Mencari Pecahan Pohon Suci

Mencari Pecahan Pohon Suci
Petualangan dimulai part 4


__ADS_3

Melihat Rika yang sudah tertidur. Aku pun segera menyingkir dari kasur dan memberikan selimut ke Rika.


Lalu setelah itu aku menghampiri Raj yang sedang Fokus mengendarai Mosi.


"Halo Raj... apakah disini tidak ada sesuatu untuk di baca?" Aku menyenderkan tanganku di kursinya Raj.


"Tidak ada."


"Hah...gitu ya. Aku bosan sekali ini, apakah kau tidak punya sesuatu agar aku tidak bosan."


"Hmm....disini sebenarnya tidak ada apa-apa sih, tapi kalau kau bosan, kau bisa mengendarai Mosi."


"Bolehkah?"


"Tentu silahkan saja." Raj menyingkir dari kursi, mempersilahkan aku untuk duduk.


Tanpa Ragu aku pun langsung duduk di kursi. Sejujurnya aku sangat senang karena aku penasaran cara kerja dari mesin Raksasa ini.


"Wow...keren yah." Aku menyentuh lembut setiap bagian mesin di depanku.


"Nah untuk permulaan, cobalah tarik tuas yang menggantung di atasmu."


"Ini." aku memegang tuas yang menggantung di atasku.


"Iya itu."


"Memangnya ini buat apa?"


"Sudahlah lakukan saja."


Karena sudah disuruh, aku pun menarik tuan diatas tanpa ragu. Ketika ku tarik, tiba-tiba terdengar suara yang sangat keras sampai membuat hutan ini bergetar cukup kuat.


Suaranya sih seperti suara singa yang mengaum, tapi ini lebih keras dan juga lebih menakutkan. Walaupun suara itu sangat keras, suara itu sama sekali tak membuat Rika terbangun. Rika masih tertidur lelap di kasurnya Raj. Yah....aku bisa mewajarinya karena


"Wohoho... Keren sekali."


"Hehehe....biasanya suara itu kugunakan untuk mengusir monster ganas yang ingin menyerang Mosi." Raj terlihat sangat bangga dengan mesinnya ini.


"Nah selanjutnya, cobalah injak pedal di bawahmu itu."


"Yang mana, ini ada dua lho."


"Yang kanan."

__ADS_1


"Oke kalau itu maumu."


Aku pun menginjak pedal yang ada di kanan tanpa Ragu. Ketika ku injak Mosi bergerak lebih cepat dari sebelumnya.


"Wohoho....Jadi tambah cepat."


"Nah, pedal yang sebelah kiri itu untuk memperlambat dan juga untuk menghentikan Mosi. Nah untuk....." Raj menjelaskan setiap bagian yang ada di depanku tanpa ada yang luput sedikit pun. Dia menjelaskan secara rinci dan juga jelas, yang membuatku langsung paham"


"Oh gitu ya..hebat sekali kamu ya, bisa membuat mesin sehebat ini."


"Hehehe...itu semua karena ayahku yang mengajariku."


"Ayahmu juga bisa membuat seperti ini?"


"Iya, bahkan dia bisa membuat lebih hebat dari ini."


"Eh...aku jadi pengen lihat mesin buatan ayahmu."


"Nanti ketika kita sampai rumahku, aku akan memperlihatkan nya padamu."


"Jadi tidak sabar aku."


"Tenang saja, sebentar lagi kita sampai kok. Mungkin sekitar 5 menit lagi."


Aku menyingkir dari kursi agar Raj yang menyetir kembali. Setelah itu, karena tidak tahu mau ngapain. Jadi aku kembali ke kasur dan ikut berbaring bersama Rika. Aku tidak menutup mataku, karena aku sama sekali tidak mengantuk.


Aku selalu menatap langit-langit Mosi yang berisi banyak sekali pipa besi dan plat besi yang menyatu dalam harmonis.


Ketika aku bosan melihat langit-langit aku pun menengok ke arah Rika dan disitulah pandanganku terhenti. Disitu aku melihat Rika yang terlihat cantik dan menawan. Dia bagaikan bidadari yang sedang tertidur di gumpalan awan.


Bibirnya yang kecil dan berwarna merah merona. Membuatku ingin menyentuhnya dengan jariku. Yah... walaupun aku juga ingin merasakannya dengan bibirku sih.


