
Lalu anehnya lagi, ibuku juga dikubur ditanah. Disana juga ada banyak sekali orang yang tidak kukenali melihat ibuku dikubur ditanah. Dari banyak orang itu, hampir semuanya menangis.
Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi yang jelas aku tahu kalau ibuku tidak akan kembali lagi. Dan entah kenapa ketika mengetahui itu ada rasa perih di dalam dadaku yang membuat air mataku mengalir keluar.
Air mataku tidak bisa berhenti. Aku...
Tulisan nya berhenti disitu dengan coretan panjang disamping kata aku
Aku hanya terdiam tidak berani berkomentar apapun, tapi didalam hatiku, aku sangat kasihan dengan paman tapoc.
Aku membalik halaman sekali lagi.
Hari dimana bulan sudah berbentuk lingkaran sempurna.
Sudah 7 tahun sejak saat itu.
Hari ini aku bertengkar lagi dengan ayahku. Semenjak kematian ibuku, ayahku tidak pernah bekerja. Dia selalu malas-malasan dan menjadi pria brengsek.
Dia selalu pulang larut malam dan selalu pulang dalam keadaan bonyok atau juga mabuk. Itu dikarenakan dia selalu mencuri atau merampok minuman alkohol orang lain dan biasanya yang dia curi itu adalah minuman dari seorang preman.
Dan sejujurnya itulah yang membuatku bertengkar dengannya. Untuk mencukupi hidup kami. Aku merelakan diriku untuk bekerja. Bahkan adikku yang kusuruh untuk tidak bekerja malah ikut bekerja diam diam. Padahal dia masih 7 tahun. Sedangkan ada orang yang sudah berumur lebih dari 40 tahun, tapi dia tidak bekerja dan malah menghabiskan uang yang susah payah kami kumpulkan untuk bersenang senang. itu membuatku kesal dan akhirnya aku beradu mulut dengannya. Bahkan sampai beradu fisik.
Seperti biasanya kalau setelah bertengkar aku akan pergi jauh dari rumah untuk menenangkan pikiran ku dan tempat yang biasa ku kunjungi adalah tempat yang tinggi dan juga sepi.
Hanya disitulah aku bisa tenang dan menangis sepuasku.
Aku melihat ke arah paman tapoc dan dia masih sibuk. Aku pun membalik halaman selanjutnya lagi dan ceritanya masih sama jadi aku terus membalik halamannya sampai akhir.
Hari dimana bulan terlihat lebih besar dari sebelumnya.
Hari ini aku akan pergi dari rumah, meninggalkan ayahku dan juga adikku. Aku melakukan ini bukan karena aku ingin kabur dari permasalahan keluargaku, tapi karena ada sesuatu yang harus kuurus dan ini adalah sesuatu yang sangat penting.
Aku bisa saja membawa adikku, tapi ini akan sangat berbahaya dan aku tidak mau melibatkan adikku. Dan mungkin saja aku tidak akan berpamitan dengannya karena pasti dia akan ikut. Aku tahu kalau aku melakukan ini kau pasti akan membenciku, tapi tidak apa-apa. Jadikanlah kebencian itu sebagai kekuatan mu dimasa depan nanti karena kau akan membutuhkan nya.
Pokoknya aku minta maaf sebesar-besarnya kepadamu. Aku janji akan kembali suatu hari nanti dan ketika kita bertemu kembali, mari kita bermain bola bersama.
__ADS_1
Salamku...
Aku baru mau membaca namanya, tiba-tiba paman tapoc memanggil ku.
"Rakka."
Mendengar dipanggil aku pun secara reflek panik dan segera mengembalikan buku diary itu ke raknya.
"I-iya paman."
"Apa yang kau lakukan disitu?"
"Uhm..."
"Apakah kau tertarik dengan cara aku membuat alat sihir?"
"Uh..i..ya." aku sengaja mengatakan itu agar aku tidak ketahuan oleh paman tapoc karena telah membaca buku diary nya.
"Oh..benarkah. tidak kusangka ada orang yang juga senang belajar Fisika. Padahal anakku sendiri tidak suka loh."
"Kau benar. Omong-omong apa yang kau suka dari Fisika."
"Uhum.. daripada membahas itu, lebih baik kita bahas yang lebih penting. Tadi kan paman menyuruhku kesini. Jadi ada apa?"
