
"Oke...karena sejujurnya ini sudah agak terlambat. Jadi lebih baik kita segera makan saja." Paman tapoc tepuk tangan dua kali dan tak lama setelah itu dari pintu yang berada dibelakang ku dan di belakang paman tapoc muncul beberapa orang pria dan wanita yang berpakaian serba putih dengan memakai topi yang tinggi. Meraka keluar sembari membawa makanan yang sangat banyak dan tentu saja mewah.
Ada berbagai makanan yang mereka bawa, seperti sayuran yang terlihat hijau dan segar. Berbagai macam daging, dari daging rusa, ayam, sampai sapi. Ada juga makanan pencuci mulut seperti, kue, puding,dan juga eskrim.
Semua makanan itu di taruh di meja sampai tidak ada tempat yang tersisa di meja itu. Aku berpikir, untuk apa makanan sebanyak ini. Kan tidak mungkin kami berempat bisa menghabiskan semua makanan ini.
"Umm... paman, apakah semua ini harus kita habiskan. Ini ada banyak sekali lho. Mana mungkin manusia bisa menghabiskan semua ini."
"Hahaha...tentu saja kita tidak bakal menghabiskan semuanya sendiri. Karena setelah kita selesai makan, nanti gantian para pelayan dan semua pekerja yang ada di rumah ini yang akan makan semuanya sampai habis tak tersisa."
Jadi begitu... pantesan kok disini banyak sekali kursi. Ternyata untuk para pekerja nya makan nanti. Tapi sepertinya tak hanya karena itu deh. Mungkin kursi yang banyak ini juga untuk pesta makan ketika para bangsawan datang bertamu.
"Oh..begitu ya. Kukira kita harus menghabiskan semua ini."
Ketika semua makanan sudah tersusun rapi di meja makan. Orang berbaju setba putih itu langsung menyiapkan piring bersih dan juga peralatan makan yang sangat banyak di depan kami semua. Setelah itu dia memberikan kain bersih dan di tempatkan nya di paha kami. Sungguh beruntung sekali orang yang menempatkan kain di paha mama viona yang mulus. Eh...maaf. maksudku semua nya bekerja dengan baik dan mereka semua tidak memasang ekspresi apapun kecuali terus tersenyum kepada kami.
Setelah semuanya sudah beres dan semua makanan sudah tersusun rapi. Semua orang berbaju putih itu segera kembali ketempat mereka datang tadi.
"Nah..karena makanan sudah siap. sebaiknya kita segera makan, sebelum makanannya dingin."
Seperti yang dikatakan Vivi sebelumnya kalau mau mengambil makanan. Harus memerintah pelayan pribadi mu untuk mengambilkannya.
"Umm...Vivi"
"Iya tuan."
"Bisa ambilkan makanan pembuka yang tidak perlu menggunakan peralatan yang ribet dan makanan harus itu sedikit karena saat ini aku masih kenyang."
Oh iya...makan disini juga harus berurutan. Dimana kamu harus makan pembuka dahulu yang biasanya makananya hanya sayur-sayuran dan kemudian dilanjutkan dengan makanan utama, yang mana makanannya harus bisa mengenyangkan, seperti kentang atau roti dan tentu saja harus ada pendampingnya seperti daging, atau telur. Setelah itu kita harus memakan makanan penutup. Yang biasanya makanan nya itu manis-manis, seperti kue atau eskrim. Kalau minuman disini bisa memilih antara air putih, jus atau wine. Tapi karena aku masih belum cukup umur dan aku tidak terlalu suka yang manis-manis, jadi aku memilih air putih saja saat itu.
"Baik tuan, akan segera kuambilkan."
Lalu Vivi mengambil sebuah piring yang berisi wortel 1 iris, mentimun 1 iris dan tomat kecil 1 iris. Semua itu di tumpuk jadi satu yang kemudian diberi saus berwarna merah dan juga butiran-butiran aneh berwarna coklat dia atasnya.
