
Ketika mereka baru sampai disana, mekanisme itu bergerak dan matanya memancarkan cahaya warna merah. Mekanisme itu ternyata sangat kuat. Tubuhnya sangat keras. Jadi sangat susah untuk dipotong, dan dia memiliki kekuatan yang luar biasa. Sekali pukul bisa membuat seluruh ruangan itu bergetar cukup keras.
Walaupun mereka sangat kewalahan melawan mekanisme bergerak itu, tapi pada akhirnya mereka berhasil mengalahkan nya dengan menusuk inti di matanya.
Setelah mengalahkan nya mekanisme itu, mereka mencabut pedang adamas. Pedang itu awalnya susah di cabut, tapi akhirnya mereka berhasil mencabutnya bersama-sama. Setelah pedang itu dicabut. Ruangan itu bergetar cukup kuat bahkan langit-langit reruntuhan itu mulai runtuh.
Melihat tempat itu akan runtuh. Mereka pun segera berlari dan keluar dari tempat itu. Mereka sebenarnya hampir saja terjebak di tempat itu karena kaki ibuku tiba-tiba keseleo, tapi kemudian ayahku membuang tasnya yang berisi persediaan makanan mereka dan juga barang berharga mereka yang ada di tas itu. Setelah membuangnya, dia pun menggendongku ibuku sambil membawa pedang adamas yang tentu saja dia tidak buang. Gara gara membuang tasnya dia jadi bisa bergerak lebih cepat sambil membawa ibuku dan itu membuat mereka berhasil keluar.
Setelah berhasil mendapatkan pedang adamas. Mereka jadi terkenal dimana-mana karena berhasil mendapatkan pedang legendaris. Mereka pun juga diberi gelar oleh serikat petualang sebagai petualang paling tangguh dan kuat. Tak hanya itu, mereka juga di beri uang karena menjual tulisan berisi pengetahuan tentang reruntuhan itu, seperti apa saja yang ada didalam dan juga tentang mekanisme bergerak sebelumnya.
Sungguh cerita yang sangat seru dan menegangkan. Itu membuatku jadi tambah semangat menjadi seorang petualang.
Sarapan kami sudah habis, piring-piring kotor juga sudah di bersihkan ibuku. Matahari juga sudah meninggi yang menandakan sudah waktunya mereka berangkat.
Mereka mengangkat tas mereka yang berat dan kemudian keluar rumah. Tentu saja aku menemani mereka, tapi hanya sampai gerbang saja. Di luar rumah ternyata sudah ada para tetangga yang menanti kami keluar dari rumah. Kebanyakan dari mereka adalah wanita muda yang sedang membawa seikat bunga.
Setiap wanita membawa bunga yang berbeda-beda, ada yang mawar, tulip dan bunga bunga yang lain. Aku sudah tahu mereka sedang menanti siapa. Tentu saja ayahku. Semua wanita muda disana menyukai ayahku. Yah..itu wajar sih, dia sangat tampan sih.
Tapi sebenarnya aku sangat heran kepada semua wanita itu. Apakah mereka ini tidak takut dihajar ibuku lagi. Padahal dulu mereka pernah di hajar habis-habisan oleh ibuku sampai babak belur dan itu membuat mereka harus dilarikan kerumah sakit.
Setelah kejadian itu sebenarnya mereka juga tidak kapok sih, mereka masih menggoda ayahku, tapi secara diam-diam. Tapi kali ini sepertinya mereka siap untuk babak belur lagi.
"Umm...tuan kris."
"Oh.... tetangga kita...uh..." Ayah melihat ibuku dan dia terlihat agak kesal.
Para wanita muda tadi langsung ketakutan ketika melihat ibuku, tapi sepertinya mereka masih memiliki keberanian untuk melanjutkan bicaranya.
"Ku-kudengar kalian berangkat sekarang ya. Ja-jadi kami berniat ingin memberikan kalian bunga ini untuk kenang-kenangan." Para wanita itu memberikan bunganya masing-masing ke Kris.
