
"Alam Ghaib? Apa itu?" Aku mengeja kata itu.
"Aku tidak tahu, tapi kita akan segera tahu."
Kakek membalik halaman itu sekali lagi, dan di halaman kedua ada sebuah lukisan yang sangat bagus, tapi tidak dengan isinya.
Terlihat di lukisan itu ada sebuah kelompok makhluk aneh yang tidak pernah kulihat sebelum nya. Aku sudah membaca banyak buku tentang makhluk-makhluk yang hidup di dunia ini dan dari yang kutahu, tidak ada makhluk seperti ini sebelumnya.
Tubuh-tubuh makhluk itu mungkin seperti tubuh iblis yang terlihat besar dan mengerikan, tapi mereka semua tidak memiliki wajah sama sekali. Ada satu orang yang terlihat seperti manusia, tapi tubuhnya berwarna hitam pekat dan juga tidak memiliki wajah seperti makhluk yang lain
Semua makhluk di lukisan itu sedang menyerang desa manusia dan ada salah satu dari makhluk itu sedang melempar kepala manusia ke manusia lain. Di lukisan itu pokoknya penuh dengan pembunuhan yang kejam.
Di bawah lukisan itu ternyata ada sebuah tulisan yang tidak kukenali dan tulisan itu berbentuk lingkaran yang membuat Tengah tengah halaman itu kosong.
"Tulisan apa ini? Tidak bisa dibaca dan malah ada halaman kosong di tengah-tengah."
"Biar kulihat kek." Aku meminta buku itu dari kakek.
Kakek pun menyerahkan buku itu secara suka rela.
"Hmm...." Aku mengamati buku itu dengan cermat. Lalu aku teringat surat di kamar paman Tapoc.
"Oh iya....mungkin surat tadi ada sebuah petunjuk." Aku menatap Rika. Yang lain pun juga begitu.
"Kenapa kalian menatap ku begitu!?"
Kami masih menatapnya, supaya Rika mengambilkan surat yang tertinggal di kamar sebelumnya.
"Argh...baiklah, aku ambilkan." Rika pun segera pergi untuk mengambil suratnya. Tak butuh waktu lama, Rika pun kembali sambil membawa suratnya yang kemudian surat itu di berikan kepadaku.
"Terima kasih, Rika." Aku menerima surat itu.
Lalu aku membaca surat itu dengan lebih teliti lagi. Namun walaupun aku sudah membaca surat itu berkali-kali, aku tetap tak menemukan petunjuk sama sekali. Surat itu hanyalah surat biasa.
"Hah...percuma saja. Itu cuma surat biasa." Aku membuang surat itu.
"Kalau begitu untuk apa buku ini dong. Sia-sia tahu tidak aku menuruti perintah kalian terus."
"Ini aneh, aku yakin ada sesuatu yang inging disampaikan Rick di buku ini." Kakek memegangi dagunya.
Lalu tak lama setelah itu terdengar suara gemericik air yang semakin lama, semakin deras. Ternyata suara itu adalah suara hujan deras yang ingin mengguyur rumah ini.
"Hujan ya?" Tanyaku.
"Hujan! Waduh, Rika! Cepat cari ember sebanyak-banyaknya." Kakek segera berdiri dan kemudian pergi mencari ember.
"Hadeh....begini lagi deh." Rika juga ikut berdiri, ingin mencari ember.
"Ada apa kek?" Tanyaku.
"Aduh...maaf ya. Atap rumah kakek itu banyak yang bocor, jadi kalau hujan begini. Kita harus siap-siap ember agar rumah ini tidak banjir." Kata kakek sambil membawa banyak sekali ember di tangannya.
"Oh gitu ya, kalau begitu biar kubantu kek." Aku mencoba berdiri sendiri dan ternyata masih belum bisa.
__ADS_1
"Hati-hati tuan, biar saya tolong." Vivi membantuku berdiri.
"Terima kasih Vivi, maaf telah merepotkan mu."
"Tidak apa-apa tuan."
"Hei..." Rika memanggil kami. Jadi kami menengoknya. Ketika baru saja menengok, tiba-tiba ada tongkat kayu yang terlempar ke arah wajahku.
"Ups...maaf. itu tongkat kayu untuk membantu mu berjalan. Dulu itu punya ku ketika kakiku patah, tapi sekarang itu tidak berguna. Jadi kuberikan padamu." Rika meminta maaf dengan wajah yang datar dan bagiku dia itu seperti tidak iklhas meminta maaf.
"Aduh...terima kasih kurasa." Aku mengambil tongkat kayu itu sambil memegangi kepalaku yang masih sakit.
Tongkat kayu itu panjang nya setengah badanku, jadi lumayan enak untuk berjalan. Walaupun berjalan ku masih tertatih-tatih, tapi setidaknya aku bisa berjalan sendiri, tanpa bantuan Vivi.
Sesudah bisa berjalan sendiri, aku dan Vivi membantu Kakek untuk menyebarkan Ember di setiap titik bocor. Ternyata bocornya sangat banyak, jadi kami agak kesusahan meletakkan ember di titik bocor karena banyak sekali ember yang menghalangi jalan.
15 menit kemudian, kami akhirnya selesai meletakkan ember di setiap titik yang bocor. Disitu kami tidak bisa duduk, karena saking banyaknya ember di situ.
"Oke wow...banyak sekali. Kok bocornya bisa banyak gini sih kek? Apakah kakek gak pernah punya niatan untuk memperbaiki nya."
"Mau memperbaiki gimana? Uang aja gak punya?"
