
Aku di kepung di mana-mana. Semua anak buahnya Jangkrik sudah mengayunkan senjata mereka masing-masing ke arahku. Namun, walaupun mereka ada dimana-mana dan aku sudah terkepung. Gerakan mereka sangatlah lambat. Mereka jadi seperti hewan kukang yang lambat.
"Mereka jadi lambat sekali. Apakah ini karena pedang ini."
Aku menggeleng-gelengkan kepalaku untuk membuatku tidak memikirkan hal lain selain membunuh anak buahnya Jangkrik dahulu.
"Pikirkan itu nanti saja. Yang penting, aku harus membunuh mereka semua dahulu."
Aku berjalan santai ke salah satu orang yang sedang mengayunkan sebuah pedang ke arahku. Ketika aku berada di depannya, aku langsung menebas orang itu jadi dua. Tak hanya 1 orang itu saja. Aku juga menebas semua orang yang berada di dekatku.
Dalam waktu normal aku menebas 20 orang hanya dalam waktu 3 detik saja dan itu membuat anak buahnya yang ingin menyerangku sebelumnya, menjadi takut dan ragu-ragu untuk maju.
"Apa-apaan orang itu!? dia bukan manusia! Dia monster!" Kata salah satu anak buahnya Jangkrik.
"Apa yang kalian lakukan!? Serang dia!" Teriak Jangkrik.
"Ta-tapi bos, di sangat kuat. Kita sudah kehilangan setengah prajurit kita, walaupun waktu baru berlalu 15 detik."
Mendengar itu, Jangkrik terlihat kesal. Dia tidak menyangka kalau Aku bisa sekuat ini.
"Aku tak peduli! Mau dia sudah membunuh setengah, seperempat, aku tidak peduli! Yang aku inginkan, kalian harus membunuh anak itu, apapun caranya."
Anak buahnya melihat ke arahku dan di situ aku baru saja membunuh lima orang dalam waktu 1 detik saja. Setelah membunuh kelima orang itu. aku menatap tajam ke arah mereka dan sepertinya ada aura yang mengerikan ketika aku menatap mereka.
"Ng-nggak mungkin ini! Ma-maaf bos, tapi kami tidak bisa melawan monster itu!" Semua anak buahnya pergi menjauh dan meninggalkan Jangkrik sendirian.
"Hei...kalian!" Jangkrik berteriak untuk menghentikan mereka, tapi sepertinya mereka lebih takut kepadaku, ketimbang pada bossnya sendiri.
Baru beberapa meter mereka semua berlari, tiba-tiba semua kepala mereka terpotong dan akhirnya mereka semua mati.
"Hah! Tidak mungkin. Hei siapapun tolong bunuh anak itu!" Jangkrik berteriak untuk memanggil anak buahnya, tapi tidak ada sautan, Semua orang sudah mati kecuali aku dan Jangkrik.
Jangkrik terlihat linglung, dia menengok kesana-kemari, terus memutar badannya untuk mencari anak buahnya yang masih hidup, tapi sayangnya yang dia lihat hanya kumpulan mayat anak buahnya.
"Tidak mungkin, 100 anak buahku, sudah mati semua."
Dia masih menengok kesana kemari, lalu disaat dia masih sibuk mencari, tiba-tiba ada suara orang yang bicara di belakang Jangkrik. Suara itu tak lain adalah suaraku.
"Mencari apa kau?"
Jangkrik segera berbalik badan dan dia melihat diriku sedang duduk di tumpukan mayat sambil menancapkan pedangku di tanah.
Karena dia merasa sedang terancam, dia pun langsung merentangkan tangannya ke arahku, seakan menyuruh serangga nya menyerangku. Namun sayangnya tidak ada satu pun serangga yang muncul.
"Apa!? Kemana semua serangga ku?"
"Kau mencari serangga mu? Kau ini buta atau apa sih? Lihatlah ke bawahmu."
Jangkrik melihat kebawah dan dia melihat ribuan serangganya telah mati. Padahal beberapa detik yang lalu, dia masih bisa merasakan kalau serangganya masih hidup di sisinya.
"Apa!" Jangkrik seperti ketakutan dan berjalan mundur secara perlahan.
"Ada apa? Kau ketakutan?" Aku menatap tajam ke arahnya.
Seperti nya dia tidak ketakutan, setelah aku mengatakan itu dia melesat ke hadapanku, sambil mengarahkan pedangnya ke leherku. Serangan nya cukup kuat sampai membuat angin yang cukup kuat di sekitarku, tapi yang mengenai tubuhku hanya angin sepoi-sepoi nya, sedangkan pedangnya kutahan hanya menggunakan satu jari saja, yaitu jari telunjuk.
"Ternyata hanya segini ya kemampuan mu."
__ADS_1
"Dasar Cecunguk! Ini belum apa-apa tahu!"
