
Seperti yang dikatakan John sebelumnya. Aku dibawa ke alun-alun, olehnya. Dia masih meneyeretku layaknya barang tidak berguna dan banyak orang yang menyukai nya. Disitu wajahku bonyok, ada darah keluar dari hidungku, tapi tatapan ku masih kosong, aku tidak tahu apa yang sedang terjadi saat ini dan aku juga tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya padaku. Disitu sepertinya aku tidak peduli lagi dengan hidupku, bahkan kalau aku mati sekarang pun, tidak apa.
Kita sudah sampai di alun-alun. di sana sudah ada 2 tiang yang terbuat dari batang kayu dan juga sebuah cambuk yang masih di ikatkan di salah satu tiang. Disaat kami datang, ada seorang pria gendut dengan rambut botak di atas nya doang, menghampiri kami dengan tersenyum senyum.
"Oh.. Tuan John. Apakah kau membawa penjahat lagi untuk disiksa."
"Kau benar Geri dan kali ini kubawakan penjahat yang paling kubenci yaitu dia telah membunuh temanku dan juga muridku."
"Temanmu? Siapa itu tuan?"
"Si Tapoc dan keluarga nya. Mereka di bunuh dengan cara yang sangat kejam."
"Tapoc? Tuan Tapoc yang terkenal itu tuan?"
"Iya, dan anak ini lah yang membunuhnya."
"Astaga, kenapa dia melakukan itu semua?.apakah dia punya dendam dengan Tuan Tapoc?"
John terdiam dan tak menjawab.
"Tuan?"
"Inilah yang kubenci dari anak ini. Aku masih belum tahu motif dari anak ini."
"Apa! Mana mungkin Tuan John sang detektif hebat, tidak tahu Motif pembunuhan dari anak ini."
"Tapi itulah kenyataannya. Sejujurnya aku membawa anak ini kesini untuk mengintrogasinya dengan cara penyiksaan."
"Begitu ya, tapi apakah tuan John yakin kalau anak inilah yang telah membunuh tuan Tapoc. Nanti kalau sampai salah, kita bisa kena imbasnya lho."
"Kalau itu aku sudah yakin, mungkin. Aku sudah mengumpulkan beberapa bukti dan semuanya mengarah ke anak ini, tapi yang masih kubingung kan, kenapa dia melakukan itu semua?"
"Hmm....kalau begitu bagaimana kalau kita mulai saja, tuan. Mungkin dengan beberapa cambukan, anak ini bakal mengaku."
"Hum...Kalau begitu ayo lakukan."
Kemudian bajuku di copot dan celana ku juga di copot dan di ganti dengan celana yang lebih pendek. Itu dilakukan untuk membuat penyiksaan lebih menyeluruh. Kalau aku memakan celana panjang, maka cambuknya tidak akan terasa ketika mencambuk kaki. Lalu aku di gantung dengan kedua tangan dan kakiku terikat di kedua tiang.
Setelah itu mereka pun memulai penyiksaannya. Yang pertama mencambuk adalah Geri. Dia terlihat antusias sekali dengan ini. Pertama-tama sebelum dia mencambuk ku. Dia mancambuk tanah dulu dan tanah yang ada dibawah nya agak tergores sedikit.
Itu bisa begitu karena tali yang di buat untuk mencabuk terbuat dari kulit pohon burhti. Dan kulit pohon itu memiliki duri-duri yang sangat kecil, yang sampai mata manusia tidak melihatnya. Selain duri duri kecil, kulit pohon Burhti memiliki elastisitas dan ketahanan yang cukup kuat. Yang membuat cambuk itu tidak gampang rusak.
Setelah dirasa enak untuk dipegang, Geri pun langsung mencambuk diriku dan itu membuat tubuhku ada goresan luka. Walaupun goresan itu kecil, tapi itu sangat menyakitkan, kalau aku masih peduli dengan hidupku. Sayangnya cambukan itu tidak membuat ku bereaksi sama sekali. Wajah ku tetap pada semula, yaitu wajah lesu dengan tatapan kosong.
Geri yang melihatku tidak ada ekspresi ketika di cambuk, merasa kesal dan mencambuk ku lebih keras dari sebelumnya. Geri terus mencambuk ku, sampai pada akhirnya dia lelah. Sudah ada banyak sekali luka di tubuhku dan wajahku, tapi aku masih tidak berekspresi.
