Mencari Pecahan Pohon Suci

Mencari Pecahan Pohon Suci
Ruang Bawah Tanah part 1


__ADS_3

Aku dan Syo pergi keluar kamar dan memberitahukan Vivi yang sedang menunggu diluar kalau kita akan pergi ke ruang bawah tanah untuk main perang-perangan.


Tidak banyak tanya, Vivi langsung menunjukkan jalannya kepada kami. Kami turun ke lantai satu dan pergi ke taman di belakang rumah. Disana tidak ada apa apa. Hanya ada lapangan hijau yang kosong tanpa ada tumbuhan atau patung yang cantik seperti taman di depan.


"Umm...kita mau apa disini? Katanya kita akan keruangan bawah tanah."


"Tunggu sebentar, tuan."


Vivi merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah cincin yang sangat cantik yang kemudian dia menggunakan nya di jari telunjuk di tangan kanannya.


Aku tahu itu bukan cincin biasa apalagi cincin kawin. Itu adalah alat sihir. Aku tidak tahu fungsi dari cincin itu, tapi setelah mengeluarkan cincin itu. Vivi mengeluarkan secarik kertas kecil di sakunya.


Di kertas itu sepertinya ada tulisan yang cukup panjang dan sepertinya itu adalah sebuah mantra.


Vivi membacakan mantra yang tertulis di kertas dengan keras. Tak lama setelah Vivi membaca mantra, cincin di jarinya mengeluarkan cahaya hijau yang terang. Semakin lama dia membaca mantra, cahaya itu semakin terang. Semakin dia membaca mantra itu dengan keras, cahaya itu juga semakin terang.


Setelah vivi sudah membaca habis mantra itu. Dia langsung menghantamkan tangannya ke tanah yang membuat tanah di lapangan itu retak dan seperti terbelah menjadi dua.


Lalu tanah tiba-tiba bergetar dan retakan tadi terpisah menjadi 2 bagian. Mereka terpisah semakin jauh dan jauh yang pada akhirnya retakan tadi membuat sebuah lubang yang cukup besar.


Didasar lubang itu ternyata ada sebuah tangga yang menuju ke bawah. Tangga itu terbuat dari besi yang terlihat masih baru karena masih sangat berkilau


Dinding nya juga begitu, dia terbuat dari besi yang masih baru dengan dihiasi bola bercahaya setiap 3 meter.


"Baik tuan, mari kita masuk."


"Wow....canggih sekali."


Kami pun turun ke bawah. Yang pertama turun adalah Vivi karena dia memakai Rok. Yang kemudian aku turun dengan menggendong Syo di punggung ku.


Awalnya Syo ingin turun sendiri, tapi karena jarak antara gagang tangga cukup jauh dan Syo tidak bisa menjangkau nya. Jadi aku pun menggendongnya karena takut kalau dia akan jatuh.

__ADS_1


Kedalaman lubang ini ternyata cukup dalam. Mungkin dalamnya bisa mencapai 50 meteran. Dan sejujurnya karena dulu tanganku pernah kepotong. Tanganku jadi gemetaran dan tidak bisa mengangkat beban yang beratnya tidak lebih dari 10 kilo.


Tapi untungnya sebelum tanganku jadi lemas, kami sudah sampai di dasar lubang itu. Di tempat itu hanya ada satu lorong dengan dinding yang sama seperti sebelumnya. Dilorong ini tidak ada apa-apa. Ruangan tidak ada, hiasan dinding tidak ada. Pokoknya tempat ini sangat polos dengan bola cahaya setiap 3 meter.


"Baik kita hanya harus berjalan beberapa meter lagi,tuan."


"Okelah. Kamu mau di gendong gini terus atau mau turun?"


"Gendong aja."


"Oke,kalau begitu pegangan yang erat ya."


"Oke kak."


Kami pun berjalan menyusuri lorong itu. Sangat membosankan berjalan disini. Kalau aku jadi paman Tapoc disini pasti akan kuberi sesuatu seperti koleksi alat -alat sihirnya atau sesuatu yang unik. Dan mungkin tembok disini akan kuberi cat yang terlihat futuristik seperti putih atau abu abu.


