
Aku pun segera membuang kayu yang terbakar itu dan langsung berlari menuju Rika.
Dengan panik aku menggoyangkan badannya cukup kuat untuk membangunkan nya dari mimpinya.
"Rika bangun, Rika."
Rika tidak mau bangun dan malah menepuk tanganku agar tidak menggangu nya lagi.
"Hei Rika...ada sesuatu yang besar mencoba mendekat kesini."
Rika bergumam.
"Kan aku sudah bilang, urus saja sendiri."
"Tapi Rika...ini sesuatu yang tidak bisa kuhadapi sendiri."
Rika akhirnya bangun, tapi matanya masih setengah terbuka dan wajahnya terlihat kesal.
"Ish..kamu ini. Aku dari tadi belum tidur tahu."
"Maaf lah, tapi lihat lah kesana dulu." Aku menunjuk ke arah benda raksasa yang sedang menuju kesini. Rika melihat yang kutunjuk, tapi sepertinya belum bisa melihatnya dengan jelas karena dia masih setengah sadar.
Lalu dia mengucek matanya untuk menghilangkan kotoran yang menempel di matanya dan kemudian dia melihat lagi ke depan. Sekarang dia bisa melihat jelas, tapi sepertinya dia tidak terlihat panik ketika melihat benda raksasa itu kemari dan malah bertanya santai kepadaku.
"Apa itu?"
"Mana ku tahu.... lagian kenapa kau malah menanyakan itu , bukannya kita ini harus lari ya."
Rika memegang wajahku untuk berdiri.
"Tunggu sebentar....aku merasa itu bukan monster deh."
Rika berjalan beberapa langkah dan berhenti di tempat sambil melihati benda raksasa yang sedang mendekat ke arah kami.
"Hei Rika....kenapa kau diam saja, ayo kita segera pergi dari sini."
"Tunggu sebentar...aku mau mengindentifikasi monster macam apa dia ini."
"Kenapa kau harus peduli dengan itu."
Aku mulai cemas karena monster itu semakin dekat sedangkan Rika masih tak beranjak dari tempatnya.
Monster itu sudah sangat dekat, dia sudah berada tepat di depannya Rika. Monster itu akan menabrak atau memakan Rika.
Lalu karena aku tidak mau melihat orang mati lagi. Aku pun maju ke depan Rika dan menahan Monster itu untuk berhenti dan ajaibnya aku tiba-tiba punya kekuatan yang besar sampai membuat monster itu berhenti walaupun aku terseret beberapa meter ke belakang.
Ketika monster itu berhenti aku pun berteriak kepada Rika.
"Lari Rika! Aku akan menahan monster ini disini."
Rika hanya diam saja dengan mulutnya menganga cukup lebar.
__ADS_1
(Sialan, Rika tidak bisa bergerak saking takutnya.) Kataku dalam hati.
"Okelah kalau begitu, aku akan....."
"Ngapain mas?" Kata kataku terpotong oleh suara laki-laki yang tiba-tiba terdengar.
Suara itu cukup dekat, bahkan terlalu dekat. Aku berpikir, apakah monster bisa bicara ya. Lalu suara itu terdengar lagi.
"Halooo...mas?"
Suara itu ternyata dari atas. Aku pun menengok ke atas dan ternyata ada seorang pria yang sedang menunggangi monster yang sedang kutahan ini.
Tampang pria itu seperti gembel, dimana rambutnya ikal dan tidak terawat sama sekali, tubuh dan pakaian nya sangat kotor, tapi sepertinya kotornya bukan dari tanah ataupun debu, tapi lebih ke oli dan asap.
"Kamu ngapain mas?"
Aku segera mundur dan ternyata yang kutahan tadi bukanlah monster, melainkan sebuah mesin raksasa dengan tenaga uap.
"Lho,lho,lho...bukan monster to?"
"Ya bukanlah, memang orang gila mana yang menunggangi monster. Lagian siapa mas ini? Kenapa tiba-tiba meluk Mosiku?"
"Seharusnya saya yang tanya itu, siapa kamu ini?"
"Jawab pertanyaan ku dulu dong, baru nanti saja kasih tahu nama saya."
