Mencari Pecahan Pohon Suci

Mencari Pecahan Pohon Suci
Perjalanan ke Negeri Peri part 4


__ADS_3

Tubuhku memang baik-baik saja, tapi ada satu hal yang membuatku agak kesal, yaitu bajuku jadi rusak dan aku tidak punya gantinya sama sekali. Disitu aku masih di dalam mulutnya Crocland, jadi karena disini agak gelap. Aku pun segera keluar dari mulutnya lewat kerongkongan nya. Setelah berjalan beberapa detik. Aku pun akhirnya berhasil keluar.


Terlihat kondisi diluar sangat kacau, seluruh darah dan jeroan dari crocland tersebar kemana-mana. Sejujurnya aku sangat jijik, tapi mau gimana lagi. Aku pun melewati genangan darah dan jeroan yang tercecer di tanah dengan berjinjit.


Disitu tubuhku juga penuh lendir dan darah. Aku berniat ingin mencari sungai kecil dulu untuk membersihkan tubuhku dan kemudian aku ingin mencari cara agar aku dapat baju lagi.


Pertama-tama aku mengambil tasku yang kulempar jauh tadi dan kemudian berjalan untuk mencari sungai. Untungnya setelah berjalan beberapa meter aku akhirnya menemukan sebuah sungai kecil.


Entah ini bisa dibilang sungai atau tidak sih, karena yang kutemukan disini hanyalah aliran air yang sangat kecil. Mungkin lebarnya hanya 30 cm saja. Walaupun sangat kecil, yang penting air itu bersih dan bisa membersihkan tubuhku dari kotoran.


Setelah beberapa menit aku membasuh badanku. Tubuhku yang kotor pun kembali bersih kembali. Disitu aku langsung membuang pakaian ku karena sudah sangat rusak dan todak bisa dipakai lagi. Sebagai gantinya, aku memakai jubahku untuk sementara.


Awalnya aku ingin kembali ke tempat mayat crocland itu berada karena aku ingin mengambil sisiknya untuk di jual nanti. Sisik crocland itu bisa dibilang cukup mahal, karena Crocland itu dikategorikan sebagai monster yang sangat berbahaya. Jadi kalau di jual mungkin bisa laku 2 koin emas atau lebih.


Disaat aku kembali ke mayat crocland. Di tempat itu ternyata tidak hanya ada aku, tapi ada orang lain yang sedang mengambil daging Crocland.


Sebenarnya itu agak aneh, karena dari yang kudengar, daging Crocland itu sangat tidak enak sama sekali. Saking tidak enaknya, para chef profesional tidak mau memasak daging itu karena walaupun sudah dimasak dengan cara apapun, daging Crocland tetap saja memiliki rasa yang tidak enak.


Aku tidak pernah merasakan sih, tapi kata orang-orang yang sudah merasakan, daging crocland itu keras dan rasanya sangat pahit.


Disaat aku ingin mendekatinya dan ingin menyapanya. Orang itu tiba-tiba melempariku sebuah pisau. Untungnya pisaunya meleset, tapi aku terkena goresan sedikit di bagian pipiku.


"Jangan mendekat, ini punyaku!"


Sebenarnya aku agak kesal karena dia berkata kalau itu punyanya, padahal kan aku yang sudah membunuhnya. Jadi, secara otomatis itu punya ku.


"Eh....apa maksudmu dengan punyamu? Yang membunuh Crocland itu aku lho."


"Pembohong! Mana mungkin orang lemah seperti mu bisa membunuh monster yang ganas ini."


Aku semakin kesal. Rasanya aku ingin membunuh orang ini, tapi sayangnya pedangku malah berubah menjadi gelang yang tidak berguna.


"Darimana kau tahu kalau bukan aku yang membunuhnya, memangnya yang membunuh monster ini kamu?"

__ADS_1


"Bukanlah, tapi aku yang menemukan nya terlebih dahulu. Jadi otomatis ini punyaku."


[Nih orang kalau gak di kasih pelajaran, seperti nya tidak akan mundur ini]


"Apakah kau tidak pernah berpikir, kok bisa Crocland tiba-tiba mati disini? Kan aneh gitu loh, Crocland itu kan kuat, jadi tidak mungkin dia mati begitu saja."


"Hmm...kau benar juga, tapi aku tidak peduli! Ini punyaku, pokoknya punyaku. Kalau kau ingin merebutnya, maka hadapi aku dahulu!" Orang itu mengeluarkan pedangnya.


[Hadeh...padahal aku ini cuma pengen mengambil beberapa sisiknya saja lho, tapi kenapa aku harus berhadapan dengan orang ini.]


"Ada apa? Kau takut ya? Memang seharusnya begitu. Jadi sebelum aku semakin marah, sebaiknya kau pergi dari sini."


