Mencari Pecahan Pohon Suci

Mencari Pecahan Pohon Suci
Sampai Jumpa di Alam liar part 1


__ADS_3

Seminggu kemudian.


Hari ini adalah hari dimana ayah dan ibuku akan pergi berpetualang dan....mereka tidak mengajakku.


Aku sudah siuman 3 hari yang lalu. Setelah siuman aku tidak ingat kejadian minggu kemarin sama sekali. Yang kuingat hanyalah, ayahku mengajak ku keluar kerajaan untuk latihan terakhir ku. Setelahnya aku tidak ingat sama sekali.


Saat siuman aku juga terkejut melihat bekas luka yang cukup besar di bagian lenganku. Ibuku berkata kalau aku hampir saja mati kala itu, tapi untungnya aku bisa selamat gara-gara obat sihir tingkat tinggi yang ibu berikan padaku sebelumnya.


Di pagi buta, sudah ada suara berisik dari rumahku. Suara itu adalah suara ayah dan ibuku yang sedang mempersiapkan barang-barang untuk berpetualang nanti.


Saat itu aku masih tertidur lelap, tapi aku terbangun karena suara itu. Aku pun keluar kamar untuk memeriksa nya. Dan disana aku melihat banyak sekali barang-barang yang sudah tersusun rapi di meja.


Di meja itu ada, peta, lentera, alat untuk membuat api, beberapa tanaman obat-obatan, dan juga peralatan bertarung mereka. Tapi dari banyaknya barang di meja, ada satu barang yang membuatku terpukau, yaitu pedang legendaris Adamas yang konon tidak bisa patah.


Pedang itu berwarna hitam kebiruan dengan motif seperti api di bagian mata pisaunya. Di bagian genggamannya juga ada motif seperti tanaman rambat berduri dan di tengahnya ada sebuah motif mawar berwarna hitam.


Bisa di bilang ini pertama kalinya aku melihat pedang itu, karena ayah tidak pernah mau menunjukkan nya padaku sebelumnya. Ayahku bilang pedang itu memang tidak bisa patah sama sekali. Dia pernah mencoba mengadunya dengan sebuah batu raksasa dan batu itu yang terbelah dua. Tapi sebagai ganti kekuatan yang luar biasa itu, pedang itu sangatlah berat. Hanya orang-orang yang punya kekuatan lebih, seperti ayahku yang bisa mengangkat pedang itu.


"Selamat pagi ayah, ibu."


"Oh..kau sudah bangun ya, maaf ya sepertinya kami terlalu berisik, sampai membuatmu terbangun." Ibuku sedang memasukkan barangnya di tasnya.


"Tidak apa-apa kok, lagipula ini hari terakhir kita bertemu. Jadi aku ingin bersama kalian lebih lama lagi."


Ayah dan ibuku saling menatap dan kemudian mereka mendekatiku dan memelukku.


"Maaf ya nak, kami tidak bisa membawamu." Ibuku memelukku sangat erat.


"Tidak apa bu. Nggak usah minta maaf, lagipula ini salahku karena tidak bisa kuat dalam 3 tahun latihan ini."


Mereka berdua melepaskan pelukannya dariku.

__ADS_1


"Tidak apa-apa nak, kau masih ada waktu. Nanti ditempat temanku, kau bisa berlatih lebih serius lagi. Dari yang kudengar, baru-baru ini dia sudah menyelesaikan penemuan terbarunya. Dan dia berkata kalau penemuan nya ini bisa membuat siapapun bisa tambah kuat dalam beberapa minggu saja."


Aku tersenyum tipis.


"Yah..semoga saja begitu."


Ayah dan ibuku tersenyum dan kemudian ayah teringat sesuatu.


"Oh iya..ada sesuatu yang ingin kuberikan kepadamu."


"Hmm?"


Ayahku masuk kamarnya dan kembali lagi sambil membawa sebuah gelang polos berwarna hitam.


"Ini dia. Kuberikan ini untukmu sebagai kenang-kenangan dari kami."


"Gelang? Apakah ini salah satu alat sihir. Kalau benar, ini kebangetan sih. Kalian tahu kan aku tidak bisa menggunakan alat sihir sama sekali." Aku mengambil gelang itu dan membalik-balikannya


"Bukan...itu bukan alat sihir, aku sudah memeriksanya dan itu hanya gelang biasa."


