
"Oh gitu ya...pantas saja terlihat gampang. Kalau begitu aku juga akan menyerang lah."
Aku pun berlari kedepan dan berniat menyerang salah satu monster, tapi ketika kuayunkan ketepat monster itu. Dia menahan serangan ku dengan gampangnya. Bahkan dia terlihat tidak menggunakan tenaga sama sekali untuk menahan serangan ku.
Monster itu pun segera membalasku dengan meninjuku dibagian perut. Awalnya kupikir tidak akan sakit karena mereka ini hanya ilusi, tapi ketika pukulannya mengenai perutku. Sungguh ini bukanlah ilusi, rasa sakitnya sama ketika ayah bermain serius denganku dulu.
Karena pukulannya itu aku terhempas cukup jauh sampai membentur dinding di belakang ku. Ketika aku terhempas ternyata ada Vivi di sampingku dia terlihat santai melihat Syo bertarung.
"Sebaiknya anda hati-hati tuan karena ini bukanlah ilusi, tapi ini asli. Semua monster yang ada disana itu adalah tanah liat yang di kendalikan oleh alat sihir milik tuan Tapoc, jadi kalau kau kena maka akan sakit sekali."
Aku pun berdiri sempoyongan, pedangku sudah tidak ada. Dia sudah di rampas oleh monster tadi. Aku mengelap air di bibirku. Entah itu air liur atau air akibat muntahan ku, aku tidak tahu.
"Sebaiknya kau beri tahu aku lebih awal. Jadi aku tidak perlu kehilangan pedangku."
"Maaf kan aku tuan. kupikir anda sudah tahu."
"Kau tidak bersembunyi? Nanti bisa kena serang lho."
"Kalau itu tenang saja tuan. Monster itu hanya akan menyerang yang memakai armor saja."
"Oh gitu ya... apakah kau punya pedang lain? Pedangku sudah dirampas monster itu."
"Tidak punya tuan, pedang mu hanya satu itu saja."
"Hah...ya sudah lah. Kalau begitu aku akan rebut kembali saja. Omong-omong monster ini kalau dengan Makupa lebih kuat mana?"
"Hmm...mungkin sama kuatnya tuan, karena monster itu didesain agar tuan Syo tidak kesusahan."
"Gitu ya. Kalau begitu bagus."
Aku pun melesat lagi kedepan dan kali ini aku tidak main-main lagi. Aku menyerang lagi monster yang memegang pedangku. Walaupun tanpa senjata aku bisa mengalahkan monster itu dengan mudah karena dulu ayahku pernah mengajariku cara melawan seseorang yang bersenjata sedangkan aku tidak.
Monster itu mengayunkan pedangku ke arahku, tapi aku menghindari nya dan kemudian aku memegang lengan monster itu. Setelah ku pegang erat-erat. Aku memukul tangan monster itu dengan keras sampai membuat pedang yang dipegangnya jatuh.
Setelah pedangnya terjatuh aku membanting monster itu ke tanah. Lalu kuambil pedangku lagi dan menusuknya tepat di dadanya. Tak sampai situ aku menarik pedang itu sampai ke kepalanya yang membuat tubuhnya terbelah dua.
Aku sangat senang sekali saat itu karena berhasil membunuh 1 monster dan berniat ingin membunuh yang lain.
"Okeee! Siapa lagi yang ingin dibasmi!" Aku berbalik dan... sudah tidak ada monster lagi. Semuanya sudah di habisi termasuk yang besar. Mereka semua dihabisi oleh Syo seorang diri dengan menggunakan pedang kecilnya.
Disitu aku hanya bisa berwajah datar sambil mengedipkan mataku berkali-kali. Seakan tidak percaya kalau Syo menghabisi semuanya sendirian
"Hah...telnyata selu sekali ya belmain dengan kakak." Syo mengelap keringatnya dengan tangan nya.
"Sungguh pertarungan yang luar biasa, tuan Syo dan...tentu saja untuk tuan Rakka juga, Pftt.." Vivi terlihat menahan tawanya.
Wajahku memerah karena aku malu telah kalah dengan anak kecil.
"Ada apa kak? Wajah kakak melah lho? Kakak sakit ya?"
"Nggak kok,cuma... kecapekan aja." Aku tersenyum masam sambil menggaruk kepalaku.
"Oh gitu ya. Kalau begitu kita istilahat saja. Kak Vivi bisa ubah tempat ini ke tempat santai."
"Baik tuan Syo." Vivi membungkuk,lalu pergi ke tempat awal kita masuk tadi. Ketika dia sampai disana dia memakai cincin yang dia pakai tadi dan menyentuhkan tangannya ke dinding.
