
Setelah membunuh mereka semua, entah kenapa hatiku jadi merasa hampa. Memang, awalnya senang bisa membalaskan dendam teman-teman ku, tapi setelah berhasil membunuh mereka semua, aku merasa hampa dan bingung mau melakukan apa setelah ini.
Disaat aku memikirkan itu, tiba-tiba mayatnya Jangkrik yang awalnya masih berdiri, terjatuh dan kepalanya menggelinding jauh.
Yang terjatuh tidak hanya tubuhnya, tapi juga buku hitam yang dia simpan selama ini. Aku pun menghampiri nya dan mengambil buku hitam itu.
Ketika aku memegang buku itu, aku teringat kejadian dimana Rika terbunuh dan itu membuatku kepalaku sakit. Karena hal itu aku pun melempar buku itu jauh-jauh dariku.
"Buku sialan!" Aku melemparkan buku itu.
Buku itu terlempar jauh dan mendarat di salah satu tumpukan mayat. Saat buku itu menyentuh salah satu mayat, tiba-tiba terdengar suara orang yang berbicara.
"Aduh."
Suara itu Sebenarnya sangat pelan, apalagi jaraknya sangat jauh. Namun karena pedang ini, pendengaranku menjadi meningkat pesat. jadi karena itu aku bisa mendengar suara sekecil itu.
"Apa itu?"
Karena penasaran aku pun menghampiri asal suara itu. Ketika ku hampiri, ternyata yang ada disana hanyalah tumpukan mayat, tapi selain tumpukan mayat, aku juga mendengar suara hembusan nafas, yang berarti ada orang yang masih hidup diantara tumpukan mayat ini.
"Aku bisa mendengar suara nafasmu. Keluarlah! Atau akan kucincang semua mayat yang ada disini sampai menjadi debu."
Tidak ada jawaban dan tidak ada yang bergerak.
"Oke...ternyata kau lebih senang mati ya." Aku mengangkat pedangku dan bersiap mengayunkan nya.
Beberapa detik setelah aku mengangkat nya, masih tidak ada yang bergerak. Lalu setelah ku ayunkan beberapa centi, tiba-tiba ada 1 orang yang bangun dan mencoba menghentikan ku.
"Tunggu, tunggu, tunggu. Aku keluar, aku keluar." Pria itu bangkit dengan bajunya penuh darah. Walaupun baju nya ada darah, tapi darah itu bukan darahnya sendiri, melainkan darah temannya yang sudah mati.
Pria itu terlihat baik-baik saja, dia tidak terluka sama sekali. Ada satu luka sih dan itu karena kulempar buku tadi. Bagian jidatnya ada benjol besar dan berwarna ungu kebiruan.
"Aku mohon jangan bunuh aku. Aku masih ada keluarga yang harus kunafkahi."
"Kenapa aku harus memikirkan tentang keluarga mu. Lagipula kalian juga tidak peduli dengan membunuh orang-orang kan."
"Memang benar sih, tapi aku tidak pernah membunuh atau menyiksa orang-orang. Sebenarnya aku terpaksa mengikuti organisasi ini, karena aku membutuhkan uang untuk keluargaku. Lagipula, selama di organisasi, aku sama sekali tidak pernah membunuh ataupun menyiksa orang. Tugasku di organisasi ini hanyalah mengubur orang yang sudah mati dan juga mencari informasi. Selain itu, aku tidak pernah melakukan hal yang lebih keji lagi. Jadi, karena itu tolong jangan bunuh aku. Setelah ini aku akan keluar dari organisasi dan mencari pekerjaan yang lebih baik lagi." Pria itu memohon kepadaku sambil bersujud.
"Kan aku sudah bilang, aku tidak peduli dengan kehidupanmu. Jadi, selamat tinggal." Aku mengangkat pedangku tinggi-tinggi dan bersiap untuk mengayunkan.
"Tunggu, tunggu. Aku akan berikan apapun yang kau inginkan. Informasi, uang, wanita."
"Semua keinginan ku sudah kalian renggut dariku. Kalau begitu selamat tinggal." Aku mengayunkan pedangku secara cepat ke arah lehernya.
__ADS_1
"Atau gadis muda itu...!" Pria itu berteriak untuk terakhir kalinya sambil menutup matanya.
