Mencari Pecahan Pohon Suci

Mencari Pecahan Pohon Suci
Manusia Serangga part 2


__ADS_3

"Benar tuan, saya yang telah menyuruh Rika untuk menyelamatkan anda, tapi saya melakukan itu atas suruhan tuan Tapoc sendiri."


"Paman Tapoc? Apa maksudmu itu?"


"Jadi begini tuan, setelah aku menemukan pecahan ini, aku langsung tahu kalau kau bukan pelakunya. Dari situ aku mulai mencari bukti lain di kamar itu dan malah menemukan sebuah surat di bawah lantai tempat tidur tuan Tapoc."


"Surat?"


Vivi memberikan secarik kertas yang terlihat sudah usang kepadaku. Disitu memang ada tulisan, tapi aku tidak tahu itu tulisan nya paman Tapoc atau bukan.


"Kau yakin ini tulisannya paman Tapoc."


"Saya yakin tuan, karena saya sudah mencocokkan nya sebelumnya."


"Gitu ya."


Aku pun mulai membaca surat itu dan ternyata surat itu berisi...


Kepada siapapun yang menemukan ini.


Kalau kau menemukan ini, maka aku sudah mati. Aku tidak tahu, aku akan mati bagaimana atau kapan, tapi yang jelas aku akan mati di bunuh oleh seseorang. Ketika aku dibunuh akan ada seorang pemuda yang memakai gelang hitam polos, yang akan jadi kambing hitam.


Orang yang membunuhku bukanlah orang biasa, dia adalah orang yang akan menghancurkan dunia ini. Aku tahu ini terdengar ngawur, tapi kali ini aku serius. Akan ada seseorang yang sangat pintar dan kuat yang berniat menghancurkan dunia ini.


Jadi kalau kau menemukan surat ini tolong kau bawa ini ke Kakek Bari dan minta lah dia untuk menyelamatkan pemuda itu. Pemuda itu harus selamat karena hanya dia yang bisa menyelamatkan dunia ini dari kehancuran.


Lalu di belakang surat itu ada sebuah peta mengarah ke rumah kakek Bari.


"Apa maksudnya ini kek? Siapa kakek ini? Kenapa paman Tapoc mengenalmu?"


Kakek tertawa kecil dan kemudian berkata.


"Aku bukan siapa-siapa nak, aku itu hanya seorang penempa senjata dan juga seorang guru dari si jenius."


"Kakek guru dari paman Tapoc."


"Yah bisa di bilang begitu, dulu aku lah yang telah mengajarinya cara menempa sebuah pedang. Apakah kau ingin mendengar ceritanya."

__ADS_1


"Jangan sekarang kek! Lebih baik kakek jelaskan maksud dari surat ini. Apa yang dimaksud paman Tapoc? kenapa dia menulis kakek di suratnya? Dan kenapa dia menyebutkan kalau dunia akan hancur."


"Oh itu ya... sebenarnya kakek juga tidak tahu. Bahkan aku juga tidak tahu kenapa dia menyebutkan namaku di suratnya."


"Hah... bagaimana mungkin kakek tidak tahu. Kakek ada di suratnya lho dan dia juga berkata kalau hanya kakek yang bisa menyelamatkan dunia ini."


"Hadeh... sepertinya aku sudah melihat pemandangan seperti ini sebelumnya deh." Kakek melihat ke arah Vivi.


"Tenanglah tuan... sebelumnya aku juga menanyakan hal yang sama, tapi kakek juga tidak tahu. Mungkin ada sesuatu yang harus kita pecahkan terlebih dahulu, Seperti mencari motif pelakunya."


"Oh iya..pelakunya. kau tadi sudah tahu kan."


"Tidak tuan, aku hanya mengumpulkan beberapa informasi tentang orang-orang yang memiliki kasus yang sama seperti milik tuan."


"Hah...apa maksudmu?"


Vivi pun langsung meletakkan beberapa kertas di kasur dan menyebarkannya. Disitu terlihat ada banyak sekali kertas yang berisi informasi tentang orang-orang yang asing bagiku.


"Apa ini semua?"


"Ini adalah korban dengan kasus yang mirip dengan kasus anda, tuan. Dimana 1 keluarga mati secara mengenaskan dan salah satu orang jadi tersangka."