Sejujurnya aku agak tercengang karena aku belum pernah melihat makanan sedikit ini sebelumnya, tapi aku tidak protes karena ini lah yang kuinginkan.
"Ini tuan."
"Terima kasih Vivi." Aku mengambil garpu, kemudian menusuk makanan itu dan memakannya. Ketika aku memakannya aku sungguh terkejut karena makanan ini sangatlah enak. Padahal ini cuma wortel, mentimun dan tomat yang di tumpuk jadi satu lho.
"Hmm...apa ini enak sekali."
"Itu namanya Grubke Scvalia."
"Grub apa..?"
"Sudahlah tuan, makan saja, Namanya tidak penting."
"Oh iya kau benar juga." Aku melanjutkan mengunyah makanan itu.
Makanan itu langsung habis dalam satu gigitan saja. Lalu aku menyuruh Vivi lagi untuk membawakan makanan utama.
"Baik Vivi, sepertinya sebelumnya, makanan yang tidak terlalu ribet dan juga sedikit."
"Baik tuan."
Vivi pun mengambil Daging steak yang sangat sedikit dengan kentang rebus dan sayuran seperti brokoli, kacang panjang dan wortel di samping daging itu.
Dan seperti sebelumnya makanan ini juga sangat enak, bumbu-bumbu nya meresap semua kedalam daging dan kentang rebusnya juga sangat manis dan mengenyangkan. Sayuran juga sangat segar dan enak.Aku itu tidak terlalu suka sayur, tapi kalau sayurnya enak begini, kalau makan setiap hari pun aku mau.
Daging steak itu pun habis dalam beberapa gigitan saja. Setelah selesai aku menyuruh Vivi untuk mengambil makanan penutup dan kali ini aku memilih sendiri
"Tolong ambilkan Puding itu Vivi." Aku menunjuk Puding kecil berwarna hijau. Kenapa aku memilih itu, ya...karena aku suka sekali puding. Teksturnya yang kenyal dan manisnya pas. Itu yang membuat ku suka dengan puding. Lagipula Puding ini tidak membuatmu gampang kenyang seperti Kue dan ini sangat cocok ketika aku lagi kenyang, tapi masih mau makan.
"Baik tuan." Vivi mengambil puding dan memberikan nya padaku.
Aku sangat senang, bahkan aku sampai menjilat bibirku karena tidak sabar ingin mencicipi nya. Aku mengambil sendok kecil yang khusus untuk puding. Aku menyentuh puding itu dan baru saja menyentuhnya sedikit, puding itu sudah terlihat bergoyang-goyang dan itu berarti kalau puding ini sangat kenyal.
Aku pun menyendok puding itu sedikit dan terlihat sangat gampang sekali aku membelah puding itu walaupun aku hanya menggunakan sedikit tenaga saja.
Sebagian kecil puding itu sudah ada disendok, dia terlihat bergoyang-goyang ketika aku mengangkat nya. Aku membuka mulutku dan memakan puding itu. Saat puding itu masuk mulutku, ada rasa manis dari berbagai buah memenuhi mulutku dan itu sangat...enak.Aku belum pernah merasakan puding seenak ini sebelumnya.
Dari banyak puding yang telah kumakan sepanjang hidupku, puding inilah yang paling enak dan itu dikarenakan puding ini memiliki berbagai rasa buah didalamnya. Biasanya paling banyak rasa yang ada di puding itu hanyalah 2, tapi puding ini memiliki 5 atau 6 rasa. Aku tidak tahu pastinya sih, mungkin masih banyak lagi, tapi yang jelas aku bisa merasakan 5 rasa buah dipuding ini.
Tidak seperti sebelumnya kalau setiap beberapa gigit langsung habis, kali ini aku mencicil sedikit demi sedikit puding itu agar bisa tahan lama.
Setelah beberapa menit akhirnya puding itu pun habis kumakan dan aku merasa sangat puas. Setelah makan, aku mengambil kain yang sudah dilipat dengan rapi di samping piring dan mengelap bibirku yang kotor.
