Mencari Pecahan Pohon Suci

Mencari Pecahan Pohon Suci
Rumah Baru part 3


__ADS_3

"Baik kalau begitu. Aku akan menunggu diluar, tuan. Selamat menikmati." Vivi membungkuk dengan sopan dan pintu itu mulai tertutup.


Aku ingin keluar, tapi pintu itu tertutup lebih cepat dariku. Para pelayan itu mengerumuni aku dan mereka tersenyum seakan menyukai pekerjaan ini.


"Baik tuan. Lepas baju anda, biar kami bersihkan tubuh anda."


Saat itu perasaanku bimbang, aku tidak tahu saat ini sedang senang karena di kerumuni banyak wanita-wanita cantik, atau malu karena aku akan di telanjangi mereka. Tapi saat itu aku pasrah saja. Aku lebih baik menuruti mereka. Lagipula kalau aku menolaknya, meraka pasti tetap bersikeras untuk memandikan ku karena perintah dari paman Tapoc.


Aku di telanjangi dan dimandikan oleh mereka. Setiap jengkal dalam tubuhku dibersihkan dengan teliti dan juga sangat baik. Bagian punggung yang biasanya tidak pernah kubersihkan karena aku tidak bisa menjangkau nya. Sekarang di bersihkan oleh para wanita itu.


Setiap wanita membersihkan 1 dari setiap tubuhku. Ada yang membersihkan tanganku, ada yang membersihkan kakiku, bahkan ada yang membersihkan ******** ku. Sejujurnya aku sangat malu saat ini. Yah...semoga saja tidak ada yang berkomentar apalagi bergosip tentang tubuhku.


Untuk membersihkan tubuhku membutuhkan waktu sekitar 15 menitan. Setelah selesai salah satu wanita memberikan handuk hangat kepadaku untuk menutupi kemaluanku dan kemudian dia bertanya.


"Apakah anda ingin mencoba berendam air panas,tuan."


"Berendam air panas?" Aku membungkus ******** ku dengan handuk yang diberikan.


"Iya tuan. Biasanya tuan tapoc, Setelah kami bersihkan akan mencoba berendam air panas sebentar. Dia berkata kalau berendam air panas bisa merilekskan tubuhnya."


Sejujurnya itu sangat bagus. Karena saat ini tubuhku masih sakit semua akibat pelatihan ku minggu kemarin dan mungkin saja bisa sembuh karena berendam air panas.


"Hmm...emangnya boleh ya?"


"Tentu saja tuan. Sekarang kan anda menjadi tuan muda kami."


Setelah memikirkan nya matang-matang, aku pun menerima tawarannya.


"Baiklah kalau begitu. Aku akan mencobanya."


"Baik kalau begitu, tolong tunggu sebentar. Kami akan segera menyiapkannya."


Awalnya tempat itu rata, tapi kemudian muncul gundukan yang ada lubang di tengahnya. Kemudian lubang itu terisi air panas yang membuat tempat itu penuh dengan uap. Aku tidak bisa melihat karena uap itu, lalu kemudian di dinding di bagian pojok atas ada semacam ruang udara yang membuat uap itu tersedot kesana dan uap itu pun menghilang.


"Air panas sudah siap, tuan." Pelayan wanita tiba-tiba berada di sampingku. Aku pun terkejut karena hal itu.


"Ini aku tinggal masuk saja ini."


"Iya tuan, tapi anda harus melepaskan handuk anda dahulu."


"Begitu ya." Aku pun melepaskan handukku dan memberikan nya ke pelayan. Setelahnya aku mendekati bak air panas itu. Awalnya aku mencoba menyentuhnya dengan jariku, Dan itu tidak terlalu panas, tapi tetap saja secara reflek aku langsung mengeluarkan jariku dengan cepat, seperti merasakan kalau air itu sangat panas.


"Ada apa tuan? Apakah terlalu panas."


"Tidak tidak, ini sudah pas kok."


"Bagus kalau begitu, tapi kalau tuan butuh apa-apa bilang saja, tuan."


"Iya nanti akan kupanggil, kalau aku butuh sesuatu. Jadi untuk sekarang bisa tidak biarkan aku sendiri."


"Baik tuan, kalau begitu kami akan menunggu diluar."


Para wanita itu lekas pergi setelah kuperintahkan. Tempat itu sudah sunyi, tidak ada seorangpun disana kecuali aku. Tapi aku lebih suka begini, aku sudah tidak tahan menahan maluku lagi.


Setelah para pelayan pergi aku pun mencoba merendam diriku secara perlahan. Ketika tubuhku sudah terendam. Ada perasaan rileks di tubuhku yang membuat diriku seperti tidak mau bergerak dari tempat itu. Otot-otot ku mengendur, detak jantungku berdetak perlahan, mataku menutup setengah. Tubuhku terlihat sangat nyaman sampai membuat rasa sakit yang mengahantuiku sebelumnya menghilang


"Ah..nyamannya. tak kusangka berendam air panas bisa senyaman ini."