"Gak bisa gitu, namaku itu sangat berharga. Jadi kamu dulu...."
Pria itu diam saja dengan wajahnya sedikit memerah.
"Hei...aku sudah beri tahu namaku, sekarang giliranmu."
Pria itu tersadar dan kemudian dia melompat dari mesin raksasa itu. Setelah itu dia membungkuk sopan dan mulai berkata.
"Aku Raj, nona yang cantik. Kenapa nona yang cantik ini ada di hutan belantara begini?"
"Ceritanya panjang. Jadi Raj, bisa kau jelaskan benda apa ini?"
"Oh....ini adalah salah satu penemuanku nona. Dia ini kuberi nama Mosi, benteng berjalanku."
"Benteng berjalan?"
"Iya nona, Mosi ku ini punya banyak senjata didalamnya, jadi kalau ada monster yang mendekat aku bisa menyerangnya dari dalam tanpa mengeluarkan tenaga sedikit pun."
"Ho... menarik sekali."
"Apakah kau ingin melihat cara kerjanya nona? Aku bisa memperlihatkan nya padamu."
"Tidak usah. Sebenarnya aku bertanya begitu hanya untuk meminta bantuan mu."
"Bantuan apa nona? kalau tidak sulit, akan kukabulkan."
__ADS_1
"Kami hanya ingin sebuah peta dan juga sebuah senjata."
"Hmm....kalau sebuah senjata kecil aku punya di dalam, tapi kalau sebuah peta adanya di rumahku." Raj memegangi dagunya.
"Apakah kau tidak punya senjata lain, seperti pedang gitu." Tanyaku.
"Kalau seperti pedang adanya di rumah juga, kalau kalian mau ikut ke rumahku nanti akan kuberikan peta dan pedangnya secara suka rela."
"Rumahmu ada dimana? Bukan di kerajaan Daman kan?" Tanya Rika
"Tidak...rumahku cuma di dekat sini. Mungkin kalau menggunakan Mosiku, bisa sampai dalam 15 menit."
"Oke syukurlah, kalau begitu ayo ke rumahmu." Rika mengambil buku hitam dan kemudian dia berjalan mendekati Mosi.
"Eh...kalian beneran mau ke rumahku?"
"Iyalah, kan kamu bilang peta dan senjatanya ada di rumah kamu."
"Bukan itu maksudku, sebenarnya tidak pernah ada orang yang mengunjungi rumahku. Jadi aku khawatir kalau kalian tidak merasa nyaman ketika di rumah ku."
"Tenang saja, kami sudah terbiasa tinggal di tempat yang tidak nyaman."
"Iya, bahkan aku pernah tidur sambil di gantung."
"Apa!? Digantung?"
"Sudahlah, ayo kita pergi saja." Aku mendorong Raj agar cepat naik Mosinya dan mengendarai nya kerumahnya.
"Rumahku penuh sampah lho, tidak apa-apa ya."
"Sudak kubilang tidak apa-apa, ya tidak apa-apa."
Raj masuk ke dalam mosi dan kami pun juga begitu. Ketika di dalam, ternyata dalamnya cukup luas. Di dalam mosi, seperti kau berada di kamar mu sendiri. Sangat nyaman dan aman.
"Haduh...kok aku agak gugup ya."
"Tenang saja. ayo pergi saja."
"Hah...ya sudahlah."
Raj menarik sebuah tuas dan Mosi pun mengeluarkan asap dan bunyi yang cukup berisik. Setelah itu Raj menginjak sesuatu di bawah dan Mosi pun bergerak. Gerakan nya sih lumayan cepat, mungkin setara dengan badak berlari.
Karena tidak ada tempat duduk disitu selain punya Raj. Aku dan Rika pun memilih duduk di kasurnya. Keempukannya setara dengan kasur yang berada di rumah paman Tapoc.
"Wah...kasur ini terbuat dari apa, Raj." Tanya Rika.
"Oh itu terbuat dari bulu domba."
"Pantesan. darimana kau dapat bulu domba. Apakah kau punya domba sendiri di rumahmu." Rika berbaring di kasur.
"Yah...bisa di bilang begitu."
__ADS_1
"Oh gitu ya." Setelah menjawab itu Rika langsung terlelap.