Menantu BarBar Vs Mertua Bawel

Menantu BarBar Vs Mertua Bawel
Part 51 - Seperti Alat


__ADS_3

Meena pun langsung mendengus kesal. Sambil menatap ibu mertuanya.


"Aku yang seharian bergulat didapur,demi menyiapkan makanan untuk kalian dan bisa makan bersama kalian.. Tapi kalian justru menghabiskan seluruh makanan ini tanpa ingat siapa yang sudah menyiapkan ini semua.'' ujar Meena langsung buka suara dengan protes.


"Dan tersisa hanya sayur tumis buncis ini.. Sementara kalian sudah selesai makan,tanpa menungguku untuk makan bersama.'' timpal Meena lagi masih protes pada mereka.


"Bukankah masih ada sayur ini yang bisa kau makan.. Menjamu tamu datang,sudah seharusnya menghabiskan semua makanan ini.. Dan seharusnya kau bersyukur,karna masakanmu diterima oleh keluargaku..'' sahut Siska yang menyodorkan masakan tersebut pada Meena.


Meena kembali mendengus sambil memalingkan wajahnya dari ibu mertuanya.


"Dan jangan membuat keributan karna protesmu.. Kau seperti orang yang tidak punya etika dan tidak berpendidikan.'' sahut ibu mertuanya lagi memperingatkan Meena.


Sontak membuat Meena memandang ibu mertuanya dengan kesal.


''Etika dan pendidikan ya?" tanya Meena membalikan perkataan Siska ibu mertuanya.


Siska hanya melihat Meena dengan serius.

__ADS_1


''Membuat orang lain nyaman adalah pendidikan,Menunjukan empati juga pendidikan,tunggu orang selesai masak baru makan..Apa menurutmu itu bukan pendidikan?" tanya Meena.


"Mau tunggu kau harus berapa lama?? Kau tidak lihat,menjamu keluarga begitu banyak orang.. Tidak mungkin kami hanya menunggumu sampai selesai masak.. Mau sampai jam berapa kamin harus menunggu kau selesai masak??" tanya Siska berusaha membela diri.


"Oke.. Anggap aku tidak minta kalian untuk menungguku..Tapi apa tidak kalian berpikir untuk menyisihkannya untukku??Bukan menyisakan,tapi menyisihkan..Ambilkan dan sisikan dipiring lain makanan itu.'' ujar Meena yang berusaha menahan emosinya dengan protesnya.


"Hayuuh.. Kenapa kamu harus protes seperti itu.. Ini hanya makanan saja .'' sahut dari salah satu saudara ibu mertuanya.


Meena pun langsung melirik tajam.


"Apa menurut ibu ini cuma masalah makanan saja??" tanya Meena dengan menatap tajam kearah ibu mertuanya.


"Tapi itu hanya satu diantara diantara massalah lain..''


"Sejak aku menikah,aku berusaha menjadi istri yang baik dan menantu yang baik untuk anakmu dan dirimu.. Setiap hari bangun pagi mengerjakan semua pekerjaan rumah sendirian seharian,tanpa dibantu olehmu yang justru seperti tuan rumah yang selalu mengaturku.. Dan aku selalu bersabar untuk menghadapi ibu mertua sepertimu.''


''Dan terkadang terpikir olehku,kenapa aku harus merasakan rassa lelah ini sendirian??Aku bukan pembantu dirumah ini,aku juga tidak digaji,berapa waktu yang kumiliki??"

__ADS_1


"Meena.. Jangan bicara seperti itu,. Menjadi seorang istri bukankah memang harus seperti itu??Menantu keluarga mana yang tidak melakukan hal yang sama??Seharusnya kau terima saja.'' sahut bibi Yudha yang menyela.


Meena pun langsung menoleh kearah bibi Yudha.


"Maaf bi,apa aku bicara padamu??Apa perkataanmu menunjukkan respect padaku??" tanya Meena menyindir sang bibi.


Membuat sang bibi pun terdiam.


"Bu.. Berapa kali sudah kubilang,dirumah ini aku adalah tuan rumahnya..bukan sebagai alat yang bisa kau gunakan disaat kau butuhkan saja.. Aku juga bukan pembantu dirumah ini..''ucap Meena dengan tegas.


Siska sang ibu mertua memilih diam dan memalingkan wajahnya dari pandangan Meena.


"Baik..Cukup sudah.'' ujar Meena sembari melepaskan celemek yang masih ia pakai dan membuangnya kelantai.


"Siapa juga yang mau mengerjakan ini semua.. Silakan kalian nikmati saja sendiri acara kalian..!!!" ucap Meena langsung pergi meninggalkan ibu mertuanya dan keluarganya begitu saja.


Siska pun tak dapat berbuat apa pun,saat Meena sudah pergi meninggalkan rumah.

__ADS_1


__ADS_2