"Kau ini banyak tanya ya....mau atau tidak sih. Aku ambil balik lho."


"Hehehe...jangan dong. Aku kan penasaran."


Sebenarnya aku sangat senang diberi gelang itu, walaupun itu didapat dari pasar atau tempat sampah pun. Aku pasti tetap menyukainya karena ini adalah hadiah terakhir dari orang tuaku angkatku yang telah menjagaku dari bayi.


"Terima kasih ayah, ibu. Aku terima gelang ini."


Aku pun memakai gelang itu ditangan kananku. Gelang itu tenyata tidak terlalu pas dengan tangan ku. Dia agak sedikit kebesaran. Jadi agak longgar di tanganku.


"Agak kebesaran ya, tapi kalau kau latihan fisik, mungkin gelang itu bisa pas."

__ADS_1


"Yah..mungkin saja."


"Oke.. hadiah sudah diberikan. Sekarang bantu kami menyiapkan barang-barang kami, oke."


"Ternyata ini tujuan kalian memberikan gelang ini."


Aku pun langsung kecewa setelah ayahku mengatakan itu. Kukira gelang ini untuk kenang-kenangan, ternyata untuk mengancamku.


"Mau atau tidak, nanti aku ambil lagi lho gelangnya."


"Iya iya, aku bantu."


Aku pun membantu ayahku dan ibuku menyiapkan barang-barang mereka, atau mungkin lebih tepatnya kalau aku yang menyiapkan barang-barang mereka. Setelah menyuruhku, ibuku pergi untuk memasak, sedangkan ayahku malah pergi untuk membeli persediaan untuk perjalanan nanti.


Setelah beberapa menit aku menyiapkan barang-barang mereka. Aku akhirnya selesai dan juga capek karena ternyata barang bawaan mereka sangatlah banyak dan juga sangat berat.


Aku sebenarnya tidak menyangka, selama ini mereka berdua selalu membawa barang bawaan seberat ini berpetualang kemana-mana. Jadi wajar saja kalau ayahku sangatlah kuat dan juga cepat.


Beberapa menit setelah aku selesai. Ibuku juga sudah selesai memasak sarapan. Setelah itu ayahku juga sudah kembali sambil membawa daging rusa yang dikeringkan.


Setelah semuanya sudah siap, kami pun sarapan bersama untuk terakhir kalinya. Menu sarapan kali ini adalah telur mata sapi, 2 potong daging sapi panggang dan juga beberapa sayuran, seperti wortel dan jagung.


Selama sarapan kami juga bercerita tentang kenangan kami selama di rumah ini dan juga bercerita tentang mereka yang mendapatkan pedang Adamas.


Mereka bercerita kalau dulu pedang adamas di temukan di Negeri raksasa, di sebuah reruntuhan kuno di bawah tanah. Dulu banyak sekali orang yang ke tempat itu karena banyak sekali rumor, kalau di tempat itu banyak sekali harta karun. Tapi dari sekian banyak orang yang pergi kesana, tidak ada satupun yang kembali.


Tidak ada yang tahu, apa yang ada disana, apa yang menanti mereka, monster apa yang mendiami reruntuhan itu. Tidak ada yang tahu.


Lalu saat itulah ayah dan ibuku masuk ke dalam reruntuhan itu. Didalam sana ternyata banyak sekali jebakan dan di dijebakan itu ada banyak sekali tulang belulang manusia yang tertusuk sebuah pedang dan tombak.


Walaupun jebakan disana banyak, tapi itu bukan apa-apa bagi ayah dan ibuku. Mereka melewati semua jebakan itu dengan mudahnya.

__ADS_1


Setelah melewati banyaknya jebakan mematikan, mereka akhirnya mereka sampai di ujung reruntuhan itu. Disitulah mereka melihat pedang adamas yang menancap di tengah-tengah ruangan yang sangat besar.


Yang menanti mereka disana tidak hanya pedang adamas. Disitu juga ada sebuah mekanisme bergerak raksasa(Robot raksasa). Di sekitar pedang itu juga banyak sekali tulang belulang yang lebih banyak ketimbang sebelumnya.


__ADS_2