Mencari Pecahan Pohon Suci

Mencari Pecahan Pohon Suci
Kebahagiaan Berakhir part 2


__ADS_3

Aku berbalik badan dengan ekspresi yang masih terkejut dan aku mencoba berjalan menghampiri pelayan itu untuk menjelaskan apa yang terjadi, tapi pelayan itu sepertinya ketakutan dan berlari keluar sambil mengunci kamar itu.


Aku terkunci didalam, bersama 3 mayat yang tergantung di dinding. Aku menggedor-gedor pintu untuk di bukakan, tapi pelayan itu terlalu takut dan hanya duduk ketakutan di depan pintu.


Tak lama setelah itu muncul salah satu pelayan dan dia melihat pelayan yang sedang ketakutan di depan pintu. Dia pun segera menghapiri pelayan itu dan menanyakan apa yang terjadi padanya.


"Apa yang terjadi? Kenapa kau ketakutan begini?"


"Tu tu tu tu tu." Pelayan itu terlalu takut sampai tidak bisa berbicara dengan benar.


"Ada apa denganmu? Bicaralah yang benar?" Pelayan itu menggoyangkan badan pelayan yang ketakutan dengan cukup kuat untuk membuatnya sadar.


"Tuan Tapoc....dia...."


"Ada apa dengan dia?"


"Dia...telah mati."


"Hah...jangan bergurau kau ini." Pelayan itu mencoba masuk ke kamar Paman Tapoc untuk melihat apakah yang dikatakan nya benar.


"Jangan...! Ada monster didalam! Panggil saja seluruh monster hunter dan petualang yang ada ke rumah ini." Pelayan yang ketakutan itu menghentikan dia untuk membuka pintu itu.


"Kau ini ternyata masih mengigau ya. Mana mungkin monster bisa masuk kerumah yang di perlengkapi keamanan super ketat ini." Pelayan itu masih kekeh ingin masuk.


"Ada! Bahkan dia sudah masuk dari kemarin. Pokoknya jangan buka pintu ini dan segeralah pergi cari Monster Hunter atau Petualang." Pelayan yang ketakutan memegang tangan pelayan yang ingin masuk dengan cukup kuat sampai membuat pelayan itu kesakitan.


"Aduh... apa-apaan sih kamu." Pelayan itu melihat ke wajah pelayan yang ketakutan dan sekarang dialah yang ketakutan karena melihat wajahnya yang mengerikan.


Mata pelayan itu melotot sampai bola matanya ingin keluar, kulitnya memucat karena ketakutan tadi, bibirnya membiru seperti orang kedinginan dan rambut nya berantakan yang membuat pelayan itu terlihat menakutkan.


"Pergi! Panggil semua Monster hunter yang kau bisa." Dia menyuruh pelayan itu dengan nada suara yang mengerikan juga.


Pelayan itu pun segera pergi untuk mencari Monster Hunter. Padahal saat itu dia masih ada tugas yang harus di selesaikan, tapi karena melihat wajah yang menakutkan itu, dia tidak bisa menolaknya.


Setelah pelayan itu pergi dengan tergesa-gesa. Munculah Vivi yang terlihat kebingungan mencari sesuatu atau seseorang. Dia melihat pelayan di depan pintu kamar paman tapoc dan dia pun menghampiri nya ingin bertanya. Tapi baru saja dia ada didepannya dan ingin bertanya. Pelayan itu menarik baju Vivi dengan kasar dan membisikinya sesuatu.


"Pergi! Jangan mendekat."

__ADS_1


"Tapi aku hanya ingin....."


Pelayan itu mendorong Vivi dengan keras dan juga berteriak dengan keras padanya.


"Pergi..!"


"Hei... apa-apaan kau ini? Aku disini cuma ingin tanya, apakah kau melihat tuan Rakka disekitar sini?"


Pelayan itu memandang terkejut ke Vivi dan kemudian berkata.


"Dia ada didalam."


"Hah...didalam kamar Tuan Tapoc, tapi ngapain tuan ada disana?"


"Dia bukan tuan mu lagi, Vivi. Dia adalah monster sekarang. Dia telah membunuh seluruh keluarga Tapoc termasuk si kecil Syo."


"Hah...itu tidak mungkin. Tuan Rakka itu sayang sekali dengan keluarga ini, apalagi tuan Syo. Mana mungkin dia tega membunuh mereka."


"Tapi itulah kenyataannya."


"Biarkan aku masuk."


"Jangan! Ini demi kebaikanmu. Aku tidak mau kau mati juga, Vivi." Pelayan itu berdiri dan menghalangi pintu."


"Minggirlah Rebbeta, aku ingin masuk dan melihatnya sendiri."


Rebbeta tetap tidak menyingkirkan dan malah merentangkan tangannya.


"Kau tahu aku bisa bela diri kan Rebbeta. Jadi sebaiknya kau menyingkir sebelum, tanganmu itu patah satu."