"Ah.. makanan nya sungguh enak." Aku meletakkan kain itu di meja.
"Hmm...kau sudah selesai Rakka." Tanya Mama viona yang masih makan hidangan utama.
"Iya ma.." aku masih belum terbiasa memanggil nya mama.
"Dari yang kulihat, kau tadi baru makan sedikit lho, kamu nggak mau nambah?"
"Nggak lah ma...aku sudah kenyang. Lagipula kebutuhan nutrisi ku sudah terpenuhi dengan makanan yang kumakan tadi."
"Oh gitu ya. Kalau kau bilang begitu ya sudah lah..."
Selang beberapa menit Syo juga sudah selesai makan, tapi dia terlihat ingin muntah karena terlalu makan banyak tadi. Lalu Paman Tapoc dan Mama Viona juga sudah selesai makan secara bersamaan.
"Ah...chef kita memang tidak pernah mengecewakan kalau membuat makanan." Paman tapoc meletakkan kain untuk mengelap bibirnya di meja. Lalu dia berdiri dan berkata.
Baik..kalau begitu aku harus pergi lagi ke kerajaan untuk memberikan berkas penting." Paman Tapoc segera berjalan dengan pelayan pribadinya.
"Oh iya..Aku juga halus pelgi ke tempat paman John untuk latihan. Kalau begitu aku pelgi dulu ya kak." Syo segera berlari dengan tergesa-gesa sambil memegangi mulutnya.
"Ah.. iya Syo, hati-hati."
Ruangan itu sudah kosong, hanya ada Aku, Mama Viona dan kedua pelayan pribadi kami.
"Hmm... sepertinya tinggal kita berdua ya Rakka." Mama Viona menyatukan tangannya dan meletakkan dagunya di tangannya. Dia tersenyum seakan merencanakan sesuatu.
"Ah...i..ya nih." Aku tersenyum masam dan memalingkan pandangan ku sambil berkeringat dingin.
Lalu pelayan pribadi dibelakang nya tiba-tiba berkata.
"Maaf nyonya, tapi anda harus segera ke butik anda untuk mengurus masalah produk baru yang sedang bermasalah."
__ADS_1
Mama Viona terlihat kesal dan menjentikan lidahnya.
"Tch...hah...Ya sudah lah." Mama Viona berdiri dari tempat duduknya dan berkata kepadaku.
"Sayang sekali ya Rakka. Padahal kita sudah berdua, tapi ya sudahlah..."
"Hehehe...aku tidak mengerti apa maksud mu ma...."
"Kalau kita berdua lagi suatu saat, nanti kau akan mengerti." Mama Viona mengedipkan matanya kepadaku.
[Semoga hari itu tidak tiba.] Kataku dalam hati.
Aku tidak tahu apa yang direncanakan Mama Viona, tapi aku punya perasaan tidak baik tentang itu. Ketika Mama Viona sudah meninggalkan ruang makan, aku langsung menghembuskan nafas lega
"Hah...untung dia sudah pergi. Ada apa sih dengan Mama Viona? kenapa dia selalu menggoda ku begitu?"
"Nyonya memang begitu tuan. Nyonya suka sekali melihat ekspresi malu pria muda seperti, tuan."
"Apakah semua pria di begitu kan?"
"Tidak semua hanya yang dia kenal saja."
"Kalau begitu syukurlah, karena aku takut nanti kalau dia melakukan itu ke semua pria, dia akan di gituin."
"Gituin?"
"Ya...kau tahulah." Aku membuat simbol dengan tanganku, dimana ada angka nol dan satu.
"Oh.." Vivi terlihat tidak ingin membahasnya lagi, wajahnya terlihat malu-malu dan itu sangat imut.
"Oh iya Vivi.Sekarang....kita harus ngapain?"
"Hmm...Terserah anda tuan, saya akan ikut saja. Pokoknya saya akan pergi kemanapun tuan akan pergi, Selain kekamar mandi."
