
Saat aku berkata bahwa ia cocok dengan keyakinan yang dimilikinya bukanlah sebuah kebohongan. Bagi seorang pemimpin Negara yang penuh kasih dan tanpa pandang bulu adalah sebuah keharusan. Bahkan yang lebih menyakitkan adalah ia harus tetap meyakinkan rakyatnya meskipun ia sendiri tidak yakin dengan ucapannya.
Secepat mungkin menyadari kenyataan dunia adalah hal terbaik bagi Alicia. Aku tidak mau ia terluka sebagaimana yang pernah aku alami sebelumnya. Menganggap peperangan sebagai sebuah tugas suci untuk menegakkan keadilan adalah suatu yang bersifat utopia.
Faktanya, yang terjadi adalah kau hanya bisa melihat betapa kejam dan kejinya sifat dasar manusia. Oleh sebab itu, jangan harap kau akan menemukan keadilan ataupun semangat patriotisme dalam sebuah medan perang.
Peperangan adalah seni tipu daya. Bahkan seorang jenderal perang tak segan untuk menumbalkan prajuritnya untuk meraih kemenangan. Di sisi lain, peperangan hanya akan melahirkan lingkaran kebencian terutama bagi mereka yang ditinggalkan. Tak jarang kau akan melihat anak kecil menenteng senjata. Begitulah kenyataannya. Bagiku peperangan tak lebih sebagai hal paling menjijikan yang terjadi di dunia.
Meskipun terkesan kejam, namun aku ingin menujukkan kepada Alicia bahwa akan ada orang-orang sepertiku yang bersedia mengotori tangannya demi dia. Aku yakin bahwa Alicia akan terluka, namun semakin dalam ia meyakini keyakinannya maka semakin dalam pula rasa sakit yang ia terima. Satu-satunya cara adalah menyadarkan ia secepat mungkin akan kejamnya dunia.
Bagi wanita seperti Alicia, cantik adalah sebuah kutukan. Dengan pesonanya, ia bisa bisa menularkan kebahagiaan dengan menebarkan kesenyuman dan keceriaan. Namun disisi lain, ia bisa menebarkan rasa kebencian dan permusuhan dengan sangat kuat seperti yang aku rasakan. Seolah-olah ada jarak yang memisahkan antara aku dan Alicia.
Tiba-tiba aku merasa bahwa ada benda tumpul yang menghantam pundakku. Pandangannku mulai kabur dan terdengar suara Alicia berbisik di telingaku.
“Maaf Andra, sepertinya aku tidak bisa menerima pandanganmu. Aku berjanji bahwa semuanya akan berakhir saat kau sudah siuman”
Dan akhirnya kesadaranku pun hilang.
*****
“Mmhh… mmhh… mmhh…”
Saat aku tersadar, aku menyadari bahwa tangan dan kakiku sedang terikat. Bodoh, apa yang kau pikirkan Alicia?! Inilah alasan mengapa aku sangat malas ketika harus berurusan dengan anak manja yang tidak menyadari posisinya seperti Alicia. Apa yang harus aku katakan kepada Pak Einhard jika ia mengetahui keadaan ini.
Aku mencoba mengeluarkan pisau dari sepatuku. Sial, ternyata tidak ada. Alicia pasti mengeluarkannya. Lalu aku mencari kantong sihirku dan ternyata tidak ada. Gawat, situasi saat ini benar-benar gawat. Rasanya aku ingin mati saja.
Aku perhatikan sekitar, ternyata Alicia menyembunyikanku di dalam ruangan kesehatan. Di dalamnya terdapat empat buah ranjang. Di masing-masing ranjangnya terdapat sebuah meja dengan sebuah kanvas bunga diatasnya.
Ruangan disini terlalu banyak benda berbahaya, salah-salah aku membentur lemari hingga mengeluarkan seluruh isinya. Maka aku putuskan untuk menendang salah satu mejanya hingga kanvas bunganya terjatuh.
Prang…
“Ugh…”
Salah satu pecahan kacanya menusuk lenganku. Aku mencoba membetulkan posisiku, sehingga aku bisa melihat dengan jelas manakah pecahan kaca yang bisa aku pakai untuk melepaskan tali yang membelengguku.
Aku mencoba menggesekkan salah satu pecahan kaca diantara tali yang membelenggu lenganku. Rasanya benar-benar sulit, apalagi aku harus menahan sakit dan juga licin akibat darah yang mengalir melewati tanganku. Awas saja Alicia, jika kita berhasil keluar dari sini aku akan membuat perhitungan denganmu.