"Hah..hah...ini anak kenapa sih? Sudah kucambuk beberapa kali, tapi dia tidak berekspresi sama sekali." Geri terlihat ngos-ngosan.
"Hmm...ini tidak seru sama sekali." John mendekati ku sambil mengeluarkan pedang nya dan kemudian dia menusuk pahaku secara perlahan-lahan.
Karena John melakukan itu, aku pun akhirnya merasa kesakitan dan berteriak cukup kuat.
"AAAA...!"
"Haha... akhirnya kesenangannya datang." John memasuk dan mengeluarkan pedangnya di pahaku secara perlahan. Lalu dia menusukku dengan kuat sampai pedang itu menembus pahaku. Aku pun berteriak lebih keras lagi dan membuat orang-orang yang mendengar nya mendekat untuk melihat.
"Nah... sekarang jawab pertanyaan ku! kenapa kau melakukan itu semua, bukannya kau itu sayang pada mereka."
Dalam suara pelan dan tidak jelas, aku berkata.
"Bu..bukan aku."
John yang tidak merasa puas dengan jawabanku pun langsung mencabut pedang yang tertancap dipahaku dengan kasar. Aku berteriak lagi karena itu. Orang-orang yang melihat, bersorak gembira ketika aku tersiksa.
Lalu John meletakkan ujung pedang ku di pahaku yang lain.
__ADS_1
"Oke....sekarang jawab pertanyaan ku dengan benar. Kenapa kau membunuh mereka?"
Aku masih menjawab dengan perkataan yang sama.
"Bu...bukan aku."
John pun langsung menusuk pahaku yang lain dengan kuat sampai menembusnya. Aku berteriak lagi dan penonton bersorak dengan keras.
John terus melakukan hal itu sampai siang hari dan aku masih menjawab sama yaitu "bukan aku."
"Jawab pertanyaan ku dengan benar atau kau akan kehilangan matamu."
Tubuhku penuh lubang tusukan, dari tubuh, tangan dan kaki. Kupingku sudah hilang satu, kuku ku hilang semua. Jariku tinggal sembilan. Pokoknya tubuhku sudah tidak karuan lagi.
"Sudahlah tuan John, anda sudah menyiksanya berlebihan. Lebih baik kita makan siang dulu, dan setelah itu baru kita lanjut lagi mengintrogasi nya." Geri terlihat sudah tidak kuat melihat pemandangan kejam seperti ini, maka dari itu dia menyuruh John untuk berhenti.
John terdiam sejenak dan kemudian dia memasukan pedangnya ke sarungnya.
Okelah.... lagipula aku juga sudah lapar."
"Nah...kalau begitu kita mau makan dimana tuan." Geri dan John berjalan pergi.
"Terserah mu saja."
"Oke, kalau begitu aku punya rekomendasi restoran yang enak tuan..." Suara mereka semakin lama semakin pelan, bayangan meraka semakin lama semakin mengecil. Setelah beberapa menit mereka sudah tidak terlihat lagi atau terdengar lagi. Mereka benar-benar sudah pergi dari tempat ini.
Aku kira aku akhirnya bisa beristirahat sebentar, tapi ternyata, setelah mereka pergi, gantian para warga yang menyiksaku. Mereka bergantian mencambuki aku, padahal mereka itu tidak tahu apa yang sudah aku perbuat, tapi mereka tetap mencambukiku karena aku adalah seorang penjahat.
Ketika aku di cambuki pertama kali, aku memang tidak merasakan apa-apa, tapi karena ada luka yang terbuka di sekujur tubuhku. Jadi ketika cambuk itu mengenai lukaku itu akan terasa sangat sakit. Walaupun aku tidak sampai berteriak keras sih. Namun itu tetap saja menyakitkan dan membuatku meringis kesakitan.
Perlakuan para warga tak hanya mencambukiku. Mereka juga melempari buah-buahan dan sayur-sayuran busuk kepadaku. Mereka juga terkadang melemparkan batu yang cukup besar yaitu sekepal tangan ke kepalaku dan itu membuat kepalaku benjol, bahkan berdarah.
Disaat disiksa begini. Aku berpikir, bagaimana bisa kehidupan ku bisa berubah drastis begini. Padahal baru beberapa jam yang lalu aku mengalami kehidupan yang enak. Aku bisa makan enak, mandi yang menyegarkan, tidur yang nyaman, hiburan yang tidak akan pernah habis, dan juga hidup bersama keluarga yang harmonis. Kukira itu akan berlangsung lama, tapi ternyata kehidupan indah itu hanya sementara.
