Mencari Pecahan Pohon Suci

Mencari Pecahan Pohon Suci
Petualangan dimulai part 10


__ADS_3

Aku menggenggam erat kertas itu dan kemudian aku meninju tembok yang berada di depanku sampai retak.


"BANGSAT..!" aku berteriak keras, tapi tidak ada yang peduli dengan teriakanku itu.


setelah berteriak keras, Aku langsung menjatuhkan lututku dan tubuhku langsung lemas seketika.


"Kenapa kau tidak menunggu ku, Vivi? Kenapa...? Padahal aku kira aku masih bisa menyelamatkan seseorang, walaupun itu hanya kau, tapi ternyata aku juga tak berhasil menyelamatkan mu." Aku mulai meneteskan air mataku.


"Aku disini sendirian, Vivi. Aku butuh teman, butuh sebuah keluarga, butuh sebuah pelukan, dan hanya kau lah yang cocok jadi semua itu."


"Rasa sakit ini terlalu besar ku tahan sendirian Vivi, tapi di lain sisi aku tidak mau mengenal seseorang lagi, karena aku takut kalau dia akan mati di hadapan ku lagi. Apa yang harus kulakukan, Vivi? Apa yang harus kulakukan sekarang?"


Di saat aku menangis tersedu-sedu. Aku melihat lagi ke arah pisau yang menancap di perutnya Vivi. Disitu aku terpikirkan sesuatu dan itu bukanlah hal yang baik.


Aku pun memegang pisau itu dan mencabutnya dari perutnya Vivi. Setelah kucabut, aku memandang lama ke pisau itu seakan merencanakan sesuatu yang buruk.


"Sepertinya aku tahu caranya mengakhiri rasa sakit ini." Aku pun mengarahkan bagian tajam di pisau itu ke bagian leherku.


Awalnya aku ragu-ragu dan masih berpikir agar tidak bunuh diri. Namun sisi lain diriku berkata kalau aku harus segera mengakhiri rasa sakit ini.


Sambil nafas yang terengah-engah. Aku menutup mataku dan kemudian menggorok leherku dengan kuat.


Leherku sudah kugorok dan banyak darah yang keluar dari leherku. Saat itu aku tidak bisa bernafas sama sekali dan rasanya sakit sekali di leherku. Dan entah kenapa aku merasa lega dan senang ketika aku bunuh diri. Aku merasa rasa sakit yang terus menghantui hatiku akan hilang dan aku akan bertemu teman-teman ku lagi.


Semakin lama, pandangan ku semakin kabur dan mulai gelap. Lalu setelah 1 menit lamanya, aku akhirnya mati. Banyak sekali darah yang menggenang di tempat itu. darahku dan darahnya Vivi tercampur menjadi satu dan membuat kolam darah di tempat itu.


Saat aku mati, aku kembali lagi ketempat dimana semuanya gelap dan ada cahaya putih di ujung sana. Aku ingin berjalan kesana lagi dan ingin menghampiri pohon yang besar itu lagi. Namun baru saja berjalan satu langkah, tiba-tiba langkah ku terhenti oleh seseorang yang menarik bajuku dan ternyata orang itu adalah anak kecil hari itu.


Dia menyuruhku untuk menjongkok dan mendekatkan kupingku ke mulutnya. Aku pun hanya menurutinya dan kemudian aku jongkok sambil mendekatkan kupingku ke mulutnya.


Ketika kupingku sudah berada didepan mulutnya. Dia berbisik kepadaku.


"Misimu belum selesai, Manusia."


"Hah?"


Tiba-tiba ada lubang lagi di bawahku yang membuatku terjatuh lagi. Ketika aku terjatuh gadis kecil itu berbicara lagi.


"Kau tidak akan bisa mencapai kematian kalau kau belum menyelesaikan misimu, manusia. Jadi, selesaikan lah dahulu sebelum kau ingin mengakhiri penderitaan mu."

__ADS_1


"AAAAA..."


Aku terbangun lagi di tempat sama dengan darahku yang masih menggenang di lantai. Aku memeriksa leherku dan bekas goresan pisau tadi menghilang.


"Ini tidak mungkin!" Aku mengambil pisau yang terjatuh di tanah dan Menggorok leherku kembali dan seperti sebelumnya, aku mati dan bertemu dengan gadis kecil itu kembali, tapi kemudian aku terjatuh ke lubang dan kembali hidup kembali.


"Tidak mungkin,Kenapa..." Aku menggorok leherku lagi dan kembali hidup lagi setelah beberapa detik.


"Aku...." Aku bunuh diri lagi dan hidup kembali.


"Tidak bisa mati....?" Aku terus dan terus mencoba. Tapi sayangnya aku terus hidup.


