Membangun Kerajaan Bisnis Hiburan Di Dunia Lain

Membangun Kerajaan Bisnis Hiburan Di Dunia Lain
Episode 2 (HADIAH ULANG TAHUN)


__ADS_3

Tak terasa bahwa sebentar lagi aku akan berusia 7 tahun. Orang tuaku menjelaskan bahwa di dunia ini, anak berusia 7 tahun harus belajar disekolah. Dan pada usia 15 tahun, akan datang seorang penguji yang diperintahkan kerajaan mencari anak-anak berbakat untuk belajar di ibukota kerajaan.


Orang tuaku tidak berharap banyak, mereka hanya ingin aku tumbuh menjadi pria yang sehat dan bertanggung jawab karena hingga saat ini tidak ada seorang pun di desa kami yang berhasil bersekolah di ibukota kerajaan.


Petang menjelang. Seperti biasa, kami berkumpul untuk makan malam bersama dengan sepotong roti dan semangkuk sup buatan ibu.


“Andra, bukankah sebentar lagi kamu berusia 7 Tahun, apa yang kamu inginkan?”, Tanya ayah kepadaku.


“Aku tidak menginginkan apa-apa, yah”, Jawabku.


Aku terkesan seperti anak yang baik, namun saat aku berkata tidak, sesungguhnya aku memang benar-benar tidak menginginkan apapun di dunia ini. Dunia ini benar-benar membosankan. Tidak ada bioskop, video game, konser musik atau semua hal yang berhubungan dengan kesenangan duniawi. Yang mereka lakukan hanyalah kerja, kerja dan kerja.


Meskipun aku tidak melakukan hal tersebut di duniaku sebelumnya, di kehidupan ini, aku ingin sedikit lebih santai. Namun, ternyata tidak ada. Sepertinya aku dikutuk agar tidak bisa merasakan kesenangan duniawi.


Jujur, aku merasa sedikit frustasi. Jika aku tidak dapat mememukan hiburan apapun maka aku putuskan bahwa aku akan membuat kerajaan bisnis hiburan di dunia ini.


“Sayang, bagaimana jika kamu membuatkan Andra sebuah senjata?”, Ibu berkata kepada Ayah.


“Betul sayang, sebentar lagi Andra akan sekolah. Aku akan membuatkan dia senjata”, Sahut ayah menyetujui saran dari ibu.


“Tidak yah, terima kasih. Aku ingin menjadi seorang pebisnis bukan menjadi seorang petarung. Jadi bersekolah tidak akan berguna bagiku”, Sanggahku.


Bukk…


Ibu menjitak kepalaku.


“Aduh”


“Apa kau katakan? Apakah kamu ingin kami berdua di penjara? Seluruh anak seusiamu harus bersekolah”, Ibu berkata sambil menaruh tangan di pinggang dan melotot kearahku, aku hanya bisa tertunduk lesu sedangkan ayah hanya menahan tawa karena perkataan bodohku.


Sial, dunia ini benar-benar merepotkan. Dengan keadaan terpaksa aku menunjukkan dua buah cetak biru. Awalnya aku akan mempergunakan senjata ini untuk melindungi kerajaan bisnisku, namun apa daya sepertinya aku harus menggunakannya untuk bersekolah saat ini. Hah, bertarung menggunakan pedang, tombak, panah dan perisai bukanlah gayaku. Melelahkan dan tidak efektif.


“Andra ingin ayah membuat kedua senjata ini, dan khusus pada bagian ini  aku ingin 20 buah”


“Senjata apa ini nak?”, Ayah mengernyitkan dahinya ketika melihat cetak biru yang aku berikan kepadanya.


“Rahasia yah. Jika sudah selesai, nanti akan Andra tunjukkan”, Aku berkata sambil tersenyum menyeringai menjawab pertanyaan ayah, aku merasa tidak sabar bagaimana reaksi ayah melihat senjata hebat buatanku ini.


Pembicaraan itupun menutup percakapan kami hari ini.


*****


Dua bulan telah berlalu. Ibu membangunkanku seperti biasanya. Aku bergegas pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok gigi. Seperti biasanya, ayah duduk di depan meja makan menunggu aku datang ditemani secangkir kopi.

__ADS_1


Aku merasa hari ini benar-benar berbeda. Tidak biasanya ibu membereskan meja makan selepas kami sarapan. Biasanya ibu akan membereskan meja kotor ketika sudah waktunya ayah bekerja. Itulah cara ibu mengingatkan bahwa waktu bekerja sudah tiba. Tiba-tiba ayah menaruh sebuah kotak kado besar tepat di hadapanku.


“Meskipun terlalu cepat satu hari tapi selamat ulang tahun nak. Aku tidak menyangka bahwa aku bisa membuatnya secepat ini, hahaha”, Ayah tertawa lebar sambil menggaruk-garuk kepalanya.


Aku merasa kaget karena tidak menyangka bahwa semuanya bisa ayah selesaikan dalam waktu sesingkat ini meskipun tanpa mesin dan peralatan canggih.