Bibirnya terlihat bergerak. Sepertinya dia sedang membaca mantra, tapi tidak seperti sebelumnya yang agak lama. Kini hanya butuh waktu beberapa detik saja. Bibirnya berhenti bicara, tapi tangannya masih menempel di dinding.
Setelah selesai membaca mantra, Vivi menyuruh kami untuk mendekatinya. Aku yang masih tidak tahu sistem kerja disini hanya menurutinya saja dan kemudian berjalan mendekatinya bersama Syo.
Kami sudah berada dekat dengan Vivi. Yang kemudian Vivi berkata.
__ADS_1
"Baiklah, sebaiknya anda tidak melewati garis pembatas ini tuan. Apalagi menyentuhnya sedikit saja."
Aku melihat kebawah dan disitu ada pembatas antara ruangan itu dan sebuah lorong. Kakiku disitu masih menyentuh sedikit pembatas itu lalu aku menyingkirkan nya dan berkata.
"Oke sudah. Memangnya ada apa sih?"
"Change!" Vivi tidak menjawab pertanyaan ku dan malah menekan tembok yang dia sentuh dengan keras sambil berteriak dengan keras juga.
Tak lama setelah Vivi melakukan itu ruangan yang ada di depanku tiba-tiba berubah. Ruangan itu awalnya kosong dan hanya ada banyak sekali mayat dari monster sebelum nya. Lalu kemudian mayat monster itu menghilang dan digantikan oleh sebuah sofa di tengah ruangan dan juga sebuah meja besar dan juga lebar yang berada di sebelah kiri ruangan itu.
Meja itu berisi bermacam-macam makanan, dari makanan berat sampai makanan kecil [camilan]. Di sebelah kanan ruangan juga ada sebuah rak yang tiba-tiba muncul. Di rak itu berisi banyak sekali buku, tapi sepertinya bukan buku yang ada di ruangan paman tapoc sebelumnya. Aku bisa mengenali sampul-sampul itu dan yang ada disana semuanya adalah buku novel.
Di depan sofa juga ada perapian yang sangat cocok sekali untuk bersantai di suasana dingin. Yah itu wajar kalau sudah mulai dingin karena sebentar lagi musim dingin akan tiba.
Dari yang kulihat sepanjang perjalanan kesini bersama paman tapoc sebelumnya. Pohon-pohon dijalan mulai tidak ada daunnya. Mungkin masih ada beberapa pohon yang masih memiliki banyak daun, tapi kebanyakan dari mereka hanya tersisa sekitar seratusan daun saja.
Biasanya kalau sudah hari begini, aku bakal disuruh untuk mencari kayu kering sebanyak-banyaknya di hutan. Tapi karena aku hidup di tempat orang kaya mungkin aku tidak perlu melakukan hal itu lagi.
"Wow....banyak sekali makanan enak dan buku yang menarik disini." Aku menghampiri meja makan dan juga buku-buku yang di rak. Ternyata dari semua makanan dan buku yang ada disini. Kebanyakan aku belum pernah melihatnya.
"Nah kak, ayo kita istilahat dulu di sofa itu sambil makan cemilan atau membaca buku."
"Memangnya semua ini boleh kucoba?"
"Tentu saja. Kakak kan sekalang kelualga ku. Jadi semua yang ada disini juga milik kakak."
"Benarkah? Kalau begitu aku tidak akan sungkan lagi. Ayo Syo kita serbu makanan dan buku yang ada."
"Ayo. Selbuu...!"
Aku dan Syo segera berlari mengambil makanan yang enak dan juga buku-buku yang belum pernah di baca sebelumnnya. Kami membawa semua itu ke meja yang ada di dekat sofa. Karena meja itu tidak terlalu besar dan tidak akan muat kalau kami meletakkan semua buku dan makanan yang kami bawa di meja itu. Jadi kami meletakkan semua makanan di atas meja dan bukunya kami letakkan di bawah meja.
Kami pun segera duduk di sofa dan mengambil makanan dengan tangan kanan kami, dan tangan kiri kami memegang sebuah buku. Baru saja kami membuka mulut kami dan ingin memakan makanan nya. Tiba-tiba muncul Paman tapoc dari belakang dengan kedua tangan di pinggangnya dan alis mengerut.
"Ayo paman, makan sama-sama."
"Iya pah sini."
"Nah gitu dong. Kalau begitu aku tidak akan sungkan lagi."
Paman tapoc segera duduk bersama kami. Sejujurnya tempat duduknya jadi agak sempit, tapi tidak apa apa. Lagipula aku malah mendapatkan bantal baru yang empuk.
Aku bersandar di tubuh paman tapoc dan itu sangat empuk karena paman tapoc yang gemuk. Syo juga ikut-ikutan, dia juga bersandar di tubuh paman tapoc sambil membaca bukunya.
"Hmm...kalian baca apa sih."