"Benar seperti dugaan anda. Semua orang ini tidak ingat, kalau dia telah membunuh keluarga nya sendiri."


Vivi memilah ke empat kertas dengan informasi yang berbeda. Aku melihat kertas itu dan tidak ada kejanggalan disitu. Hanya ada informasi pribadi, seperti tanggal lahir dan sebagainya.


"Hmm...ke empat orang ini sudah mati ya."


"Iya tuan, ke empat orang itu bunuh diri setelah di tuduh membunuh keluarga nya sendiri."


"Bunuh diri? Ini aneh."


"Memang tuan."


"Bukan itu, tapi tanggal mereka mati semuanya sama."


Di empat kertas itu tertulis tanggal mereka mati tepat di samping tanggal lahir meraka. Disana semuanya tertulis di tanggal 2 Fari di tahun yang berbeda-beda.

__ADS_1


"Kau benar tuan, semuanya tanggal mereka sama tapi di tahun yang berbeda-beda."


Kemudian kakek merebut ke empat kertas itu dari tanganku. Ketika merebut dan membacanya. Dia terdiam cukup lama sambil menutup matanya dan mengerutkan keningnya.


Tak lama setelah itu kakek pun membuka matanya lebar-lebar, seakan dia sudah tahu sesuatu.


"Jangan-jangan...! Rika! Tolong kau ambilkan peta kerajaan Daman di kamar kakek."


"Kenapa kau selalu menyuruhku."


"Sudahlah, lakukan saja."


"Oke, oke." Rika pun segera pergi dari kamar ini, tapi dia terlihat kesal dan menyeret kakinya.


"Ada apa kek? Apakah kau tahu sesuatu?" Tanyaku.


"Mungkin, tapi sebaiknya ini salah." Kakek terlihat cemas, seakan kalau dia tidak ingin kalau dugaan nya benar. Lalu tak lama setelah itu muncul Rika yang membawa gulungan kertas kecil yang berisi peta kerajaan.


Dia memberikan nya kepada kakek. Lalu kakek menyambar peta itu dengan cepat dan itu membuat Rika agak kesal. Lalu dengan tergesa gesa dia membuka peta itu dan menyuruh Vivi untuk mencarikan tinta di lemari kecil di belakang Vivi. Dia hanya menurutinya dan kemudian mencari tinta di lemari kecil. Tak berlangsung lama, Vivi pun berhasil menemukan tinta itu dan memberikan nya kepada kakek. Seperti sebelumnya dia juga menyambar tinta itu dengan cepat.


"Oke Rakka, sekarang kau bacakan tempat tinggal korban pembunuhan itu."


"Eh..umm..oke." Vivi kemudian memberikan kertas yang lain kepadaku, dan kemudian aku membacakan setiap alamat rumah korban pembunuhan itu. Ketika aku membacakan alamat setiap orang, kakek mencelupkan jari kelingking nya di tinta dan kemudian menempelkan nya di peta sesuai alamat rumah korban yang kusebutkan.


Setelah semuanya sudah kubacakan, kakek kemudian menandai titik terakhir yaitu rumahnya paman Tapoc. Semua titik sudah di tandai di peta itu, tapi aku masih tidak tahu kenapa kakek melakukan hal ini. Lalu kakek mencelupkan kelingkingnya di tinta lagi dan kemudian menyatukan titik-titik tersebut dan jadilah sebuah simbol seperti Y tapi memilik garis lagi di tengah dan garis itu cukup panjang.



Setelah menulis simbol itu, kakek memegang kepalanya dengan muka terkejut. Lalu dia berdiri dan berjalan kesana kemari sambil berkata.


"Ini tidak mungkin, ini tidak mungkin, ini tidak mungkin...."


Ada apa kek?" Vivi mencoba menenangkan kakek, tapi tidak berhasil.


Lalu Kakek berhenti mondar mandir, tapi kemudian dia pergi dari kamar ini dengan tergesa-gesa.


"Ada apa dengannya? Apakah dia setiap hari seperti itu?" Tanyaku ke Rika.

__ADS_1


"Tidak pernah. Biasanya kakek itu kalem, dan tidak pernah begini."


Tiba-tiba terdengar suara berisik seperti suara kayu yang sedang di hancurkan. Tak hanya suara itu, ada juga suara kakek yang sedang berteriak cukup keras.


__ADS_2