Menantu BarBar Vs Mertua Bawel

Menantu BarBar Vs Mertua Bawel
Part 30 - Kata-Kata Yang Simple


__ADS_3

Tak berapa lama Yudha pun pulang.Siska dengan cepat menyambut langsung saat Yudha baru saja masuk kedalam rumah.


"Kau sudah pulang." sahut Siska pada anaknya.


Yudha yang tidak mengetahui kedatangan sang ibu,langsing menoleh terkejut.


"Mama..Kenapa kau bisa disini??Apa kau datang berkunjung lagi?" tanya Yudha yang terkejut dengan kehadiran Siska.


Siska langsung memasang wajah cemberut dan datar.


"Kenapa pertanyaanmu sama saja dengan istrimu..Memangnya aku harus melapor dulu untuk datang kesini?" jawab Siska dengan nada ketus.


Yudha pun hanya tersenyum dan merangkul bahu Siska sang ibu.


"Apa mama sudah makan?" tanya Yudha langsung mengalihkan obrolan.


"Belum,Istrimu tidak menawarkan mama untuk makan malam." jawab Siska


Yang tiba-tiba saja Meena pun muncul dengan tatapan dingin.


"Maaf bu,apakah aku melarangmu untuk makan malam duluan??Bukankah tadi aku sudah tanya,apakah ibu ingin makan lebih dulu apa tidak?Tapi apa jawabanmu?ibu justru jawab tidak mau makan denganku?." tanya Meena yang langsung


Flashback..


"Bu.. apakah ibu mau makan dulu??Jika kau ingin makan dulu,aku akan siapkan." tanya Meena sebelum ia akan bersiap siap akan mandi.


"Tidak..Aku akan menunggu sampai Yudha pulang..Aku tidak mau makan bersamamu.." jawab Siska tanpa menoleh kearah Meena dengan nada sinisnya.


"Oke." jawab Meena langsung datar dan meninggalkan Siska diruang tv.


Siska hanya melirik sinis.


...****************...


"Jangan mengatakan hal yang tidak sesuai dengan ucapanmu sebelumnya bu..Itu sama saja ibu memfitnahku.." ucap Meena dengan nada datar dan langsung menuju dapur.


Siska pun langsung terdiam tak dapat berkutik.Saat Meena langsung menjelaskan dan membela dirinya.


Yudha pun langsung menghela nafasnya.


"Jangan begitu ma.. Meena saat ini sedang berusaha menunjukkan sikapnya sebagai menantu yang baik untukmu..Kenapa mama tidak bisa memberinya kesempatan daripada terus mengintimidasinya.. ck." ujar Yudha menasehati ibunya sambil menggelengkan kepala meninggalkan ibunya.

__ADS_1


...****************...


Beberapa hari kemudian..


Saat Yudha dan ibunya sudah duduk dimeja makan untuk makan siang bersama,Meena pun datang dan menarik kursi untuk duduk.


Namun,sesaat Meena memperhatikan beberapa peralatan makan yang terlihat berbeda dan tidak seperti biasanya. Yang diganti dengan bahan keramik.


"Eh.. Kenapa peralatan makannya semua berubah jadi keramik??Dimana peralatan makan kita yang biasanya bu??" tanya Meena penasaran.


"Aku sudah memberikannya pada tetangga kalian sebelah.. mana ada pakai peralatan makan dari bahan kaca.. itu akan gampang retak dan pecah." jawab Siska dengan santainya.


"Ibu,itu bukan bahan kaca biasa.. itu harganya cukup mahal.." jawab Meena yang protes.


"Aku tidak peduli itu mahal atau tidak.. bahan keramik seperti ini lebih praktis dan lebih awet.." jawab Siska tidak peduli.


Meena hanya menatap tak percaya dan ia pun langsung mendengus dengan kesal.


"Aku tidak mau makan." ujar Meena langsung bangkit dan langsung kekamarnya.


Yudha yang melihat pun sesaat menarik nafas panjangnya.


Karna menyadari sikap ibunya selama tinggal dirumah mereka,mulai banyak mengatur sana sini.


Flashback..


"Sofa ini juga terlalu keras,tidak enak untuk duduk.." ujar Siska saat menduduki sofa milik mereka.