"Oh iya. Aku tadi berniat ingin memperkenalkanmu dengan keluarga ku." Paman tapoc berdiri dari tempat duduknya dan kemudian menghampiri ku
"Ayo seharusnya sekarang istriku ada dikamarnya."
"Kita mau jalan lagi nih."
"Iyalah, tenang aja cuma deket kok."
Aku menghela nafas panjang
"Hah...baiklah." aku berjalan duluan keluar ke pintu keluar sedangkan paman tapoc di belakang ku.
__ADS_1
Ketika aku sudah berada di depan pintu dan sudah memegang daun pintu. Paman tapoc masih berada di tempat ku berdiri tadi. Dia sedang memegang sebuah buku dan itu adalah buku diary yang kubaca tadi.
Dia terlihat sedih ketika memegang buku itu. Dia terlihat seperti sedang memegang sebuah kenangan yang menyedihkan dan juga pahit. Dari kejauhan aku memang tidak bisa mendengar suaranya, tapi aku bisa membaca gerak bibirnya. Dari yang kulihat di sedang berbicara.
"Kenapa kau pergi?Kak."
Awalnya kukira itu adalah buku diary punya paman tapoc, tapi ternyata itu adalah punya kakaknya. Sejujurnya aku sangat kasihan dengan paman tapoc.
Sejak kecil dia tidak pernah melihat wajah ibunya dan juga dia harus mengalami hidup yang susah dengan mengurus ayahnya yang brengsek. Belum selesai kemalangannya, dia malah di tinggal pergi salah satu keluarga nya yang paling menyayanginya yaitu kakaknya.
Sebenarnya aku sangat penasaran siapa kakaknya itu. Kenapa di harus pergi. Apa yang dia cari. Masalah apa yang membuat dia harus meninggalkan adik kecilnya.
Aku menggeleng kan kepalaku, menghilangkan pertanyaan tadi dari kepalaku. Aku tidak tega melihat tapoc yang terlihat sedih. Jadi aku pun memanggil nya dengan ekspresi polos, tanpa tahu apa yang dia lakukan saat ini.
"Paman, ada apa? Ayo kita pergi!"
Paman yang menyadari sedang dipanggil pun segera menghapus air mata yang ingin keluar dengan kedua jarinya dan kemudian tersenyum kembali kepadaku sambil berkata.
"Oke tunggu dulu, sepertinya ada rumus yang salah di buku ini." Dia berpura-pura menulis dan kemudian mengembalikan buku itu ke raknya. Setelah itu dia berjalan cepat mendekati ku dan kami pun berjalan bersama untuk bertemu istrinya paman tapoc.
Dibelakang kami ada 2 pelayan yang sedang mengikuti kami. Salah satunya itu adalah Vivi. Mungkin saja yang satunya itu adalah asisten pribadinya paman tapoc, tapi yang aneh kapan dia datang. Padahal tadi ketika aku sampai di ruangan ini. dia tidak ada lho.
Seperti yang dikatakan paman tapoc sebelumnya. Kamar istrinya hanya berada di ujung lorong ini saja, dan itu hanya membutuhkan beberapa langkah saja.
Setelah sampai di depan pintu kamarnya. Paman tapoc mengetuk pintu itu dan setelah beberapa detik terdengar suara sayu yang berbicara.
"Siapa ya?"
"Ini aku sayang."
"Oh gitu ya. Masuklah."
Paman tapoc memegang daun pintu dan memutarnya. Dia membukanya perlahan dan masih tidak ada suara yang mengganggu. Ketika pintu itu terbuka lebar disana aku melihat wanita muda yang sangat cantik sekali. Kalau dari tampangnya dia sepertinya baru berumur 20 tahunan, tapi biasanya tampang bisa menipu, apalagi ini wanita.
Wanita ini memiliki rambut pirang yang panjang dan juga berkilau layaknya sebuah emas. Dia juga punya kulit putih mulus seperti susu. Warna matanya juga sangat indah, aku jarang sekali melihat warna mata berwarna biru sebelumnya. Ketika aku melihat matanya entah kenapa aku seperti sedang melihat langit yang cerah tanpa awan sedikit pun. Bibirnya merah merona seperti ada darah yang terciprat di bibir nya.
__ADS_1
Sejujurnya aku sangat terpesona dengan kecantikan wanita itu, bahkan hatiku berdegup kencang ketika melihatnya.