Mencari Pecahan Pohon Suci

Mencari Pecahan Pohon Suci
Mati dan Hidup


__ADS_3

Lalu tak lama setelah itu datanglah para warga yang baru pulang dari tempat ibadah mereka. Mereka terlihat sudah membawa peralatan menyiksa mereka masing-masing. Disitu terlihat kalau banyak orang membawa pedang, cambuk, panah. Padahal seharusnya para warga biasa tidak boleh memakai itu semua. Mereka seharusnya memiliki ijin dulu sebelum memakai benda berbahaya itu.


Sepertinya mereka Membawa itu semua untuk menyiksaku lagi, tapi ketika sampai di alun-alun. Mereka malah disambut oleh mayat yang mati secara mengenaskan. Mereka semua terkejut, tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ada dari mereka yang muntah, bahkan pergi dari tempat itu.


"Tidak mungkin. Tuan John yang paling kuat di kerajaan ini malah mati oleh seorang bocah yang kami siksa kemarin."


Semua terlihat tidak bisa bergerak sama sekali, mereka terdiam melihati mayat John dan Geri yang mati secara mengenaskan. Lalu tak lama setelah itu, ada salah satu orang yang berteriak cukup keras dan maju ke arahku sambil memapangkan pedangnya yang tajam.


Dia berlari dengan ketakutan dan marah. Dia berencana membunuhku walaupun dia akan mati nantinya.


"Tidak bisa dimaafkan! Tidak bisa dimaafkan! Dulu Tuan Tapoc sekarang tuan John. Kau ini memang seharusnya mati, Monster..!." Orang itu pun menancapkan pedangnya tepat di perutku. Aku yang tersadar ada yang aneh di perutku pun, segera melihat kebawah untuk memeriksa ada apa, dan ternyata ada mata pisau yang menembus perutku. Rasanya sakit sekali, tapi aku tidak berteriak sama sekali. Mungkin aku sudah terbiasa di tusuk sampai membuat diriku tidak mau berteriak sama sekali.


Melihat orang itu menerjang dan menusuk aku dengan gampangnya. semua orang pun termotivasi untuk membunuhku. Mereka pun memapangkan senjata mereka masing-masing dan kemudian maju kearahku.


Semua orang memukuli ku, menusukku, menebasku berkali-kali sampai pada akhirnya salah satu orang menebas kepalaku sampai kepalaku menggelinding cukup jauh dari badanku. Ketika tertebas aku masih bisa melihat dan berpikir selama 1 detik. Bahkan aku masih bisa melihat tubuhku ketika aku menggelinding tadi.


Aku tentu saja tidak melawan ketika diperlakukan begitu, lagipula memang inilah keinginan ku, yaitu aku ingin mati. Setelah para warga menyerangku membabi buta, mereka pun berhenti dan mencoba mengatur nafas mereka kembali. Mereka terlihat sangat puas bisa membunuhku, tapi ada juga yang merasa bersalah dan mungkin orang itu adalah orang yang pertama kali membunuh seseorang.


Setelah aku mati pun mereka masih menginjak-injak badanku dan menendang nya.


"Hah...kita apakan mayat anak ini?"


"Buang saja kesungai, aku tidak sudi membuat kuburan anak itu."

__ADS_1


"Kau benar, aku juga tidak mau membuat kuburan nya. Kalau begitu siapa yang membuangnya?"


Semua orang menunjuk orang bertanya tadi. Orang yang bertanya hanya bisa diam sambil berkata.


"Tentu saja...okelah akan kubuang mayat anak ini ke sungai dan kalian tolong urus mayatnya tuan John dan Geri ya."


"Oke tentu saja. Kami akan mengubur mereka dengan layak."


Semua orang mulai mengerjakan pekerjaan mereka masing-masing. Orang yang membawa mayatku, membawaku dengan sangat kasar. Aku sudah tidak diperlakukan lagi sebagai manusia, tapi sudah seperti kantong berisi sampah. Dia membawa kepalaku dengan menjambak rambutku dan membawa badanku seperti membawa karung.


Dia menyeret badanku dan itu membuat jejak darah sepanjang jalan. Setelah sampai sungai dia membuang kepalaku dulu dan kemudian badanku dengan cara melemparkan nya seperti sampah.


Ketika mayatku dilempar kesuangai. Badanku dan kepalaku mengambang dan itu membuat sungai yang awalnya jernih berubah menjadi merah, tapi tak lama setelah itu warna nya kembali jernih karena mayatku sudah terbawa arus sungai.