Jangkrik terus menyerangku secara membabi buta dan juga sangat cepat, tapi seperti sebelumnya aku hanya menahan dengan 1 jari.
Setelah beberapa menit dia terus menyerangku, dia pun akhirnya kelelahan.
"Ada apa? Kau kelelahan? Mau kuambilkan minum?"
"Dasar bajingan kecil! Okelah, kali ini aku akan serius."
Jangkrik mengeluarkan sebuah cincin dari sakunya dan sepertinya aku tahu apa itu.
"Alat sihir ya."
"Ya...tapi Ini bukan alat sihir biasa, inilah alat sihir paling kuat di muka bumi ini. Kau pernah dengan dengan 3 alat sihir yang di buat dengan batu sihir tingkat tinggi. Nah, cincin inilah salah satunya. Cincin ini akan meningkatkan kekuatan, kecepatan , ketangguhan ku sebanyak 100 kali lipat dan seharusnya manusia seperti mu tidak akan bisa mengalahkan kekuatan sebesar itu."
Jangkrik pun memasang cincin itu di jari telunjuk nya, di tangan kanannya. Setelah memakainya, dia langsung berkata.
"Give Me The Power of God."
Setelah mengatakan itu tiba-tiba angin berhembus kencang, tanah bergetar, bola-bola berwarna hitam muncul di sekitar Jangkrik. Saat itu aku masih duduk santai di tumpukan mayat, sambil melihat Jangkrik tertawa jahat.
Sebenarnya aku bisa saja membunuhnya saat itu juga, bahkan aku bisa saja membunuhnya dari awal, tapi aku sengaja tidak melakukan nya, karena aku ingin membuat Jangkrik merasa sangat ketakutan dan merasa putus asa seperti aku dan kedua orang tadi.
Setelah beberapa detik, bola-bola hitam tadi seperti masuk ke dalam tubuh Jangkrik dan dalam sekejap tubuh Jangkrik seperti membengkak dan berubah menjadi warna merah.
Tak hanya membengkak, tubuhnya juga mulai menambahkan sisik seperti sisik buaya. Kupingnya juga berubah lancip, seperti kuping para iblis. Matanya berubah berwarna hitam dengan pupil berwarna kuning. Gigi-giginya juga ikut membesar sampai keluar dari mulut, tapi yang membesar hanyalah gigi taringnya saja.
Tubuhnya terus membesar dan membesar sampai pada akhirnya berhenti ketika ketinggian nya sudah mencapai 4 meter.
"Ah....ini dia, aku bisa merasakan kekuatan yang sangat besar telah masuk ke dalam tubuhku. Bersiaplah merasakan langit yang tinggi, bajingan kecil." Dia mengepalkan tangan kanannya dan kemudian dia meninjuku sampai membuat tanah di sekitar kami retak dan pecah.
Tinjunya tidak terlalu kuat bagiku, jadi aku masih bisa menahannya. Dengan satu tangan.
"Ini belum apa-apa." Dia mengepalkan tangan kirinya dan kemudian meninjuku lebih keras lagi, sampai membuat diriku terpental cukup jauh.
Disaat aku terpental dan masih di udara. Jangkrik tiba-tiba muncul di belakang ku dan menendangku sampai aku terhempas lagi ke arah sebaliknya.
Dia terus melakukan itu sampai pada akhirnya aku bergerak dan meninju dia balik dan gantian dia yang terhempas cukup jauh.
Walaupun aku hanya meninjunya sekali, tapi tinjuku itu sampai membekas di pipinya. Sedangkan aku, walaupun sudah di tinju berkali-kali, di tendang berkali-kali, tapi kondisi ku masih baik-baik saja dan hanya bajuku yang kotor.
Si jangkrik sudah tersungkur di tanah dan aku masih berdiri tegak sambil berjalan santai ke arahnya. Di saat aku berjalan ke arahnya aku merentangkan tangan kananku dan dalam sekejap pedangku kembali ke tanganku.
"Langit? Aku merasa kau ini masih ada di tanah."
"Bangsat! Okelah, aku akan keluarkan jurus terkuatku dan kita lihat apakah kau masih bisa bicara begitu."
Aku berhenti berjalan dan ingin melihat jurusnya itu.
Jangkrik menyatukan kedua tangannya dan kemudian memisahkan nya secara perlahan. Ketika terpisah ada semacam bola kecil yang semakin tangannya terpisah, bola itu semakin membesar.
Setelah bola itu sudah sebesar telapak tangannya dia menyatukan tangannya lagi dan itu membuat bolanya menjadi memanjangkan. Bola itu ternyata jadi sebuah pedang yang tipis dan juga panjang. Dari tampilan nya pedang itu memiliki kekuatan yang sangat besar, tapi aku tidak tahu dengan kekuatan nya.
