
"Kau akan kuurus nanti Vivi. Aku harus membantai para bajingan ini dulu." Aku berjalan keluar dari sel. Disaat aku keluar, ternyata sudah ada orang yang ingin menuju kemari dan seharusnya mereka sudah tahu kalau ada mayat di depan pintu masuk menuju ruang bawah tanah.
Dari suara langkah kaki mereka, ada sekitar 10 atau lebih orang yang menuju kemari dengan tergesa-gesa. Walaupun begitu, aku tidak akan bersembunyi lagi. Aku akan membantai habis mereka semua.
Dari pintu masuk ada 12 orang yang masuk ke bawah tanah. Mereka semua sudah menyiapkan pedang mereka masing-masing.
"Hei sepertinya itu orangnya." Salah satu orang menunjukku.
"Hei..kau, menyerahlah sekarang juga, atau kau mati di tangan kami."
"Hehehe...hahahaha. Mati di tangan kalian? Jangan bercanda kalian. Kalian lah yang akan mati di tanganku."
"Apa! Jangan main-main dengan....." Perkataan orang itu tiba-tiba terpotong, tapi tak hanya perkataan. Kepalanya juga ikut terpotong. Padahal saat itu posisiku sama sekali tidak berubah dan masih sangat jauh dari mereka.
"1" Aku tersenyum dan berjalan santai mendekati mereka.
"Apa! Apa yang terjadi!?"
Kesebelas orang itu mulai panik dan mengarahkan pedangnya ke arahku sambil gemetaran.
"Ja-jangan mendekat! Atau ku-kubu..." Satu orang lagi kepalanya terpotong.
"2." Aku semakin dekat dengan mereka.
"Mundur, mundur! Dia bukan tandingan kita!" Semua orang kabur dan mulai menaiki tangga kembali. Disaat mereka sudah sampai atas, mereka bertemu lagi dengan ku.
"3." Salah satu kepala orang terpotong lagi.
"Hii...! Balik,balik!" Mereka berbalik badan dan mereka bertemu denganku lagi.
"4." Kepala orang terpotong lagi.
"Ada apa ini!? Kenapa dia ada di mana-mana?"
"5." Kepala orang terpotong lagi.
"Kumohon ampuni kami. Kami akan lakukan apapun untukmu." Semua orang bersujud dengan ketakutan.
Aku berhenti berjalan dan kemudian berkata.
__ADS_1
"Beneran?"
"Iya beneran, beneran. Kami akan lakukan apapun untukmu."
"Oke, kalau begitu yang kuinginkan dari kalian adalah.... Matilah!"
"Apa?"
"12." Kepala semua orang yang ada disana langsung terpotong dalam sekejap.
Setelah mereka semua sudah mati, aku pun langsung berjalan santi mencari mangsa baru.
Padahal baru berjalan beberapa langkah, tapi sudah ada 20 orang yang sudah mengepungku dari segala sisi.
"Buang senjatamu sekarang juga!"
Aku mengangkat tanganku seakan menyerah kepada mereka, tapi aslinya aku hanya berpura-pura.
"Oke, oke aku menyerah. Aku perlahan menjatuhkan senjataku dan ketika senjataku menyentuh tanah. Tiba-tiba seluruh orang yang mengepungku langsung mati seketika.
"Lho kok? Ya sudahlah." Aku mengambil pedangku kembali dan berjalan lagi mencari mangsa. Karena banyak mayat yang mengelilingi ku, aku pun menginjak mereka untuk bisa lewat.
Disaat aku sudah membunuh sekitar 200 orang, aku tanpa sadar sudah berada di tempat takhta Raja. Dimana tempat itu sangat luas dan di penuhi perhiasan yang sangat cantik.
Didepan sana terdapat sebuah kursi yang megah dan tentu saja itu adalah kursi sang Raja. Kursi itu tidak sedang kosong, tapi sudah ada seseorang yang menduduki nya. Namun dia bukan seorang Raja.
Dia adalah seorang pria yang berkulit hitam dengan rambut berwarna putih dan juga berpakaian jas berwarna merah hitam. Di kurus, tapi tidak terlalu kurus seperti ranting. Tinggi nya sekitar 175 sampai 180 dan dia lebih tinggi dariku. Selain penampilannya yang keren dan kulitnya yang eksotis. Ada satu hal yang membuatku waspada dengannya, yaitu dia memakai sebuah topeng. Tidak seperti topeng milik Jangkrik. Topeng miliknya hanya polos berwarna putih dengan ada 5 titik hitam besar yang mengelilingi topeng itu.