Arus sungai itu mengalir sampai ke pemukiman kumuh dan ketika berada disana airnya pun juga berubah warna karena banyak sekali orang-orang di pemukiman biasa dan pemukiman elit membuang sampah mereka ke sungai dan biasanya sampah itu akan mengalir terus ke pemukiman kumuh. Ketika sampah itu berada disana, biasanya sampah itu akan menyangkut dan membuat sampah lainnya ikut menyangkut yang membuat sungai disana menjadi keruh karena sampah yang tidak pernah diambil dari sungai.


Lalu setelah beberapa jam mayatku mengambang terbawa arus. Tiba-tiba ada cahaya yang menyinari tubuhku, dia bersinar sangat terang, bahkan kalau ini malam hari mungkin bisa terlihat seperti matahari di malam hari. Disitu juga tidak ada orang. jadi tidak ada yang tahu kalau ada cahaya yang bersinar terang di sungai.


Lalu tak lama setelah cahaya itu menerangi tubuhku, tiba-tiba ada semacam benda aneh bercahaya yang keluar dari leherku yang terpotong. Benda aneh itu menyentuh kepalaku yang terpenggal dan kemudian menarik nya kembali ke tubuhku. Benda aneh itu seperti ingin menyatukan kembali tubuhku.


lalu tak lama setelah kepalaku berada di tempatnya, tiba-tiba celah antara kepalaku dan badanku kembali menyatu. Tak hanya itu, Semua lukaku yang ada ditubuh ku juga sembuh semuanya dalam sekejap. Semua luka dan lebam di tubuhku menghilang, bahkan kepalaku juga kembali menyatu. Setelah tubuh ku kembali pulih sepenuhnya, Cahaya yang menyinari tubuhku menghilang dan Tidak ada yang tahu fenomena aneh itu, bahkan aku sendiri juga tidak tahu karena aku sepertinya belum sepenuhnya hidup. Jiwaku masih berada di tempat lain dan badanku masih menunggu nya kembali.


*******

__ADS_1


Aku berada di tempat yang aneh. Tempat ini gelap dan tidak ada apa-apa disini. Aku berdiri disitu dan tidak melakukan apa-apa. Lalu tiba-tiba ada setitik cahaya di depanku. Aku tidak tahu apa itu, tapi cahaya itu seperti menarik ku agar mendekati nya. Aku pun berjalan perlahan ke cahaya itu. Semakin dekat, cahaya itu juga semakin terang. Aku terus berjalan dan pada akhirnya aku sampai depan cahaya itu.


Ketika aku berada di depan cahaya itu, aku terkagum-kagum karena didepanku ada tempat yang sangat cantik dan bagus. Di situ ada padang rumput yang luas dengan sungai yang sangat jernih, dan juga sebuah pohon apel yang berbuah sangat lebat. Selain hal itu ada juga pohon besar yang sangat jauh sekali dari sini. Walaupun sangat jauh, tapi pohon itu masih kelihatan sangat besar dari sini.


Kalau dilihat-lihat ternyata di bawah pohon besar itu ada sekumpulan orang yang sedang berjalan ke batang pohon itu. Aku penasaran, siapa mereka dan untuk apa mereka kesana.


Lalu disaat aku ingin melangkah masuk ketempat itu, tiba-tiba ada yang menarik bajuku dari belakang. Aku pun berbalik badan untuk melihat siapa itu. Dibelakang ku ternyata ada anak kecil berambut hitam dan panjang. Aku tidak tahu siapa itu, tapi aku jongkok untuk menyamai ukuran tubuh kita. Aku ingin menanyakan sesuatu pada anak itu, tapi dia malah sudah bicara duluan.


"Disini bukan tempatmu."


"Hmm?" Aku memiringkan kepalaku sedikit dengan wajah sedikit bingung.


Kemudian anak itu mengangkat tanganku dan memberikan secarik kertas. Kertas itu berisi gambar biji kecil. Aku tidak tahu biji apa itu. Tapi biji itu mirip biji semangka, tapi juga mirip biji brokoli. Biji itu aneh, karena baru pertama kali ini aku ketemu biji seperti ini. Karena aku tidak tahu biji apa itu. Aku pun bertanya pada anak kecil itu.


"Biji apa ini?"


Anak itu tidak menjawab pertanyaan ku dan malah berkata yang lain.


"Selamat tinggal." Anak itu berbalik badan dan mulai berjalan menjauhi ku. Aku ingin menghentikan anak itu, tapi tiba-tiba ada lubang di bawahku yang membuat ku terjatuh ke dalamnya.


Sebelum aku jatuh terlalu dalam, anak itu berkata lagi.


"Pahlawan ku."

__ADS_1


Aku pun berteriak dan jatuh ke lubang itu. Tak lama setelah itu...


"Aaaa...!" .....Aku terbangun.


__ADS_2