Mencari Pecahan Pohon Suci

Mencari Pecahan Pohon Suci
Kejadian yang terulang kembali


__ADS_3

Awalnya alun-alun ini ramai oleh orang yang lalu lalang dan orang yang ingin melihatku disiksa, tapi sekarang tempat ini sangat sepi, tidak ada suara apapun disini kecuali suara jangkrik dan hewan malam lainnya.


Disaat aku akhirnya bisa menghembuskan nafas lega. Muncul lah John dan Geri yang habis pulang dari Bar. Geri terlihat sempoyongan ketika berjalan sambil membawa botol berisi alkohol, sedangkan John masih berjalan tegak layaknya jalan biasa. Mereka berdua menghampiriku dengan santai. Ketika mereka berdua sudah berada di depanku. John pun berkata.


"Sepi sekali ya..." John melihat sekitar.


Aku hanya diam sambil menundukkan kepalaku. Aku melakukan itu karena aku sangat takut padanya. Aku takut kalau dia akan menyiksaku lagi.


John pun menatapku dan kemudian mengangkat daguku agar aku melihat wajahnya. Disitu wajahku sudah remuk, mataku tidak terlihat karena lebam yang sangat besar di kedua mataku, hidungku patah dan mengeluarkan darah dari lubangnya, gigiku banyak yang hilang, banyak lebam berwarna biru di sekitar wajahku, dan juga wajah ku sangat kotor dan bau karena di lempari buah busuk dan sayuran busuk.


John yang melihat wajahku yang hancur, hanya bisa tertawa kecil. Setelah menertawakan ku dia membuang mukaku dengan kasar yang kemudian menjauh dan mendekati Geri yang terlihat sempoyongan.


Saat itu badanku terlihat gemetar. Aku tidak tahu penyebab aku gemetaran, apakah karena aku tidak makan seharian, kedinginan, lukaku yang masih sangat sakit, atau karena takut pada John, aku tidak tahu. Mungkin semua itu yang menyebabkan aku gemetaran saat ini.


"Tenanglah...tidak usah gemetar. Malam ini aku tidak akan menyiksamu, tapi aku malah ingin membebaskan mu dari tempat ini kalau kau menjawab 1 pertanyaan ku dengan benar."


"Woo... dibebaskan. Lwihatlah nak, tuan John itu sebenarnya bwaaik, tapi kaunya saja yang tidak menulut. Jarang-jarang lho penjahat mau dibebaskan bwegini." Geri mengatakan itu sambil sempoyongan dan kata-katanya tidak jelas.


"Diamlah kau ini! Lebih baik kau pulang sana!"


"Halah...jangan begitu dong tuan." Geri memeluk tangan John dan mengelus-ngelus kepalanya ke mantelnya, layaknya kucing yang manja pada majikannya.


John pun menendang Geri sampai dia berguling-guling layaknya bola dan akhirnya dia menabrak tembok salah satu rumah warga. Dia tidak kenapa-kenapa, tapi dia sudah teler di tempat dengan air liur mengalir dari mulutnya.


"Hadeh...dasar orang itu. Baiklah,kembali ke topic awal. Jawab pertanyaan ku dengan benar, maka akan kulepaskan kau. Kenapa kau membunuh mereka?"


Aku tidak menjawab dan hanya menundukkan kepalaku


"Kuhitung 3 detik, kau tidak menjawab, maka kau akan kutinggal disini dan besok kau akan disiksa lagi oleh para warga."


Aku masih terdiam.


"3...." John berjalan menghampiri Geri yang kemudian dia mengambil botol berisi alkohol dan meminumnya.


"2..." Dia kembali ke hadapan ku.


"Sa..." Sebelum John berkata satu, aku pun menjawab dengan suara yang tidak jelas.


"Sayva tidwak tahu!"


"Hah... apa kau bilang?"


"Saya tidak tahu." Aku menjawab lebih keras dan lebih jelas.


"O...." John terlihat memasang wajah datar, tapi beberapa detik kemudian dia langsung memukulku dengan botol berisi alkohol tepat di kepalaku. Botol itu pecah dan alkohol yang masih didalam mengalir ke sekujur tubuhku. Ketika alkohol itu menyentuh lukaku, itu terasa sangat perih dan panas. Rasa itu tak hanya sebentar, itu berlangsung sangat lama dan semakin lama,semakin perih. Aku menggigit bibir ku untuk tidak berteriak, tapi air mataku tetap mengalir karena menahan rasa sakit yang luar biasa ini.

__ADS_1


"Kali ini kau memang menjawab pertanyaan ku dengan benar, tapi aku tak merasa puas dengan jawaban mu. Jadi kau tetap disini sampai besok pagi, tapi besok akan kuberi kau sarapan karena telah menjawab dengan benar."


