
Aku terbangun di tempat yang langit-langit nya tidak kukenali. Aku tidak tahu dimana aku, tapi langit-langit yang kupandang saat ini terlihat sangat jelek. Tidak seperti rumahku dulu atau rumahnya paman Tapoc.
Lalu aku mendengar suara langkah kaki yang tergesa-gesa, mendekat ke arahku. Aku melihat kesamping dan disitu ada 1 pintu yang terlihat jelek sekali. Pintu itu sudah di makan rayap dan engselnya terlihat sudah karatan. Tak hanya itu, pintu itu juga tidak ada daun pintu seperti kebanyakan rumah. Walaupun begitu, aku tidak terlalu peduli dengan pintu itu, yang kupedulikan adalah siapa yang akan masuk lewat pintu itu.
Tak lama setelah itu, pintu pun terbuka dengan sangat keras sampai membuat angin yang cukup kuat kearahku. Terlihat disitu kalau yang membuka pintu adalah Vivi. Dia terlihat cemas dan khawatir melihatku. Lalu dia berlari ke arahku dan memelukku dengan erat yang masih terbaring lemas.
"Syukurlah tuan, Syukurlah kau masih hidup." Terlihat Vivi mengeluarkan air matanya.
Karena aku masih belum sepenuhnya sadar dan aku masih kelihatan lemas. Jadi aku pun bicara dengan sangat pelan.
"Vivi? apa yang terjadi?dan dimana aku?"
"Kau ada dirumahku." Suara itu bukan milik Vivi, tapi milik seorang kakek tua yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar.
Kakek tua itu rambutnya sudah memutih dan jalan nya sudah membungkuk, tapi walaupun sudah membungkuk, dia tidak menggunakan tongkat.
"Siapa kakek?"
Kakek itu tersenyum padaku dan berjalan mendekati ku.
"Panggil saja aku Kakek Bari."
"Dia yang telah menyelamatkanmu tuan."
"Menyelamatkan ku? Dari apa?
Vivi dan Kakek bari saling memandang kebingungan.
"Kau tidak ingat tuan?"
"Ingat apa...?" Tiba-tiba ingatanku kembali semua dan itu membuat trauma juga kembali.
"Aku ingat...aku...telah membunuh seluruh keluarga paman Tapoc dan juga si Detektif itu." Aku langsung trauma kembali.
Melihat aku begitu, Vivi pun langsung memegang kedua lenganku dan berkata.
"Bukan tuan...bukan anda yang membunuh mereka."
"Tidak...memang bukan aku, tapi aku lainnya yang telah melakukan nya dan itu tetap saja aku yang melakukan nya."
Aku memegangi kepalaku dengan wajah tertekan. Lalu tiba-tiba Vivi menamparku dengan keras yang membuatku terdiam.
"Dengarkan aku tuan, bukan anda yang membunuhnya, tapi ada seseorang yang telah menjebak anda."
"Tapi Detektif itu bilang.."
"Dia telah salah. Memang kalau semua bukti mengarah pada anda, tapi aku menemukan bukti lain yang membuat anda tidak bersalah."
"Bukti?"
__ADS_1
"Iya tuan." Vivi merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah kerikil kecil.
"Ini dia buktinya tuan. Kerikil ini kutemukan di TKP" Vivi menunjukkan kerikil kecil itu kepadaku.
Dengan muka yang terlihat suram, aku menatap kerikil kecil itu dengan seksama. Aku pikir ada sesuatu yang menancap atau menempel di kerikil itu, tapi walaupun sudah kupandang lama, aku tetap tidak menemukan apapun di kerikil itu.
"Ada apa dengan kerikil ini? Dia terlihat sama dengan kerikil yang kulihat dijalan?"
"Iya, ada apa dengan kerikil itu?" Kakek ikut bertanya.
"Ini bukan kerikil biasa tuan, tapi ini adalah pecahan dari batu sihir."
"Batu sihir?"
"Iya tuan. Batu ini adalah bahan dasar dari pembuatan alat sihir dan bisa dibilang ini adalah pecahan dari batu sihir tingkat tinggi yang tidak mungkin ada di tempat sembarangan seperti Kamar taun Tapoc."
"Apa maksudmu itu?"
"Gini tuan. Batu sihir tingkat tinggi seperti ini sangat susah didapatkan dan kalau saja ada orang yang mendapatkan nya, pasti batu itu akan dibeli atau diambil paksa. Batu ini sangat berharga bagi kerajaan ini tuan, karena dengan batu ini kita bisa membuat alat sihir yang sangat hebat seperti barier yang melindungi kerajaan sampai saat ini."
