
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 8.30, itu tandanya bahwa sudah saatnya aku berangkat ke sekolah. Aku merasa sedikit aneh dengan rutinitasku hari ini. Biasanya aku masih dijalan menuju Desa Schmiede namun sekarang aku bisa sedikit bersantai dirumah.
Sitha mengetuk pintu rumahku itu menandakan bahwa aku harus segera berangkat ke sekolah. Sial, aku sudah tidak punya waktu untuk mandi dan berganti baju. Dengan terpaksa aku berangkat seadanya.
Aku dan Sitha berjalan bersama menuju sekolah. Rasanya seperti nostalgia, wajar saja karena kami tidak melakukannya selama 7 tahun. Kami berbagi cerita tentang apa yang kami alami selama kami tidak bersama. Rasanya sangat menyenangkan, seperti baru kemarin kami berpisah.
Tak lama kami sampai menuju sekolah. Aku melihat beberapa anak yang tidak pernah aku lihat sebelumnya. Wajar saja, sebelumnya aku tidak memiliki seorang pun adik kelas sebelum meninggalkan sekolah ini. Beberapa saat kemudian, aku lihat Pak Einhard duduk ditempat biasanya.
Aku duduk disampingnya namun kali ini bukan untuk membaca buku. Aku ingin berbicara tentang apa yang sudah aku lalui selama ini. Aku ingin berterima kasih karena sudah menolong kami selama aku sakit. Disisi lain, aku juga ingin meminta maaf karena tidak sempat mengunjunginya beberapa tahun ini.
“Ih bau”, Pak Einhard berkata sambil menutup hidungnya.
“Iyakah?”, Aku berkata lalu mencium badanku sendiri seakan tidak percaya. Perasaan barusan Sitha tidak berkomentar apapun terhadap bau badanku.
“Serius kamu bau Andra, apa yang sudah kamu lakukan?”
“Hanya membuat peluru. Serius pak jangan main-main aku pergi ke sekolah bersama Sitha, bahkan dia tidak mengatakan apapun”
“Masalahnya sikap dia sangat baik kepadamu. Jika tidak percaya tanyakan saja pada Sitha”
“Sitha apakah aku bau?”, Teriakku
“Hmm”, Sitha mengangguk malu-malu.
Imutnya…
Sial, aku merasa malu saking malunya bahkan aku tidak bisa membayangkan apa yang Sitha pikirkan tentangku. Bagaimana mungkin aku berjalan dengan gadis secantik Sitha dalam keadaan bau. Gawaaat, aku benar-benar merasa terhina. Harga diriku tercabik-cabik.
“Pak Einhard, tidak adakah kesan yang lebih baik selain berkata bau. Setelah 7 tahun, bapak masih belum berubah”
“Masalahnya itulah kesan pertama yang aku terima darimu untuk pertama kali”
Sial sepertinya Pak Einhard bukan hanya berbicara tentang aku hari ini, tapi juga pada saat aku datang pertama kali kerumahnya.
“Ini pak”, Aku berkata sambil menunjukkan otot lenganku dengan niat untuk sombong kepada guru pemalas dan tidak berguna seperti Pak Einhard
“Aku juga punya”, Pak Einhard berkata sambil mengikuti gerakanku.
Buset, bagaimana mungkin orang yang hobinya hanya malas-malasan sepertinya memiliki otot yang lebih bagus daripada aku. Ah tidak, aku merasa depresi.
“Aku masih dalam masa pertumbuhan. Ngomong-ngomong apa bapak tidak merasa malu masih bersikap kekanak-kanakan seperti itu?”
Meskipun aku kalah, aku harus kalah dalam keadaan berdiri tegak. Entah kenapa aku merasa tidak rela saja jika harus kalah dari orang pemalas dan tidak berguna seperti Pak Einhard.
“Jiwa kompetitif itu harus tetap dijaga, hahaha. Ngomong-ngomong bagaimana?”