Ketika pria itu mengatakan itu, aku langsung tersentak dan teringat sesuatu. Karena hal itu, aku pun menghentikan ayunan pedangku tepat beberapa milimeter di lehernya.
"Apa maksudmu dengan gadis muda itu?"
Pria itu membuka matanya dan ternyata dia masih selamat. Setelah dia tahu dia selamat, dia pun segera menjelaskan tentang gadis muda itu.
"Ah....iya, gadis muda yang berpakaian maid itu. Dia masih hidup di markas kami."
"Beritahukan letak markasmu?" Aku mengangkat pria itu dengan menarii bajunya.
"Baik, baik, tapi kau harus berjanji padaku untuk membebaskan ku dan membiarkan ku hidup."
"Beritahukan saja letak markasmu, atau kau kubunuh sekarang juga." Aku meletakkan pedang ku di leher nya.
"Oke, oke. Akan kuberitahu, tapi lepaskan aku dahulu."
Aku pun menjatuhkan nya. setelah terjatuh dia segera merogoh sakunya dan mengambil sebuah kertas. Kertas itu ternyata adalah sebuah peta, tapi itu hanya peta kerajaan Daman saja.
"Ada dimana?"
"Di-disini." Pria itu menunjuk di tengah-tengah peta.
"Ti-tidak tuan. Aku sudah mengatakan yang sebenarnya. Markas kita memang ada disitu."
"Aku bisa membunuhmu kapanpun lho."
Saya tahu itu dan karena itulah aku memberikan informasi yang benar."
"Hah...oke, aku percaya padamu. Jadi berikan peta itu." Aku mengambil secara kasar peta itu dan kemudian menyimpan peta itu di sakuku.
"Kau tidak akan membunuhku kan?"
"Dimana arah menuju ke kerajaan Daman?"
"Disana....Hei, kau tidak akan membunuhku kan?" Pria itu menunjuk ke belakang ku.
"Oke, terima kasih.Kalau begitu aku akan pergi dulu." Aku mengangkat pedangku dan kemudian aku mengayunkan pedangku dengan cepat ke arah leher pria itu. Seketika leher pria itu terpotong dan mengeluarkan darah yang sangat banyak.
Aku membunuh pria itu bukan tanpa alasan. Aku membunuhnya karena dia berbohong tentang tidak pernah membunuh ataupun menyiksa orang lain. Disaat aku di siksa tadi, aku masih mengingat wajah-wajah mereka semua, termasuk wajah pria ini. Bahkan aku masih mengingat wajah senangnya ketika menyiksaku tadi.
Setelah pria itu terbunuh, aku pun segera pergi dengan kecepatan tinggi. Karena pedang ini, aku bisa berlari sangat kencang sekali. Bahkan saking cepatnya, aku bisa sampai ke kerajaan Daman hanya dalam waktu beberapa menit saja.
__ADS_1
Sesudah disana, aku secara diam-diam memasuki kerajaan, karena mungkin saja masih ada orang organisasi yang berkeliaran di sekitar kerajaan. Memang butuh waktu lama untuk mencapai istana, karena aku harus bersembunyi- sembunyi. Namun setelah 15 menit akhirnya aku sampai di depan gerbang istana.
Ditempat itu ternyata sudah ada penjaga yang membawa senjata lengkap. Karena aku tidak mau terlihat, jadi aku secara diam-diam masuk ke istana, tanpa ketahuan penjaga. Setelah aku masuk ke dalam, ternyata di dalam juga ada penjaga dan penjaga nya lebih banyak ketimbang di luar.
Karena agak susah melewati banyak penjaga di sana. Jadi, aku terkadang membunuh mereka secara diam-diam dan kemudian menyembunyikan mayat mereka di suatu tempat.
Di istana itu lebih rumit ketimbang rumahnya Paman Tapoc, jadi aku agak kesulitan mencari Vivi disitu. Setelah cukup lama mengelilingi istana tersebut, aku sama sekali belum menemukan Vivi. Aku sudah mencarinya kemana-mana, tapi dia tetap tidak ketemu.
Lalu di saat aku ingin memeriksa lorong yang lain. Tiba-tiba ada 2 penjaga yang ingin lewat lorong itu. Awalnya aku ingin membunuh mereka, tapi niatku ter urungkan karena tiba-tiba penjaga itu berkata.