"Oh gitu ya..terima kasih ya." Ayahku ingin menerimanya, tapi bajunya di tarik oleh ibuku yang membuat gerakannya terhenti.
Setelah menarik baju ayahku, ibuku maju ke depan menghadap para wanita itu. Para wanita sempat ingin mundur, tapi tidak bisa karena saking takutnya, mereka jadi tidak bergerak.
"Wah..kalian baik sekali ya. Terima kasih lho."
Ibuku memasang wajah tersenyum, tapi aku tahu dia sedang marah besar. Ibuku mengambil semua bunga wanita muda itu dengan kasar.
"Wah..bunganya cantik sekali ya."
Ibuku menghirup bau bunga itu.
"Hmm..ternyata baunya juga sangat harum. Sekali lagi terima kasih ya."
Para wanita itu hanya diam saja sambil menangguk tanpa tahu yang sedang di kodekan ibuku. Sebenarnya ibuku mengkodekan agar para wanita itu segera pergi dari hadapan nya.
"Aku ulangi! sekali lagi terima kasih ya!" Ibuku menggegam bunga-bunga itu sampai membuat tangkainya patah.
__ADS_1
Para wanita itu akhirnya tanggap dan kemudian mereka berkata.
"I-iya sama sama, ka-kalau Begitu kami permisi dulu..."
Para wanita itu pun segera pergi dengan terburu-buru.
"Hadeh....dasar wanita centil." Ibuku membuang bunga-bunga itu ke tempat sampah.
"Sudahlah sayang jangan marah-marah terus, nanti cepet tua lho."
Ibuku melihat tajam ke arah ayahku, dan aku bisa tahu kalau dia akan berangkat berpetualang dengan 1 mata saja kali ini.
Setelah beberapa menit kemudian, akhirnya kami sampai di gerbang utama kerajaan. Disana ternyata sudah ada seseorang yang sudah menunggu kedatangan kami. Itu adalah paman Tapoc, teman ayahku. Yang juga akan menjadi ayah angkat ku selanjutnya.
Paman tapoc itu kalau dilihat dari penampilannya sudah seperti 60 tahunan, tapi sesungguhnya umurnya itu seperti ayahku yaitu 30 tahunan atau sekitar 32 tahun, lebih tua 2 tahun dari ayahku.
Tidak seperti ayahku yang kekar, paman tapoc itu gemuk, tapi tidak gemuk banget, sampai perutnya besar seperti orang hamil 9 bulan. Dia hanya gemuk sedikit saja.
Walaupun dia masih berumur 30 tahunan, dia malah sudah mengalami kebotakan. Dan sejujurnnya, dari kejauhan tadi aku sudah menyadari ada orang menunggu kita, karena aku melihat ada kilauan cahaya yang menyilaukan mataku.
Aku pikir itu awalnya adalah sebuah lonceng dari sebuah toko, tapi setelah kulihat baik baik ternyata itu adalah kepala seseorang.
Paman tapoc juga memiliki kumis dan jenggot yang sangat panjang, sampai membuat mulutnya tidak terlihat.
Di depan sebuah pertokoan, paman tapoc mengelus kepalanya yang botak sambil menengok keatas sedang menunggu kita. Menyadari ada seseorang yang datang, dia berhenti mengelus kepala dan menghadap ke orang itu dan ternyata itu adalah orang yang sedang dia tunggu.
"Oh..temanku, akhirnya...." Paman tapoc berhenti bicara karena dia melihat sesuatu yang menakjubkan.
Dia tertawa karena melihat wajah ayahku yang babak belur, matanya lebam satu dan ada bekas tamparan di bagian pipi kanannya.
"Diamlah! Kau ini ingin berpamitan denganku atau mau menertawakan ku hah...!"
Paman tapoc menghapus air matanya.
"Maaf maaf, aku sudah lama tidak melihat wajahmu babak belur begini. Jadi rasanya aneh saja dan itu membuat ku tertawa."