John kemudian pergi, Geri yang masih Teler di bawa olehnya. Walaupun Geri itu gemuk, tapi John terlihat mudah sekali menggendong Geri. John dan Geri sudah hilang dari pandangan. Alun-alun itu sudah sepi sepenuhnya. Tidak ada siapapun selain diriku yang sedang di gantung dengan luka di sekujur tubuh.


Tubuhku sudah sangat capek. Aku ingin tidur, tapi karena luka ditubuhku dan juga karena posisi tidurku yang tidak enak. Aku jadi sulit untuk tertidur. Aku terus mencoba menutup mataku, tapi setiap aku sudah setengah tidur, tiba-tiba ada nyamuk yang menggigit lukaku. Kalau nyamuk menggigit ketika tidak ada luka saja sakit apalagi ada luka yang parah. Sakitnya bisa bertambah berkali kali lipat.


Lalu di tengah malam, dimana bulan sudah berada tepat diatasku. Disitu Aku masih mencoba tidur, aku menutup mataku, tapi terbuka lagi ketika ada suara aneh, lalu aku menutupnya lagi dan membukanya lagi untuk memeriksa apakah ada orang. Aku menutupnya lagi dan ada suara orang melangkah. Kali ini aku tidak mau membukanya karena aku ingin benar-benar tidur. Lalu tiba-tiba ada orang yang memanggil ku. Suara nya sangat lembut, tapi juga mengerikan. Mengerikan disini bukan seperti suara dari monster atau suara nenek penyihir ketika tertawa, tapi lebih ke suara wanita pembunuh bayaran yang ingin membunuh targetnya.


Aku pun membuka mataku dan di depan ku ada wanita cantik berkucir kuda.Wanita itu berpakaian serba hitam dengan membawa sebuah tas selempang yang cukup besar. Dilihat dari betapa gemuknya tas itu. Sepertinya tas itu berisi banyak sekali barang, tapi aku tidak tahu apa isinya. Rambut wanita itu juga berwarna hitam yang bisa membuat dia tidak terlihat kalau kulitnya tidak seputih susu.


Aku tidak tahu apa yang dilakukan wanita ini disini, apakah dia akan menyiksaku, tapi sepertinya tidak. Entah kenapa aku memiliki perasaan, kalau wanita ini memiliki tujuan yang lain disini.


"Kau Rakka kan." Tanya wanita itu.


Aku yang masih bengong melihat kecantikan wanita itu, tiba-tiba tersadar dan menjawab pertanyaan wanita itu.


"Eh...iya. kenapa kau tahu namaku?"


"Itu tidak penting, untuk sekarang kau makanlah ini dulu." Wanita itu merogoh tasnya dan mengeluarkan Roti dan buah-buahan segar.


Wanita itu mencuil sedikit Roti yang dia pegang dan menyondorkan nya padaku.


"Ah..bukalah mulutmu."


"Ini Roti."


"Bukan... Bukan itu yang kumaksud, tapi kenapa kau melakukan hal ini."


"Aku tak bisa menjelaskan nya sekarang, nanti setelah aku membebaskan mu dari sini, akan kuberitahu. Nah sekarang buka mulutmu."


"Membebaskan? apa..." Aku mau bertanya lebih, tapi wanita itu sudah memasukkan Rotinya ke dalam mulutku dengan paksa.


"Sekarang kunyahlah pelan-pelan." Aku pun menguyahnya dan Roti itu terasa sangat enak yang membuat aku menangis bahagia. Aku kira roti ini telah di beri racun, tapi untungnya tidak. Walaupun ini sudah diberi racun pun, juga tidak apa-apa sih, Bahkan lebih baik begitu.


Wanita itu mengeluarkan sapu tangannya dan mengelap air mataku dan kotoran yang ada di wajahku secara perlahan-lahan. Dia sangat baik, entah apa tujuannya melakukan hal ini. Sejujurnya aku belum percaya penuh dengan wanita ini. Setelah di perlakukan sangat jahat selama ini, aku merasa kalau orang baik itu hanya palsu dan biasanya orang yang bersikap baik itu sedang menyembunyikan tujuan lainnya yang mungkin bisa menyelakakan mu lagi.


Aku terus di beri makan wanita itu, sampai tas yang awalnya gemuk menjadi kempes. Setelah diberi minum olehnya aku pun bertanya lagi pada nya.


"Umm.....bisakah kau beri tahu aku, kenapa kau melakukan ini? Dan apa maksudmu tadi tentang membebaskanku."


Wanita mengembalikan wadah airnya ke dalam tas dan kemudian berkata.


"Aku disuruh orang."


"Orang? Siapa yang menyuruhmu?"

__ADS_1


"Sebelum itu, buka lah mulutmu sekali lagi."