"Jadi...apa maksudmu? mungkin saja itu pecahan dari alat sihir di kamar paman Tapoc kan. Kalau gak salah Detektif itu bilang kalau seluruh rumah paman Tapoc berisi alat sihir dan mungkin kerikil itu salah satu pecahannya."
"Itu tidak mungkin tuan. Karena alat sihir yang di buat dari batu sihir tingkat ini baru ada 3 dan itu hanya barier yang melindungi kerajaan ini, pedang elemental yang di simpan kerajaan, dan satunya masih dirahasiakan yang juga disimpan dikerajaan."
"Dirahasiakan?"
"Iya tuan. Aku tidak tahu kenapa di rahasiakan, tapi dari rumor yang kudengar, alat sihir yang di buat itu memiliki kekuatan yang bisa mengguncang dunia ini dan akan bahaya kalau ada orang jahat mengetahui nya."
"Benar tuan."
"Tapi bagaimana kau tahu kalau aku tidak membawa alat sihir tingkat tinggi? bagaimana kalau aku membawanya dan menyembunyikan nya di suatu tempat?"
"Tapi tuan tidak membawanya kan. Lagipula tuan tidak bisa menggunakan alat sihir kan."
"Kenapa kau tahu itu?" Aku tersentak terkejut karena, bagaimana bisa Vivi tahu kalau aku tidak bisa menggunakan alat sihir, padahal aku tidak pernah memberi tahu siapapun tentang hal itu.
"Aku tahu segalanya tentangmu tuan dan karena itu juga aku tahu kalau kau tidak mungkin membunuh keluarga tuan Tapoc." Vivi tersenyum kepadaku dan mengelus pipiku.
Dari sini aku merasa ada yang aneh dengan Vivi karena aku merasakan ada sesuatu seperti nostalgia ketika dia mengelus pipiku dengan lembut. Aku seakan sudah mengenalnya lama, begitupun dengan Vivi, tapi aku tidak ingat kapan atau dimana bertemu dengannya.
"Vivi.."
"Apa tuanku?"
"Apakah kita pernah bertemu sebelumnya, maksudku sebelum di rumah paman Tapoc."
"Hmm....aku rasa tidak."
"Begitu ya."
__ADS_1
"Memangnya ada apa menanyakan hal itu?"
"Tidak apa-apa, cuma..."
"Cuma?"
"Tidak ada apa-apa. Lebih baik kita kembali ke topik sebelumnya saja. Kau tadi bilang ada seseorang yang membunuh paman Tapoc kan?"
"Benar tuan."
"Tapi siapa orang itu? Apakah kau sudah tahu orang nya."
Vivi terlihat tersenyum seakan dia sudah tahu orangnya. Lalu dia melihat ke arah kakek dan berkata.
"Kek.."
"Oke...nona."
Si kakek berjalan ke pintu keluar dan kemudian berteriak cukup keras memanggil seseorang.
"Rika..!"
Tak lama kemudian terdengar suara sayu yang menjawabnya.
"Ya kakek!" Suara itu adalah suara seorang wanita muda.
"Bisakah kau bawakan tumpukan kertas di meja kakek."
"Baik...!"
Kemudian kakek kembali mendekat ke kasur. Tak lama setelah itu muncul lah seorang wanita muda yang terlihat tidak asing bagiku. Dia membawa beberapa kertas dan kemudian memberikan nya ke Vivi.
"Terima kasih." Ucap Vivi sambil mengambil kertas yang di berikan.
Wanita itu tidak tersenyum atau cemberut, dia hanya mengangguk dengan wajah datarnya.
"Tunggu dulu. Bukankah kau itu wanita yang memberiku makanan malam itu."
"Halo... walaupun agak terlambat beberapa hari, tapi yang penting aku sudah menepati janjiku kan."
[Janji?]
Aku langsung teringat kalau dia pernah berjanji akan memberitahu siapa yang menyuruhnya dan dari situ aku bisa langsung tahu siapa yang menyuruh nya.
"Kau suruhan orang tua ku untuk menjagaku ya."
Rika mengambil kertas di tangan Vivi, menggulungnya menjadi seperti tabung dan kemudian dia memukul kepalaku dengan keras.
"Bukan bodoh! Dia yang telah menyuruhku." Rika mengembalikan kertas ke Vivi.
__ADS_1
"Vivi."