Membangun Kerajaan Bisnis Hiburan Di Dunia Lain

Membangun Kerajaan Bisnis Hiburan Di Dunia Lain
Episode 39 (KOTA GLASIUS DISERANG)


__ADS_3

3 Hound melompat ke arah Sitha.


Teleportacion…


Aku mengambil tas dan Handgunku.


Teleportacion…


Aku mencoba memegang Handgunku. Tanganku bergetar dengan hebatnya dan keringat bercucuran di keningku. Tiba-tiba ku lihat darah yang memenuhi tangan dan senjataku.


Holly Movement…


Tiba-tiba Pak Einhard melompat dari jendela menuju ke arah Sitha, lalu ia pukul seluruh Hound tersebut hingga terpental beberapa meter jauhnya.


Sial, apakah ini akhir dari semuanya? Bahkan aku tidak bisa menyelamatkan Sitha. Andaikan tidak ada Pak Einhard mungkin Sitha akan meninggal dunia. Aku benar-benar merasa tertekan.


Aku merasa terpukau melihat Pak Einhard, meskipun tanpa senjata ia benar-benar kuat. Bahkan bisa membuat Hound mati dengan sekali pukulan. Baik Sitha dan Pak Einhard tidak membawa senjata, alasannya karena mereka menjenguk aku dipenjara. Namun mengapa Alicia bisa membawa senjataku ke dalam kamarku. Mungkin karena senjataku belum di kenal di dunia ini. Alicia benar-benar berani membawa senjataku kemari.


Hanya dalam beberapa menit saja, tiba-tiba kota dalam keadaan yang mencekam. Terdengar suara raungan monster beserta jeritan manusia dimana-mana. Aku melompat dari atas jendela untuk menghampiri Pak Einhard.


“Apakah ini sudah biasa terjadi?”, Aku bertanya.


“Sepertinya seseorang sudah merencanakan penyerangan”


“Bagaimana mungkin?”


“Setiap enam bulan, sihir penghalang harus diperbaharui. Kegiatan tersebut jatuh tepat di hari ini. Pembaharuan sihir pelindung membutuhkan waktu selama seharian, dengan kata lain, hari ini adalah hari dimana ibukota Glasius dalam keadaan yang paling rentan”


“Lalu apa yang harus kita lakukan?”


“Bawa Sitha kembali ke akademi, aku akan pergi untuk menyelidikinya”


“Tidak pak, sebaiknya aku yang pergi”


“Jangan Andra, kau baru saja pulih. Kau hanya akan menempatkan dirimu dalam bahaya”, lirih Sitha.


“Tenang saja Sitha, aku tidak akan memaksakan diri. Dengan kemampuan sihirku, aku bisa kabur dengan mudahnya”, Lalu dengan tangan bergetar aku menyerahkan Handgun-ku kepada Pak Einhard seraya berkata, “Tolong pak, jaga Sitha”


“Aku tidak tahu cara menggunakannya”


“Tombol kecil disana untuk membuka kunci pengamannya. Jika ia dalam keadaan terkunci siapa pun tidak akan ada yang bisa menggunakannya. Coba pak Einhard tekan”


Cekrek…


“Suara itu menandakan bahwa kuncinya sudah terbuka. Pak Einhard hanya perlu menarik pelatuknyanya dan peluru akan keluar dengan sendirinya. Hati-hati dengan hentakannya, ia benar-benar kuat. Jika Pak Einhard tidak menahannya maka ia takkan bisa mengenai sasarannya. Sekarang coba Pak Einhard tembak ke arah sana”


Aku menyuruh Pak Einhard menembak lampu minyak yang menggantung di tiang kota.


Dor…


Tangan Pak Einhard terdorong kebelakang.


Dsing…

__ADS_1


“Gilaaa… Hentakannya benar-benar kuat, Andra”


“Begitulah jadinya jika Pak Einhard tidak menahannya. Coba lakukan sekali lagi”


Dor…


Prang…


Lampu tersebut pecah.


“Wah, benar-benar mudah”


“Begitulah. Coba Pak Einhard tekan tombol yang satunya lagi”


Krek…


Tiba-tiba Magazine Handgun-ku keluar dari tempatnya.


“Wait”, Pak Einhard dengan Sigap menangkapnya lalu berkata, “Hah ternyata begini cara mengelurkannya. Luar biasa. Saat aku pertama kali melihatnya, itu terlihat seperti sebuah tipuan”


“Coba pak Einhard lihat berapa sisa pelurunya”


“Tujuh”


“Tepat, berarti Pak Einhard hanya punya 7 kesempatan”


“Hah, bukankah itu terlalu sedikit? Padahal aku ingin sedikit bersenang-senang”, Pak Einhard nampak muram.


“Pak Einhard terima ini”, aku memberikan sebuah Magazine dan 47 peluru Handgun,  “Jangan lupa untuk mengisinya”


“Whoaaa…”, mata pak Einhard nampak berbinar-binar. Wajahnya benar-benar menjengkelkan, seperti anak kecil yang baru saja diberikan sebuah mainan. “Baiklah aku pergi”, Pak Einhard berkata sambil berjalan hendak pergi melewatiku. “Apa yang akan kau lakukan?”, bisiknya.


