
Kami terkepung oleh anak buahnya jangkrik dan juga serangga nya. Kami tidak bisa kemana-mana dan hanya bisa terdiam sambil memapangkan pedang kami ke segala arah.
Jarak aku dan Rika cukup jauh, jadi kami berinisiatif untuk mendekat agar kami bisa melindungi satu sama lain. Namun baru 1 langkah kami berjalan. Tiba-tiba anak buahnya Jangkrik mulai berlari ke arah kami sambil mengangkat senjata mereka masing-masing.
Saat itu kami sudah tidak punya pilihan lagi, kami pun juga ikut menyerang walaupun jarak ku dan Rika cukup jauh. Tapi kemudian, tiba-tiba ada orang yang berteriak.
"Stopp....!" Orang itu tak lain adalah Jangkrik itu sendiri.
Karena teriakan itu, seluruh anak buahnya berhenti bergerak. Tak hanya mereka, aku dan Rika juga berhenti bergerak seperti sebuah patung.
"Siapa yang menyuruh kalian menyerang, hah!?" Jangkrik terlihat marah.
"Lah...tadi bos bilang.."
"Aku tadi itu belum selesai bicara, mundur kalian semua! Merusak momen kerenku saja kalian ini!"
Karena hal itu seluruh anak buahnya mundur. Anehnya aku dan Rika malah tidak menyerang. Padahal saat itu adalah momen yang sangat pas untuk menyerang dan kabur dari tempat ini"
"Maaf kan anak buahku yang bodoh itu, biarkan aku selesaikan perkataanku tadi. Sampai mana tadi ya. Oh iya—atau aku akan membunuh seseorang yang kalian sayangi." Jangkrik menjentikan jarinya dua kali dan kemudian dari pintu depan muncul beberapa anak buah yang membawa 2 orang yang kepala nya di tutupi oleh kain.
1 orang yang dibawa adalah seorang wanita muda yang berpakaian maid dan satunya lagi adalah seorang kakek-kakek yang memakai pakaian lusuh.
Dilihat dari penampilannya kami sudah tahu kalau kedua orang itu adalah Vivi dan Kakek Bari. Kondisi mereka tidak baik-baik saja. Kakek dan Vivi terlihat lemas dan badan mereka penuh lebam dan luka. Kalau tentang luka, kakek lah yang paling parah, tapi kalau tentang mental seperti nya Vivi lah yang paling terguncang.
Aku memang tidak bisa melihat wajah mereka, tapi dari postur tubuhnya yang terlihat gemetar dan bau badannya yang berbau amis. Aku bisa tahu kalau dia sudah di permainkan oleh anak buahnya Jangkrik.
"Dasar bajingan! Apa yang telah kalian lakukan dengan Vivi." Aku berteriak keras.
Anak buahnya jangkrik tertawa. Bukannya merasa bersalah, meraka malah tertawa terbahak-bahak ketika aku mengatakan itu.
"Kenapa kalian tertawa, bangsat!"
"Diamlah!" Jangkrik berteriak keras dan itu membuat anak buahnya terdiam seketika.
"Kalian tidak usah memaafkan mereka kalau tentang hal ini, mereka itu memang bajingan. Nah...kalau begitu ayo kita lakukan penawaran. Kau berikan buku hitam itu, maka kami akan membebaskan wanita muda ini dan kakek tua ini hidup-hidup."
__ADS_1
Aku dan Rika terdiam, karena kami tidak mau memberikan buku hitam itu. Namun di lain sisi kami juga tidak mau melihat Vivi dan Kakek Bari terbunuh.
"Apakah kau juga akan membunuh kami kalau tidak memberikan buku hitam itu?" Aku bertanya.
"Hei...kenapa kau menanyakan itu, kau tidak akan memberikan buku hitam ini kan." Kata Rika.
"Diamlah Rika. Aku tidak mau Vivi dan Kakek mati gara-gara buku hitam itu."
"Pemikiran yang bagus, kau ini memang anak yang baik ya."
"Berhentilah bicara omong kosong, serangga! jawab pertanyaan ku tadi!"
"Wowowo....semangat sekali sih. Oke,oke aku jawab. Kalian di bunuh atau tidaknya itu, tergantung jawaban mu. Kalau kau bersedia memberikan buku hitam itu, maka semua orang akan selamat, tapi kalau tidak mau. Maka semua orang yang ada disini akan mati termasuk kalian. Sebenarnya tujuan kami itu hanya mengambil buku hitam itu dan tidak peduli dengan nyawa kalian. Jadi kalau kau suka rela memberikan buku hitam itu, maka kami akan mengampuni nyawa kalian semua."
Aku terdiam sejenak untuk berpikir.
"Kenapa kalian menginginkan buku ini? Memangnya apa untungnya kalian mendapatkan buku ini" aku bertanya, karena aku masih penasaran kenapa mereka mengincar buku hitam.
"Kau dapatkan buku itu dari Bajingan Rick itu kan. Nah...kami yakin di dalam buku itu terdapat sesuatu yang bisa menggagalkan rencana kami."