“Aku sudah lulus, itu sebabnya sekarang aku berada disini”
“Memang apa yang aku tanyakan?”
“Masa belajarku bersama kakek Thompson?”
“Bukan bodoh. Keadaan kalian sekarang bagaimana?”
Bukk… Pak Einhard menjitak kepalaku
“Aduh… Maksud Pak Einhard, aku dan ibu?”
Kenapa aku yang disalahkan, padahal pertanyaannya yang tidak jelas.
“Iya”
“Aku sudah sehat dan ibu juga baik-baik saja sekarang. Aku lihat beberapa minggu ini ia terlihat kelelahan, aku harap ia bisa sedikit bersantai dengan uang yang aku berikan”
“Syukurlah, ngomong-ngomong bagaimana bisa kamu belajar bersama orang tua keras kepala seperti Kakek Thompson, apalagi ia mengetahui jika kamu anak Mahesa”
“(Akupun menjelaskan semuanya), Begitulah pak Einhard”,
Tanpa menjelaskan bahwa aku meminjam namanya. Aku pikir menggunakan nama orang lain tanpa sepersetujuan yang bersangkutan sangatlah tidak sopan. Jadi aku putuskan untuk merahasiakannya.
“Hahaha, ternyata kamu cerdik juga”
“Pak sebetulnya aku ingin meminta sedikit bantuan?”
“Tidak terima kasih, kamu sudah cukup merepotkan”
“Buset... Respon Pak Einhard benar-benar cepat saat menolak dimintai bantuan, tapi aku serius pak”
“Aku juga serius, apalagi waktu bermalas-malasanku berkurang semenjak mengurusi masalahmu”
“Aku ingin belajar sihir pak. Pengalamanku kemarin mengajarkanku bahwa aku harus mempunyai kemampuan lain untuk memperbesar peluang hidupku”
“Aku sudah tahu bahwa kamu akan berkata begitu, makanya aku serius untuk yang satu ini aku tidak bisa membantu”
Pak Einhard benar-benar luar biasa, aku sampai-sampai tidak bisa membedakan antara dia yang serius atau bercanda. Bahkan ia sampai tahu apa yang akan aku minta tanpa berkata sepatah katapun. Sepertinya kecerdasan dan kedohohannya sangat tipis namun berada di titik yang ekstrim.
“Kenapa pak?”
“Bukankah aku pernah berkata bahwa itu akan menempatkan kalian dalam posisi yang sulit?”
“Bagaimana mungkin sebuah kekuatan sihir membuat pengguna dan keluarganya dalam kesulitan?”
“Aku bertanya, apakah jenis sihir yang kamu miliki?”
Aku berpikir sejenak, lalu aku menjawab, “Sepertinya penguatan”
“Salah, tapi sihir pengendali ruang dan waktu. Itu adalah sihir yang diinginkan kuil suci bahkan seluruh kerajaan di dunia ini. Jika sihir lain memanfaatkan ruang dan waktu, kamu berbeda, kekuatan sihirmu adalah kekuatan yang memanipulasi ruang dan waktu. Kau tahu apa artinya?”
“Bahwa sihirku tidak terikat ruang dan waktu”
“Benar, namun lebih lengkapnya adalah kamu miliki kekuatan untuk menaklukan dunia. Dengan kata lain kamu adalah ancaman bagi dunia itu sendiri. Ingat, kekuatan besar memiliki tanggung jawab yang besar. Memang kamu sudah siap menanggungnya?”
“Jika itu bisa melindungi orang-orang yang aku cintai akan aku terima”
Pak Einhard memejamkan mata lalu menghela napas dan berkata, “Kekuatan sihirmu terlalu besar bahkan pengendalian ketingkat selanjutnya hanya akan menghancurkan tubuhmu hingga menjadi abu, karena tubuh manusia tidak akan sanggup menahan kekuatan dewa. Itulah alasannya bahwa sihir ruang dan waktu adalah sihir kuno dengan jenis mantra paling sedikit namun paling kuat”
“Memang ada berapa Pak Einhard?”
