Mencari Pecahan Pohon Suci

Mencari Pecahan Pohon Suci
Keluarga Baru part 3


__ADS_3

"Paman kita salah masuk kamar ya. Kita ini berada di kamar anakmu bukan."


"Hmm..nggak kok ini sudah benar. Disitu juga ada istriku yang sedang dandan."


"Alah...jangan bohong lah paman, mana mungkin wanita muda ini istri paman."


"Muda? Oh..gitu ya. Kamu jangan tertipu dengan penampilan nya Rakka. Walaupun tampang terlihat seperti 20 tahunan, tapi dia ini lebih...." Kata kata paman tapoc terputus karena tiba-tiba ada sisir yang melayang ke wajah paman tapoc. Sisir itu dilempar cukup kuat sampai membuat paman tapoc terjatuh.


"Jangan ngomongin umur di depan wanita, dasar suami brengsek."


Ya.. ekpetasiku seketika hancur yang awalnya melihat kucing imut dan juga cantik tiba-tiba berubah menjadi singa yang mengerikan dan juga sangat galak.


"Aduh... kenapa harus dilempar pakai sisir sih."


"Oh...mau dilempar pake yang lain." Istri paman tapoc mengeluarkan pisau kecil.


Paman tapoc segera berdiri dan langsung memijat pundak istrinya.


"Aduh...jangan begitu dong. Nanti kalau aku mati gimana." Paman tapoc diam-diam mengambil pisau kecil dari tangan istrinya.


"Hum..nanti aku tinggal cari suami baru lagi dong."


"Lho kok begitu sih." Paman tapoc berhasil mengambil pisau kecil itu dan menyimpan nya di sakunya.


"Yah..tapi kalau kau mau cari suami sekarang juga gak apa apa sih. Nanti aku juga bisa cari istri baru yang lebih cantik dan juga lebih muda dari kamu." Paman tapoc berhenti memijat istrinya dan segera menjauh


"Hah...! Kau mau mati beneran ya. Eh...pisau ku tadi mana?"


"Oh tidak...aku akan ditusuk pisau tidak terlihat."Paman tapoc terlihat mengejek istrinya sendiri. Istrinya yang dibuat begitu terlihat lebih kesal dari sebelumnya, bahkan dia sampai membuat suara yang aneh.


"TAPOC...! Sini kamu! Biar kucabik cabik dirimu sampai jenggot mu hilang."


Mereka berdua lari-larian di kamar itu seperti anak kecil yang sedang main kejar-kejaran. Disitu aku hanya diam sambil tersenyum masam. Aku juga bingung mau menghentikan mereka. Dan sejujurnya ketika melihat mereka begini aku jadi teringat orang tuaku dulu ketika sedang berantem. Mereka pasti selalu kejar kejaran mengelilingi desa dan tentu saja yang di kejar adalah ayahku.


Lalu tiba-tiba dari pintu, muncul anak kecil yang mungkin baru berumur 7 tahun. Dia berpakaian rapi seperti anak sekolah. memakai dasi, bersepatu ,dan juga membawa tas gendong di belakang punggung nya.


"Mama, papa aku pulang."


Anehnya ketika anak itu muncul, paman tapoc dan istrinya berhenti kejar-kejaran dan tiba-tiba akur satu sama lain. Eh tunggu.... sepertinya tidak. Mereka memang terlihat akur karena saling bergandengan tangan, tapi di bawah masih terjadi perang. Kaki-kaki mereka saling menginjak satu sama lain dan sepertinya kali ini paman tapoc yang kalah karena kakinya tidak bisa bergerak lagi karena di injak sangat keras.

__ADS_1


Anak kecil itu tidak menghiraukan ku dan terus memeluk ibunya. Ketika dipeluk, istrinya tertawa mengejek ke arah tapoc. Tapoc terlihat kesal karena di ejek, tapi dia masih punya jurus jitu agar anaknya berhenti memeluk istrinya.


"Lho nak kok kamu sudah pulang." Paman tapoc bertanya.


"Oh iya..benar juga. Kenapa kamu sudah pulang."


"Hali ini katanya gulunya akan lapat. Jadi kami di pulangkan lebih awal deh."


Dia terlihat imut ketika tidak bisa mengatakan 'R' dengan benar. Bahkan ayah dan ibu nya meleleh melihat keimutan nya itu.


