
Kita sudah sampai di alun-alun. di sana sudah ada 2 tiang yang terbuat dari batang kayu dan juga sebuah cambuk yang masih di ikatkan di salah satu tiang. Disaat kami datang, ada seorang pria gendut dengan rambut botak di atas nya doang, menghampiri kami dengan tersenyum senyum.
"Oh.. Tuan John. Apakah kau membawa penjahat lagi untuk disiksa."
"Kau benar Geri dan kali ini kubawakan penjahat yang paling kubenci yaitu dia telah membunuh temanku dan juga muridku."
"Temanmu? Siapa itu tuan?"
"Si Tapoc dan keluarga nya. Mereka di bunuh dengan cara yang sangat kejam."
"Tapoc? Tuan Tapoc yang terkenal itu tuan?"
"Iya, dan anak ini lah yang membunuhnya."
"Astaga, kenapa dia melakukan itu semua?.apakah dia punya dendam dengan Tuan Tapoc?"
John terdiam dan tak menjawab.
"Tuan?"
"Inilah yang kubenci dari anak ini. Aku masih belum tahu motif dari anak ini."
"Apa! Mana mungkin Tuan John sang detektif hebat, tidak tahu Motif pembunuhan dari anak ini."
"Tapi itulah kenyataannya. Sejujurnya aku membawa anak ini kesini untuk mengintrogasinya dengan cara penyiksaan."
"Begitu ya, tapi apakah tuan John yakin kalau anak inilah yang telah membunuh tuan Tapoc. Nanti kalau sampai salah, kita bisa kena imbasnya lho."
"Kalau itu aku sudah yakin, mungkin. Aku sudah mengumpulkan beberapa bukti dan semuanya mengarah ke anak ini, tapi yang masih kubingung kan, kenapa dia melakukan itu semua?"
"Hmm....kalau begitu bagaimana kalau kita mulai saja, tuan. Mungkin dengan beberapa cambukan, anak ini bakal mengaku."
"Hum...Kalau begitu ayo lakukan."
__ADS_1
Kemudian bajuku di copot dan celana ku juga di copot dan di ganti dengan celana yang lebih pendek. Itu dilakukan untuk membuat penyiksaan lebih menyeluruh. Kalau aku memakan celana panjang, maka cambuknya tidak akan terasa ketika mencambuk kaki. Lalu aku di gantung dengan kedua tangan dan kakiku terikat di kedua tiang.
Setelah itu mereka pun memulai penyiksaannya. Yang pertama mencambuk adalah Geri. Dia terlihat antusias sekali dengan ini. Pertama-tama sebelum dia mencambuk ku. Dia mancambuk tanah dulu dan tanah yang ada dibawah nya agak tergores sedikit.
Itu bisa begitu karena tali yang di buat untuk mencabuk terbuat dari kulit pohon burhti. Dan kulit pohon itu memiliki duri-duri yang sangat kecil, yang sampai mata manusia tidak melihatnya. Selain duri duri kecil, kulit pohon Burhti memiliki elastisitas dan ketahanan yang cukup kuat. Yang membuat cambuk itu tidak gampang rusak.
Setelah dirasa enak untuk dipegang, Geri pun langsung mencambuk diriku dan itu membuat tubuhku ada goresan luka. Walaupun goresan itu kecil, tapi itu sangat menyakitkan, kalau aku masih peduli dengan hidupku. Sayangnya cambukan itu tidak membuat ku bereaksi sama sekali. Wajah ku tetap pada semula, yaitu wajah lesu dengan tatapan kosong.
Geri yang melihatku tidak ada ekspresi ketika di cambuk, merasa kesal dan mencambuk ku lebih keras dari sebelumnya. Geri terus mencambuk ku, sampai pada akhirnya dia lelah. Sudah ada banyak sekali luka di tubuhku dan wajahku, tapi aku masih tidak berekspresi.
"Hah..hah...ini anak kenapa sih? Sudah kucambuk beberapa kali, tapi dia tidak berekspresi sama sekali." Geri terlihat ngos-ngosan.
"Hmm...ini tidak seru sama sekali." John mendekati ku sambil mengeluarkan pedang nya dan kemudian dia menusuk pahaku secara perlahan-lahan.
Karena John melakukan itu, aku pun akhirnya merasa kesakitan dan berteriak cukup kuat.
"AAAA...!"
"Nah... sekarang jawab pertanyaan ku! kenapa kau melakukan itu semua, bukannya kau itu sayang pada mereka."
Dalam suara pelan dan tidak jelas, aku berkata.
"Bu..bukan aku."