"Hmm...." Aku memikirkan, kemana aku mau pergi dan ngapain. Lalu aku terpikir kan kalau aku masih bingung dengan rute di rumah ini. Rumah ini sudah seperti labirin, banyak sekali lorong demi lorong yang bentuknya sama di rumah ini dan itu membuatku bingung.
"Bagaimana kalau kita keliling rumah ini, aku masih belum terbiasa dengan rute rumah ini dan mungkin saja aku bisa tersesat disini."
"Kalau sampai tersesat itu tidak mungkin, tuan. Karena saya akan selalu berada disisi anda."
"Ya itu memang benar, tapi bagaimana kalau kau sakit, kan kau tidak bisa disisiku saat itu."
"Walau saya sakit, saya akan tetap disisi anda, Tuan."
"Tidak bisa, kalau kau sakit, kau harus istirahat. Aku tidak mau sakitmu tambah parah gara-gara aku."
"Tapi..."
"Tidak bisa. Ini perintah langsung dariku."
Viona terdiam sejenak dan kemudian berkata.
"Baik tuan, kalau saya sakit, saya akan istirahat selama satu hari."
"Jangan satu hari, tapi sampai kau sembuh."
"Baik, sampai saya sembuh."
"Bagus. Nah kalau begitu, ayo kita buat perjanjian." Aku mengeluarkan jari kelingking ku.
"Apa yang harus saya lakukan, tuan." Vivi terlihat kebingungan.
"Kau tidak tahu janji kelingking."
"Maafkan saya, tapi saya tidak tahu."
Aku tersenyum dan kemudian aku memegang tangan kanan Vivi dan mengeluarkan jari kelingkingnya. Lalu aku menyatukan jari kelingking nya dan jari kelingking ku.
"Nah katakan janjimu tadi."
"Hah..baik. kalau saya sakit, saya akan beristirahat sampai sembuh."
"Nah, janji dikunci. Sekarang kau tidak bisa melanggarnya ya."
"Baik tuan."
"Oke.. sebelum kita pergi keliling rumah ini. Sebaiknya kau pergi makan siang dulu sini." Aku berdiri dari kursiku dan mempersilahkan Vivi untuk duduk.
"Tidak usah tuan, saya makannya nanti saja."
"Ah..sudahlah, duduk saja." Aku memaksa Vivi duduk.
"Tapi tuan..." Vivi tang duduk, berbalik badan ke arahku.
"Oh iya. Semua pekerja disini kalau mau makan, makan saja. Tidak usah mempedulikan aku masih disini atau tidak."
Para pelayan yang masih berdiri di tempat tadi, saling tatap-tatapan. Mereka bingung mau menuruti ku atau tetap berdiri disitu sambil menunggu ku keluar.
Karena mereka tidak bergerak dan malah bingung sendiri. Aku pun berkata pada Vivi.
"Oke...kalau begitu kau makanlah dulu. Aku tunggu diluar ya." Aku berjalan keluar.
"Saya ikut, tuan.." Vivi hendak berdiri dan ingin mengikuti ku, tapi aku menghentikan nya.
"Eitts...makan dulu saja, aku tidak mau kau sakit gara gara aku."
"Tapi tuan, saya harus berada disisi anda terus."
"Hah...okelah. aku mau ke toilet dulu dan saat aku di toilet, kau makanlah dulu, nanti setelah selesai, hampirilah aku di depan pintu." Tentu saja aku tidak akan ke toilet, karena aku juga tidak tahu dimana toiletnya.
"Tapi..."
"Kau mau ikut ke toilet? Mau mengintip ku?"
"Tidak tuan." Wajah Vivi langsung memerah.
"Nah maka dari itu, duduklah disini, makan lah makanan disini dan setelah selesai hampirilah aku. Oke."
Vivi terdiam sejenak dan kemudian berkata.
__ADS_1
"Baik tuan, saya akan makan dulu dan saya akan makan dengan cepat."