"Oh gitu ya...lucu sekali sih kamu." Paman tapoc mengangkat anaknya dan melemparkan ke atas secara perlahan. Anak itu terlihat senang. Dia tertawa bahagia ketika di lempar ke atas oleh ayahnya.


Istrinya yang awalnya jengkel sekarang terlihat lebih santai dan bisa tersenyum. SEDANGKAN AKU...! di kacangin. Padahal awalnya paman tapoc ingin memperkenalkan ku dengan keluarga nya, tapi dia malah sibuk sendiri keluarganya. Aku sebenarnya tidak mau merusak suasana keluarga harmonis ini, tapi aku sudah tidak tahan dikacangin.


"Uhum...paman."


Paman tapoc berhenti melemparkan anaknya dan menatapku. Istrinya dan anaknya juga dia melihat kebingungan ke arahku.


"Hm..siapa ini sayang? Apakah dia ini pelayan baru, tapi kok laki laki gak seperti biasanya."


"Lho kok tiba-tiba ada olang disitu, padahal aku lewat tadi tidak ada lho."


"Oh iya. Maaf Rakka, aku sampai lupa denganmu." Paman tapoc menurunkan anaknya dan berjalan mendekatiku.


"Sayang, kemarin sudah kuberitahukan kalau kita akan mengadopsi anak dari temanku kan. Nah...inilah anaknya. Namanya Rakka."


"Halo nona." Aku membungkuk perlahan dan aku sengaja memanggil nya nona agar dia tidak marah.


"Oh..anak ini ya. Lumayan ganteng juga ya, nanti kalau kamu mati aku bisa ganti yang ini deh."


"Oi!" Paman tapoc menyipitkan matanya.


"Mati itu apa ma? Dan apakah dia akan jadi ayah baruku?"


"Oh...bukan apa apa kok. Dia ini bukan ayah barumu, tapi calon. Eh..bukan, dia ini kakak barumu. Dulu adek pernah pengen kakak kan. Nah sekarang ini dia kakak barumu."


Anak kecil itu menatapku dan kemudian dia terlihat senang sekali sampai matanya berbinar-binar.


"Wah...kakak baru. Horee...dapat kakak baru, dapat kakak baru, dapat kakak baru." Anak kecil itu jongkok dan kemudian berdiri lagi sambil merentangkan tangannya ke atas. Dia lakukan itu terus menerus sambil mengatakan 'dapat kakak baru'

__ADS_1


"Mama, mama. Apakah aku boleh memeluknya?" Dia menarik baju mamanya.


"Umm..kalau itu tanya langsung ke kakaknya. Rakka, apakah kamu boleh di peluk."


"Eh...umm...gak apa apa sih."


"Hore..." Anak kecil itu langsung berlari ke arahku dan terus memeluk badanku dengan kedua tangannya dan kakinya.


Haha....sepertinya Syo akan lengket terus padamu."


"Kakak,kakak. Ayo main perang-perangan."


"Perang-perangan?"


"Iya kak. Nanti kita bertarung bersama melawan monster yang mengerikan."


Oh...aku tahu ini, mungkin yang dimaksud monster itu adalah para pelayan nanti yang berpura-pura menjadi monster. Kalau begitu mah gampang, lagipula pasti nanti para pelayan akan pura-pura kalah demi tuan mudanya.


"Umm....paman?" Aku bertanya pada paman apakah boleh?


"Hmm...Boleh kok, Silahkan saja. Lagipula kalau kutolak pasti Syo bakalan ngambek. Nanti suruh saja Vivi antar kalian ke ruang bawah tanah."


"Ada ruang bawah tanah?" Kataku dalam hati.


Untuk apa kita harus ke bawah tanah. Kan kita hanya mau main perang-perangan. Di halaman kan bisa. Disana kan lebih luas dan bisa menghirup udara segar.


"Ayo kak, kita ke ruang bawah tanah." Syo menarik narik baju ku.


"Iya iya, sabar. Kalau begitu aku bermain dengan..."


"Syo."


"Iya Syo, aku main dengannya dulu ya paman, nona."


"Iya hati hati ya, jangan sampai ada yang terluka."


"Tenang saja papa, aku akan melindungi kak Rakka dengan nyawaku."


Candaan anak kecil terkadang agak ngawur, tapi lucu.

__ADS_1


__ADS_2