Ada banyak sekali ingatan bersama orang tuaku dulu yang terlintas di kepalaku dan di saat terakhir, aku melihat ibuku dan ayahku yang nongkrong berdua di teras. Mereka berbalik badan melihatku dan kemudian tersenyum kepadaku. mereka pun menjaga jarak mereka dan memberiku ruang untuk duduk bersama mereka.Lalu secara bersamaan mereka berkata "Sini Malaikat kecilku."
Itu adalah ingatan indah yang sudah lama kulupakan. Itu adalah ingatan ketika aku masih berumur 5 tahun. Karena mengingat kenangan itu, Aku pun mulai nangis tersedu-sedu. Warga yang menyiksaku tadi tiba-tiba berhenti mengayunkan cambuknya karena melihat aku yang tiba-tiba menangis.
"Hei....Apa yang terjadi?" Tanya orang yang memegang cambuk.
Lalu tak lama setelah itu muncul Geri dan John yang telah kembali dari makan siang.
"Ada apa ini?" Tanya John
"Tidak ada tuan John, cuma...dia tiba-tiba menangis dan itu membuat ku jadi tidak tega menyiksanya lagi."
"Menangis?"
John kemudian berjalan menghampiriku dan memegang daguku untuk melihat wajah menangisku.
"Heh...ternyata kau juga bisa menangis ya." Dia membuang mukaku dengan kasar dan kemudian menghampiri orang yang memegang cambuk. Yang kemudian dia merebut paksa cambuk itu.
"Dengarkan kalian semua! Dia ini adalah penjahat. Jadi kalian tidak perlu mengasihani dia."
"Tapi tuan... Dia itu masih kecil, apakah penyiksaan seperti ini tidak terlalu berat untuknya." Salah satu orang di gerombolan bertanya. Ini aneh padahal mereka tadi sangat senang melihatku tersiksa, tapi sekarang dia malah membela ku. Apakah perubahan sikap ini karena aku menangis tadi, atau kah karena hal lain.
"Hei....biar kuberitahu kalian sesuatu, dan mungkin ini bisa membuat kalian berubah pikiran. Anak ini ya...apakah kalian tahu apa yang telah di perbuat nya."
Semua orang menggeleng tidak tahu. Dan itu sudah biasa bagi mereka, karena kalau ada orang yang di gantung disini pasti adalah penjahat yang harus dihukum dan mereka tidak peduli apa yang telah mereka perbuat sebelum nya.
Mungkin kalau ada orang iseng menggantung orang disini, mungkin orang itu sudah babak belur keesokan harinya, karena di siksa para warga.
"Heh...sudah kuduga. Baiklah kalian semua, dengarkan aku baik-baik. Anak ini ya....telah membunuh seorang jenius di kerajaan ini. Kalian bisa tebak siapa?"
Semua orang berpikir keras karena banyak orang jenius di kerajaan ini dan pada akhirnya mereka menggeleng tidak tahu.
__ADS_1
"Baiklah, akan kukasih petunjuk lain. Orang itu telah mengubah dunia ini dan dia selalu masuk koran setiap tahun."
Mereka semua tidak perlu banyak berpikir, mereka sudah tahu siapa orang itu, karena hanya ada 1 orang yang berhasil mengubah dunia ini dan itu adalah Tapoc.
Semua orang menjawab Tapoc, tapi mereka masih ragu, karena tidak mungkin Tapoc terbunuh.
"Benar sekali... Semua yang ada dipikiran kalian itu benar... Anak ini telah membunuh Tapoc, Salah satu teman terbaik ku. Tapi dia tak hanya membunuh Tapoc, dia juga membunuh istrinya, bahkan anaknya Syo,yang juga termasuk muridku."
Semua orang sangat terkejut. Mereka sangat kenal Syo, Karena dia itu termasuk bocah jenius dan juga imut di kerajaan ini. Dikatakan jenius ini bukan di akademi, tapi di pertarungan. Sebagai anak kecil dia ini sangat pintar bertarung, bahkan dia sudah seperti monster hunter tingkat menengah di umur yang bisa dikatakan masih dini.