"Yah...terserahmu lah. Pokoknya aku akan menunggu mu di depan."
Aku pun pergi dari ruang makan, tapi sebelum pergi aku membawa botol wine yang berisi air putih. ketika pergi dan melewati karpet merah, para pelayan membungkuk dan berkata secara bersamaan.
"Terima kasih, Tuan Rakka."
Aku hanya bisa tersenyum sambil berjalan santai keluar. Ketika aku sudah diluar, pintu yang besar itu pun tertutup secara perlahan dan selang beberapa detik pintu itu akhirnya tertutup rapat.
Setelah pintu itu tertutup, aku bisa mendengar riuk-piuk para pelayan di dalam yang mulai terdengar ramai. Mulai banyak sekali orang bicara satu sama lain dan juga suara orang tertawa. Selain suara dari para pelayan, aku juga bisa mendengar suara piring dan sendok yang saling bersentuhan satu sama lain. Dari yang kudengar,Mereka terlihat sangat senang didalam, yah...siapa sih yang tidak senang ketika kau bisa makan-makanan mewah setiap hari.
"Hah..aku tunggu disini saja dah." Aku menunggu di depan pintu besar itu sambil meminum air yang ada di botol.
Baru saja aku menunggu 2 atau 3 menit. Vivi malah sudah keluar dengan mulut penuh makanan. Pintu itu di buka lagi, tapi tak terlalu lebar. Hanya selebar tubuh Vivi saja.
"Baik tuan, ayo kita keliling rumah ini." Kata Vivi dengan mulut penuh makanan.
"Hah...telan dulu itu."
Vivi menelan makanan itu dan berkata lagi.
"Ayo tuan."
"Kau tidak minum dulu?"
"Tidak usah tuan, ayo kita segera pergi saja."
"Hah...kau ini ya. Ini minum dulu." Aku memberikan botol berisi air putih itu.
"Ta..."
"Jangan berdebat lagi." Aku menghentikan dia berbicara, karena aku sudah bosan berdebat dengan dia terus.
Vivi terdiam dan kemudian mengambil botol itu secara perlahan
"Terima kasih tuan." Dia pun meminumnya. Bisa terdengar kalau ada suara teglukan ketika dia meminumnya dan ada setetes atau dua tetes air yang keluar dari mulutnya. Air itu mengalir melewati pipi, melewati lehernya dan sampailah di belahan kedua gunung nya. Ketika aku melihat air itu masuk ke gunungnya, aku langsung mengalihkan pandangan ku dan berpura-pura kalau aku tidak melihat nya. Walaupun begitu, wajahku terlihat memerah dan itu tidak bisa di sembunyikan.
Vivi sudah selesai minum, dia terlihat segar kembali. Setelah selesai dia langsung memberikan botol itu kembali kepadaku.
"Terima kasih atas minumnya, tuan."
"Sama-sama. Nah..kalau begitu ayo pergi."
"Ayo, Tuan."
Kami pun berangkat mengelilingi rumah ini, tempat yang kami jelajahi dahulu itu adalah lantai 1. Vivi berkata kalau lantai 1 itu adalah tempat yang berisi fasilitas fasilitas penting seperti, fasilitas untuk mandi, untuk makan, untuk olahraga, dan juga untuk tidur para pelayan dan pekerja.
Karena aku sudah mengunjungi kamar mandi dan ruang makan, jadi kami pun pergi ke ruang olahraga untuk melihat-lihat. Seperti kamar mandi dan ruang makan. Ruang olahraga juga memiliki pintu yang besar dan cara membukanya juga hanya harus menyentuhnya.
Didalam sana. Ada semacam tongkat besi yang di kedua sisinya ada semacam besi berbentuk lingkaran dan besi berbentuk lingkaran itu memiliki ukuran yang berbeda beda. Ada juga barang barang lain yang cukup aneh dan aku tidak tahu kegunaan nya apa.