Disaat aku bersiap-siap ingin menyerangnya, tiba-tiba dia berkata.
"Yo...kau sudah sampai ya. Cukup lama kutunggu kau disini. Apa yang membuatmu lama di bawah sana? Menangisi temanmu kah?"
Aku mengerutkan alisku dan menggenggam pedangku erat-erat.
"Siapa kau? Apakah kau salah satu petinggi organisasi bodoh itu, seperti Jangkrik."
"Jangkrik? Siapa itu?" Pria itu terlihat bingung atau dia pura-pura lupa dengan temannya sendiri. Setelah beberapa detik terlihat bingung, pria itu pun akhirnya teringat sesuatu.
"Ah...orang itu ya. Hahaha.... bagaimana bisa kau mengira si badut itu adalah petinggi dari organisasi kami?"
__ADS_1
"Badut?"
"Iya, jangkrik yang kau pikir petinggi itu hanyalah salah satu anggota dari organisasi kami dan dia memang selalu berpikir kalau dia adalah petinggi dari organisasi kami, padahal bukan. Dia hanya keroco seperti yang lain."
"Kalau dia keroco, tapi kenapa di punya anak buah yang banyak sekali?"
"Aku juga tidak tahu itu, bahkan sekarang aku tidak tahu darimana semua orang lemah yang ada di kerajaan ini datang. Padahal baru kutinggal beberapa bulan, tapi dia sudah mengacaukan tempat ini. Yah walaupun dia bekerja dengan baik sih." Pria itu berdiri dari tempat duduk raja dan berjalan santai ke arahku. Tentu saja karena dia bergerak aku jadi waspada. Walaupun begitu, dia tidak menyerangku sama sekali, dia hanya berjalan saja.
"Kalau dia bukan petinggi yang asli. Kalau begitu apakah kau yang asli?"
Pria itu berhenti berjalan dan kemudian tertawa kecil.
"Kau ingin tahu, perbedaan kekuatan yang palsu dengan yang asli."
"Tidak terlalu, yang aku ingin tahu hanyalah, Bagaimana aku harus membunuhmu, apakah dipenggal ataukah di tusuk?"
"Hahahaha.....kau sungguh menarik, anak muda. Aku menyukaimu."
"Tidak usah repot-repot. Aku masih lurus dan masih suka wanita cantik."
Pria itu tertawa kecil.
"Oke anak muda, akan kuperlihatlan sedikit kekuatanku padamu dan kalau kau bisa bertahan dari ini. Kau bisa pergi dari sini.
"Pergi? Aku tidak akan pergi dari sini sebelum aku membunuhmu." Aku menggenggam erat pedangku dan menyiapkan kuda-kuda untuk melesat ke arahnya.
Pria itu tertawa kecil lagi.
"Kita lihat saja nanti."
Kami bertatap-tatapan dan ketika ada suara tetesan air jatuh. Kami pun segera melesat cepat untuk menyerang satu sama lain. Namun sayangnya aku kurang cepat dan dia keburu memegang kepala dan menghantamkannya ke tanah. Kekuatan nya sangat jauh berbeda ketika jangkrik memakai alat sihir kala itu. Dia 10 kali lipat lebih kuat ketimbang Jangkrik kala itu. Karena aku di hantam ke tanah, seluruj ruangan yang besar itu langsung retak dan membuat langit-langit mulai runtuh.
"Bagaimana anak muda, bagaimana rasanya secuil kekuatan ku."
"Bangsat!" Aku mencoba menebas pria itu tapi dia menghindarinya.
Aku segera bangun dan segera menyerangnya lagi. Namun lagi-lagi dia selalu bisa menghindari seranganku dan membalasanya dengan kekuatan yang tidak masuk akal. Karena dia selalu menghantamku ke tanah dan tembok. Seluruh bangunan istana retak-retak dan terlihat ingin runtuh. itu membuat para warga yang melihat di luar ketakutan. Mereka bertanya-tanya, ada apa di istana. Kenapa selalu terdengar suara keras. Mereka ingin mendekat, tapi takut akan terjadi sesuatu pada mereka, tapi kalau tidak mendekat, mereka tidak tahu apa yang sedang terjadi di istana.
Setelah beberapa lama mengawasi, istana yang berdiri kokoh selama bertahun-tahun itu pun akhirnya runtuh.
__ADS_1