Dulu ketika aku bersama orang tuaku, aku tidak pernah sekalipun, berendam air panas. Bahkan aku tidak tahu kalau air panas bisa buat berendam.


Ketika aku memikirkan orang tuaku, aku tersadar perkataan ayahku kalau orang-orang elit itu mandi dengan uap panas. Kukira dulu kalau yang dimaksud ayah itu adalah mandi dengan uap beneran, tapi sekarang aku tahu maksud sebenarnya dari ayah.


"Apa ayah pernah mandi disini ya? Kan mana mungkin dia tahu kalau orang-orang elit mandi dengan uap tanpa pernah mencobanya. Jadi mungkin saja ayah juga pernah dimandikan oleh wanita-wanita cantik tadi."


Pertanyaan tentang bagaimana ayah tahu kalau orang elit mandi dengan uap terus berputar dikepala. Tapi karena kenyamanan air panas ini, aku tidak melanjutkan nya dan memilih bertanya pada paman tapoc nanti saja.

__ADS_1


Setelah beberapa 10 menit aku berendam ada satu pelayan yang menghampiriku. Padahal aku tidak memanggil, tapi dia datang sendiri kepadaku dan itu membuat ku bingung.


"Hmm?" Aku melihat bingung ke arah salah satu pelayan yang menghampiriku.


"Maaf mengganggu anda, tuan. Tapi tuan Tapoc memanggil anda."


"Untuk apa paman memanggil ku."


"Aku tidak tahu pastinya, tapi dia bilang ini penting."


Karena dia bilang ini penting, aku pun segera bangkit.


"Baiklah kalau begitu aku akan segera menemuinya."


Pelayan itu ingin pergi tapi aku memanggil nya lagi.


"Oh iya. Tolong bawakan juga bajuku yang dibawa Vivi."


"Baik tuan." Pelayan itu membungkuk sopan dan kemudian pergi.


Aku pun keluar dari bak itu dan tak lama setelah itu muncul para pelayan yang memandikan ku tadi sambil membawakan jas yang dipilih Vivi tadi.


Walaupun aku masih telanjang bulat saat itu, tapi entah kenapa aku tidak malu lagi, atau mungkin ini karena aku tidak peduli lagi. Lagipula mereka semua sudah melihatnya dengan jelas tadi.


"Tuan, tolong keruangan kecil disana dulu, biar kami dandani anda dahulu."


Aku pun menuruti katanya dan kemudian masuk ke kamar kecil yang ada di pojok kanan kamar mandi. Aku tak masuk sendirian ada dua wanita yang ikut bersamaku dan salah satu dari mereka membawakan jasku dan juga sebuah handuk.


Ketika didalam, ada cermin sebesar 2 meteran dan juga rak yang berisi banyak sekali wadah berbentuk tabung yang aku tidak tahu isinya apa.


Aku dan 2 wanita itu sudah didalam ruangan kecil itu. Salah satu pelayan itu mengering badanku dahulu dengan sebuah handuk yang dia bawa sebelumnya. Tak hanya badanku, rambutku juga di keringkan dengan handuk.


Setelah badan ku agak kering, pelayan yang lain mengambil salah satu wadah dan membukanya. Didalam wadah itu ternyata ada sebuah gel berwarna putih dan gel itu sangatlah harum sekali.


"Ini lotion,tuan. Ini berguna untuk melembabkan dan juga mengharumkan tubuh anda."


"Lotion? Terbuat dari apa itu?"


"Bahan bahan alami yang berkualitas, tuan. Seperti, minyak zaitun, lidah buaya, dan juga mentega shea."


[Note: Mentega shea adalah lemak yang diektrak dari kacang pohon shea afrika. Kalau butuh informasi lebih lanjut cari aja di google, karena aku juga cari disana hehehe]


Yah bisa dibilang itu bahan yang sangat berkualitas. Karena aku tidak pernah mendengar tanaman itu semua. Aku sudah mempelajari berbagai tanaman didunia ini dengan membaca buku yang diberikan ibuku saat kecil. Namun walaupun aku sudah membaca banyak buku. Tanaman yang disebutkan pelayan tadi belum pernah kudengar sebelumnya.


Pelayan itu mengoleskan lotion itu kebadanku.


"Umm...kalau boleh tahu itu tanaman apa ya? Kok gak pernah dengar."


"Ya..itu wajar kalau tuan tidak tahu tanaman itu, tuan. Karena tanaman itu baru saja di budidayakan oleh tuan tapoc 3 bulan ini."


"Hah..paman tapoc membuat tanaman baru dan juga lotion ini."


"Iya tuan. Sebenarnya lotion ini sudah diperjualbelikan kepada para bangsawan 1 bulan yang lalu dan lotion itu mendapat ulasan positif dari para bangsawan yang membuat permintaan sangat tinggi saat ini. Kabarnya lagi kalau tuan tapoc juga akan menjual lotion ini ke penduduk biasa dengan harga yang lebih murah dan mungkin saja itu bisa membuat perubahan yang besar di kerajaan ini, tidak mungkin di seluruh dunia."