"Dan siapa yang mengecat warna dinding ini??kenapa warna dinding sangat jelek??Membuat suasana ruangan ini jadi gelap..Seharusnya kalian menggantinya dengan warna yang cerah." ujar Siska saat memperhatikan warna dindingnya.


"Kenapa jemuran ini begitu tinggi??Bagaimana kau akan menjemur pakaian ini,jika setinggi ini??" kata Siska lagi mengomentari jemuran yang letaknya berada diatas kepalanya


Meena langsung mengambil sebuah remote dan langsung mengarahkan remote tersebut kearah jemuran tersebut.Yang ternyata ia memakai jemuran digital yang cukup canggih.


Siska pun langsung melirik datar.


"Ini sangat tidak praktis.. Kau terlalu manja memakai jemuran seperti ini." protes Siska menyindir Meena.


Meena hanya diam dan menatap datar pada Siska sang ibu mertua.


Sepertinya dia sedang menggunakan caranya sendiri untuk menunjukkan siapa peran utamanya dirumah ini.. batin Meena dalam hati.

__ADS_1


Dan disaat Meena sedang mencuci pakaian pun,ibu mertuanya datang menghampirinya.


"Kenapa kau mencuci pakaian dengan detergen cair??Itu kan sangat mahal?Kenapa tidak pakai detergen bubuk,akan lebih hemat kau memakainya..Karna kau tidak membantu keuangan Yudha,seharusnya kau tahu berhemat..." tegur Siska yang kembali protes.


Meena kembali menatap heran dengan sikap ibunya.


"Bu.. detergen ini tidak begitu mahal,dan aku membelinya juga saat sedang promo..Bukankah aku sudah pernah bilang,kalau aku juga tidak akan menggunakan keuangan dirumah ini sembarangan." jawab Meena dengan tegas.


"Anak jaman sekarang memang susah dibilangin.. aku bicara 1 kalimat,kau berani menjawab 10 kalimat.. kau memang tidak pernah bersikap sopan santun pada ibu mertuamu." sindir Siska sang ibu mertua yang langsung pergi.


"Ka..-" Meena pun tak sempat berkata apa-


apa lagi melihat sang ibu mertuanya langsung pergi.


...****************...


Sampai keesokan harinya..


Meena kembali keluar kamar dengan wajah tidak bersemangat untuk makan bersama Yudah dan ibu mertuanya.


Dan melihat Yudha tengah menghidangkan makanan diatas meja sambil tersenyum kearah Meena.


"Ayo kita makan." ajak Yudha pada Meena.


Sang ibu mertua pun juga menyusul kemeja makan.


"Eh..Kenapa peralatan makan ini diganti lagi?" hanya Siska yang bingung sembari memperhatikan peralatan makan yang ada dimeja makan.


"Ada satu hal yang ingin kusampaikan sama mama." ujar Yudha sembari duduk dihadapan Siska sang ibu.


"Semua yang ada dirumah ini,termasuk interior dan funiture adalah aku dan Meena yang tentukan.. Dari hal kecil seperti sendok sampai furniture besar seperti barang elektronik,setiap barang itu kami berdua yang memilihnya.. dan menurutku itu bagus.. kedepannya soal semua yang ada dirumah ini,mama tidak perlu khawatir.. biar ini menjadi pilihan kami.." ucap Yudha memberi penjelasan pada sang ibu.


Dan tiba-tiba Yudha menggenggam tangan Meena sambil menatapnya.


"Lagipula Meena memang tuan rumah,dirumah ini.." jawab Yudha yang terus memandangi Meena sambil tersenyum.


Meena pun langsung membalasnya juga dengan senyuman.Ia begitu tersentuh dengan ucapan Yudha yang begitu sangat bijak dan dewasa.


Kata-katanya memangnya simple,tapi kata-katanya lah yang kubutuhkan saat ini.. batin Meena


Meena seakan merasa sangat beruntung telah bertemu dan menikah dengan sosok lelaki seperti Yudha.Yang ternyata ia sosok lelaki yang begitu dewasa dan bijaksana.Bisa menempatkan dirinya dimana ia harus berpihak.Dan tidak secara langsung menyalahkan sepenuhnya pada sang ibu.Yang masih saja berusaha mencari celah kesalahan pada Meena.

__ADS_1


Dan Meena pun kini merasa kembali bersemangat,setelah melihat sikap Yudha yang masih berpihak padanya dan membela dirinya.


__ADS_2