“Ada tiga yaitu; Abrandar, Aceleracion dan Teleportacion. Abrandar adalah sihir untuk memperlambat waktu. Aceleracion adalah sihir untuk mempercepat dirimu dalam ruang dan waktu. Terakhir adalah Teleportacion, itu adalah sihir untuk melipat dunia sehingga kamu bisa berpindah dalam sekejap tanpa mata”
“Aku sepertinya pernah menggunakan ketiganya?”
“Kapan?”
Pak Einhard terkejut, lalu memegang pundakku dan mengarahkannya ke hadapan tubuhnya
“Waktu melawan Kelompok Taschio Nero. Itulah alasan mengapa aku masih bisa hidup hingga saat ini”
“Bagaimana kamu bisa melakukannya, padahal aku tidak pernah mengajari kamu sihir sedikitpun?”
“Apakah bapak lupa bahwa selama ini aku sering membaca buku pengetahuan tentang sihir dan bertarung?”
“Aku tahu, namun pada prakteknya sungguh berbeda”
“Aku juga tahu pak makanya aku ingin belajar”
“Tidak. Aku benar-benar tidak bisa melakukannya”
“Pak aku benar-benar harus menguasainya. Cepat atau lambat, aku bahkan orang yang aku sayang akan berada dalam bahaya. Menjadi lemah itu menyakitkan pak, bahkan kemarin aku melihat Taschio Nero membakar perkampungan warga, dan aku tidak bisa melakukan apapun. Pak Einhard tolonglah, untuk terakhir kalinya aku meminta bantuanmu”, Aku meminta tolong kepada Pak Einhard dengan penuh rasa putus asa.
__ADS_1
Pak Einhard seperti memikirkan sesuatu lalu berkata, “Baiklah tapi dengan 4 syarat?”
“Apa saja pak?”
“Pertama, kamu hanya boleh menggunakannya ketika kamu benar-benar dalam kondisi terancam. Kedua kamu hanya boleh menggunakan Abrandar untuk menghindar. Ketiga kamu tidak boleh menggunakan Aceleracion kecuali sebagai sebuah serangan mematikan dan terakhir kamu tidak boleh menggunakan Teleportacion sama sekali?”
“Syaratnya sangat berat pak. Kenapa bapak memberikan aku syarat seberat itu?”
“Aku sudah bilang bahwa ini untuk kebaikan kalian berdua. Aku hanya ingin menjaga agar orang-orang tidak menyadari bahwa kamu adalah pengguna sihir ruang dan waktu. Biarlah orang-orang menyangka bahwa kamu pengguna sihir penguatan yang lemah”
“Jika begitu baiklah pak”
“Baiklah, sekarang aku akan mulai mengajarimu. Kamu duduk dan bermeditasilah, bayangkan aliran mana mengalir dalam tubuhmu”
Aku bermeditasi sambil membayangkan aliran mana yang ada di dalam tubuhku. Cukup lama hingga aku tertidur dalam posisi duduk.
Bukkk…
Tiba-tiba sebuah jikatan mengarah ke kepalaku.
“Aduh”
“Dasar anak bodoh kenapa kamu tertidur”
“Bapak memberikan penjelasan seperti buku, aku sudah sering mencobanya. Itu terlalu klise bahkan aku sendiri tidak pernah melihat bagaimana bentuk Mana”
“Ya, aku sendiri belum pernah melihatnya, meskipun kamu anak yang jenius tapi berusahalah, ini bukan sesuatu yang bisa kamu pelajari dalam sehari saja, hahaha”
Aku merasa kesal dengan jawabannya. Jika ia hanya berkata seperti itu lalu untuk apa aku meminta bantuannya. Menyebalkan.
“Pak waktuku yang tersisa disini tinggal 8 bulan, aku harus berangkat ke ibukota untuk mendaftar di akademi. Apakah tidak ada cara tercepat untuk mempelajarinya?”