Aku bertanya Vivi tentang barang-barang itu, tapi dia juga tidak tahu. Sejujurnya tempat ini malah tidak pernah di gunakan sama sekali setelah dibuatnya ruangan ini. Vivi bilang kalah tujuan dibuatnya ruangan ini adalah untuk membuatnya Paman Tapoc berotot, tapi paman tapoc terlalu sibuk dengan kerjaannya sampai lupa untuk mampir kesini.
Lalu karena sudah tidak apa-apa di ruangan olahraga, kami pun pergi ke tempat para pelayan dan pekerja tidur. Tentu saja aku tidak akan masuk sembarangan ke kamar mereka, aku hanya ingin masuk ke kamarnya Vivi saja dan untungnya Vivi memperbolehkan nya.
Sesampainya di dalam kamar Vivi, aku sangat terkejut, karena tidak ada apa-apa disana. Maksudku bukannya tidak ada apa-apa itu kosong melompong, tapi kamarnya Vivi tidak ada sesuatu yang spesial, itu hanya kamar biasa dengan kasur dan juga lemari baju.
"Umm...apakah semua kamar pelayan juga begini?"
"Umm...saya rasa tidak, semuanya memasang pernak-pernik aneh dikamar mereka."
"Oh...apakah kau tidak berniat memberikan sesuatu dikamarmu?"
"Umm...tidak, saya pikir itu hanya akan membuat kamar ini sempit dan panas."
"Hmm... gitu ya.....oke lanjut." Aku dan Vivi segera pergi dari tempat itu dan lanjut menjelajah lantai 2. Vivi bilang kalau dilantai 2 adalah tempat kamar-kamarnya keluarga paman Tapoc dan tentu saja ada kamarku disana yang sudah di siapkan sebelumnya.
Karena aku tidak mau asal masuk kamar orang lain, jadi lebih baik aku kekamarku saja.Sesampainya disana, aku sangat terpukau karena kamarku sangat bagus. Bagusnya bukan karena banyak hiasan atau barang-barang nya kelihatan mewah, tapi karena ada rak yang penuh dengan buku yang kusukai, yaitu Novel.
Kita cukup lama dikamarku karena aku harus memilah buku yang akan kubaca nanti. Setelah selesai kami hanya berjalan jalan di taman. Tidak ada yang kami lakukan disana, kami hanya duduk di bawah pohon sambil melihati awan. Terkadang ada pekerja yang lewat dan kami disapa olehnya. Tentu saja kami menyapanya kembali dengan ramah.
Beberapa jam duduk di bawah pohon dan akhirnya aku bosan. Aku pun kembali kekamarku karena tidak ada yang bisa kulakukan. Aku bisa saja ke ruangan bawah tanah dan bertarung dengan monster disana, tapi aku lagi tidak mood dan memilih kembali kekamarku untuk membaca buku yang sudah kupilah tadi.
Setelah itu aku hanya diam di kamar sampai akhirnya waktu makan malam. Sejujurnya kalau tidak diberi tahu Vivi sudah waktunya makan malam, mungkin aku akan terus dikamar sampai besok pagi.
Seperti makan siang sebelumnya, kami makan malam bersama dengan senang. Tidak semuanya senang sih, Paman Tapoc dan Mama Viona masih saja bertengkar ketika bertemu dan seperti biasa, Syo lah yang mengakurkan mereka kembali.
Ketika sudah malam, mereka sudah tidak sibuk lagi dan mencari refreshing an mereka sendiri. Syo beristirahat dengan membaca buku bersamaku di ruangan bawah tanah. Paman Tapoc berada di ruangan sebelumnnya yang berisi kertas banyak itu. Sedangkan Mama Viona berendam air panas.
Aku sebenarnya juga ingin mandi, tapi aku menunggu mau tidur saja nanti. Ketika waktunya tidur, Syo kembali ke kamar orang tuanya untuk tidur. Walaupun Paman Tapoc dan Mama Viona sering bertengkar, tapi ternyata mereka masih tidur bersama dan sejujurnya itu tidak kusangka.
