Membangun Kerajaan Bisnis Hiburan Di Dunia Lain

Membangun Kerajaan Bisnis Hiburan Di Dunia Lain
Episode 38 (SEBUAH PERENUNGAN)


__ADS_3

Tiba-tiba sikap Alicia berubah karena menyadari akan hal aneh yang terjadi kepadaku.


“Bukankah ini yang kau minta? Terimalah”


“Bisakah kau taruh disana”, aku menyuruh Alicia untuk menaruh Handgun dan tas sihirku di sebuah meja yang berada di samping tempat tidurku.


Alicia hanya memandangku dengan tajam sambil menyodorkan tangannya kepadaku. Ia benar-benar menghiraukan ucapanku. Tiba-tiba Alicia tersenyum sinis dan berkata, “Sudah ku duga. Sebaiknya kau berhenti dari Akademi Stacia dan kembalilah ke desa”


Secara spontan Sitha bangkit dari tempat duduknya dan berkata, “Apa maksudmu Alicia?”


“Jangan salah sangka Sitha. Aku hanya mengatakan apa yang terbaik untuk Andra. Dia sudah tidak bisa mengangkat senjata. Aku mengenal seseorang yang mengalami hal serupa dengannya, namun aku tidak menyangka bahwa keadaan Andra lebih parah daripada dia." Alicia memalingkan wajahnya ke arahku lalu ia berkata, "Apakah kau masih ingat dengan ucapan gurumu Andra? Bahwa untuk bertahan kau harus memiliki tekad dan keyakinan. Sepertinya ia benar, bahwa kau tidak memiliki cukup tekad dan keyakinan untuk menanggung dosa-dosamu”, Alicia berkata, lalu ia menaruh senjataku di meja dan pergi meninggalkan kamarku.


Duarrr…


Hatiku seperti tersambar sebuah petir. Ucapan Alicia benar-benar terasa sangat menyakitkan. Sebuah kenyataan yang belum bisa aku terima. Dahulu aku adalah seorang ilmuwan senjata, walaupun aku menyadari kebenarannya namun sekarang rasanya benar-benar berbeda. Hatiku terasa mati karenanya.


Melalui Alicia aku menyadari bahwa pernyataan Pak Einhard memiliki makna tersembunyi. Selain tekad dan keyakinan untuk bertahan hidup, aku juga harus memiliki tekad dan keyakinan untuk terus menanggung dosa dari orang-orang yang aku bunuh. Saat seorang kehilangan tekad dan keyakinannya maka hatinya akan mati, ia tak lebih seperti seorang mayat hidup yang berjalan di muka bumi.


Sekarang aku merasa bahwa aku terlalu arogan untuk melakukan apa yang Pak Einhard perintahkan. Menganggap membunuh manusia sebagai suatu hal yang biasa. Namun ternyata aku salah, hanya manusia yang sakit yang menganggap membunuh manusia sebagai suatu hal yang biasa.


Tanpa sadar air mataku terjatuh, seketika itu pula Pak Einhard dan Sitha menangis karena melihat keadaanku.


“Maaf Andra, semua ini gara-garaku”


“Tidak pak, semua ini karena kurangnya tekad dan keyakinanku”


“Andai saja aku bisa menyelamatkan Alicia, mungkin aku tidak akan melibatkanmu”


“Hah?”


“Ya, yang Alicia maksud adalah aku”


Aku dan Sitha hanya diam terpaku mendengar perkataan dari Pak Einhard. Seorang kesatria yang bergelar pahlawan tidak bisa lagi mengangkat senjatanya, namun semuanya terasa masuk akal saat Pak Einhard memintaku untuk menyelamatkan Alicia.


“Bukankah kita pernah membunuh monster bersama-sama pak?”


“Membunuh monster tidak sama seperti membunuh manusia, Andra”


Ya, meskipun aku sudah tahu dengan jawabannya tetapi aku merasa tidak percaya bahwa orang sekuat Pak Einhard juga akan mengalaminya. Mengetahui titik terendah dari seseorang yang kita kagumi benar-benar menyakitkan, bahkan aku masih belum bisa menerimanya.


“Bukankah pakta perdamaian dari seluruh negara sudah ditanggatangani selama 100 tahun lamanya. Apakah yang sudah Pak Einhard lalui sebagai seorang kesatria?”


“Ceritanya sangatlah panjang, aku hanya ingin melupakannya. Hanya ada satu kata yang bisa aku sampaikan, semakin kau mencari tahu tentang kebenaran dunia. Semakin dalam kekecewaan yang akan kau terima”


“Mendengar cerita Pak Einhard, sepertinya benar kata Alicia. Lebih baik aku berhenti”


“Andaikan kau bukan keturunan mahesvara, aku pasti sudah sangat mendukungmu. Menjalani hidup dengan menenteng senjata bukanlah pekerjaan yang mudah, namun apakah kau lupa dengan janji kita? Ingat Andra, kau adalah orang yang paling dicari di dunia. Tidak ada jalan bagimu untuk kembali”

__ADS_1


“Aku tetap harus kembali ke desa pak”


“Jangan bertindak bodoh!”, Pak Einhard bangkit dari tempat duduknya.