"Ini pah, aku sedang membaca novel overall."
"Tentang apa itu?"
"Hm..tentang seseorang yang terjebak di dimensi lain dengan tubuh monster. Ketika di tubuh monster itu dia sangat kuat dan berniat ingin menguasai dunia."
"Hmm.." paman tapoc menganggukan kepalanya dengan wajah tidak tertarik.
"Kalau kamu, Rakka."
"Kalau aku sedang membaca novel Rose Nevergarden."
"Kalau itu tentang apa?"
"Kalau ini tentang seorang wanita yang tidak tahu apapun tentang emosi dan perasaan yang berniat ingin mencari tahu arti dari 'aku mencintaimu'."
__ADS_1
"Oh romance ya."
"Iya, tapi mungkin ini lebih ke drama sih. Kata orang-orang novel ini bagus. Jadi aku penasaran deh."
"Hmm...gitu ya." Seperti sebelumnya paman tapoc memasang wajah tidak tertarik sambil menganggukan kepalanya.
"Apakah kalian tidak tertarik membaca yang lain, seperti buku sains."
"Tidak." Kami menjawab langsung tanpa memikirkan nya lama.
"Lho... bukannya tadi kamu bilang tertarik, Rakka."
"Awalnya begitu, tapi karena membaca novel lebih menyenangkan. Jadi aku lebih memilih membaca novel ketimbang buku sains yang bikin otak pusing."
"Benal itu."
Paman tapoc terlihat kesal ketika aku mengatakan itu, tapi kami berdua tidak mempedulikan nya karena kami terlalu sibuk dengan buku kami.
Dia mengambil salah satu makanan dimeja dan memakannya dengan perasaan kesal. Bahkan dia sampai bergumam dengan mulut penuh makanan.
"Dasar anak-anak jaman sekarang. Padahal kalau kau suka Sains, mungkin saja kau bisa mengubah dunia ini seperti aku." Gumam paman tapoc dengan mulut penuh makanan.
Setelah memakan 1 makanan, paman tapoc berdiri dari sofa dan itu membuat aku dan syo jatuh dan terbentur satu sama lain.
"Aduh...papa kalau mau beldili ngomong dong."
"Ah..maaf, maaf. Aku tidak tahu kalau kalian sedang bersandar padaku." Dia sebenarnya tahu, tapi dia berpura-pura tidak tahu untuk memberi pelajaran untuk kami berdua karena telah mengkacangin dia.
"Kalau begitu Papa mau pergi dulu ya. Ada urusan di kerajaan dan kalian jangan makan banyak-banyak ya. Karena sebentar lagi makan siang. Syo tahu kan apa yang akan terjadi kalau kau nggak habisin makananmu."
"Iya pah.." Syo menjawab tapi matanya masih membaca buku.
Paman Tapoc berjalan ke lorong dan disana ada Vivi. Dia membungkuk ketika paman tapoc mendekati nya.
"Anda sudah mau pergi, tuan."
"Iya, hari ini ada rapat penting di kerajaan dan aku disuruh hadir."
"Begitu ya. Kalau begitu hati-hati, tuan."
"Tentu, kalau begitu jaga mereka ya agar tidak makan banyak-banyak."
"Baik tuan." Vivi mengangguk
"Kalau begitu aku pergi dulu."
"Baik. Selamat jalan tuan." Vivi membungkuk sekali lagi.
Vivi melihat ke arah sofa dan merasa aneh karena tidak ada suara sama sekali. Dari tadi memang tidak ada suara sih, tapi terkadang ada suara membalikkan buku dan sekarang malah tidak ada suara apa pun.
Vivi pun berjalan mendekati mereka karena penasaran apa yang terjadi pada mereka. Ketika sampai didepan sofa, dia hanya bisa tersenyum. Dia melihat kami yang sedang tertidur pulas dengan buku yang menutupi wajah kami.
"Hah..padahal mereka ini bukan saudara kandung.bahkan mereka baru bertemu beberapa jam yang lalu, tapi mereka sudah sedekat ini dan sudah seperti saudara kandung yang asli."
Vivi mengambil buku yang ada di wajah kami dan meletakkan buku itu di bawah meja. Setelah itu dia berjalan ke lorong dan seperti sebelumnya dia memakai cincin dan meletakkan tangannya di dinding. Lalu dia berkata.
"Became dark."
Ruangan itu awalnya terang benderang dan dalam sekejap ruangan itu berubah menjadi gelap dan hanya ada cahaya di bagian lorong saja.
"Nanti sajalah kalau sudah waktunya makan siang akan ku bangunkan dan untuk sekarang tidurlah yang nyenyak pangeran-pangeran ku."
__ADS_1
Vivi tetap berdiri disitu sambil mengawasi kami.