"Hei tenanglah, aku akan pergi, tapi aku harus mengambil beberapa sisik monster itu dulu ya."


"Tidak boleh ini punya ku, kalau mau mengambilnya, lawan aku dulu."


[Nih orang bener-bener dah. Kesel juga melihat dia seperti itu terus. Sepertinya dia ini memang harus diberi pelajaran dahulu deh, tapi sebaiknya aku hati-hati karena mungkin saja dia ini kuat.] Aku mengeluarkan pisau kecil untuk mengkuliti hewan. Aku terpaksa menggunakan itu karena aku tidak punya senjata, selain pisau kecil itu.


"Heh....ternyata kau ingin melawanku ya, tapi kenapa kau menggunakan pisau kecil? Apa jangan-jangan kau meremehkan ku. Oh...kurang ajar kamu ya. Kau belum tahu siapa aku ya. Aku ini adalah petualang paling hebat di dunia ini tahu. Kalau tidak percaya lihatlah ini." Orang itu menunjukkan sebuah taring.


"Kau tidak tahu ini. Ternyata memang benar kau ini lemah. Kuberitahu ya, ini adalah gigi naga. Aku telah membunuh naga yang kuat dan kemudian mengambil giginya sebagai bukti kalau aku lebih kuat darinya."


[Sejak kapan naga punya gigi sekecil itu?]


Dari yang kutahu, naga yang paling kecil itu punya gigi sebesar lengan manusia, sedangkan yang dia pegang saat ini hanya sebesar 2 jarinya saja.


"Oh...gitu ya. Oke kalau sudah bicara nya, ayo maju."


"Eh? Kau tidak takut? Ini gigi naga lho."


"Ya terus aku harus apa. lari terbirit-birit gitu. Aku tidak mau lah karena aku harus mengambil beberapa sisik itu untuk ku jual nanti."


[Ini gawat, padahal biasanya kalau aku melakukan ini, semua orang bakal langsung lari. Apa jangan-jangan dia ini memang yang membunuh monster ini. Kalau begitu aku dalam bahaya ini.] suara hati orang itu yang terlihat panik

__ADS_1


"Kau tidak mau maju nih. Kalau begitu aku yang maju nih."


"Eh... tunggu, tunggu. Aku berubah pikiran, Bagaimana kalau kita berbagi material dari monster ini. Kau tadi bilang ingin mengambil sisiknya kan, nah aku akan mengambil dagingnya saja."


"Hmm....tidak mau. Aku sudah terlanjur kesal denganmu." Aku mulai melangkah maju.


[Waduh gawat nih, orang ini bakal membunuhku. Aku tidak mau mati sekarang. Aku baru saja berpetualang dan tidak mau mati disini. Aku tak punya pilihan lain, aku harus gunakan cara terakhir.] Orang itu mulai berkeringat dingin dengan muka yang cemas.


"Tunggu sebentar. Aku minta maaf. Aku akan lakukan apapun yang kau inginkan." Orang itu langsung bersujud dan membuang senjatanya.


"Hmm...kenapa kau bersujud? Ayo dong bertarung denganku! Katanya kau itu adalah petualang hebat yang telah membunuh naga."


"Umm...aku berbohong tentang hal itu. Sebenarnya gigi yang kupegang saat ini hanyalah taring dari Makupa dan itu pun kuambil dari bangkainya."


Aku sudah menduga itu dari awal, makanya aku berani maju tadi.


"Hmm...gitu ya. Oke saatnya penghabisan." Aku mengangkat pisauku.


"Eh.... tunggu, tunggu, tuan! Saya akan lakukan apapun, tuan. Saya akan jadi budak anda." Orang itu ketakutan dan langsung mundur perlahan.


"Aku tidak butuh budak sih, tapi....bajumu bagus juga ya." Aku melihat bajunya yang terlibat lumayan bagus. Kalau dilihat dari kualitas nya mungkin standar dan seharusnya itu baju yang cukup nyaman dipakai.


"Heh baju?"


"Iya baju. Berikan bajumu itu, nanti kubiarkan kau pergi dari sini."


"Benarkah?" Orang itu agak kurang percaya.


"Iya beneran, tapi setelah kau berikan bajumu itu."


"Tapi baju ini..." Dia melihat bajunya seakan sayang memberikan bajunya kepadaku.


"Oh tidak mau ya." Aku mengangkat pisauku lagi.

__ADS_1


"Eh...iya, iya. Biar ku lepas dulu bajuku." Orang itu langsung membuka bajunya dan untungnya dia ini seorang pria. Jadi, aku tidak terlalu merasa bersalah ketika mengambil bajunya. Dia hanya melepaskan baju nya dan celananya, sedangkan pakaian dalamnya kusuruh dia pakai saja. Karena aku masih ada rasa kasihan.


__ADS_2