
"Hei....Apa yang terjadi?" Tanya orang yang memegang cambuk.
Lalu tak lama setelah itu muncul Geri dan John yang telah kembali dari makan siang.
"Ada apa ini?" Tanya John
"Tidak ada tuan John, cuma...dia tiba-tiba menangis dan itu membuat ku jadi tidak tega menyiksanya lagi."
"Menangis?"
John kemudian berjalan menghampiriku dan memegang daguku untuk melihat wajah menangisku.
"Heh...ternyata kau juga bisa menangis ya." Dia membuang mukaku dengan kasar dan kemudian menghampiri orang yang memegang cambuk. Yang kemudian dia merebut paksa cambuk itu.
"Dengarkan kalian semua! Dia ini adalah penjahat. Jadi kalian tidak perlu mengasihani dia."
"Tapi tuan... Dia itu masih kecil, apakah penyiksaan seperti ini tidak terlalu berat untuknya." Salah satu orang di gerombolan bertanya. Ini aneh padahal mereka tadi sangat senang melihatku tersiksa, tapi sekarang dia malah membela ku. Apakah perubahan sikap ini karena aku menangis tadi, atau kah karena hal lain.
"Hei....biar kuberitahu kalian sesuatu, dan mungkin ini bisa membuat kalian berubah pikiran. Anak ini ya...apakah kalian tahu apa yang telah di perbuat nya."
Semua orang menggeleng tidak tahu. Dan itu sudah biasa bagi mereka, karena kalau ada orang yang di gantung disini pasti adalah penjahat yang harus dihukum dan mereka tidak peduli apa yang telah mereka perbuat sebelum nya.
Mungkin kalau ada orang iseng menggantung orang disini, mungkin orang itu sudah babak belur keesokan harinya, karena di siksa para warga.
"Heh...sudah kuduga. Baiklah kalian semua, dengarkan aku baik-baik. Anak ini ya....telah membunuh seorang jenius di kerajaan ini. Kalian bisa tebak siapa?"
Semua orang berpikir keras karena banyak orang jenius di kerajaan ini dan pada akhirnya mereka menggeleng tidak tahu.
"Baiklah, akan kukasih petunjuk lain. Orang itu telah mengubah dunia ini dan dia selalu masuk koran setiap tahun."
Mereka semua tidak perlu banyak berpikir, mereka sudah tahu siapa orang itu, karena hanya ada 1 orang yang berhasil mengubah dunia ini dan itu adalah Tapoc.
__ADS_1
Semua orang menjawab Tapoc, tapi mereka masih ragu, karena tidak mungkin Tapoc terbunuh.
"Benar sekali... Semua yang ada dipikiran kalian itu benar... Anak ini telah membunuh Tapoc, Salah satu teman terbaik ku. Tapi dia tak hanya membunuh Tapoc, dia juga membunuh istrinya, bahkan anaknya Syo,yang juga termasuk muridku."
Semua orang sangat terkejut. Mereka sangat kenal Syo, Karena dia itu termasuk bocah jenius dan juga imut di kerajaan ini. Dikatakan jenius ini bukan di akademi, tapi di pertarungan. Sebagai anak kecil dia ini sangat pintar bertarung, bahkan dia sudah seperti monster hunter tingkat menengah di umur yang bisa dikatakan masih dini.
Mereka terkejut sekaligus marah kepadaku. Mereka langsung mencaci maki aku seperti, dasar monster, tega sekali kau brengsek, lebih baik kau pergi ke neraka saja iblis. Mereka mengataiku begitu sambil melemparkan kerikil dan buah busuk yang masih berserakan di tanah.
Aku disitu juga terkejut( tapi ekspresi wajahku tetap sama) dengan perubahan sikap mereka yang sangat drastis itu. Yah..mungkin itu wajar sih. Siapa sih yang tidak marah ketika idola mereka di bunuh seseorang. Bahkan aku sekalipun juga akan marah dan berusaha mencari pembunuh itu.
Aku disitu hanya terdiam, ketika dilempari kerikil dan buah busuk. Lagipula aku juga tidak bisa apa-apa sih, karena tangan dan kakiku diikat cukup kuat, sampai membuat diriku tidak bisa bergerak bebas.
