Mencari Pecahan Pohon Suci

Mencari Pecahan Pohon Suci
Makan Bersama part 1


__ADS_3

"Tolong....!"


Terdengar banyak sekali orang yang meminta tolong, berteriak histeris, menangis, bahkan ada orang yang tertawa dengan sangat keras.


Entah di negeri mana, atau dunia mana. Ada sebuah kerajaan, tapi kerajaan itu tidak diisi oleh tawa para warga atau suara pedagang yang selalu berteriak untuk memanggil pelanggan.


Di kerajaan itu hanya ada teriakan histeris yang terus menerus terdengar setiap 3 detik. Disini arsitektur bangunan nya juga agak berbeda dari kerajaan lain, disini semua bangunan nya tidak ada atap, banyak batu bata yang retak, bahkan ada yang desain rumahnya yang ditutupi api yang sangat besar.


Di sepanjang jalan kerajaan ini pasti ada mayat yang sudah tidak utuh lagi. Jalanannya juga berbeda dari kerajaan lain. Dia berwarna merah dan juga masih basah.


Disaat aku masih melihat pemandangan dari kerajaan ini. Ada seseorang yang menarikku dan itu adalah ayahku yang terlihat sangat ketakutan.


Terus dimana ibuku...oh iya, dia tinggal kepalanya saja. Tentu saja, mana mungkin ayah akan membawanya, karena untuk apa....


Kami terus berlari ditengah-tengah orang yang terus terusan mati karena di tusuk oleh manusia. Disaat aku berlari aku selalu membawa boneka kesayangan ku yaitu boneka kelinci berwarna hitam dengan mata yang tinggal satu. Kenapa tinggal satu–Ya itu karena mata satunya telah di curi oleh pencuri kecil yang sering sekali mencuri keju kami.


Sebentar lagi kami akhirnya keluar dari kerajaan itu, tinggal beberapa langkah saja, tapi pada akhirnya aku sendiri yang berhasil keluar, karena ayahku di panah tepat dadanya setelah berada tepat di depan gerbang.


Aku terus berlari kehutan belantara, meninggalkan Ibuku,Ayahku,Keluargaku,Rumahku, Kenangan ku, Semuanya. Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi ada air yang keluar dari mataku. Dia tidak berhenti-henti, apa yang harus kulakukan. Air ini membuat aku tidak bisa melihat jauh kedepan. Apa yang harus kulakukan....ayah.


Lalu tiba-tiba ada....


"Tuan....!"


Mataku langsung terbuka lebar dan melihat Wajah cantik Vivi yang berada tepat di depan mukaku. Aku segera bangun karena aku agak tersipu malu ketika melihat Wajahnya Vivi dari dekat.


"Anda tidak apa-apa tuan? Anda terlihat sangat pucat?"


"Ti-tidak apa apa, aku cuma..." Aku melihat tanganku dan memang benar tanganku agak pucat.


[Ada apa ini?] Kataku dalam hati.


Lalu aku teringat mimpi tadi.


[....Dan mimpi apa tadi?]


"Tuan?"


Aku kembali ke Realita.

__ADS_1


"Oh...mungkin aku cuma kedinginan saja ini."


Wajah Vivi langsung panik dan kemudian membungkukan badannya.


"Maaf kan saya tuan, saya tadi lupa memberikan kayu bakar lagi agar apinya lebih besar."


"Oh gitu ya. Pantesan dari tadi aku merasa kedinginan."


"Maafkan saya tuan."


"Tidak apa-apa, Tidak usah minta maaf."


"Tapi tuan..."


"Sudah lah Vivi. Tidak usah di perpanjang lagi. Lebih baik kita bicara yang lain saja.Oh iya ngomong-ngomong Syo kemana?"


Vivi menegakkan badannya kembali dan menatap wajahku.


"Kalau tuan Syo baru saja pergi, tuan. Dia tadi kuantar keluar karena ada tamu yang ingin bertemu tuan Syo."


"Tamu? Teman kelas nya kah?"


"Surat resmi! Kalau begitu itu orang penting dong. Mungkin seorang bangsawan atau seorang raja."


"Mungkin saja tuan. Oh iya tuan. Saya sampai lupa tujuan asli saya membangunkan anda. Karena ini sudah waktunya makan siang. Lebih baik kita segera keluar dari sini dan pergi ke ruang makan, tuan."


"Makan siang? Bisakah aku melewatkan ini karena saat ini perutku masih kenyang." Aku mengelus perutku yang kenyang.


"Maafkan saya, tuan. Tapi anda tidak bisa melakukannya, karena ini sudah jadi tradisi keluarga ini. Setiap waktunya makan, seluruh keluarga harus berkumpul di meja makan dan makan bersama."


"Hah..gitu ya. Ya sudahlah ayo kita pergi."


"Baik tuan."


Aku dan Vivi segera pergi dari tempat itu, tapi sebelum pergi, Vivi mengembalikan ruangan itu seperti semula. Dimana semuanya kosong dan hanya ada pedang besar di tengah ruangan.


