaaa…
Tidaakkk… Tidaakkk…
Apa yang sudah aku lakukan, mengapa ia semakin ingin membunuhku?
“Mohon maaf semuanya, aku harus pergi. Jika aku tidak pernah kembali lagi, itu menandakan aku sudah mati. Terima kasih sudah menemaniku malam ini”
Lantas aku pergi menuju akademi untuk meminta perlindungan dari Pak Einhard.
*****
Aku menyusuri jalan yang tampak lebih lengang dari biasanya. Ah gawat, suasananya benar-benar mendukung untuk melakukan tindakan pembunuhan.
__ADS_1
Trak… trak… trak…
Terdengar suara langkah yang seirama dengan langkah kakiku. Aku merasa bahwa aku sedang diikuti. Keringat dingin mulai bercucuran di keningku. Rasanya benar-benar menakutkan.
Ku alihkan pandanganku ke belakang. Oh tidak, terdapat sepasang mata yang mengawasiku dari belakang. Ia berada dibalik sebuah tembok bangunan yang berada di sebuah gang. Aku mulai mempercepat langkahku dan kecepatan langkah kaki tersebut terdengar mengikuti langkah kakiku.
Oh tiiiiidaaakkk…
Acceleracion…
Aku berlari sekuat tenaga berharap ia tidak akan bisa mengerjarku.
Tolong aku mamaaaa…
Aku melihat ke arah belakang ternyata orang tersebut adalah Rebecca-sama. Ia terbang dengan tangan dan kaki yang sedang mengeluarkan api seperti Steelman. Sangat cepat, bahkan kecepatannya hampir menyamai kecepatan lariku.
Tidaaakkkk…
Ampuni aku Rebecca-samaaaa…
Aku putuskan berbelok ke sebuah gang untuk mengecoh pergerakannya. Sial, hampir saja aku menginjak seekor anak anjing husky yang sedang terluka. Aku merasa kasihan dengannya, jika aku biarkan maka dia akan mati. Aku putuskan untuk mengambilnya, setidaknya aku telah berbuat baik sebelum mati. Aku berharap Tuhan akan bersimpati atas kebaikanku sehingga aku bisa dikirim ke surga.
Crak… crak… crak…
Guk… guk… au… au…
Diam kau anjing sialan, kau benar-benar tidak tau rasa terima kasih. Bagaimana mungkin kau mau mencelakakan orang yang hendak menyelamatkanmu.
Dari sebuah celah kecil aku mengintip ke arah luar.
Tidaaaakkkk…
Rebecca-sama melihat ke arahku. Tolong aku Tuhan selamatkan aku. Lihat ini, aku sedang berbuat baik saat ini. Apakah kau tega membiarkan seorang anak anjing mati karena terluka. Jika aku selamat, aku berjanji bahwa aku akan merawatnya.
Crak… crak… crak…
Rebecca-sama masih belum mengalihkan pandanganya dariku. Sial, apa yang harus aku lakukan saat ini ia sudah berada di hadapanku dan hendak membuka tempat persembunyianku.
Teleportacion…
Aku berpindah ke atap gedung.
Acceleracion…
__ADS_1
Lalu berlari dengan sangat kencang meninggalkan tempat itu.
Safe.
*****
Creekkkk… Brukk…
Aku menutup pintu kamarku.
Hsshhhh… hsshhhh… hsshhhh…
Napasku hampir habis. Aku tidak menyangka bahwa melarikan diri dari Rebecca-sama bisa semelelahkan ini. Tadinya aku ingin mengunjungi kamar Pak Einhard, tapi aku yakin bahwa ia sudah terlelap tidur saat ini.
Jam pasir telah menunjukkan lewat tengah malam, sedangkan aku masih belum bisa beristirahat dengan tenang. Ku lihat ke luar jendela ternyata Rebecca-sama sedang melihat ke arahku.
Tidaakkkk…
Menakutkan, rasanya benar-benar menakutkan. Aku seperti diikuti oleh dewa kematian. Lalu aku bersembunyi dibawah tempat ditidurku sambil mendekap anak anjing yang aku bawa barusan. Kasian kau nak, aku belum bisa merawat luka-lukamu karena aku diikuti oleh sesuatu yang mengerikan.
Aku mencoba mengintip ke arah luar.
Tidaakkkk…
Dug… dug… dug…
Jantungku berdegup dengan sangat kencang, ternyata ia masih ada di sana. Ku mohon pergilah Rebecca-sama, pergilah. Adakah seseorang di dunia ini yang menjual jimat untuk mengusir aura-aura jahat? Jika ada aku akan membelinya dalam jumlah yang banyak.
Aku mulai berpikir keras, apakah aku harus membunuhnya? Apa yang kau pikirkan Andra, jika kau melakukannya ibumu sendiri yang akan membunuhmu. Apalagi jika ia mengetahui kau membunuh seorang wanita, ibu pasti akan terus mengejarmu meskipun kau sudah berada di neraka. Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan? Seseorang ku mohon, selamatkan aku.
Ku coba mengintip kembali ke arah jendela, ternyata ia sudah tidak ada. Syukurlah, akhirnya ia pergi.
Baiklah sekarang aku bisa fokus untuk mengobati luka anak anjing ini. Aku meletakkan anak anjing tersebut di bantal tidurku yang aku letakkan dia tas sebuah keranjang kecil, lalu aku mengambil kotak P3K yang berada di dinding berada di balik pintu kamarku.
Ku perhatikan lukanya terlihat sangat parah bahkan urat nadinya terasa sangat lemah. Mengapa ia bisa terluka separah ini? Luka tersebut seperti sebuah luka tembakan. Jangan-jangan, luka tersebut akibat peluru nyasar yang ditangkis oleh Bodolf.
Ku gunting bulu disekitar lukanya, lalu aku membedahnya untuk memastikan bahwa tidak ada benda asing yang ada di dalam tubuhnya. Benar rupanya, terdapat sebuah proyektil yang bersarang di tubuhnya. Sialan kau Bodolf, kau benar-benar sumber masalah bahkan kau bisa melukai anak anjing meskipun kau tak berniat melakukannya.
Namun di sisi lain, aku juga merasa berdosa karena secara tidak langsung akulah yang sudah menyebabkan ia terluka. Apakah ini yang dinamakan dengan takdir? Jika iya, maka akan aku menerimanya dengan senang hati.
Akhirnya aku berhasil mengeluarkan proyektil yang bersarang di tubuhnya, sekarang saatnya untuk menjahit lukanya. Setelah selesai, aku menyelimuti ia agar badannya tetap hangat. Lalu aku berbaring diatas kasurku. Haaaahhhh, tubuhku rasanya seperti sudah mencair seperti es. Akhirnya aku bisa bersantai juga. Hari ini adalah hari yang sangat panjang, rasanya benar-benar melelahkan. Baiklah saatnya aku beristirahat.
Dan untuk kamu anak anjing, aku harap kamu baik-baik saja.
__ADS_1