Hidungnya yang mancung dan pipinya yang tembem. Membuatku ingin meremasnya dengan lembut. Walaupun dia terlihat judes dan galak, tapi kalau dia tidur. Dia seperti bidadari yang cantik.


Karena tiba-tiba matanya Rika ingin terbuka, aku pun memiringkan badanku ke arah sebaliknya dan pura-pura tertidur.


Rika terbangun. dia langsung duduk dan mengucek matanya. Setelah itu dia meregangkan badannya sampai terdengar suara seperti suara tulang yang patah.


Ketika itu pula aku juga pura-pura lagi bangun tidur dan juga ikut memperagakan Rika sebelumnya.


"Hoam...sudah sampai belum sih?" Tanya Rika.


"Tidak tahu. Raj...sudah sampai belum sih?" Tanyaku ke Raj.

__ADS_1


"Nah sudah sampai...ayo kita turun dari Mosi." Raj berdiri dari kursi dan mengajak Aku dan Rika untuk turun.


karena Raj sudah keluar duluan, Kami pun segera keluar untuk mengikuti nya. Setelah kami keluar, Kami terkejut karena tempat yang kami datangi ini banyak sekali sampah besi, seperti plat besi, pipa besi, tongkat besi dan benda lainnya yang terbuat dari besi.


Gundukan sampah itu ada di mana-mana. Kalau di hitung hitung, mungkin ada 12 gundukan sampah besi di tempat itu.


"Wow....banyak sekali sampahnya." Aku melihat sekeliling dan terkagum-kagum dengan banyaknya sampah disini.


"Ya maaf, kan tadi aku sudah bilang kalau rumahku itu banyak sampahnya."


"Ya tapi aku tak mengira akan sebanyak ini. Omong-omong kau dapatkan semua ini dari mana?"


"Aku dapat dari kerajaan Daman, biasanya aku mampir kesana untuk mengambil beberapa potongan besi yang tidak berguna di pandai besi ataupun tempat sampah."


"Kau biasanya kesana? Menggunakan Mosi?"


"Tentu aku tidak menggunakan Mosi, aku menggunakan kendaraan lain yang lebih kecil dan tidak menarik perhatian."


"Kau punya kendaraan lain?"


"Iya namanya Celin, dia seekor kuda."


"Oh itu ya." Aku terlihat kecewa, karena kukira dia punya mesin lain selain Mosi, tapi ternyata itu kuda.


"Berhentilah bicara. Ayo kita segera masuk ke rumahmu dan tolong segera berikan kami peta dan sebuah pedang." Rika terlihat sudah tidak sabar.


"Maaf nona, kalau begitu ikuti aku." Raj berjalan di depan dan kami mengikuti nya di belakang.


Saat kami berjalan, aku masih melihat kesana-kemari karena aku masih terkagum-kagum dengan sampah besi yang sudah dia kumpulkan sampai sebanyak ini. Aku berpikir, butuh waktu berapa lama mengumpulkan sebanyak ini dan kenapa dia mengumpulkan sampai sebanyak ini. Apakah dia berniat membuat mesin Raksasa yang lebih besar dari Mosi.


Disaat aku masih sibuk dengan pertanyaan itu. Tanpa sadar kami sudah sampai di depan rumahnya Raj. Rumah itu terlihat biasa saja. Dia layaknya rumah biasa di kerajaan. Namun yang membedakan adalah ada mesin yang raksasa berbentuk manusia yang sedang berdiri di samping rumah itu.


Mesin itu sangat besar, mungkin besarnya sekitar 10 meter atau lebih. Walaupun mesin raksasa itu terbuat dari sampah, tapi bentuknya sangat bagus dan mirip sekali seperti manusia raksasa.


‌"Wow....mesin itu...jangan-jangan."


"Benar, itu adalah buatan Ayahku, tapi sayangnya itu belum selesai. Mesin itu masih belum bisa bergerak."


"Walaupun begitu, tapi tetap saja wow.."


"Sudahlah, ayo masuk." Raj berjalan duluan bersama Rika.


"Hmm." Aku menggangguk dan kemudian ikut berjalan, tapi pandangan ku masih melihat ke robot itu.

__ADS_1


__ADS_2