
Kami pun berangkat mengelilingi rumah ini, tempat yang kami jelajahi dahulu itu adalah lantai 1. Vivi berkata kalau lantai 1 itu adalah tempat yang berisi fasilitas fasilitas penting seperti, fasilitas untuk mandi, untuk makan, untuk olahraga, dan juga untuk tidur para pelayan dan pekerja.
Karena aku sudah mengunjungi kamar mandi dan ruang makan, jadi kami pun pergi ke ruang olahraga untuk melihat-lihat. Seperti kamar mandi dan ruang makan. Ruang olahraga juga memiliki pintu yang besar dan cara membukanya juga hanya harus menyentuhnya.
Didalam sana. Ada semacam tongkat besi yang di kedua sisinya ada semacam besi berbentuk lingkaran dan besi berbentuk lingkaran itu memiliki ukuran yang berbeda beda. Ada juga barang barang lain yang cukup aneh dan aku tidak tahu kegunaan nya apa.
Aku bertanya Vivi tentang barang-barang itu, tapi dia juga tidak tahu. Sejujurnya tempat ini malah tidak pernah di gunakan sama sekali setelah dibuatnya ruangan ini. Vivi bilang kalah tujuan dibuatnya ruangan ini adalah untuk membuatnya Paman Tapoc berotot, tapi paman tapoc terlalu sibuk dengan kerjaannya sampai lupa untuk mampir kesini.
Lalu karena sudah tidak apa-apa di ruangan olahraga, kami pun pergi ke tempat para pelayan dan pekerja tidur. Tentu saja aku tidak akan masuk sembarangan ke kamar mereka, aku hanya ingin masuk ke kamarnya Vivi saja dan untungnya Vivi memperbolehkan nya.
Sesampainya di dalam kamar Vivi, aku sangat terkejut, karena tidak ada apa-apa disana. Maksudku bukannya tidak ada apa-apa itu kosong melompong, tapi kamarnya Vivi tidak ada sesuatu yang spesial, itu hanya kamar biasa dengan kasur dan juga lemari baju.
"Umm...apakah semua kamar pelayan juga begini?"
"Umm...saya rasa tidak, semuanya memasang pernak-pernik aneh dikamar mereka."
"Oh...apakah kau tidak berniat memberikan sesuatu dikamarmu?"
"Umm...tidak, saya pikir itu hanya akan membuat kamar ini sempit dan panas."
"Hmm... gitu ya.....oke lanjut." Aku dan Vivi segera pergi dari tempat itu dan lanjut menjelajah lantai 2. Vivi bilang kalau dilantai 2 adalah tempat kamar-kamarnya keluarga paman Tapoc dan tentu saja ada kamarku disana yang sudah di siapkan sebelumnya.
__ADS_1
Karena aku tidak mau asal masuk kamar orang lain, jadi lebih baik aku kekamarku saja.Sesampainya disana, aku sangat terpukau karena kamarku sangat bagus. Bagusnya bukan karena banyak hiasan atau barang-barang nya kelihatan mewah, tapi karena ada rak yang penuh dengan buku yang kusukai, yaitu Novel.
Kita cukup lama dikamarku karena aku harus memilah buku yang akan kubaca nanti. Setelah selesai kami hanya berjalan jalan di taman. Tidak ada yang kami lakukan disana, kami hanya duduk di bawah pohon sambil melihati awan. Terkadang ada pekerja yang lewat dan kami disapa olehnya. Tentu saja kami menyapanya kembali dengan ramah.
Beberapa jam duduk di bawah pohon dan akhirnya aku bosan. Aku pun kembali kekamarku karena tidak ada yang bisa kulakukan. Aku bisa saja ke ruangan bawah tanah dan bertarung dengan monster disana, tapi aku lagi tidak mood dan memilih kembali kekamarku untuk membaca buku yang sudah kupilah tadi.
Setelah itu aku hanya diam di kamar sampai akhirnya waktu makan malam. Sejujurnya kalau tidak diberi tahu Vivi sudah waktunya makan malam, mungkin aku akan terus dikamar sampai besok pagi.
Seperti makan siang sebelumnya, kami makan malam bersama dengan senang. Tidak semuanya senang sih, Paman Tapoc dan Mama Viona masih saja bertengkar ketika bertemu dan seperti biasa, Syo lah yang mengakurkan mereka kembali.