"Aku lebih baik kehilangan tanganku daripada kehilangan mu,Vivi."


Vivi menjentikkan lidahnya dan kemudian maju tanpa ragu ingin mematahkan tangannya Rebbeta. Tapi baru saja mau melangkah, tiba-tiba muncul beberapa orang asing dan mereka berpakaian lengkap untuk perang. Mereka itu adalah Monster Hunter.


"Dimana monsternya nona?"


"Dia ada didalam, tolong tangkap dia tuan dan nyonya sekalian." Vivi menyingkir dari pintu dan mempersilahkan untuk mereka masuk.

__ADS_1


"Serahkan pada kami."


Monster Hunter itu masuk berbondong-bondong.


Ternyata kedatangan Monster Hunter itu membuat para pelayan dan pekerja penasaran. Tempat ini mulai ramai oleh orang karena mereka penasaran, apa yang sedang terjadi di rumah ini. Di tengah keramaian itu,Vivi mencuri kesempatan untuk bisa masuk kedalam kamar dan itu berhasil. Rebbeta sempat ingin mengeluarkan Vivi dari kamar itu, tapi kalau dia membuka pintu itu. Semua orang pasti akan masuk dan mungkin itu bisa menghambat Monster Hunter untuk menangkap monsternya.


Vivi sudah berada di dalam bersama para Monster Hunter dan seperti Monster Hunter tidak terlihat ingin mengusir Vivi atau mungkin lebih tepatnya kalau mereka tidak tahu ada Vivi bersama mereka karena mereka terlalu Fokus melihat yang sedang mereka saat ini.


Mulut mereka semua menganga sedikit, mata mereka melebar. Bahkan ada yang ingin muntah melihat nya. Vivi ada di belakang meraka dan semua monster hunter itu lebih tinggi dari Vivi. Karena itulah dia tidak bisa melihat apa yang mereka lihat. Jadi dia pun menyelip diantara mereka untuk bisa maju ke depan dan melihat apa yang mereka lihat.


Setelah berada di depan, Vivi terkejut dan menutup mulutnya untuk tidak berteriak. Dia melihat seluruh keluarga Tapoc tertancap didinding dengan tongkat besi berada di dada mereka dan tepat dibawah mereka ada Aku yang sedang terkelungkup seperti trenggiling. Pandangan ku kosong, aku seperti tenggelam dalam pikiran ku sendiri. Mulutku juga terus bergerak dan sedang mengucapkan.


"Bukan aku, bukan aku, bukan aku."


Vivi yang tak tega melihat ku begitu langsung maju kedepan dan ingin menenangkan ku, tapi langkah nya terhenti oleh seseorang yang memegangi tangannya.


"Jangan kesana nona. Kau bisa terbunuh."


"Tuan Rakka tidak akan membunuhku dan aku yakin dia juga tidak membunuh semua orang itu. Jadi lepaskan aku!" Vivi mencoba membanting orang itu, tapi dia malah kena jurus sendiri. Dia terbanting ke tanah dan sekarang dia tidak bisa bergerak sama sekali karena dicengkeram kuat oleh salah satu Monster Hunter pria.


"Aku tidak tahu dia itu siapamu, tapi dia itu adalah tersangka nona dan dia itu masih bahaya."


Vivi terlihat kesal dan ingin melepaskan cengkraman nya, tapi walaupun sudah berusaha sekuat tenaga dia masih tidak bisa melakukan nya.


"Jangan buang tenagamu nona, lebih baik kau diam saja. Ayo...semuanya, tangkap dia."


Semua Monster Hunter kecuali yang menahan Vivi, langsung maju untuk menangkap ku dan ketika ingin menangkap ku, tiba-tiba ada semacam serangan yang membuat para Monster hunter itu terpental. Saat itu aku tidak melakukan apa-apa, bahkan aku tidak menggerakkan jariku sama sekali, tapi semua Monster Hunter itu malah terpental seakan ada yang menyerang meraka.


"Sudah kuduga dia itu bahaya. Semuanya...keluar kan senjata kalian, kita akan melumpuhkan dia walaupun dia terbunuh sekali pun"


Para Monster Hunter yang terpental tadi bangun kembali dan mengeluarkan senjata mereka. Kebanyakan dari mereka membawa pedang, tapi ada 1 atau 2 orang yang membawa busur dan juga tongkat sihir.


"Tunggu...jangan bunuh dia..."


"Serang..!"


Tak mempedulikan apa kata Vivi, Para monster hunter langsung maju ke depan ingin menyerang, tapi kemudian langkah mereka terhenti karena pintu tiba-tiba terbuka.Para Monster hunter kira, gerombolan orang tadi berhasil masuk kedalam dan itu bisa bahaya karena bisa menghambat pekerjaan mereka, tapi ternyata yang masuk hanyalah 1 orang pria yang memakai topi baret dan juga mantel berwarna hitam.

__ADS_1


__ADS_2