Lalu Kami melanjutkan berjalan melewati lorong, menaiki tangga dan kemudian menutup kembali pintu masuk ke ruangan bawah tanah. Setelahnya kami melanjutkan berjalan ke ruang makan.


Selama berjalan ke ruang makan Vivi berkata kalau ruang makan di rumah ini sangat besar dan lebar. Jadi jangan terkejut. Dia juga berkata tentang cara duduk dan makan yang benar ketika di meja makan, supaya aku tidak kikuk nanti.

__ADS_1


Tentu saja aku memperhatikannya karena sejujurnya aku baru tahu kalau makan itu ada adabnya. dulu ketika bersama orang tuaku. Aku hanya makan saja tanpa memperhatikan etika. Bahkan kalau makan biasanya aku tidak memakai sendok atau garpu. Aku langsung makan saja pakai tanganku karena lebih simpel dan entah kenapa rasanya lebih enak pakai tangan ketimbang pakai sendok atau garpu.


Setelah cukup lama Vivi memberitahu kan tata cara makan yang baik. Tanpa sadar kami sudah sampai di depan pintu ruang makan.


Sama seperti pintu kamar mandi, pintu disini juga sama besarnya dengan pintu yang ada di kamar mandi. Walaupun aku sudah berkali-kali melihat pintu yang besar begini, tapi aku masih saja terpukau dan bertanya-tanya. Bagaimana mereka memasang pintu yang besar begini.


Vivi melangkah ke depan pintu dan mengetuk pintunya. Ini aneh kukira dia akan menyentuh nya dengan jarinya dan boom.. pintu terbuka. Tapi kali ini dia malah mengetuknya saja.


Tak lama setelah pintu diketuk. Pintu itu pun terbuka, tapi sepertinya bukan karena sihir ataupun mesin. Pintu itu terbuka karena ada beberapa orang yang menarik pintu itu dibelakang.


Perlahan lahan pintu itu terbuka dan memperlihatkan ruang makan yang terlihat megah dan mewah. Ketika pintu sudah terbuka lebar. Disana ada karpet merah yang membentang jauh ke meja makan. Disamping karpet merah itu ada banyak sekali pelayan yang membungkuk ke arah ku dan berkata secara bersamaan.


"Selamat datang, tuan Rakka. Silahkan masuk dan nikmati makanan yang sudah kami sajikan untuk anda."


Selain pernak pernik dan hiasan di ruang makan ini yang membuat ku terpukau. Ada satu hal yang benar-benar membuatku terkejut sampai mulutku menganga sedikit, Yaitu ada meja yang sangat lebar dan juga kursi yang sangat banyak di ruang makan itu. Kalau di hitung-hitung mungkin jumlah kursi di tempat itu ada sekitar 50-an


Aku bertanya tanya untuk apa meja sebesar ini dan kursi sebanyak ini. Kan keluarga ini cuma ada 4 kalau ada aku. Namun belum sempat aku memikirkan jawaban nya, aku sudah di suruh masuk oleh Vivi.


"Silahkan masuk tuan."


"Ah..oke."


Aku pun berjalan dengan di dampingi Vivi di belakang ku. Sesuai yang diperintahkan oleh Vivi tadi, kalau aku tidak boleh terlihat terkejut di tempat ini, dia harus terlihat acuh tak acuh walaupun banyak sekali keindahan di ruangan ini yang tidak boleh di lewatkan.


Aku harus terlihat menawan dan gagah di hadapan para pelayan. Aku harus menunjukkan kalau aku ini adalah bos mereka. Disaat aku berjalan menuju meja makan. Para pelayan masih membungkuk dan terus memujiku ketika aku lewat. Aku disitu hanya terus berkata terima kasih terus menerus sampai para pelayan nya habis.


Aku sudah sampai di ujung salah satu meja dan aku melihat ke ujung meja lainnya. Disana ternyata ada seseorang yang sedang duduk santai bersama pelayan nya yang berdiri di belakang nya.


Aku bertanya-tanya siapakah itu, karena tidak terlihat jelas dari sini. Lalu orang itu menyadari keberadaan ku dan seperti memberi isyarat kepada ku untuk mendekati nya. Melihat dia memanggil ku. Aku pun segera mendekati nya bersama Vivi.


Setelah cukup menyuruhku untuk duduk di dekatnya.


"Rakka. Sini duduk di dekatku."


Tapi seperti yang dikatakan Vivi sebelumnya kalau yang boleh duduk di samping istrinya paman tapoc hanya paman tapoc itu sendiri selaku suami sahnya. Sedangkan aku harus duduk di seberangnya karena aku adalah anaknya.


Aku pun menolak ajakan istri paman tapoc dengan sopan.


"Maafkan aku nona, tapi tempat itu untuk paman tapoc. Jadi aku harus duduk di seberang anda saja."

__ADS_1


Aku berjalan melewati istri paman tapoc dan duduk di seberang nya. Sebelum aku duduk, Vivi menarik kursiku dan ketika aku ingin duduk dia langsung menempatkan kursi itu di tempat aku ingin duduk.


__ADS_2