“Tidak ada, itu adalah sesuatu yang harus kamu pelajari sendiri”
Aku mencoba berkonsentrasi. Aku pusatkan pikiranku untuk mencari dimana sumber Mana-ku berada. Jika aku bisa menemukan sumbernya akan mudah bagiku mencari arah aliran Mana ke seluruh tubuhku.
Tiba-tiba aku berada diruang hampa. Aku tidak melihat apapun disekelilingku hanya ruangan gelap, yang kulihat hanyalah cahaya berada didepanku. Sial, sepertinya aku tersedot ke dalamnya hingga membuat aku pingsan.
Saat aku tersadar aku merasa tenggelam di air dan tidak bisa membuka mataku. Anehnya meskipun aku berada di dalam air, aku masih bisa bernafas seperti biasa.
Aku mencoba membuka mataku. Berat, namun aku terus paksakan. Aku merasa jika aku tidak bisa membuka mataku maka aku akan terjebak disini selamanya. Tiba-tiba aku melihat seperti sebuah bola cahaya putih, sepertinya ini adalah sumber cahaya yang menyedotku kemari.
Cahayanya tidak terlalu kuat hingga aku masih bisa melihatnya dengan kedua mataku tanpa merasa silau. Aku pun mencoba meraihnya. Aku pegang ia dengan kedua tanganku. Luar biasa ia melayang di kedua tanganku.
Aku merasa terkejut saat ia mencoba masuk ke dalam dadaku. Ku tarik ia dengan sekuat tenagaku namun tidak berhasil. Sial, dia sangat kuat. Ia terus merangsek masuk. Sakit. Rasanya benar-benar menyesakkan dada. Akhirnya ia masuk sepenuhnya ke dalam diriku dan seketika itu juga jiwaku terlempar dari tubuhku. Hah apa yang terjadi?
Aku melihat diriku sendiri sedang bertelanjang. Lalu, perhatikan dengan seksama, hhmm ternyata aku sangat gagah dan tampan. Mungkin selama ini ketampananku tertutup debu karena aku bekerja sebagai seorang penempa. Ternyata benar kata ibu aku terlihat mirip dengannya.
Jujur aku merasa geli melihat tubuhku sendiri secara langsung apalagi dalam keadaan telanjang. Sial, apa yang aku pikirkan bagaimana jika aku tidak bisa kembali ke dalam tubuhku.
Aku hanya merebahkan diri untuk beberapa saat, lalu melihat ke arah tubuhku sendiri yang sedang duduk bersila. Tanpa sadar akupun tertidur. Sial apa yang aku lakukan, kenapa aku bisa sesantai ini. Aku mencoba memegang tubuhku, namun seperti ada yang menyengat hingga melemparkan jiwaku beberapa meter.
Kenapa pak Einhard tidak mengatakan ini. Bagaimana jika aku terjebak disini selamanya, sepertinya aku ditolak tubuhku sendiri. Baiklah aku akan mencoba berkonsentrasi menyatukan tubuh, pikiran dan Mana-ku. Aku duduk bersila di depan tubuhku sendiri dan memulai bermeditasi membayangkan bahwa aku sedang berada di dalam tubuhku sendiri.
Tiba-tiba aku merasa bahwa tubuhku terpecah dan tercerai-berai seperti butiran debu masuk ke dalam tubuhku sendiri. Sekarang aku merasa bahwa cahaya tadi sudah menyatu dengan tubuh asliku. Tubuhku terasa lebih ringan. Aku merasa bahwa ada energi yang menggebu-gebu keluar dari tubuhku. Aku membuka mata dan ternyata aku berada lagi di sekolah.
Buk…
Seseorang menjitak kepalaku. Saat aku membuka mata, aku melihat Pak Einhard seperti sedang menatapku dengan tajam. Dia sedang marah.
“Aduh, kenapa pak. Aku sedang bermeditasi?”
