
Ketika masuk ke dalam rumah, aku tambah terkejut karena banyak sekali pedang yang menggantung di dinding. Selain pedang ada juga perisai, tombak, dan peralatan perang lainnya.
"Wow..kok banyak sekali senjata disini. Buat apa semua ini?"
"Oh..biasanya senjata ini ku jual ke kerajaan."
"Oh...bukannya ribet ya, harus bolak-balik kesana kemari. Kenapa kamu nggak tinggal saja di kerajaan. Disana kan lebih aman dari serangan monster dan juga lebih menghemat waktu untuk menjual barang-barang mu."
"Aku tinggal disini ya karena ayahku. Dia suka sekali tinggal di alam liar. Dia bilang di luar sini lebih tenang dan damai. Kalau di kerajaan itu berisik dan banyak sekali tetangga yang sering sekali membicarakan keluarga kami. Kalau tentang serangan monster, itu tidak pernah terjadi disini. Karena di sekeliling lingkungan rumah ini, sudah di beri berbagai jebakan yang mematikan. Jadi kalau ada monster atau orang yang tidak di kenal masuk ke lingkungan rumah ini. Mereka pasti langsung mati."
"Oh gitu, tapi kok tadi kita tidak kena jebakannya nya?"
"Ya karena kalian masuk bersamaku. Jadi tidak kena."
"Oh gitu..."
Disaat kami sibuk bicara, Rika sibuk sendiri mencari senjata yang bagus. Dia melihat ketajamannya, berat-ringannya pedang itu, kelurusannya. Pokoknya dia mengkoreksi pedang itu dengan sangat detail dan terperinci agar pedang yang dia bawa pas untuknya dan tidak cacat.
"Bolehkah aku memilih pedang ini?" Rika tiba-tiba bicara, saat kami masih berbincang.
Raj dan aku melihat Rika dan Raj pun menjawab pertanyaan nya.
"Boleh kok, silahkan saja. Tapi itu harganya 2 koin perak."
"Lho harus bayar to?" Tanyaku terkejut, karena kukira akan gratis.
"Ya iyalah. Kamj kira aku akan memberikan pedang itu secara cuma-cuma."
"Oke...akan kuambil dua pedang ini. Jadi berapa harganya." Rika menunjukkan pedang yang ukuran sedang dan juga sebuah pedang yang mirip seperti jarum.
"Hmm....semua itu harganya jadi 5 koin perak."
"Mahal banget dah."
Aku berkata begitu karena 5 koin perak itu setara 50 koin perunggu. Sedangkan 1 koin perunggu itu bisa kau belikan 1 Roti.
__ADS_1
Rika mengeluarkan semacam kantong dan membukanya. Setelah di buka ternyata di dalam kantong itu berisi banyak sekali koin emas.
Aku yang melihatnya pun terkejut dan bertanya-tanya, darimana dia dapat koin emas sebanyak itu. 1 koin emas itu setara dengan 20 koin perak dan di kantong itu ada sekitar ratusan koin emas.
"Ini cukup kan." Rika melemparkan 1 koin emas.
"Waduh sebenarnya ini kebanyakan sih." Raj menangkap.
"Tidak apa-apa. Itu untuk petanya sekalian."
"Oh oke...terima kasih kalau begitu." Raj menyimpan koin emas itu di sakunya.
"Jadi mana petanya."
"Oh iya. Tunggu dulu ya, ada di kamarnya ayahku."
Raj segera pergi menuju lantai dua. Disaat Raj pergi, Rika kembali melihat-lihat pedang dan disitu aku mendekati Rika untuk menanyakan Koin emas itu.
"Hei Rika, darimana kau dapat koin sebanyak itu?"
"Ayolah, aku tidak akan membocorkannya dan juga tidak akan memintanya."
"Hah...aku dapat dari Tapoc setiap bulan. Tapoc setiap bulan pasti selalu memberikan 10 koin emas kepada kakek. Nah... biasanya aku mengambil 2 koin emas untuk ku simpan sendiri."
"Tunggu, jadi kau mengkorupsi uangnya kakek."
"Bukan mengkorupsi. Lebih tepatnya kalau aku ini menabung untuk masa depan. Lagipula nanti koin sebanyak itu pasti bakal habis buat hidup dan juga buat judi kakek."
"Kau benar juga. Aku jadi setuju dengan keputusan mu itu."