Ketika sudah malam, mereka sudah tidak sibuk lagi dan mencari refreshing an mereka sendiri. Syo beristirahat dengan membaca buku bersamaku di ruangan bawah tanah. Paman Tapoc berada di ruangan sebelumnnya yang berisi kertas banyak itu. Sedangkan Mama Viona berendam air panas.
Dan seperti yang kujanjikan sebelumnya, aku akan mandi sebelum tidur. Aku pun segera ke kamar mandi dan segera berendam air panas. Dan sejujurnya berendam air panas malam malam itu sangat enak. Di malam hari yang dingin, kita berendam air panas, beh....enak nya bukan main.
Setelah berendam cukup lama, aku pun akhirnya kembali ke kamarku, Vivi pun juga begitu, dia kembali kekamarnya karena sudah malam. Aku tak langsung tidur saat itu, aku ingin menghabiskan bukuku yang tinggal sedikit lagi selesai, tapi belum saja selesai aku sudah tertidur saja. Yah...mungkin aku terlalu kelelahan atau mungkin juga karena berendam air panas tadi yang membuat tubuhku sangat rileks dan itu membuatku gampang tertidur.
******
Aku telah ditangkap....aku...di jadikan hewan peliharaan mereka. Aku selalu dipaksa untuk melakukan hal yang mereka suruh, termasuk memuaskan nafsu meraka, tapi tak hanya aku yang diperlakukan begitu. Ada 10 orang lainnya yang memilik nasib sama denganku.
Makanan disini sangat buruk, bahkan lebih buruk dari makanan hewan peliharaan yang asli. Walaupun begitu, kami harus tetap memakannya karena kami tidak mau mati..
__ADS_1
Bertahun-tahun kami di jadikan peliharaan mereka dan itu membuat kami terbiasa dengan perlakuan meraka. Tunggu... sepertinya tidak semuanya...itu....hanya aku saja. Semuanya ternyata telah mati dan mayat mereka dibiarkan membusuk begitu saja. Padahal dari semua itu ada satu teman baikku.
Aku akhirnya jatuh sakit dan itu adalah sakit yang parah dan bisa membuatku mati kapan saja. Akhirnya penantian lama tiba juga. aku...aku akan menyusul keluarga ku dan teman-teman ku di atas sana. Itulah yang kupikirkan.
Sebelum aku mati, mereka memberiku sesuatu dan itu membuat tubuhku langsung pulih. Setelah di beri obat itu, tubuhku terasa aneh. Seluruh tubuhku rasanya terbakar. Aku semakin menggila karena rasa sakit yang terus bertambah seiring waktu dan ketika rasa sakit itu sudah mencapai puncaknya aku pun berteriak dengan sangat keras.
"AAAAAAA....!!!"
Karena teriakan itu aku akhirnya terbangun dari mimpi yang aneh itu, tapi entah kenapa suara jeritan itu masih ada di kupingku. Suara itu tidak bisa berhenti walau aku sudah menggoyang kepalaku.
Lalu tak lama setelah itu, aku menyadari kalau aku tidak sedang di kamarku, aku berada di kamar yang tidak asing. Ini adalah kamarnya Paman Tapoc dan Mama Viona, tapi kenapa aku disini.
Karena aku seperti memegang sesuatu aku pun melihat tanganku dan ada pisau dapur dengan bercak merah di sisi tajam pisau itu. Aku merasa aneh, kenapa aku memegang pisau dapur dan bercak merah apa ini, Aku pun berbalik badan dan ada seorang pelayan dan itu adalah pelayannya Paman Tapoc, dia sedang menjerit dengan keras. Jadi suara jeritan itu dari dia, tapi kenapa dia menjerit.
Pelayan itu menjerit sambil menghadap ke atasku. Aku pun penasaran kenapa dia menjerit. Jadi aku menghadap ke depan lagi dan melihat ke atas.
Lalu...semua jawaban yang ada dipikiran ku tadi, seketika langsung terjawab. Tepat di atasku ada Paman Tapoc, Mama Viona dan Syo yang tertancap di dinding dengan ditusuk bagian dada mereka dengan sebuah tongkat besi.
Aku menjatuhkan pisau yang kupegang kelantai dan kemudian berkata dengan wajah terkejut.
"Apa...yang telah kulakukan?"
__ADS_1