“Aku hanya ingin menenangkan pikiran. Berada disini hanya akan membuat aku semakin tertekan”


“Baiklah jika begitu, tapi kau harus janji bahwa kau akan kembali”


“Aku akan pergi bersamamu, Andra”, Sitha berkata.


“Tidak, bukankah kau ingin mengejar cita-citamu Sitha?”


Aku menyadari bahwa Sitha adalah seorang yang sangat peduli kepadaku, namun perhatiannya saat ini membuat aku terluka. Seakan-akan aku merasa dikasihani olehnya. Sitha adalah seorang wanita yang bertalenta. Aku akan sangat merasa bersalah jika sampai menghambat cita-citanya.


“Hmmmh”, Sitha menggelengkan kepalanya, “Bukankah kau berjanji akan melindungiku selamanya?”


Aku hanya bisa tersenyum mendengarkan jawabannya. Lalu aku berkata, “Bagaimana jika aku tidak bisa kembali seperti semula?”


“Aku pikir tinggal didesa bukan hal buruk, meskipun aku yakin bahwa kau pasti akan kembali”


“Hahaha, aku berjanji bahwa aku akan kembali secepatnya”


Tiba-tiba Sitha cemberut dan berkata, “Apakah kau tahu? Aku membenci kebiasaan burukmu yang suka terburu-buru, bahkan sampai menekan fisik dan mentalmu hingga diluar batas kemampuanmu. Jangan khawatir aku akan tetap menunggumu tak peduli selama setahun, dua tahun atau 100 tahun lamanya”


“Kyuu… Kyuu… Kyuu… aku tidak menyangka Sitha bahwa kau telah tumbuh menjadi wanita yang pemberani, hahaha”, Pak Einhard tertawa terbahak-bahak.


“Pak Einhard, Andra, maaf Sitha pamit”


“Memang apa yang hendak kau lakukan, bukankah hari ini libur?”


“Anu… anu…”, Mendengar ucapan Pak Einhard Sitha nampak kebingungan. Mata Sitha melirik ke kiri dan ke kanan, sedangkan kedua telunjuknya saling mengetukkan satu-sama lain. Mau sampai kapan ia mempermainkan Sitha, dasar guru tak bermoral.


“Dia harus mengemasi barang kami”, Aku berkata.


“Betul pak, Sitha harus mengemasi barang kami”, lalu Sitha bergegas pergi meninggalkan kamarku.


Wajah Pak Einhard tampak lesu ketika melihat Sitha pergi lalu ia berkata, ”Andra, kenapa kau senang sekali mengganggu kesenangan orang?”


“Hah?”


“Apakah kau tidak tahu betapa menyenangkannya melihat Sitha yang sedang kesusahan”


WASEMMM...


Pak Einhard memperlakukan Sitha seperti sebuah mainan.


“Ngomong-ngomong, ini hari apa pak?”

__ADS_1


“Hari Minggu”


“Berarti aku sudah tertidur selama 5 hari”


“Bukan, 12 hari”


“Hah, serius?”


“Apakah kau tidak memperhatikan mengapa Sitha bisa sepanik itu?”


“Bagaimana mungkin aku bisa tertidur selama itu?”


“Aku sudah pernah berkata bahwa kemampuan sihirmu akan membebani tubuhmu. Apakah kau sudah bosan hidup, memaksa sihirmu diluar batas kemampuamu? Ditambah kau bertarung dengan 12 tulang rusuk patah dan bocor di paru-paru. Telat sedikit saja mungkin kau sudah mati”


“Aku tidak punya pilihan pak, Iblis tersebut mengetahui identitasku sebagai seorang Mahesvara. Aku takut ia akan mengincar ibu selanjutnya”


“APA?”, Pak Einhard terkejut mendengar jawabanku hingga ia bangkit dari tempat duduknya. “Kau tidak sedang bercanda?”


“Apakah aku pernah bercanda ketika membicarakan tentang keselamatan ibu”


Tiba-tiba wajah Pak Einhard berubah. Terlihat bahwa ia nampak ketakutan.


“Aku jamin bahwa ibumu akan aman, namun aku tidak tahu sampai kapan”


“Mengapa Pak Einhard bisa sangat yakin?”


“Raja Arthur berada di sisi kita”


“Berarti dia mengetahui semuanya”


“Ya, aku yang menceritakannya”


Sudah ku duga, semua cerita yang sampai kepada Raja Arthur pasti datang dari Pak Einhard. Pantas saja Alicia bisa sebenci itu kepadaku.


Duar…


Tiba-tiba sebuah ledakan berdemtum dari luar rumah sakit.


“Ahhh…”


Tak lama berselang terdengar suara teriakan dari seorang wanita yang datang dari luar rumah sakit. Lalu Aku bergegas bangkit dari tempat tidurku dan melihat ke arah jendela. Terlihat Sitha yang tak bersenjata sedang dikepung oleh beberapa monster.


“SITHAAA”


 


 

__ADS_1


__ADS_2