"Hum...hebat juga ya paman tapoc."


"Memang. Selain membuat perubahan dalam teknologi, dia juga ingin membuat perubahan dalam hal kosmetik."


"Perubahan dalam teknologi?"


"Iya tuan, apakah anda tidak tahu."


"Tahu apa?"


"Anda sungguh tidak tahu, tuan." Para pelayan terkejut dengan pernyataan ku itu dan itu membuat ku semakin bingung, siapa sebenarnya paman Tapoc ini.

__ADS_1


"Tidak tahu, emangnya kenapa sih?"


"Tuan tapoc itu sudah terkenal dimana-mana, tuan."


"Benarkah, kok aku gak tahu."


"Apakah anda tidak pernah membaca koran, tuan. Sudah bertahun-tahun, tuan tapoc selalu muncul dikoran karena kehebatannya."


Aku memang senang membaca buku, tapi aku tidak suka membaca koran karena itu sangatlah membosankan. Aku pernah sekali mencoba membaca koran saat kecil, tapi karena isinya hanya politik dan politik. Aku pun menjauhinya karena aku tidak suka berurusan dengan politik.


"Tidak pernah, memangnya siapa sih paman tapoc itu? Apakah dia sangat terkenal sampai sampai dia terus muncul di koran bertahun-tahun?"


"Dia adalah seorang jenius yang berhasil membuat alat sihir tuan. Dia sudah terkenal dimana-mana karena hal itu."


"tunggu..paman yang membuat alat sihir? Dia yang membuat semua alat sihir yang menakjubkan itu."


"Iya tuan, bagaimana anda tidak tahu. Kalau tidak salah anda itu adalah anak dari teman tuan tapoc kan. Apa dia tidak memberitahu anda?"


"Dulu aku pernah di beritahu kalau paman tapoc itu adalah seorang penjual senjata dan sejak saat itu aku masih berpikir kalau dia penjual senjata."


"Itu sudah 6 tahun yang lalu, tuan. Dan dulu dia tidak hanya menjual, tapi juga membuat senjata di toko nya."


"Oh gitu ya, tapi bagaimana...." Kata kataku terhenti karena pelayan itu sudah selesai mendandani ku.


"Sudah selesai, tuan. Kalau mau tanya lebih lanjut, lebih baik tanya langsung saja kepada tuan tapoc, tuan."


Aku yang tadinya terlalu fokus bicara dengan pelayan akhirnya melihat cermin dan ternyata jas itu sangat cocok dengan tubuhku. Warna biru tua dari jas itu yang seperti langit malam membuat penampilan ku misterius dan juga menawan.


Kulitku yang awalnya kering dan kusam. Sekarang sudah lembut layaknya kulit bayi. Rambutku juga terasa lembut dan halus layaknya benang sutra, Tapi rambutku masih ikal seperti sebelumnya.


"Wow...apakah baju ini cocok denganku? Entah kenapa, aku merasa baju ini terlalu mahal untukku."


"Tentu saja cocok tuanku. Karena postur tubuh anda yang ideal, Membuat jas itu cocok di tubuh anda."


"Benarkah begitu."


"Benar tuanku."


"Gitu ya. Terima kasih ya umm...."


"Panggil saja saya Sani, tuan"


"Dan saya, Rani, tuan"


"Hum...Terima kasih Sani, Rani. Kalau begitu aku akan pergi. Aku yakin paman Tapoc sudah menunggu ku terlalu lama."


"Baik tuan, akan kami antar ke keluar." Aku keluar bersama kedua pelayan itu.


Sebenarnya aku ingin bertanya apakah mereka kembar atau tidak, tapi karena paman tapoc menyuruhku mendatangi nya. Aku pun mengurungkan niatku dan lekas pergi dari kamar mandi.


Ketika diluar, sudah ada Vivi yang menunggu ku. Dia membungkuk kepadaku ketika aku keluar dan kemudian berkata.


"Anda sangat cocok dengan jas itu tuan. Anda sudah seperti pangeran dari negeri dongeng."


Sejujurnya aku agak tersipu malu dengan perkataan nya, tapi aku menahannya, sambil pura pura batuk.


"Uhuk..tadi paman tapoc menyuruhku untuk mendatangi nya kan. Kamu tahu dimana tempatnya."


Vivi berdiri tegak kembali, tapi tangannya masih berada di perutnya.


"Iya tuan, tadi aku sudah di beri tahu tempatnya."


"Bagus, kalau begitu bisa tolong antarkan aku."


"Baik tuan. Kalau begitu ikuti saya." Vivi menganggukan kepalanya dan kemudian pergi. Aku berada dibelakangnya, mengikuti nya.

__ADS_1


__ADS_2