“Selamat ulang tahun nak”, Ibu beranjak dari tempat duduknya dan memelukku.


“Boleh aku buka sekarang?”, Aku bertanya kepada mereka.


“Bukalah nak, ayah harap kamu suka”


Aku terkejut ketika membuka kado tersebut. Ini benar-benar sempurna. Bagaimana mungkin kedua benda ini bisa dibuat secepat dan sedetail ini dengan peralatan seadanya? Sepertinya aku akan belajar kepada ayah jika aku sudah dewasa.


“Bagaimana nak, apa kamu suka?”, Ayah bertanya kepadaku.


“Ini benar-benar hebat yah”


“Syukurlah jika kamu menyukainya. Ngomong-ngomong kamu akan menamainya apa?”


“Jagdkommando”


Pisau ini tidak berbentuk seperti pisau pada umumnya, ia memiliki 3 mata pisau berbentuk spiral. Tujuannya bukan untuk menyayat, melainkan menusuk. Jika tertusuk pisau ini pada bagian vital, dapat dipastikan bahwa orang tersebut akan mati seketika.


“Jagdkommando? Nama yang menyeramkan, seperti nama binatang buas yang siap membunuh mangsanya”, Sahut ibu.


“Hahaha bagus nak, nama yang unik seperti senjatanya”, Ayah tertawa keras sambil menepuk-nepuk punggungku.


“Iya”, Aku mengangguk menyetujui perkataan ayah.


Lalu ayah melihat sebuah benda yang sangat banyak terdiri dari komponen-komponen yang terdiri dari berbagai macam ukuran, serta tidak memiliki sudut tajam seperti senjata pada umumnya.


“Lalu, senjata apakah ini nak? Apakah kamu yakin ini bisa melindungi dirimu dari bahaya?”, Ayah menunjuk senjata yang satunya lagi. Wajar saja ayah berkata seperti itu karena senjata ini terlihat aneh di dunia ini, sangat kecil dan tanpa memiliki sudut tajam di segala sisinya.


“Yakin yah. Berikan andra sedikit waktu yah, akan aku tunjukkan”, Lalu aku merakitnya. Tak butuh waktu lama akhirnya aku bisa menyelesaikannya. “Aku akan menamainya Handgun”


“Handgun? Bisa kamu tunjukkan bagaimana cara kerjanya?”, Ayah terlihat penasaran dengan cara kerjanya.


Sial aku lupa, gara-gara pertanyaan ayah aku ingat bahwa aku membutuhkan bubuk mesiu.


“Sayang sekali yah, ini masih belum dapat digunakan. Ada bahan yang aku butuhkan”


“Apa itu nak?”

__ADS_1


“Mesiu yah”


“Mesiu? Apa itu nak, apa semacam gulungan sihir?”


Ternyata bubuk mesiu belum ditemukan di dunia ini. Ayah saja sebagai seorang pandai besi sampai tidak tahu dengan apa yang aku tanyakan. Berarti jawabannya hanya satu, aku harus membuatnya.


“Bukan yah, itu semacam benda ajaib namun sayangnya sekarang aku tidak memilikinya”


“Dimana kita bisa mendapatkannya?”


“Diatas gunung berapi yah”


“Sayang”, Ibu berkata sambil menatap ayah dalam-dalam.


“Baiklah nak, ayah berjanji kita akan mencarinya besok. Tapi kamu harus berjanji untuk tidak mengatakannya pada siapapun”, Ayah menghiraukan perkataan ibu dan menyetujui permintaanku.


“Iya, ayah. Andra berjanji”


“Oh iya, ada yang ingin ayah berikan kepadamu. Ini dia”, Ayah memberikan sebuah kantong yang terbuat dari kulit berwarna hitam dengan corak merah dan tali pengikat diatasnya. “Ini adalah sebuah kantung sihir. Kamu bisa menyimpan apapun didalamnya.”


Wah, aku mendapatkan bonus item yang benar-benar berharga. Ini adalah benda yang benar-benar aku butuhkan untuk mencari belerang di gunung berapi.


“Terima kasih untuk hadiahnya”, Jawabku lalu aku ikatkan kantung tersebut di pinggangku.


“Ayah, bolehkah aku meminta kembali cetak biru yang aku berikan kepada ayah?”


“Tentu saja, itu adalah milikmu”


Kami bergegas pergi menuju Blacksmith ayah.


Sesampainya disana, ayah memberikannya cetak birunya kepadaku, lalu aku terima dan membakarnya di tungku api milik ayah.


“Kenapa kamu bakar nak, bukankah itu penemuanmu?”


Ayah terlihat heran dengan perbuatanku. Bagaimana mungkin sebuah cetak biru yang susah-susah dibuat bisa dibuang begitu saja.


“Jika tersebar ini hanyalah akan menimbulkan bencana, yah”


Aku melihat ayah, sedangkan ia hanya mengernyitkan dahinya sedangkan aku bergegas pergi meninggalkan blacksmithnya.


 


 

__ADS_1


__ADS_2