Mencari Pecahan Pohon Suci

Mencari Pecahan Pohon Suci
Petualangan dimulai part 1


__ADS_3

Orang itu membungkuk sopan layaknya bangsawan, tapi penampilan nya tidak mencerminkan seperti itu. Pria itu memakai topeng dengan gambar wajah sedih, tapi mulutnya tersenyum lebar.


Dia menegakkan tubuhnya kembali dan mulai bicara lagi.


"Tujuanku kesini itu hanyalah mengambil buku berwarna hitam dan juga membunuh orang itu." Dia menunjuk ke arahku.


"Oh...ternyata buku itu sudah ada pada kalian ya." Dia menatap ke bawah kaki kami dan ada buku hitam itu.


Melihat dia mengincar buku itu, kakek pun segera mengambil buku itu di lantai, lalu kakek merebut tongkat untuk ku berjalan, memberikan buku hitam kepadaku dan kemudian dia menendang ember berisi air ke arah Jangkrik.


Ember itu mengenainya dan itu membuatnya basah, ketika itu juga serangga yang selalu berada di sampingnya, juga tiba-tiba menjauh.


"Rika hancurkan atapnya!" Kata kakek.


Rika mengangguk, kemudian dia melompat tinggi dan menendang atap rumah kakek sampai roboh yang membuat Jangkrik ikut tertimbun atap rumah bersama serangga nya.


Atap rumah kakek bolong dan membuat air hujan masuk ke dalam rumah.


"Pergi dari sini, sekarang!" Kakek berteriak keras.


Rika kemudian melemparkan ku keluar melalui atap yang bolong dan kemudian dia membopong Vivi keluar melewati atap. Kakek masih tinggal di rumah bersama Jangkrik dan dia hanya membawa 1 tongkat kecil.


"Hadeh..... padahal aku baru saja memperkenalkan diriku lho, tapi malah pada kabur semua." Jangkrik keluar dari reruntuhan rumah dan dia melihat kakek yang ternyata masih di sini.


"Lho kukira kau juga kabur."


"Aku tidak akan kabur. Aku akan menahanmu disini." Kakek mengayunkan tongkat kayunya ke samping dan secara ajaib tongkat kayu itu berubah menjadi sebuah pedang.


"Hoho.....kau ini memang manusia yang misterius kakek. Kalau begitu biarkan serangga-serangga ku mencicipi darah dan dagingmu itu." Jangkrik mengulurkan kan tangannya ke kakek seakan memberitahu serangga nya untuk menyerangnya. Lalu serangga itu terbang dan merayap ke arah kakek berbondong-bondong.


******


Aku terbang di langit dan akhirnya aku jatuh, tapi muka ku dulu yang mendarat. Tak lama setelah itu Rika juga datang sambil membopong Vivi, tapi dia mendarat sangat mulus, tidak seperti aku.


"Aduh....kenapa kau melemparkan ku?"

__ADS_1


"Berisik...lebih baik kita segera pergi dari sini?" Dia menurunkan Vivi.


"Bagaimana dengan kakek?" Tanya Vivi.


"Dia akan baik-baik saja—Semoga." Rika membantuku berdiri dan juga berjalan.


"Kita akan kemana?" Tanyaku.


"Tidak tahu, tapi yang jelas kita harus pergi dari kerajaan ini. disini sudah tidak aman lagi."


Disaat kita baru berjalan beberapa meter, tiba-tiba langkah kami terhenti karena ada 3 orang misterius di depan kami. Mereka sebenarnya seperti orang biasa yang biasanya berjalan di sekitar sini, tapi lagak mereka mencurigakan. Jadi kami beranggapan kalau mereka itu salah satu anggota dari organisasi Re World.


Kami pun belok kiri untuk menghindari orang-orang itu, tapi ternyata di jalan itu juga ada orang yang mencurigakan lagi. Kami putar balik dan memilih jalan sebaliknya, tapi lagi-lagi ada orang yang mencurigakan.


Disaat orang-orang itu mendekati kami, mereka mengeluarkan senjata mereka dari sakunya. Kebanyakan dari mereka membawa pisau kecil dan juga benda bulat kecil aneh. Kita sudah di kepung, dimana-mana ada orang yang akan membunuh kami.