Setelah 1 menit berjalan kami akhirnya sampai di sebuah ruangan yang cukup besar, tidak seperti lorong tadi. Disini semuanya berwarna putih dan tidak ada apa apa disini kecuali 1 hal. Yaitu ada sebuah pedang yang menancap di tengah-tengah ruangan itu.


Kukira ketika sampai disini kita akan disambut oleh pelayan seperti sebelumnya, tapi ternyata tidak, disini tidak ada siapa-siapa selain Aku,Syo dan Vivi.


Sudah tidak ada apa-apa, tidak ada siapa-siapa. Lalu kita mau main perang-perangan gimana kalau gini.


"Oke anda ingin pedang seperti biasanya kan tuan muda."


"Iya."


"Kalau begitu anda mau apa tuan?"


"Mau apa maksudmu?"


"Pedang tuan, anda mau pedang tipe apa? Yang besar kah, sedang kah, atau kah yang kecil seperti punya tuan Syo."

__ADS_1


"Hmm..sedang lah."


"Baik kalau begitu."


Sebenarnya aku agak bingung ditanya begitu. Kenapa dia tiba-tiba bertanya tentang pedang yang ku pilih. Padahal disini tidak ada apa apa lho. Disini hanya ruang kosong dengan pedang keren di tengah ruangan.


Lalu tiba-tiba,muncul seekor monster banteng dengan tubuh seperti manusia berotot yang entah muncul dari mana dan kapan. Tinggi monster itu sekitar 5 meteran dengan warna kulit berwarna hitam ke coklatan.


Monster itu mencabut pedang di tengah ruangan dan dalam sekejap ruangan itu berubah warna menjadi merah. Selain perubahan warna, juga terdengar suara yang mengganggu seperti "Bahaya! Ancaman monster datang."


Suara itu terus berbunyi sampai pada akhirnya berhenti ketika monster banteng yang lain muncul. Tidak seperti monster banteng yang berukuran besar, monster yang lain itu hanya berukuran sekitar 2 meteran saja. Jumlah monster itu sangat banyak mungkin ada sekitar 30an dengan 1 monster yang besar.


"Oke mali kita kalahkan monstel-monstel jelek itu kak."


Aku menoleh kearah Syo dan dia sudah berpakaian baju tempur lengkap dengan baju besi dan juga sebuah pedang kecil yang sedang dia pegang dengan kedua tanganya.


"Lho sejak kapan kamu berpakaian begitu dan..dapat dari mana itu semua."


"Kakak juga memakainya kok."


Aku melihat diriku dan benar saja. Aku sudah memakai baju tempur lengkap dengan sebuah pedang yang ku pegang di tangan kananku.


"Lho sejak kapan aku memakai ini."


Ketika aku masih bingung dengan situasi sekarang. Para monster sudah bergerak ke arah kami, siap menyerang kami.


"Kakak jangan tellalu memikilkan nya. Lebih baik kita segera menyelang atau meleka yang menyelang kita dulu."


Syo dengan gesit melesat ke arah gerombolan monster itu. Awalnya aku khawatir dengannya karena takut dia akan kenapa-napa. Tapi kekhawatiran ku menghilang ketika dia berhasil menghabisi 5 monster banteng dalam sekejap.


Dia sangat cepat dengan ukuran anak kecil, bahkan aku sempat berpikir kalau Syo ini adalah orang dewasa yang menyamar sebagai anak kecil. Lalu ketika dia berhasil menghabisi salah satu monster, aku baru sadar kalau mereka tidak mengeluarkan darah sama sekali dan dari situ aku berkesimpulan kalau yang sedang dilawan Syo ini mungkin adalah ilusi dan mungkin tempat ini adalah alat sihir milik paman tapoc yang memungkinkan kita bisa membuat ilusi sesuka kita.

__ADS_1


__ADS_2