“Bodoh, bagaimana jika kamu tidak bisa kembali. Itu bukan meditasi”
“Terus apa yang aku lakukan?”
Pak Einhard berpikir sejenak lalu berkata, “Hmmm… sepertinya kamu tanpa sadar sudah melakukannya”,
“Hooh ternyata aku jenius juga”
Aku mengagumi diriku sendiri sambil menggaruk daguku dengan telapak ibu jari dan telunjukku
“Ya aku akui itu jenius. Aku sendiri melakukannya ketika berumur 25 tahun, bahkan ada pula yang tidak bisa melakukannya seumur hidupnya”
“Terus apa yang harus aku lakukan sekarang pak? Aku tidak bisa merasakan Mana-ku sendiri”
“Bukankah kamu sedang malakukannya dari tadi?”
“Hoh ternyata pancaran energi ini adalah Mana, aku mengerti”
“Sepertinya kamu memiliki kapasitas Mana yang besar, sekarang coba tekan energi itu ke dalam tubuhmu”
Aku memejamkan mata dan membayangkan bahwa seluruh energi itu dikunci dalam sumbernya. Akhirnya aku tidak lagi merasakan pancaran energi yang meluap lagi. Hahaha, ternyata semudah itu.
“Hanya begitu saja pak?”
“Coba buka lagi”
Aku mecoba mengulangi apa yang aku lakukan sebelumnya namun berpikir sebaliknya, dan akhirnya energi Mana memancar dari tubuhku.
“Hahaha, ternyata sangat mudah pak”
“Jangan sombong”, Ia menjitak kepalaku, Bukkk… lalu berkata, “Itu wajar saja karena kamu sudah awakening”
“Aduh… Terus apa yang harus aku lakukan?”
“Tutup lagi dan jangan pernah kamu lakukan lagi atau kamu akan ketahuan”, Jawab Pak Einhaf
Akupun melakukan apa yang Pak Einhard katakan.
Pak Einhard berkata, “Baiklah aku mengerti pak. Terus bagaimana cara aku menggunakan sihir?”
“Kamu hanya perlu membayangkannya”
“Pak, itu nampak klise untuk sebuah sihir yang tidak berbentuk sepertiku”
“Nah sekarang aku tanya, bagaimana kamu dulu melakukannya?”
Pak Einhard merasa heran dengan apa yang aku katakan.
“Saat aku merasa tidak bisa menghindarinya namun aku sangat ingin menghindar dengan cepat, tanpa sadar aku melakukan Abrandar. Saat aku merasa bahwa aku ingin bergerak lebih cepat, tiba-tiba aku melakukan aceleracion. Dan pada saat aku ingin bergerak sangat-sangat cepat hingga rasanya ingin kabur aku melakukan teleportacion. Kesemuanya terjadi ketika aku dalam posisi antara hidup dan mati”
“Baiklah sekarang lawan aku”
“Heh?”
Tiba-tiba Pak Einhard menyerangku. Sial, aku tidak bisa menghindarinya.
Bukkk…
Aku terlempar beberapa meter
“Aduh”, Aku berteriak
“Katanya kamu bisa menghindarinya”
“Masalahnya aku tidak dalam posisi antara hidup dan mati”
“Baiklah aku akan menggunakan ini?”, Pak Einhard mengeluarkan Rapiernya dari dalam sarungnya.
__ADS_1
“Se…Se…Serius pak, jika kau menggunakannya aku benar-benar akan mati. Ta-ta-ta, tahan pak”, Aku memohon kepada Pak Einhard dengan nada yang terbata-bata. Jujur aku benar-benar merasa ketakutan.
Tiba-tiba aku melihat-tiba raut wajah pak Einhard berubah. Sepertinya ia benar-benar ingin membunuhku. Matanya seperti mata yang aku lihat 7 tahun lalu.
Holy Movement
Lalu pak Einhard bergerak dengan sangat cepat dan tiba-tiba ia tepat ada di depanku dengan posisi bersiap menusuk. Sial aku harus menghindar jika tidak maka aku benar-benar akan mati. Aku tidak tahu apa yang dipikirkan oleh guru pemalas sepertinya, apakah ia benar-benar ingin melatih atau membunuhku?