Di saat kami sudah terpojok, Vivi maju ke depan seakan ingin melawan mereka. Dia mengepalkan kedua tangannya dan memasang kuda-kuda bertarung nya.


"Vivi?"


"Tenang saja tuan, saya akan hadapi mereka. Kalian pergi saja dari tempat ini, nanti saya akan menyusul."


"Hei....kau tinggalkan dia begitu saja."


"Diamlah....dia bilang akan menyusul. Jadi aku percaya dia akan menyusul nanti."


Aku melihat ke belakang dan disana terlihat Vivi bertarung dengan sangat lihai. Dia bisa mengalahkan semua orang disana dengan mudah nya. Dari situ aku mulai percaya kalau Vivi pasti akan menyusul.


Aku pun melihat ke depan lagi. Tapi ternyata saat aku melihat ke depan, ada 1 orang lagi yang muncul di belakang. Dia sangat besar dan mengerikan. Dia bisa menghajar Vivi dengan mudah.


Orang itu menggunakan temannya yang sudah tumbang sebelumnya nya sebagai pedang dan juga sebuah tameng. Dia mengayunkan dengan keras ke arah Vivi sampai membuat Vivi terpental cukup jauh dan akhirnya pingsan.


Saat itu aku tidak tahu kalau Vivi sudah kalah, aku masih berpikir kalau Vivi pasti akan menang melawan orang-orang itu. Jadi aku dan Rika berlari terus tanpa melihat kebelakang, karena percaya Vivi pasti akan menyusul.


Aku dan Rika sudah berada di luar kerajaan. Kami menunggu disamping barier karena kami yakin dia akan kembali.

__ADS_1


Beberapa menit telah berlalu, tapi Vivi tak kunjung datang. 15 menit kemudian ada seseorang yang keluar dari gerbang, itu Vivi dan Kakek. Tapi sayangnya mereka tak sendirian. Ada Jangkrik dan anak buahnya yang sedang menahan mereka berdua.


Kondisi mereka terlihat tidak baik-baik saja. Tubuh kakek terlihat banyak sekali daging yang terkoyak. Sedangkan Vivi, kepalanya bocor dan kakinya seperti tertancap sebuah pedang kecil.


Aku yang melihat kekejaman itu. ingin menyelamatkan mereka, tapi sayangnya langkah ku di hentikan oleh Rika.


"Kenapa kau menghentikan aku, kita harus menyelamatkan mereka berdua!"


"Kita sudah tidak bisa menyelamatkan mereka Rakka. Kita harus segera pergi dari sini, sebelum mereka menemukan kita."


"Tidak mau, aku ingin menyelamatkan mereka."


"Berisik!" Rika memukul tengkuk ku yang itu membuat diriku pingsan.


Setelah pingsan, dia menggendong ku keluar barier sambil membawa buku hitam dan kemudian kami pergi sejauh-jauhnya dari kerajaan Daman.


Lalu di depan gerbang, dimana ada Jangkrik dan anak buahnya. Mereka terlihat menengok kesana kesini mencari keberadaan ku dan buku hitam itu.


Karena Aku dan Rika sudah tidak terlihat lagi. Anak buahnya jangkrik terlihat cemas dan kemudian salah satu orang berbicara.


"Ma-maafkan kami bos."


Jangkrik terlihat terdiam, karena topeng menghalangi wajahnya, mereka tidak tahu dia marah atau tidak.


"B-bos...."


"Mereka kabur ya.....kalau begitu pulang lah." Dia balik badan dan kembali ke dalam kerajaan.


"Eh..?" Semua anak buahnya kebingungan, mereka pikir bosnya akan marah, tapi ternyata dia malah ingin pulang.


"Kalau begitu, orang-orang ini buat apa bos?"


"Oh...kalau itu terserah kalian, mau buat mainan boleh, mau di buang boleh. Pokoknya silahkan saja gunakan sesuka kalian."


"Kalau begitu...." Semua anak buahnya melihat ke arah Vivi dengan muka mesum.

__ADS_1


"Oh...iya. kakek itu jangan diapa-apain ya. Bawa dia ke markas kita, ada hal yang mau kubicarakan dengan kakek itu."


"Siap bos." Semua anak buahnya menjawab secara bersamaan.


__ADS_2