“Aku akan pergi ke organisasi petualang. Meskipun aku tidak bisa bertarung, setidaknya dengan keberadaanku bisa memberikan para petualang lain sedikit dorongan”


“Sudah kuduga. Kau benar-benar terlihat seperti seorang Mahesvara. Jaga dirimu”


“Iya”, lalu Pak Einhard berlalu pergi melewatiku.


“Andra”, tiba-tiba Sitha berheti tepat di depanku. Mata kami saling bertemu lalu Sitha menunduk dan berlari melewatiku. Ku lihat seperti ada air mata yang jatuh diatas pipinya.


“Jaga dirimu, Andra”


Lalu aku menoleh ke arah belakang. Rasanya barusan aku seperti mendengar suara Sitha. Ku perhatikan sejenak namun aku hanya bisa melihat ia dari balik punggungnya.


Ku putuskan untuk menggunakan jubahku dan dengan tangan bergetar menaruh sniper-ku di punggungku. Lantas aku pergi menuju gedung organisasi petualang.


*****


Aku berjalan menuju gedung organisasi petualang, rasanya benar-benar tidak nyaman. Ditambah dengan Sniper yang menempel di punggungku. Untuk pertama kalinya aku merasa bahwa aku sangat ingin melepaskannya.


Semua orang melihat kearahku seperti sebuah tontonan, namun dari wajah mereka seperti tampak kegirangan. Sudah kuduga, ternyata ada sesuatu yang tidak beres sedang terjadi disini.


“Amadeus-sama”

__ADS_1


Aku sangat terkejut dengan seseorang yang ada di hadapanku, “Rebecca?”, aku berkata dengan suara yang rendah.


“Kyaa”, Ia tampak terkejut saat aku memanggil namanya.


Apa… apa… apa… ada apa, ada apa dengannya? Kenapa ia nampak terkejut? Sial, ia benar-benar imut. Melihat sikapnya, aku serasa ingin menikahinya. Tolong siapa saja diantara kalian, adakah seseorang yang bertugas di departemen pencatatan pernikahan.


“Amadeus… Amadeus… Amadeus”


Terdengar hawar suara orang yang memanggil namaku.


“Tuan Amadeus”, tiba-tiba seorang pria berbadan kekar bersama teman-temannya datang menghampiriku. Ternyata ia adalah Brutus. “Tolong izinkan kami bertarung bersama anda!”, pungkasnya.


“Hhhrrr…”, tiba-tiba terasa hawa membunuh yang sangat kuat. Saat ku palingkan wajah ternyata itu berasal dari kak Rebecca. Gawat, aku benar-benar merasa takut namun aku mencoba mengacuhkannya.


“Heee”, Brutus nampak ketakutan melihat sikap kak Rebecca.


“Kenapa? Bukankah disini terdapat banyak orang-orang kuat”


Di ibukota kerajaan seperti kota Glasius merupakan tempat berkumpulnya para petualang hebat. Meskipun termasuk tempat yang aman, tetapi terdapat banyak misi yang akan memberikan bayaran yang tinggi. Jadi tidak mengherankan jika kota seperti Glasius terdapat banyak petualang hebat.


“Mereka sedang menjalankan misi”, tiba-tiba kak Annelies berkata sambil menghampiriku.


Sepertinya benar kata Pak Einhard bahwa kekacauan ini sepertinya sudah direncanakan. Namun, yang menjadi pertanyaan adalah apa atau siapa yang menjadi target penyerangan. Apakah raja, ibukota atau bahkan kerajaan? Ah, aku benar-benar tidak tahu.


“Misi apakah yang membutuhkan pemegang lencana tinggi dalam jumlah yang banyak?”


“Misi pengawalan barang dalam pelayaran, pembukaan lahan serta pengiriman barang berharga”, permintaan tersebut diawali dari kota Glasius seluruh dunia.


Benar-benar gawat, mereka benar-benar merencanakannya dengan matang.


“Bagaimana Tuan Amadeus, maukah kau menerima misi yang dibuat oleh raja? Membantu kami mempertahankan kota”


“Baiklah”, tegasku.


Tiba-tiba banyak orang yang mengerubungiku. Oh tidak…


“Tuan Amadeus, tolong izinkan aku untuk bertarung bersama Anda”, suara orang sahut menyahut berkata kepadaku.


“Hhhrrr”, hawa membunuh kak Rebecca semakin menguat.


Tiba-tiba semua orang nampak ketakutan, termasuk diriku.


“Baa… Ba… Baiklah, mohon bantuannya. Aku membutuhkan kerjasama dari kalian”


“Kya…”, tiba-tiba hawa membunuh yang ditujukan oleh kak Rebecca menghilang.


“Yeahhh”, mereka semua berteriak dengan kompaknya.


“BAIKLAH, SAATNYA KITA BERPESTA!!!”, teriakku.


“YEAH!!!”, sahut mereka.


Lalu kami pun pergi ke aula utama untuk merencakan strategi pembersihan.

__ADS_1


__ADS_2