Tiba-tiba waktu bergerak melambat, aku seperti melihat arah serangannya. Akupun mencoba menghindarinya, tiba-tiba waktu berjalan kembali seperti semula. Yes, sepertinya aku berhasil menghindari tusukannya. Tanpa sadar sebuah tendangan mengarah ke arah perutku hingga membuatku terlempar beberapa meter.
“Hahaha, maaf aku kelepasan padahal aku sudah mencoba menahan seranganku sebisa mungkin”, Pak Einhard berkata sambil tertawa dan menggaruk bagian belakang kepalannya.
Tiba-tiba Sitha dan anak-anak lainnya melihat ke arah kami. Mereka penasaran dengan apa yang terjadi.
“Hahaha, sudah jangan dipikirkan. Bapak hanya menghukum anak yang sudah bolos selama 7 tahun. Lanjutkan saja latihan kalian”, Pak Einhard berkata untuk meredam rasa penasaran teman-temanku. Lalu mereka pun bermain seperti biasanya.
Apa dia sudah gila, mana mungkin ada orang yang menahan serangan sekuat ini bahkan aku sampai muntah mengeluarkan seluruh isi perutku. Lalu pak Einhard duduk di sebelah tubuhku yang sedang berbaring sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Sepertinya dia memahami sesuatu. Lalu aku duduk disebelahnya.
“Ternyata kamu bisa menggunakan sihirmu ketika sedang terancam”, Pak Einhard berkata sambil melipat kedua tangannya di dada dan mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Perasaan, itu yang aku katakan barusan”, Aku berkata dengan nada kesal terhadappak Einhard. Sepertinya kecerdasan dan kebodohan dia berada di garis yang tipis. Lalu aku berkata “Terus bagaimana pak?”
“Ya sudah, itu lebih dari cukup untuk bertahan dari ancaman”
“Aku ingin menggunakannya sedikit lebih aman”
“Oh, aku paham ternyata itu yang kamu inginkan”, Pak Einhard berkata seolah-olah ia baru mengerti apa yang aku inginkan.
Jujur aku benar-benar merasa kesal dengan jawabannya kali ini, terkadang aku tidak bisa membedakan antara ia serius dan bercanda.
“Bagaimana caranya?”
“Aku sudah bilang kamu hanya perlu membayangkannya dan biarkan energi itu keluar dengan sendirinya”
Abrandar…
Aku melihat semua yang ada di sekelilingku melambat. Hah ternyata hanya seperti ini, rupanya mudah juga. Lalu aku mencoba menekan energiku dan semuanya kembali seperti semula.
“Ternyata berhasil pak”
“Apa yang kamu lakukan”
“Abrandar pak”
“Kapan?”
“Baru saja”
Sepertinya dia tidak menyadarinya. Ternyata ini alasan kenapa pak Einhard ingin aku hanya menggunakan Abrandar.
“Oh iyakah?”
Lalu tiba-tiba pak Einhard menyerangku.
Hahahah serangannya terlalu mudah.
Abrandar….
Akupun mengelak dengan manganggukkan kepalaku.
“Benarkan?”
“Wah, bagus”,
Pak Einhard terlihat senang dengan perkembanganku.
“Baiklah, selanjutnya kamu akan belajar sesuatu yang agak sedikit sulit. Aceleracion. Caranya adalah gunakan Aceleracion keluarkan pukulan terkuatmu, saat kamu akan melakukan hantaman, batalkan sihirnya”
Lalu aku dan pak Einhard pun berdiri dan memperagakan gerakannnya. Lalu, Pak Einhard berkata, “Coba kamu lakukan”
Aceleracion
Aku menyerang pak Einhard seperti apa yang diperintahkannya. Saat pukulanku hampir mendarat di perutnya, tiba-tiba seranganku ditangkis lalu ia menampar tepat pipiku hingga aku terlempar beberapa meter.