Setelah menjadi sebuah pedang. Jangkrik mengangkat pedang itu tinggi-tinggi. Ketika di angkat ternyata pedang itu semakin besar dan semakin panjang sampai ketinggian nya mencapai awan.
"Rasakanlah ini. Falling sky." Dia mengayunkan pedang itu dengan kuat dan kencang ke arahku.
__ADS_1
Tentu saja aku tidak menghindar sama sekali. Aku hanya menyiapkan kuda-kuda ku untuk menangkis serangannya itu.
Dulu aku sudah pernah diajari untuk menangkis serangan seperti ini oleh ayahku. Dan caranya kau harus bisa membelokkan serangan nya itu dengan kekuatan dan kecepatan yang lebih kuat dari penyerangmu.
Setelah serangan nya sudah berada tepat di atasku, aku pun langsung mengayunkan pedangku dengan cepat ke arah serangan nya. Dalam sekejap serangan itu membelok dan tidak mengenaiku sama sekali.
Serangan itu cukup besar. Serangannya membuat tanah terbelah sejauh 1 km jauhnya.
Ketika serangan sudah berakhir dan banyak sekali debu yang menutupi pandangan. Di tengah kepulan debu aku berjalan santai ke arah Jangkrik sambil menyeret pedangku.
Jangkrik yang melihatku masih hidup dan masih bisa berjalan santai, merasa tidak percaya dan mulai ketakutan.
"Tidak mungkin, ini tidak mungkin! Monster macam apa kau ini!?."
Aku berhenti berjalan.
"Monster? Heh..aku ini bukan monster, tapi..."
Tiba-tiba aku menghilang entah kemana. Lalu kemudian aku muncul di belakang Jangkrik sambil membisikkan sesuatu.
"....Aku adalah malaikat pencabut nyawamu."
Jangkrik berbalik badan, tapi aku sudah menghilang lagi. Tapi aku tidak menghilang jauh. Aku masih berada di dekat jangkrik sambil tertawa mengerikan di dekatnya.
"Dimana kau!? Jangan main-main denganku!"
"Disini." Aku berbisik di belakang Jangkrik dan itu membuat dia bergegas meninju ke belakang, tapi aku sudah tidak ada disana.
Aku terus melakukan itu dan Jangkrik selalu meninju ke arah suara aku datang, tapi aku selalu tidak ada setelah dia meninjuku.
Lalu disaat Jangkrik sudah sangat marah, dia meninju sangat keras ke asal suaraku, tapi kali ini aku tidak menghilang. Kali ini aku menahan serangan nya dengan satu tangan.
Pukulannya cukup kuat karena dia sangat marah saat itu. Saat dia memukul ku, debu yang awalnya menutupi pandangan sekarang menghilang dalam sekejap, namun hanya dalam radius 10 meter saja.
"Hehe... akhirnya kau muncul juga."
"Oh..ternyata kau senang kalau aku muncul begini ya. Kalau aku jadi kau, aku malah tidak senang." Jangkrik kebingungan.
"Oh ya, omong-omong kau masih butuh tukang kipas tidak? Saat ini kau pasti gerah kan? Bagaimana kalau aku kipasi dirimu sekarang juga?" Aku menunjuk pedangku.
"Hei...jangan-jangan!" Jangkrik mencoba menarik tangannya, tapi tidak bisa karena aku mencengkram tangannya sampai membuat dia tidak bisa kabur.
Aku mengangkat pedangku ke samping, siap-siap untuk mengayunkan nya.
"Hei...lepaskan aku! Lepaskan aku sekarang juga!" Jangkrik terus memukul tangan dan tubuhku, tapi aku masih tetap mencengkram tangannya.
"Tolong lepaskan aku. Aku mohon kepadamu, masih ada yang belum kulakukan didunia ini." Jangkrik memohon kepadaku sambil menangis ,tapi aku tak menghiraukan nya.
"Aku mohon jangan bunuh aku. Aku akan melakukan semua yang kau inginkan." Dia terus memohon, dan terus memohon tapi aku masih tetap tak menghiraukan nya. Lalu karena aku sudah bosan mendengar ocehannya. Aku pun mengayunkan pedangku dengan cepat ke arah lehernya.
"AKU TIDAK MAU MATIII!" Teriak Jangkrik sebelum pedang mencapai lehernya.
Setelah pedang itu ku ayunkan menembus lehernya, terdapat angin yang cukup kuat yang menghilangkan lautan debu yang ada di tempat ini.
Seluruh debu telah hilang dan pemandangan dari pepohonan telah terlihat kembali. Sesaat setelah debu menghilang, matahari pagi pun muncul. Cahaya itu menyinariku dan mayat nya Jangkrik yang kepalanya masih berada di tempatnya.
Hari ini adalah pagi yang indah, tapi perasaan ku tidak senang seperti sebelumnya.
__ADS_1