Ketika aku ingin menggorok leherku lagi, aku akhirnya tersadar kalau aku tidak bisa mati. Karena hal itu aku pun menjatuhkan pisauku dan menyerah untuk bunuh diri lagi.


"Percuma saja, aku tidak bisa mati sama sekali."


"Kenapa harus begini? Siapa gadis itu? Apakah dia tuhan ataukah, malaikat pencabut nyawa? Kenapa dia tidak membiarkan ku mati? Apa maksudnya dengan misi?"


"Tidak....itu semua tidak penting. Yang lebih penting, Kenapa tuhan membuatku menderita seperti ini? Kenapa dia selalu merebut seseorang yang kusayangi? Dan sekarang kenapa aku harus terjebak di situasi sekarang ini?"


"Karena kau adalah orang yang di takdirkan!" Tiba-tiba ada suara seorang pria yang berbicara di belakang ku.


Aku pun berbalik badan untuk melihat siapa orang itu. Setelah berbalik, aku langsung waspada dan menyiapkan pedangku.


"Aku adalah temannya, Rick. Aku adalah orang yang bertugas mengawasi mu."


"Temannya Rick?" Aku menurunkan pedangku.


"Benar, aku sudah mengawasimu dari awal dan aku agak prihatin denganmu, tapi itulah jalanmu. Jalan orang yang akan menjadi kuat untuk menyelamatkan dunia ini."


"Tunggu...kau tadi bilang, kalau kau sudah mengawasiku dari awal. Kalau begitu, kenapa kau tidak menolong ku. Tidak... maksudku, kenapa kau tidak menolong, Vivi, Rika, Kakek. Kenapa kau tidak menolong mereka?"


"Kalau itu...aku minta maaf, karena tugasku hanyalah mengawasimu dan aku tidak boleh mencampuri urusan mu."


"Hanya mengawasi katamu! Kau ini boneka atau manusia, Hah! Bagaimana bisa kau diam saja ketika ada orang yang di tangkap dan ingin di perkosa oleh bajingan itu!"


"Aku minta maaf."


Lalu bagaimana bisa kau diam saja ketika ada orang yang ingin di bunuh didepanmu. Kenapa kau tidak coba menyelamatkan mereka, kenapa kau biarkan mereka mati begitu saja!?"

__ADS_1


"Aku minta maaf."


"Kenapa kau selalu minta maaf. Apakah kalau minta maaf bisa mengembalikan mereka?"


"Aku minta maaf."


"Argh.....BANGSAT!" Aku menendang tembok sampai retak.


"Maafkan saya, tapi saya hanya mengikuti perintah dari Rick. Dia bilang aku hanya harus mengawasimu dan tidak boleh menolongmu sama sekali."


"Kenapa dia melakukan itu?"


"Karena hanya dia yang tahu, langkah mana yang bisa menyelamatkan kita semua dari bencana." Pria itu memberikan buku hitam yang kutinggalkan di tempat tadi.


Aku melihat buku itu dan aku langsung teringat ketika Rika terbunuh oleh Jangkrik.


"Jauhkan buku itu dariku."


"Kau harus menerima nya, bukan hanya buku ini, tapi juga takdirmu." Pria itu semakin maju untuk memberikan buku hitam itu.


"Aku tahu kau mengalami hari yang sangat buruk dalam beberapa hari ini, tapi ketahuilah, Rick jauh lebih menderita darimu, dan tidak hanya beberapa hari, tapi bertahun-tahun." Dia semakin maju.


"Arghh....baiklah aku terima buku ini, tapi aku masih tidak tahu akan membukanya atau tidak."


"Tidak apa-apa, yang penting kau menerima nya dahulu. Oke...kalau begitu lebih baik kita pergi dari sini dan membawa wanita itu." Pria itu melihat mayat Vivi.


"Hum...kau benar, tapi bagaimana dengan wanita yang ada disini, apakah kau akan membiarkan nya begitu saja."


"Kalau itu terserah mu. Tapi ingat lah, lebih susah menjaga 1 orang daripada membunuh seribu orang."


"Kalau aku yang dulu, mungkin keduanya adalah hal yang sulit."


"Jadi bagaimana, apakah kau akan menyelamatkan mereka?"


"Walaupun aku tidak berhasil menyelamatkan teman-teman ku, tapi setidaknya aku bisa menyelamatkan mereka semua."


"Oke..kalau begitu urus sendiri ya. Aku akan pergi dulu."


"Hum...tenang saja aku akan urus ini."

__ADS_1


Setelah itu, pria misterius itu pun segera pergi dengan cepat.


Ketika pria itu pergi, aku langsung punya ide untuk menyelamatkan mereka semua tanpa terluka sedikitpun dan caranya adalah, membunuh semua anak buahnya Jangkrik yang ada di kerajaan ini tanpa tersisa sedikitpun.


__ADS_2