“Aduh”,
Ini namanya bukan latihan, tapi penganiayaan. Sudah tua masih saja tidak bisa menahan serangannya. Awas saja akan aku balas.
“Bukan begitu, coba perhatikan sekali lagi. Sihirnya dibatalkan saat posisi sikumu 45 derajat sebelum menghantam”, Pak Einhard berkata lalu ia mengulangi gerakannya
Aceleracion
Aku pun menyerang sesuai dengan apa yang dia perintahkan tepat ke arah perutnya.
Buk…
Sial berhasil dia tangkis, namun membuat pak Einhard terdorong beberapa meter. Jujur, aku merasa sedikit kesal tidak berhasil mengenainya. Aku merasa kagum bahwa seranganku meningkat berkali-kali lipat, bahkan aku tidak menyangka bahwa aku bisa mengeluarkan serangan sehebat itu.
Tiba-tiba Aku lihat pak Einhard berlari kearahku lalu melompat mengarahkan kedua tanyannya seperti akan memelukku sambil meneriakkan namaku, “Andra”
Matanya terlihat berbinar-binar
Abrandar…
Aku pun mengelak, lalu pak Einhard pun tersungkur ke tanah.
“Kenapa kamu menghindar, padahal aku ingin merayakan keberhasilanmu”
Pak Einhard terlihat suram dan berpura-pura menangis.
“Tidak terima kasih”
“Hebatkan, hebatkan, hebatkan. Aku bilang hebatkan. Bagaimana, bagaimana, bagaimana. Gurumu ini hebatkan?”, Pak Einhard berkata cepat dengan wajah gembira sambil menyiku-nyiku perutku dan berbisik ditelingaku.
Sial, aku merasa kesal dengan ulah Pak Einhard. Mengapa pak Einhard malah memuji dirinya sendiri. Bukankah disini aku yang jenius bisa menguasai kemampuan sihirku dalam waktu yang sangat singkat. Lalu tiba-tiba pak Einhard berkata, “Kamu jenius bisa menguasainya dalam waktu yang singkat, sekarang tidak ada lagi yang bisa aku ajarkan. Namun satu hal harus kamu ingat, sehebat apapun kekuatanmu pada akhirnya pengalaman, tekad dan keyakinanlah yang menentukan hasil akhirnya. Apakah kamu mau menguji kemampuan senjatamu jika dipadukan dengan sihirmu”
“Tapi senjataku bukan senjata sihir pak?”, Aku menjawab.
“Itulah keuntungannya. Senjatamu adalah sesuatu yang baru didunia ini. Tanpa sihir maka tidak akan ditemukan jejak-jejak sihir didalamnya. Bahkan dengan kemampuan awakening mu, serangan dan efektifitas penggunaan sihirmu sudah meningkat berkali-kali lipat. Lalu apa yang akan kamu lakukan sekarang?”
“Aku mau cuti lagi pak. Aku ingin membuat senjata baruku sambil membuat stok peluru. Mungkin sekitar dua bulan”
“Baiklah, lagi pula disini tidak ada yang bisa aku ajarkan”
“Terima kasih pak. Ngomong-ngomong, bolehkah aku meminjam beberapa buku?”
“Ambil saja, asal kamu kembalikan”
“Baik pak. Aku mau minta bantuan lain, maukah bapak menemaniku mencoba senjata baruku dihutan. Aku yakin ibu tidak akan mengizinkannya jika aku pergi sendirian”
“Hah, senjata apa yang akan kamu buat?”, Pak Einhard bertanya dengan wajah yang terlihat sangat bersemangat
“Nanti akan aku tunjukkan. Ya sudah aku pamit dulu pak, terima kasih untuk pelajarannya”
Akupun pergi meninggalkan sekolah, lalu pergi ke rumah untuk melakukan apa yang sudah aku rencanakan.
__ADS_1