Dan seperti yang kujanjikan sebelumnya, aku akan mandi sebelum tidur. Aku pun segera ke kamar mandi dan segera berendam air panas. Dan sejujurnya berendam air panas malam malam itu sangat enak. Di malam hari yang dingin, kita berendam air panas, beh....enak nya bukan main.
Setelah berendam cukup lama, aku pun akhirnya kembali ke kamarku, Vivi pun juga begitu, dia kembali kekamarnya karena sudah malam. Aku tak langsung tidur saat itu, aku ingin menghabiskan bukuku yang tinggal sedikit lagi selesai, tapi belum saja selesai aku sudah tertidur saja. Yah...mungkin aku terlalu kelelahan atau mungkin juga karena berendam air panas tadi yang membuat tubuhku sangat rileks dan itu membuatku gampang tertidur.
******
Aku telah ditangkap....aku...di jadikan hewan peliharaan mereka. Aku selalu dipaksa untuk melakukan hal yang mereka suruh, termasuk memuaskan nafsu meraka, tapi tak hanya aku yang diperlakukan begitu. Ada 10 orang lainnya yang memilik nasib sama denganku.
Makanan disini sangat buruk, bahkan lebih buruk dari makanan hewan peliharaan yang asli. Walaupun begitu, kami harus tetap memakannya karena kami tidak mau mati..
Bertahun-tahun kami di jadikan peliharaan mereka dan itu membuat kami terbiasa dengan perlakuan meraka. Tunggu... sepertinya tidak semuanya...itu....hanya aku saja. Semuanya ternyata telah mati dan mayat mereka dibiarkan membusuk begitu saja. Padahal dari semua itu ada satu teman baikku.
Aku akhirnya jatuh sakit dan itu adalah sakit yang parah dan bisa membuatku mati kapan saja. Akhirnya penantian lama tiba juga. aku...aku akan menyusul keluarga ku dan teman-teman ku di atas sana. Itulah yang kupikirkan.
Sebelum aku mati, mereka memberiku sesuatu dan itu membuat tubuhku langsung pulih. Setelah di beri obat itu, tubuhku terasa aneh. Seluruh tubuhku rasanya terbakar. Aku semakin menggila karena rasa sakit yang terus bertambah seiring waktu dan ketika rasa sakit itu sudah mencapai puncaknya aku pun berteriak dengan sangat keras.
"AAAAAAA....!!!"
Karena teriakan itu aku akhirnya terbangun dari mimpi yang aneh itu, tapi entah kenapa suara jeritan itu masih ada di kupingku. Suara itu tidak bisa berhenti walau aku sudah menggoyang kepalaku.
Lalu tak lama setelah itu, aku menyadari kalau aku tidak sedang di kamarku, aku berada di kamar yang tidak asing. Ini adalah kamarnya Paman Tapoc dan Mama Viona, tapi kenapa aku disini.
Karena aku seperti memegang sesuatu aku pun melihat tanganku dan ada pisau dapur dengan bercak merah di sisi tajam pisau itu. Aku merasa aneh, kenapa aku memegang pisau dapur dan bercak merah apa ini, Aku pun berbalik badan dan ada seorang pelayan dan itu adalah pelayannya Paman Tapoc, dia sedang menjerit dengan keras. Jadi suara jeritan itu dari dia, tapi kenapa dia menjerit.
Pelayan itu menjerit sambil menghadap ke atasku. Aku pun penasaran kenapa dia menjerit. Jadi aku menghadap ke depan lagi dan melihat ke atas.
Lalu...semua jawaban yang ada dipikiran ku tadi, seketika langsung terjawab. Tepat di atasku ada Paman Tapoc, Mama Viona dan Syo yang tertancap di dinding dengan ditusuk bagian dada mereka dengan sebuah tongkat besi.
__ADS_1
Aku menjatuhkan pisau yang kupegang kelantai dan kemudian berkata dengan wajah terkejut.
"Apa...yang telah kulakukan?"