Mereka terkejut sekaligus marah kepadaku. Mereka langsung mencaci maki aku seperti, dasar monster, tega sekali kau brengsek, lebih baik kau pergi ke neraka saja iblis. Mereka mengataiku begitu sambil melemparkan kerikil dan buah busuk yang masih berserakan di tanah.
Aku disitu juga terkejut( tapi ekspresi wajahku tetap sama) dengan perubahan sikap mereka yang sangat drastis itu. Yah..mungkin itu wajar sih. Siapa sih yang tidak marah ketika idola mereka di bunuh seseorang. Bahkan aku sekalipun juga akan marah dan berusaha mencari pembunuh itu.
Aku disitu hanya terdiam, ketika dilempari kerikil dan buah busuk. Lagipula aku juga tidak bisa apa-apa sih, karena tangan dan kakiku diikat cukup kuat, sampai membuat diriku tidak bisa bergerak bebas.
"Nah... bagaimana semuanya, apakah anak ini harus dikasihani karena telah membunuh Tapoc dan keluarga nya."
Semua orang menjawab "Tidak" dengan serentak
"Bagus..! Kalau begitu kalian tahu kan apa yang harus kalian lakukan."
Semua orang langsung berbondong menyiksaku dan kali ini mereka melakukan nya lebih kejam dari sebelumnya. Tentu saja kali ini aku terus berteriak karena mereka meninju lukaku dengan keras, mencambuki diriku lebih keras lagi sampai membuat lukaku terbuka lebih lebar. Meremukkan jari-jariku. Pokoknya mereka kali ini sudah tidak seperti menghajar manusia lagi, tapi sudah seperti menghajar monster yang sudah terpojok dan tidak bisa apa-apa lagi.
Geri terlihat gelisah melihat diriku yang dikeroyok massal.
"Umm...tuan. apakah dia akan baik-baik saja."
"Ada apa Geri? Apakah kau juga kasihan dengan anak itu?"
"Bu-bukan tuan, tapi aku hanya takut kalau dia nanti mati dan malah tidak bisa memberitahu motif dia membunuh keluarga Tapoc."
"Heh...tenang saja. Dia tidak akan mati. Lagipula aku sudah tidak peduli lagi dengan motif pembunuhan nya. Aku sudah memutuskan kalau dia itu punya kepribadian ganda dan dia tidak ingat kalau dia sudah membunuh keluarga Tapoc."
"Oh... kepribadian ganda. Itu sudah pernah terjadi pada kasusmu dulu kan, tuan."
"Benar... sudah 5 tahun berlalu sejak saat itu."
"Benar tuan, kalau gak salah kasusnya hampir sama dengan ini kan. 1 keluarga bangsawan dibunuh dengan cara yang mengenaskan dan tersangkanya adalah pembantunya sendiri. Dulu tuan sudah mengumpulkan beberapa bukti dan semua bukti itu mengarah ke pembantu itu, tapi anehnya dia tidak mau mengakui nya dan malah bunuh diri, tak lama setelah itu."
"Benar. Itu adalah salah satu kasus yang kubenci."
"Iya...dan ini juga salah satunya kan, tuan."
Setelah Geri mengatakan itu, John terlihat jengkel dan pergi dari kerumunan itu.
"Eh...tuan John, ada apa?"
Geri merasa bingung, kenapa dia tiba-tiba marah. Apakah aku salah bicara tadi? Geri pun segera mengejar John dan meminta maaf.
"Tunggu tuan John. Apa aku tadi mengatakan hal yang salah, Tuan. kalau begitu maafkan aku tuan." Geri memegangi mantelnya sambil terbungkuk sedikit untuk meminta maaf.
"Diamlah! Dan lepaskan tanganmu dari mantelku."
John terlihat marah dan dia menarik mantel yang dipegang Geri dengan kasar.
"Tapi tuan...." Geri terus merengek layaknya anak kecil yang tidak dibelikan mainan.
"Hah...! Sudahlah! Belikan aku minuman, nanti akan kumaafkan kau."
Geri terlihat senang dan kemudian dia memeluk John sambil berkata.
"Terima kasih tuan, kalau begitu ayo kita ke bar."
John yang terlihat jijik pun segera menendang Geri sampai dia berguling-guling layaknya bola. Walaupun sudah ditendang cukup keras, Geri masih bisa tersenyum lebar dan berdiri lagi di samping John.
__ADS_1