"Sudahkan. Sekarang menjauh dariku. Aku ingin melihati karya yang indah ini sendirian." Dia mengayunkan tangan nya seakan mengusir ku.
"Baiklah, baiklah. Aku akan melihat baju besi yang ada disana." Aku pun pergi mendekati baju besi yang terlihat sangat keren dan gagah itu.
Belum saja aku melangkah, Rika tiba-tiba memegang tanganku dan menghentikan langkahku.
__ADS_1
"Ada apa lagi? Tadi suruh aku pergi, sekarang malah di hentikan, mau mu apa sih?"
Aku berbalik dan ketika berbalik, Rika melihat wajahku cukup lama dan itu membuatku agak tersipu malu. Dia mendekatkan wajahnya ke hadapanku. Semakin dekat dan semakin dekat. Bibirnya sudah berada tepat di depan bibirku seakan dia ingin menciumku.
[Apa ini? Apakah dia akan menciumku?] Kataku dalam hati.
Namun kemudian dia berhenti dan memberikan pedang yang sedang ke padaku.
"Ini pedang untukmu dan bawalah buku hitam ini, aku capek membawanya terus." Rika memberikan nya padaku dan kemudian pergi saja tanpa rasa bersalah.
Disitu aku masih membatu dan tidak bergerak sama sekali.
"Inilah kenapa kau tidak boleh berekspektasi tinggi, karena ketika kau terlalu tinggi memanjat dan kau jatuh, Pasti rasanya sakit sekali." Aku pun berbalik badan dan kembali berjalan dengan kecewa ke tempat baju besi yang keren tadi.
Ketika aku melihat baju besi yang keren, mood ku kembali lagi dan tidak mempedulikan kejadian sebelumnya. Tak lama setelah itu terdengar suara langkah kaki yang menuju kebawah dan itu pasti adalah Raj. Jadi disitu kami tidak mempedulikan nya dan masih fokus melihat-lihat senjata yang ada disitu.
Ketika langkah itu sudah dekat dan berada di belakang ku tepat. Aku pun berbalik badan dan ingin menanyakan tentang peta itu.
"Bagaimana Raj. Petanya ada kan?" Ketika berbalik badan. Aku sangat terkejut. Tepat dibelakang ku itu memang Raj. Namun hanya kepalanya nya. Sedangkan kepalanya itu sedang di pegang oleh seseorang dan orang itu adalah Jangkrik.
Dia saat ini tidak sedang memakai topeng. Jadi aku bisa melihat dia tersenyum sangat lebar. Ketika dia tersenyum aku melihat ada banyak sekali serangga yang merayap di wajahnya yang membuatku merasa geli padanya.
"Halo anak muda, bagaimana kabarmu?" Jangkrik menyapaku dengan sopan.
Walaupun dia menyapaku dengan sopan. Aku tidak akan menyapanya balik. Jadi aku pun langsung mengeluarkan pedang yang diberikan Rika tadi dan langsung ingin menebasnya. Namun Jangkrik ternyata sangat lincah, dia langsung melompat kebelakang sebelum aku menebasnya.
"Apa yang kau lakukan disini, bangsat!?"
Rika awal nya masih tidak sadar akan keberadaan Jangkrik. Namun ketika aku berteriak dia langsung berbalik badan dan menyadari ada Jangkrik yang sedang memegang kepalanya Raj. Tanpa berpikir ulang dia juga langsung mengeluarkan pedang jarumnya dan mengarahkannya ke Jangkrik.
"Kenapa kau ada disini? Dan apa yang telah kau lakukan pada Raj? hah!" Tanya Rika yang terlihat marah.
"Apa yang kulakukan disini? Apa yang kulakukan disini ya?" Dia memegang dagunya dengan ekspresi seperti orang yang lupa, namun aku tahu dia sedang pura-pura.
"Oh..iya. aku ingat sekarang. Tadi ada orang yang galak dari organisasi kami, menyuruhku untuk mengambil buku hitam yang kau ambil." Dia mengatakan itu dengan santai seperti anak kecil yang polos.
__ADS_1
"Nah...karena itu, berikan buku hitam itu padaku." Setelah mengatakan itu, tiba-tiba dari segala arah muncul anak buahnya yang sudah siap dari tadi dan juga serangga nya yang ikut muncul dari lantai rumah.