Dia sudah tahu ya. Mungkin dia bisa tahu, karena dia bisa berbicara dengan serangga dan sejak awal rumah kakek itu penuh dengan serangga seperti kecoak dan serangga kecil lainnya.
Karena Rika terlalu Fokus padaku, dia tidak sadar kalau ada seseorang yang mengendap-endap dia belakangnya. Setelah cukup dekat, orang itu menangkap Rika dan membuatnya terjatuh.
Rika tidak bisa bergerak karena tertindih orang yang lebih besar darinya.
"Hei...apa yang kau lakukan, lepaskan aku!" Rika mencoba menyingkirkan dari orang itu, tapi tidak bisa, karena orang itu terlalu besar.
"Apa yang kau lakukan. Kau bilang tidak akan melakukan apapun padanya."
"Tenanglah anak muda, aku tidak akan melakukan apapun padanya. Aku hanya akan menahannya disini." Kata orang yang menindih Rika.
"Satu sandera telah di dapatkan lagi. Nah...anak muda, bagaimana? Apakah kau akan memberikan buku hitam itu? atau....kau ingin melihat teman-teman mu terbunuh di depan matamu." Kata Jangkrik yang terlihat tersenyum.
"Dasar bangsat!" Gumam ku yang terlihat kesal.
__ADS_1
Sekarang aku benar-benar bingung. Kalau saja Rika tidak disandera sekarang, mungkin kami masih bisa menyelamatkan mereka berdua. Yah walaupun kemungkinannya berhasilnya 2 persen sih. Walaupun peluang nya kecil, setidaknya masih ada harapan untuk bisa berhasil.
"Kalau kau diam saja, nanti wanita muda ini dulu lho yang kubunuh." Jangkrik mengeluarkan pedangnya dan memapangkan pedangnya di leher Vivi.
"Baiklah....! Aku akan memberikan buku hitam ini."
Jangkrik tersenyum semakin lebar dan kemudian dia memasukan pedangnya ke sarungnya kembali.
"Bagus.... keputusan yang sangat bagus. Nah...sekarang buanglah pedangmu dahulu jauh-jauh. aku tidak mau kau membunuhku."
Dengan terpaksa, aku pun menjatuhkan pedangku dan kemudian menendangnya jauh-jauh dariku.
"Bagus. sekarang mendekatlah kepadaku sambil membawa buku hitam itu."
Dengan perasaan kesal, aku berjalan perlahan ke arah Jangkrik. Selama berjalan aku menatap anak buahnya, untuk mengawasi apakah akan ada yang akan tiba-tiba menyerangku atau yang lainnya.
Aku tidak mau dia menipuku ketika aku sudah memberikan buku hitam ini. Namun sepertinya dia tidak bakal menipuku, karena semua senjata milik anak buahnya sudah dimasukkan kesarungnya masing-masing dan tidak ada yang berniat ingin mengeluarkan nya.
Ketika aku sudah berada di depan Jangkrik, aku tidak langsung memberikan nya, aku menatap nya tajam, mengkodekan agar dia tidak coba-coba menipuku, tapi dia hanya membalas ku dengan senyuman lembut seperti pelayan yang menyambut tuannya pulang dari kerja. Aku yang melihatnya jadi tambah kesal dan ingin meninjunya dengan keras di bagian hidungnya. Namun kalau aku meninjunya, pasti anak buahnya akan membalasku dengan membunuh teman-temanku dan juga diriku.
"Nah sekarang berikan buku hitam itu dan setelah memberikan nya kau mundur 10 langkah menjauh dariku." Jangkrik memapangkan telapak tangannya.
Dengan Ragu, aku memberikan buku hitam itu ke jangkrik. Saat itu sebenarnya Rika terus-menerus berteriak padaku, untuk tidak memberikan buku hitam itu, tapi kalau aku tidak melakukan nya, pasti semuanya akan langsung dibunuh oleh Jangkrik dan anak buahnya.
Buku itu sudah berada di tangannya Jangkrik dan aku juga sudah mundur 10 langkah sesuai perintahnya.
"Bagus....kalau begitu sesuai janjiku, aku akan melepaskan mereka." Jangkrik mengkodekan pada anak buahnya dan karena sudah di perintah, anak buah nya yang berada dekat dengan Vivi dan Kakek Bari, melepaskan mereka dan mendorong nya secara kasar ke hadapan ku.
Yang menindih Rika tadi juga menyingkir dan itu membuat Rika terbebas. Setelah terbebas dia langsung berlari ke arah Vivi dan Kakek Bari.
"Kakek! Kakek baik-baik saja kan."
Dia langsung memeluk kakek bari dengan erat, aku pun juga begitu, aku juga langsung memeluk Vivi dengan erat.
Saat itu penutup kepalanya belum terbuka. Jadi kami pun membukanya untuk membuat mereka berdua bisa bernafas lega.
__ADS_1
Setelah kami membukanya, kami terkejut. Bukan karena wajahnya hancur atau gimana gitu, tapi yang kami peluk dari tadi adalah orang lain yang memakai bajunya Vivi dan Kakek.
Setelah kami mengetahui Fakta itu, semua orang tertawa terbahak-bahak, termasuk Jangkrik. Dia lah yang tertawa paling keras diantara yang lain.