"Nah... bagaimana semuanya, apakah anak ini harus dikasihani karena telah membunuh Tapoc dan keluarga nya."
Semua orang menjawab "Tidak" dengan serentak
"Bagus..! Kalau begitu kalian tahu kan apa yang harus kalian lakukan."
Semua orang langsung berbondong menyiksaku dan kali ini mereka melakukan nya lebih kejam dari sebelumnya. Tentu saja kali ini aku terus berteriak karena mereka meninju lukaku dengan keras, mencambuki diriku lebih keras lagi sampai membuat lukaku terbuka lebih lebar. Meremukkan jari-jariku. Pokoknya mereka kali ini sudah tidak seperti menghajar manusia lagi, tapi sudah seperti menghajar monster yang sudah terpojok dan tidak bisa apa-apa lagi.
"Umm...tuan. apakah dia akan baik-baik saja."
"Ada apa Geri? Apakah kau juga kasihan dengan anak itu?"
"Bu-bukan tuan, tapi aku hanya takut kalau dia nanti mati dan malah tidak bisa memberitahu motif dia membunuh keluarga Tapoc."
"Heh...tenang saja. Dia tidak akan mati. Lagipula aku sudah tidak peduli lagi dengan motif pembunuhan nya. Aku sudah memutuskan kalau dia itu punya kepribadian ganda dan dia tidak ingat kalau dia sudah membunuh keluarga Tapoc."
"Oh... kepribadian ganda. Itu sudah pernah terjadi pada kasusmu dulu kan, tuan."
"Benar... sudah 5 tahun berlalu sejak saat itu."
__ADS_1
"Benar tuan, kalau gak salah kasusnya hampir sama dengan ini kan. 1 keluarga bangsawan dibunuh dengan cara yang mengenaskan dan tersangkanya adalah pembantunya sendiri. Dulu tuan sudah mengumpulkan beberapa bukti dan semua bukti itu mengarah ke pembantu itu, tapi anehnya dia tidak mau mengakui nya dan malah bunuh diri, tak lama setelah itu."
"Benar. Itu adalah salah satu kasus yang kubenci."
"Iya...dan ini juga salah satunya kan, tuan."
Setelah Geri mengatakan itu, John terlihat jengkel dan pergi dari kerumunan itu.
"Eh...tuan John, ada apa?"
Geri merasa bingung, kenapa dia tiba-tiba marah. Apakah aku salah bicara tadi? Geri pun segera mengejar John dan meminta maaf.
"Tunggu tuan John. Apa aku tadi mengatakan hal yang salah, Tuan. kalau begitu maafkan aku tuan." Geri memegangi mantelnya sambil terbungkuk sedikit untuk meminta maaf.
"Diamlah! Dan lepaskan tanganmu dari mantelku."
John terlihat marah dan dia menarik mantel yang dipegang Geri dengan kasar.
"Tapi tuan...." Geri terus merengek layaknya anak kecil yang tidak dibelikan mainan.
"Hah...! Sudahlah! Belikan aku minuman, nanti akan kumaafkan kau."
Geri terlihat senang dan kemudian dia memeluk John sambil berkata.
"Terima kasih tuan, kalau begitu ayo kita ke bar."
John yang terlihat jijik pun segera menendang Geri sampai dia berguling-guling layaknya bola. Walaupun sudah ditendang cukup keras, Geri masih bisa tersenyum lebar dan berdiri lagi di samping John.
Setelah Geri dan John pergi. Para warga masih menyiksaku dengan gilanya, mereka sudah tidak peduli lagi kalau aku bakal mati nanti.disitu Aku juga tidak peduli kalau aku juga mati nanti. Aku sudah pasrah, apapun yang akan terjadi nya selanjutnya aku sudah tidak peduli.
Mereka terus melakukan penyiksaan sampai hari sudah mulai gelap. Setelah hari sudah menjadi malam hari, mereka akhirnya berhenti menyiksaku. Mereka berhenti bukan karena capek, tapi mereka harus ke tempat ibadah mereka.
__ADS_1
mereka dan berdoa pada tuhan mereka dan itu dilakukan sampai matahari terbit lagi.
Aku tidak tahu ini bisa di bilang beruntung atau tidak. Tapi yang jelas aku akhirnya bisa beristirahat malam ini karena hari ini adalah malam purnama.