"Memangnya paman Tapoc gak pernah ngirim uang kesini ya. Kan dulu kakek pernah menjaganya, masa dia gak pernah ngirim duit sepeser pun."
"Ya dia memang kirim sih, tapi...." Kakek mengalihkan pandangannya seakan ingin menghindari pertanyaan ini.
"Dia menggunakan uang itu untuk main judi." Rika melanjutkan bicaranya kakek.
Awalnya aku kasihan padanya karena dia hidup miskin di tempat ini dan mungkin itu karena paman Tapoc tidak mengirimkan uang, tapi Karena Rika mengatakan itu aku tidak jadi menghasihani dia dan menatap sinis kepadanya.
"Menggandakan, menggandakan. Uang hilang, iya."
"Tapi aku yakin suatu hari aku bisa menang, Rika."
"Sudah tidak ada suatu hari, si pemberi uang sudah meninggal dan kita jatuh miskin gara-gara Kakek."
Kakek dan Rika saling berdebat satu sama lain. Karena Vivi tidak peduli dengan itu dia melihat sekitar rumah ini dan dia melihat surat tadi yang tertindih ember yang penuh air.
Dia pun menghampiri surat itu dan mengambilnya. Ketika dia mengambilnya dan membalik surat itu. Dia terkejut dan memanggil mu dengan keras.
"Tuan, tuan. Lihat lah ini." Vivi menghampiriku dan memberikan surat tadi.
"Ada apa, Vivi?" Aku menerima surat itu dan disitu muncul huruf L yang muncul di belakang surat itu.
"Tadi surat itu tertindih ember disana itu."
Aku melihat ke ember penuh air dan menyadari sesuatu.
"Air...kita butuh air."
Aku meletakkan surat itu di lantai, walaupun sempit, tapi aku tidak peduli. Yang penting aku bisa meletakkan surat itu di lantai dan membasahinya dengan air.
Ketika aku sudah meletakkan surat itu di lantai, aku mencelupkan tanganku ke ember di dekatku dan kemudian menempelkan tanganku yang basah ke surat itu.
__ADS_1
Tak lama setelah itu muncul lah huruf demi huruf di kertas itu. Yang kemudian huruf-huruf itu membentuk sebuah kata dan kalimat.
"Hebat sekali, apa ini sebuah sihir?" Kata kakek.
"Bukan, ini adalah sains."
Semua huruf sudah terlihat dan membentuk sebuah kalimat yang pendek. Disitu tertulis....
Aku adalah cahaya di tengah-tengah kegelapan, gapai lah aku dan katakan, Gavaita.
"Apa maksudnya kalimat ini?" Tanya Kakek.
"Hmm....Cahaya." aku memegang daguku dan teringat tentang tulisan panjang dengan lingkaran di tengah-tengah tulisan di buku hitam tadi.
"Buku tadi mana, kek?"
"Dimeja sana tuh."
Buku nya ternyata di letakkan di meja yang dimana di situ aman dari tetesan air.
"Baiklah, aku ambilkan." Belum saja kami menatap nya, tapi Rika sudah mengajukan dirinya untuk mengambilkan buku yang ada di meja.
Dia melewati ember-ember yang menghalangi jalan, mengambil buku itu dan kembali sambil membawa buku hitam. Setelah sampai dia memberikan buku hitam itu kepadaku.
"Terima kasih." Aku menerimanya dan langsung membuka halaman yang ada lukisan dan tulisan aneh tadi.
"Baiklah, kegelapan berarti tulisan yang aneh ini dan cahaya berarti lingkaran kosong di tengah tengah tulisan ini. Kalau begitu gapai lah cahaya berarti menyentuh kan tangan ke lingkaran di buku ini." Aku mengelap tanganku yang basah dan kemudian menempelkan tanganku di tengah-tengah lingkaran itu.
"Setelah itu katakanlah, Gavaita." Setelah aku mengatakan itu, tiba-tiba buku itu terbang dan itu membuat seluruh ruangan juga ikut terbang seakan tidak ada gravitasi di dalam rumah itu.
"A-apa ini?" Kata Kakek yang terlihat panik.
Buku itu pun seperti membalik halamannya sendiri dan saat itu juga buku itu bercahaya terang yang membuat tempat itu terang benderang. Kami tidak bisa melihat apa yang terjadi karena buku itu bersinar sangat terang.
Lalu setelah beberapa detik buku itu jatuh dan menutup sendiri yang kemudian barang-barang yang berterbangan tadi juga ikut jatuh, tapi walaupun sudah jatuh meraka masih dalam keadaan semula. Tidak ada perubahan di situ, semuanya masih dalam posisi yang sama. Bahkan ember nya masih menampung air yang bocor tadi.
"Apa yang terjadi? Sepertinya tidak ada perubahan?" Kata Rika.
Aku pun melihat kearah buku hitam yang berada di lantai. Yang kemudian aku mengambil buku itu untuk memeriksa apakah ada yang berubah di buku itu. Namun ketika kubuka, isinya masih sama.
"Tidak ada yang berubah."
"Lalu untuk apa tadi?" Rika terlihat jengkel
Lalu ketika kami sudah kecewa, tiba-tiba ada yang bicara di belakang kami.
"Halo."
"Waa...!
Kami terkejut dan secara reflek terjatuh dan membuat ember-ember di sekitar kami jatuh dan menumpahkan air yang ada di dalamnya
Kami melihat kebelakang siapa yang berbicara tadi, ternyata orang itu adalah seorang pria paruh baya, yang sangat kurus dan juga sudah jenggotan. Aku tidak tahu siapa itu, tapi sepertinya kakek tahu karena dia terlihat menganga sedikit.
__ADS_1
"Rick."