Aku menurutinya dan membuka mulutku. Lalu dia merogoh sakunya dan memasukkan sesuatu ke dalam mulutku. Aku tidak tahu apa itu, tapi benda yang kumakan ini sangat keras dan tidak ada rasanya sama sekali.


"Jangan coba di kunyah, telan saja langsung."


Aku hanya menurutinya dan menelan benda aneh yang ada di mulutku.


"Apa itu tadi?"


"Sesuatu yang akan membebaskanmu besok."


"Hah? Apa maksudmu?"


"Kau akan tahu besok."


"Memangnya kau tak bisa ...." Wanita itu menghilang dalam sekejap. Padahal aku baru berkedip, tapi dia sudah menghilang entah kemana. Aku sudah melihat kiri,kanan,atas, bawah, tapi wanita itu tidak ada. Mungkin dia kabur lewat belakangku, karena hanya disitulah aku tidak bisa melihatnya.


"Kemana wanita itu? Dia belum memberitahuku siapa yang menyuruhnya...Ah....sudahlah. kenapa aku harus peduli dengan itu. Lagipula aku sudah tidak peduli lagi dengan hidupku." Walaupun aku bilang begitu. Aku sebenarnya sangat penasaran siapa yang menyuruh wanita itu dan kenapa dia mau membebaskan ku. Apakah orang itu adalah orang tuaku—tidak, itu tidak mungkin. Mereka tak akan kembali kesini, walaupun ada bahaya mengancam disini. Lagipula buat apa mereka kembali, toh mereka tidak bakal tahu apa yang terjadi di kerajaan ini. mereka kan masih di alam liar, bagaimana mereka tahu keadaan kerajaan ini.


Karena aku tidak mau memikirkan lebih panjang, aku pun mulai menutup mataku untuk tidur. Karena aku makan cukup banyak tadi. Aku jadi sangat mengantuk dan itu membuatku tertidur sangat cepat. Saat itu aku memang masih digigit nyamuk, tapi aku sudah terlalu lelap, sampai gigitan nyamuk tidak terasa bagiku. Entah apa yang akan terjadi besok. Apakah akan terjadi hal baik atau buruk, aku tidak terlalu peduli. Yang penting bagiku adalah...aku ingin mati.


********


Keesokan harinya.


Matahari sudah terbit. Sinarnya sudah menyinari mataku yang bengkak. Cahaya itu sangat menyilaukan dan membuatku terbangun dari tidurnya yang nyaman.


[Nyaman?]


Ini aneh. Bagaimana bisa aku merasa nyaman tidur sambil digantung. Lalu aku tersadar kalau semua tali yang mengikat kedua tanganku dan kakiku sudah menghilang. Saat ini aku sedang tertidur di tanah, tapi anehnya tanah yang kutiduri ini empuk. Padahal di alun-alun di tempat aku disiksa semua tanahnya sudah di kasih batu bata agar terlihat cantik, tapi tanah ini sangat empuk, bahkan terlalu empuk.


Aku pun memegang tanah yang kutiduri dan tanah itu terlihat becek. Ada air yang menggenang di sekitar sini. Aku berpikir, apakah malam tadi hujan. Lalu aku melihat tanganku dan tanganku yang habis menyentuh air tadi di penuhi warna merah.


[Apa ini? Kenapa air disini berwarna merah?]


Aku pun langsung menyadari kalau itu bukan air biasa melainkan sebuah darah. Aku pun segera bangun dan ingin melihat apa yang sedang kutiduri saat ini. Setelah bangun dan berbalik badan. Aku langsung terkejut. Mataku melebar dengan pupil ku mengecil. Raut wajahku terlihat ketakutan dengan mulutku menganga sedikit.


Tepat di depanku ada mayatnya Geri yang terlihat sangat mengenaskan. Perutnya terbelah dan isi perutnya keluar semua. Lehernya terkoyak dan kepalanya hampir copot. Kedua matanya tidak ada, lidahnya terlihat sudah terpotong. Geri terlihat sangat mengenaskan.


Lalu aku melihat ke tiang yang awalnya aku di ikat dan disana aku melihat John yang sedang di ikat, tapi yang di ikat hanya badannya saja, kepalanya berada di bawah kakinya. Kondisi John sama mengenaskannya dengan Geri. Kulit nya john sudah tidak ada, seperti di kuliti seseorang. Jari-jarinya menghilang dan dia setengah telanjang.


Disitu Aku pun menjatuhkan lututku, kakiku sudah lemas, aku sudah tidak bisa bergerak sama sekali. Lalu dengan tatapan kosong menghadap ke tanah, dan dengan suara pelan, tapi seperti tertekan.


"Kenapa.... Ini terjadi lagi?"

__ADS_1


__ADS_2