Akhirnya aku bisa terbebas. Lalu, aku mengambil beberapa obat untuk mengobati luka-lukaku. Sebelum aku pergi, ku putuskan untuk menggeledah seluruh isi dari ruangan kesehatan. Aku yakin ruangan ini memiliki beberapa benda yang bisa aku manfaatkan sebagai senjata.
Aku merasa kaget ketika menemukan terdapat banyak pisau bedah dan beberapa jarum yang dipergunakan untuk operasi didalam sebuah lemari. Disana juga terdapat obat bius yang memiliki tingkat konsentrasi yang tinggi sehingga bisa membius seseorang dengan beberapa tetes saja. Apakah mereka sudah gila memiliki benda-benda seperti ini disebuah akademi?
Namun aku tersadar ketika mengetahui bahwa di sekolah ini terdapat beberapa orang guru yang memiliki kemampuan medis yang tinggi. Wajar saja, ini seperti tindakan antisipasi jika sewaktu-waktu terjadi hal-hal yang tidak diinginkan terjadi.
Lalu aku memutuskan untuk membawa pisau dan jarum yang bisa aku manfaatkan sebagai senjata. Tidak lupa aku melumuri semuanya dengan obat bius untuk melumpuhkan musuh seketika.
__ADS_1
Di ruangan lain aku menemuan sebuah pipa kapiler yang berukuran sekitar 0.26 inchi. Disana juga terdapat sebuah lampu pembakaran yang sudah dilengapi dengan minyak. Lalu, aku membawa sebuah pipa dan lampu pembakaran ke dekat tempat penampungan air yang terdapat disana.
Setelah itu aku mengikat ujung pipa kapiler yang tertutup dengan sebuah kawat. Lalu, aku membakarnya di atas api lampu pembakaran dan mendinginkanya di tempat penampungan air. Ku patahkan ujungnya dan jadilah sebuah pipa selongsong sebagai alat pelontar jarum.
Seluruh persiapan telah selesai, sekarang adalah saatnya aku untuk pergi menuju atap gedung untuk menenyusul Alicia.
*****
Saat ini aku berada di atas atap sekolah, lebih tepatnya berada dibalik pintu keluar menuju sana. Dari balik pintu aku mengintip keluar sana, ternyata aku menemukan banyak sekali prajurit yang sedang berjaga. Ku perkirakan jumlahnya sekitar 30 orang.
Teleportacion…
“Hah”, terdengar suara laki-laki yang merasa kaget.
Abrandar…
Lalu aku mengambil empat buah pisau dan aku lemparkan ke mereka semua.
Swing… Swing… Swing…
Dan akhirnya mereka pingsan seketika.
Dari atap pintu ruangan keluar, aku bertiarap mengamati keadaan sekitar. Aku mencari dimanakah Alicia berada. Ternyata ia berada di ujung paling timur di atap gedung.
Sial, penjagaanya benar-benar ketat. Ternyata mereka tidak hanya menggunakan pedang atau tombak tetapi diantara mereka juga menggunakan panah. Dan pengguna panah adalah yang paling merepotkan dalam keadaan seperti ini.
Lalu, aku mengambil pipa selongsong dan jarum.
Acceleracion…
Wosh…
Acceleracion…
Wosh…
Aceleracion…
Wosh, beberapa pemanah berhasil aku jatuhkan.
Para penjaga merasa kaget dengan serangan mendadak. Dengan sigap mereka berada dalam posisi waspada. Menengok ke arah kanan dan kiri mencari sumber serangan tersebut.
“Disana”, salah seorang penjaga berteriak sambil menunjuk ke arahku.
Sial aku ketahuan.
__ADS_1
Mereka berlari ke arahku.
Wosh…
Wosh…
Wosh…
Aku menembaki mereka dengan jarum.
Beberapa diantara mereka berhasil naik ke atas dan mengayunkan pedangnya ke arahku.
Abrandar…
Lalu aku hentakkan badanku.
Sreng…
Aku menghindar tepat diantara dua buah pedang yang berada di atas dan bawahku.
Lalu aku melemparkan beberapa pisau ke arah mereka.
Teleportacion…
Aku berpindah ke tengah kerumunan tersebut.
Abrandar…
Lalu aku melemparkan beberapa pisau.
Acceleracion.
Dan akhirnya aku berhasil berlari menerjang melewati mereka sambil melemparkan pisau ke arah orang yang membacakan mantra.
Tiba-tiba tubuh Alicia melayang di udara. Terlihat sebuah aura hitam keluar dari tubuhnya.
“Aaahhh”, Alicia berteriak seperti orang kesakitan sambil mengeluarkan aura hitam dari dalam mulutnya.
“ALICIA!”
Ia melihat ke arahku sambil menangis dan berkata, “Tolong aku”
__ADS_1