"Sudahlah. Ini anak kami, kau masih ingat kan." Ayahku menepuk pundak ku.
"Halo paman."
"Oh..Rakka, tak kusangka kau sudah sebesar ini. Aku ingat kalau kita pertama kali bertemu pas kau berumur 7 tahun dan saat itu tinggi mu masih selutut ku." Paman tapoc memeluk dengan erat sampai membuatku sesak.
"Se-senang bertemu denganmu juga paman."
Aku masih ingat saat ketemu paman tapoc saat itu. Dulu seingat ku paman tapoc datang ke rumahku untuk membicarakan sesuatu yang penting dengan ayahku dan saat itu juga aku pertama kali bertemu paman Tapoc.
Walaupun sudah terlewat 8 tahun. Penampilan paman tapoc dulu dan sekarang masih sama saja. Yang membedakan hanyalah pakaian. Dulu pakaian paman tapoc itu biasa saja, sama seperti pakaian ayahku saat ini, tapi sekarang dia berpakaian seperti seorang bangsawan yang kaya raya.
__ADS_1
Dulu aku ingat kalau paman tapoc itu adalah seorang pedagang senjata, tapi aku tidak tahu kalau hanya menjual senjata bisa kaya dalam sekejap. Atau mungkin dia mempunyai pekerjaan baru yang membuat dia kaya seperti sekarang. Yah..nanti tanya saja lah.
"Umurmu sekarang berapa, Rakka?"
"Umm...2 bulan lagi umurku menginjak 16 tahun."
"Wah..sudah remaja kamu ya."
"Yah.. begitulah."
"Baiklah, Tapoc. Tolong jaga anak kami, oke."
"Tenang saja. Akan kujaga seperti anak sendiri." Paman Tapoc memeluk pundakku.
Sebelum mereka pergi kami saling berpelukan dan kemudian ayah menepuk pundak ku dengan keras dan berkata.
"Kau harus menyusul kami, oke nak. Kami akan menunggumu di alam liar."
"Benar kata ayahmu, kami akan selalu menunggu mu, Dan juga kamu jangan nakal selagi bersama paman tapoc, oke."
"Bu..aku ini sudah hampir 16 tahun, mana mungkin aku akan melakukan hal kekanak-kanakan begitu."
Ibuku tersenyum dan dia pun mencium kening ku.
"Baiklah kami berangkat dulu ya nak."
"Iya ayah, hati hati dijalan. Dan tolong jaga ibu, oke."
"Kalau itu tentu saja."
Mereka berdua pun segera keluar gerbang dan meninggalkan kerajaan. Awalnya aku masih melihat mereka walaupun dari jauh, tapi lama kelamaan mereka menghilang dan hanya menyisakan kebisingan kerajaan yang selalu ada setiap pagi.
Semua orang mulai keluar rumah, ada yang pergi keladang, ketokonya, bahkan ada yang seseorang di kereta kudanya sedang menunggu penumpang.
Awalnya tempat itu sepi, tapi lama kelamaan tempat itu jadi ramai orang yang keluar kerajaan dan juga masuk.
"Hah..sudah mulai ramai nih. Rakka, ayo ke rumah paman."
Awalnya aku tidak menyadari panggilan paman tapoc karena aku masih fokus melihat keluar kerajaan, tapi kemudian paman memanggil ku lagi dengan lebih keras.
"Rakka!"
Aku pun berbalik ketika dipanggil paman tapoc.
"Ayo pulang." Paman tapoc melambaikan tanganya, mengisyaratkan ayo kita pergi.
Aku tersenyum tipis.
__ADS_1
"Baik paman."
Ketika kepergian orang tuaku, aku sudah bertekad kalau aku akan menjadi kuat dan menyusul mereka suatu saat nanti. Dan ketika nanti kita bertemu lagi. Aku akan mengajak duel ayahku lagi dan akan kupastikan aku akan mengalahkan nya.