John yang tidak merasa puas dengan jawabanku pun langsung mencabut pedang yang tertancap dipahaku dengan kasar. Aku berteriak lagi karena itu. Orang-orang yang melihat, bersorak gembira ketika aku tersiksa.
Lalu John meletakkan ujung pedang ku di pahaku yang lain.
"Oke....sekarang jawab pertanyaan ku dengan benar. Kenapa kau membunuh mereka?"
Aku masih menjawab dengan perkataan yang sama.
"Bu...bukan aku."
__ADS_1
John pun langsung menusuk pahaku yang lain dengan kuat sampai menembusnya. Aku berteriak lagi dan penonton bersorak dengan keras.
John terus melakukan hal itu sampai siang hari dan aku masih menjawab sama yaitu "bukan aku."
"Jawab pertanyaan ku dengan benar atau kau akan kehilangan matamu."
Tubuhku penuh lubang tusukan, dari tubuh, tangan dan kaki. Kupingku sudah hilang satu, kuku ku hilang semua. Jariku tinggal sembilan. Pokoknya tubuhku sudah tidak karuan lagi.
"Sudahlah tuan John, anda sudah menyiksanya berlebihan. Lebih baik kita makan siang dulu, dan setelah itu baru kita lanjut lagi mengintrogasi nya." Geri terlihat sudah tidak kuat melihat pemandangan kejam seperti ini, maka dari itu dia menyuruh John untuk berhenti.
John terdiam sejenak dan kemudian dia memasukan pedangnya ke sarungnya.
Okelah.... lagipula aku juga sudah lapar."
"Nah...kalau begitu kita mau makan dimana tuan." Geri dan John berjalan pergi.
"Terserah mu saja."
"Oke, kalau begitu aku punya rekomendasi restoran yang enak tuan..." Suara mereka semakin lama semakin pelan, bayangan meraka semakin lama semakin mengecil. Setelah beberapa menit mereka sudah tidak terlihat lagi atau terdengar lagi. Mereka benar-benar sudah pergi dari tempat ini.
Aku kira aku akhirnya bisa beristirahat sebentar, tapi ternyata, setelah mereka pergi, gantian para warga yang menyiksaku. Mereka bergantian mencambuki aku, padahal mereka itu tidak tahu apa yang sudah aku perbuat, tapi mereka tetap mencambukiku karena aku adalah seorang penjahat.
Ketika aku di cambuki pertama kali, aku memang tidak merasakan apa-apa, tapi karena ada luka yang terbuka di sekujur tubuhku. Jadi ketika cambuk itu mengenai lukaku itu akan terasa sangat sakit. Walaupun aku tidak sampai berteriak keras sih. Namun itu tetap saja menyakitkan dan membuatku meringis kesakitan.
Perlakuan para warga tak hanya mencambukiku. Mereka juga melempari buah-buahan dan sayur-sayuran busuk kepadaku. Mereka juga terkadang melemparkan batu yang cukup besar yaitu sekepal tangan ke kepalaku dan itu membuat kepalaku benjol, bahkan berdarah.
Disaat disiksa begini. Aku berpikir, bagaimana bisa kehidupan ku bisa berubah drastis begini. Padahal baru beberapa jam yang lalu aku mengalami kehidupan yang enak. Aku bisa makan enak, mandi yang menyegarkan, tidur yang nyaman, hiburan yang tidak akan pernah habis, dan juga hidup bersama keluarga yang harmonis. Kukira itu akan berlangsung lama, tapi ternyata kehidupan indah itu hanya sementara.
Disaat beginilah aku kangen kehidupan lamaku, yaitu tinggal bersama orang tua ku angkatku dulu. Aku kangen latihan bersama ayahku, aku kangen sup buatan ibuku, aku kangen kasurku yang terbuat dari jerami, aku kangen nongkrong di teras rumah, aku kangen keributan di rumahku, aku kangen....
Ada banyak sekali ingatan bersama orang tuaku dulu yang terlintas di kepalaku dan di saat terakhir, aku melihat ibuku dan ayahku yang nongkrong berdua di teras. Mereka berbalik badan melihatku dan kemudian tersenyum kepadaku. mereka pun menjaga jarak mereka dan memberiku ruang untuk duduk bersama mereka.Lalu secara bersamaan mereka berkata "Sini Malaikat kecilku."
Itu adalah ingatan indah yang sudah lama kulupakan. Itu adalah ingatan ketika aku masih berumur 5 tahun. Karena mengingat kenangan itu, Aku pun mulai nangis tersedu-sedu. Warga yang menyiksaku tadi tiba-tiba berhenti mengayunkan cambuknya karena melihat aku yang tiba-tiba menangis.
__ADS_1