"Hoamm....sudah lama aku tidak bermain dengan wanita. Bagaimana kalau kita ke bawah tanah dan kita bermain sebentar disana. Dari yang kudengar ada wanita cantik baru disana."
"Hehe.....boleh juga tuh. Aku juga sudah lama sekali tidak kesana."
Aku tahu yang mereka maksud itu adalah Vivi. Jadi aku pun mengikuti mereka untuk membawaku ke Vivi. Setelah cukup lama berjalan secara diam-diam, akhirnya kedua orang itu sampai yang ingin mereka tuju. Ternyata tempat bawah tanah mereka dibuat rahasia. Yaitu disembunyikan di balik rak buku.
Untuk membuka pintu rahasia ke bawah tanah, mereka harus menarik buku berwarna biru tua yang berada di rak paling bawah. Setelah mereka menariknya, pintu pun terbuka lebar.
Sebelum mereka masuk, aku membunuh mereka berdua dan kemudian masuk kedalam sana sambil menyeret kedua orang itu. Di dalam sana ternyata ada sebuah tangga yang menuju kebawah yang penerangan nya hanya dari obor.
Aku pun berjalan perlahan kebawah dan setelah beberapa menit aku melihat cahaya semakin terang di depan. Ternyata di depan sana ada ruangan yang cukup besar yang di penuhi dengan jeruji besi. Aku berjalan perlahan dan di setiap jeruji besi terdapat banyak sekali wanita terkapar lemas di tanah semen yang dingin dan mereka semua telanjang bulat.
Di saat aku sudah berjalan beberapa meter dan melihat banyak sekali wanita telanjang. Dari depan ternyata ada 4 orang pria yang sepertinya terlihat sangat senang dan seperti baru saja memainkan 1 wanita bersama-sama.
Kali ini aku tidak akan sembunyi, lagipula disini tidak ada tempat sembunyi yang enak. Karena aku tidak sembunyi, mereka menyadari keberadaan ku, tapi sepertinya mereka tidak curiga dan malah menganggap ku penjaga lain yang ingin bermain dengan wanita yang ada disini.
"Hei...apakah kau juga ingin bermain wanita itu disini. lebih kau urungkan niatmu itu, karena dia sudah mati."
Salah satu dari ke empat orang itu menyapaku dan meletakkan tangannya di pundak ku. Namun aku tak menjawab pertanyaan orang itu dan hanya diam saja.
"Hei kau dengar tidak sih?" Sesaat setelah mengatakan itu, pria yang menyapaku tadi langsung kehilangan kepalanya. Tak hanya dia, tapi ketiga orang yang lain juga langsung kehilangan kepala mereka.
Keempat orang tadi langsung tergeletak di tanah dan itu membuat darah mereka menggenang di tanah semen. Karena mereka sudah mati aku pun menginjak mayat mereka untuk lewat dan melihat wanita yang mereka mainkan bersama tadi.
Ketika aku berada di depan jeruji wanita itu. Aku sangat lega sekaligus kesal karena yang dimainkan ke empat pria tadi bukanlah Vivi melainkan orang lain. Karena dia bukan Vivi. Jadi aku lanjut melangkah ke depan untuk mencari Vivi.
Disaat aku melihat jeruji selanjutnya. Disitu aku akhirnya menemukan Vivi, tapi dia tidak seperti wanita lain yang sudah telanjang bulat. Dia masih berpakaian lengkap tanpa kehilangan apapun. Karena sudah tahu itu Vivi. aku pun segera memotong jeruji besi yang mengurung Vivi dan kemudian aku masuk untuk memeluk Vivi.
Namun ketika aku sudah masuk, aku sangat terkejut, karena ada genangan air berwarna merah berada di sekitar Vivi. Saat itu aku tidak mau percaya kalau itu darahnya Vivi. Jadi aku pun membalikkan badannya dan ternyata itu memang darahnya Vivi.
Di perutnya vivi ada pisau kecil yang menancap. Selain menemukan pisau di perutnya aku juga menemukan sobekan kertas yang berisi sebuah tulisan pendek. Tulisan berisi.
"Aku sudah menepati janjiku,tuan. Aku akan beristirahat sekarang."
__ADS_1